Apa kalian tahu tentang sebuah novel yang sangat popular saat ini? Nama novelnya The Duke Younger Princess. Yang membuat cerita itu sangat menarik adalah, bagaimana keluarga luknut yang mengacaukan famele lead di hancurkan. Seperti namanya, keluarga luknut yang bersaing itu adalah keluarga Marquis.
'Help me.😰'
Dan sekarang aku, menjadi salah seorang dari keluarga luknut itu.
Ouh, untuk perkenalan, aku akan memulainya dari kepala keluarga gakda akhlak.
Ayah atau Marquis, Deric Arudian. Penggila kuasa dan selalu mencoba menjatuhkan keluarga Duke juga mencoba mengambil alih kerajaan itu sendiri. Gak punya waktu untuk keluarga dan mati di tangan bodyguard kaisar setelah kebongkar semua rahsianya.
Veronica Arudian, istri kepada Deric. Gila harta dan suka menunjukkan yang dirinya berkuasa. Membenci keluarga Duke kerana mereka lebih tinggi derajatnya. Mati di tangan kakak laki laki famele lead kerana mencoba mencongkel mata Famele lead yang mencoba menghentikannya dari mengambil perhiasan di istana. Pandai amat ya, mencuri di istana.
Shon Arudian, kakak laki laki. Satu satunya anak laki laki di keluarga Arudian. Membenci famele lead dari awal bertemu dan punya obses membuat dirinya menjadi seorang kaisar. Menjaga hubungannya dengan male lead supaya bisa menikamnya dari belakang untuk mendapatkan kekuasaan. Mati di tangan ayah famele lead kerana terciduk mengkhianati.
Jane Arudian, kakak pertama. Membenci famele lead kerana memiliki posisi lebih terhormat dan sangat iri dengan famele lead yang bertunang dengan male lead. Melakukan segala cara untuk menjatuhkan famele lead hingga meracuninya membuat male lead murka dan membunuhnya.
Nana Arudian, itu aku. Aku si bungsu yang sama tidak menyukai famele lead kerna satu keluarga membencinya. Dia membuli famele lead gara gara dorongan keluarganya yang memujinya setiap kali dia melakukan itu. Dia mula makin membuli dan tentu saja terus di puji keluarganya dan hancur ketika keluarganya ikut hancur. Kasihan amat ya.
'Dan apa yang harus aku lakukan dengan keluarga luknut ini? Semuanya gak waras! Gimana aku harus bertahan? Menjadi baik? Bertunang dengan kakak famele lead?'
Nana menggelengkan kepalanya merasa merinding seluruh tubuh.
'Tidak mungkin aku akan bertunang dengan orang yang di benci keluarga aku.'
Nana dulunya adalah seorang yang pendiam dan sangat kaku di tempat baru. Sangat takut untuk memulakan perbicaraan. Senang kata, dia antisosial sejak lahir. Dia bukan tidak mau, dia hanya sangat takut untuk berbicara dengan orang lain. Bagaimana dia bisa meminta siapapon untuk bertunang dengannya. Malunya tahap apa itu!? Berbicara ingin menjadi teman aja kek antara hidup dan mati malunya itu.
'Mengubah keluarga ini?'
Dengan cepat Nana menggeleng. Apa dia gila berpikir untuk membawa keluarga itu ke akal sehat mereka kembali? Bisa bisa dia yang mati duluan. Ato gak, apa dia punya nyali berbicara dengan mereka?
'Gak punya.'
Mau rakam suara di hp aja malunya kek minta di gali lubang buat sembunyi. Apa lagi berbicara depan depan coba?
'Gimana aku ingin bertahan ya ampun! Gak ada solusi kalo gini! Aku aja gak tau jalan kota di sini kek gimana! Bisa bisa sesat 1 tahun gak ketemu ini!'
Nana bersandar di kursi dengan gaya tidak layaknya sebagai bangsawan dengan putus asa.
Tok, tok.
Pintu di ketuk dan Nana langsung duduk dengan sopan seperti dia di rumah orang.
"Nona muda, sudah waktunya makan malam."
Nana langsung dengan cepat keluar.
"Pi, pi, pimpin....."
Dengan gagap, Nana menyuruh pelayan itu memimpinnya. Kediamannya aja bisa buat dia sesat 7 hari 7 malam. Bagaimana bisa dia ingin keluar kota?
****
Di ruang makan.
Nana menjadi yang pertama sampai di ruang makan dan duduk dengan sopan.
'Ya ampun, mau makan aja terseksa! Aku pikir dari kamar ku ke ruang makan mungkin mencecah 500 meter ya! Belum tangga kek naik ke kuil woi! Ini rumah apa ruang penyiksaan coba!? Aku tidak akan mengenakan sepatu tinggi ini lagi!'
Nana hanya dengan tenang duduk di kursi sambil termenung. Tidak lama, Shon dan Jane memasuki ruang makan bersama. Kemudian Veronica dan yang terakhir tentulah Deric.
Sesi makan yang sunyi pon di mulai. Yah, setidaknya itulah yang di pikir Nana awalnya.
"Setelah aku mengalahkan keluarga Duke, aku akan menghancurkan kaisar! Hahahaha!"
Sang ayah mula bercerita tentang ambisiusnya dan rencana tentang menjatuhkan keluarga Duke.
"Ouh ye? Aku berteman dengan pangeran dan akan menikamnya di belakang ketika dia menjadi kaisar. Aku punya rencana lebih baik dari mu ayah."
"Hei, hei, aku bahkan tidak perlu melakukan apapon untuk mendapatkan ratusan permata di jamuan. Apa kamu bisa? Juga, putri bungsu keluarga Duke itu nyebelin banget."
Veronica dengan santainya menunjukkan beberapa hasil curiannya.
"Benar! Putri bungsu itu nyebelin! Dia pikir dia sangat cantik dan bisa memiliki hati pangeran? Ouh tolonglah. Dia hanya selevel dengan kotoran ku! Kerana itu aku memotong rambutnya!"
Jane juga dengan bangga mengatakan apa yang telah dia lakukan.
"Ouh, that my baby! Kamu melakukannya dengan baik! Ibu suka!"
Veronica memuji Jane dengan nada seorang b*cth.
'Di mana aku? Siapa aku? Apa yang mereka bicarakan? Mengapa mereka sangat menikmati jenis percakapan ini? Apa aku sangat aneh?'
Nana bingung dengan situasi hingga dia hampir hilang ingatan.
"Nana, apa yang kamu lakukan?"
Nana langsung tersentak mendengar namanya di panggil. Badannya berkeringat kerana gugup kek orang mau nikahan aja.
"A, a, aku.... Ingin berubah!"
'Ouh sial....'
Ruang makan itu menjadi sunyi seketika. Nana hanya menunduk kerana takut di marahi.
"Berubah? Apa maksud mu berubah?"
Shon bertanya sambil dengan sopan memasukkan makanan ke mulutnya.
"Er.... Itu.... Itu..... Menjadi orang yang baik tanpa membuli lagi. Aku sedikit kehilangan ingatan.... kerana berkelahi dan aku sekarang.... Ingin mencoba berteman...."
Tubuh Nana berkeringat seolah dia bisa mandi dengannya. Ruang makan itu menjadi sangat, sangat sunyi.
"Tentu, jadilah diri mu sendiri."
Deric akhirnya bersuara dan Nana membelalak tidak percaya. Bagaimana mereka bisa menerimanya semudah itu?
"Nana, dalam hidup kamu harus cari jalan kamu sendiri. Moto hidup keluarga Arudian adalah lakukan saja apa yang kamu mau."
Veronica dengan lembut berbicara layaknya seorang ibu.
"Ibu suka uang jadi ibu akan mencuri barang mahal apapon yang terlihat. Tidak ada yang bisa menghalangi ku. Jika mereka mencoba, mereka harus siap kehilangan mata atau anggota tubuh lainnya."
Veronica lembut namun terlihat sangat menakutkan sambil memotong daging dengan pisau.
"Ayah juga. Aku menyukai kekuasaan. Jika aku inginkannya, maka kamu harus berjuang untuknya. Aku akan membunuh siapa saja yang berada di jalan ku."
Mata ayahnya juga sangat menakutkan.
"Aku juga menyukai kekuasaan. Aku akan menghancurkan pangeran dan mengambil tahta. Orang seperti putri Duke itu nyebelin. Manja dan tidak tahu bagaimana berusaha. Apa saja yang dia ucapkan, pasti langsung dia dapatkan. Bahkan hati pangeran."
Shon benar benar terlihat jijik ketika membicarakan famele lead hingga kehilangan selera makan.
"Itu benar! Dia sangat menjijikkan. Nana, apa kamu tahu apa yang paling penting di dunia buat ku? Itu kecantikan dan posisi! Aku menginginkan posisi yang tinggi! Aku harus mendapatkan pangeran untuk itu!"
June bahkan memegang kedua tangan Nana membicarakan keinginannya.
'Tapi, bukan Shon akan membunuhnya?'
Dalam ketakutan, Nana hanya mengangguk. Walau dia tidak akan di bunuh, tatapan mata mereka akan membunuhnya kapan saja.
****
Selesai makan malam, mereka semua pergi melakukan apapon yang mereka mau. Nana tentu saja di dalam kamar tanpa melakukan apapon.
'Mengapa mereka semua bisa segila itu sejak lahir?'
Setahu Nana, tidak ada masalah masa lalu yang memicu sikap keluarga itu. Jadi, mengapa mereka bisa berpenyakitan mental gitu?
'Mari biarkan takdir melakukan kerjanya. Aku sudah terlalu pusing.'
Nana hanya bisa pasrah dan langsung tidur.
****
Seminggu kemudian.
Di jamuan teh.
'Ouh sh*t! Bagaimana cara aku ingin bergaul coba!? Aku gak bisa! Mana aku pembuli lagi!'
Nana hanya duduk di kursi menunduk sambil mendengarkan yang lainnya berbicara seolah mengisolasinya.
Dia datang ke jamuan itu kerana Shon memberikan kartu undangan padanya. Dia bilang lebih mudah membuat teman di jamuan teh.
Nana bisa melihat famele lead yang sedang di kerumuni banyak orang sedang dia sangat suram.
Aristia Devandar, itulah nama famele lead. Seorang yang ramah dan mudah bergaul. Perbandingan dengannya seperti langit dan bumi. Dia cantik dan bisa di saingkan dengan kakaknya June.
Semua marga Arudian terlihat cantik dan tampan. Hanya Nana yang kurang. Rambutnya berwarna coklat dan memiliki uban kerana ketika kecil selalu berpenyakitan dan mengambil obat hingga dia punya uban di usia dini. Wajahnya berjerangat dan kurangnya mana dalam tubuh membuat matanya tidak berwarna cerah seperti yang lain.
Nana selalu menghancurkan kaca setiap kali melihat wajahnya yang sangat kurang dari semua keluarganya. Kerana itu, tidak ada gambar Nana yang tergantung di dinding rumah atau bahkan kamarnya.
Nana tidak begitu peduli dengan penampilannya. Dia memang dari dulu sudah muka kentang. Dan jujur, wajah Nana sebanarnya sudah cantik di banding wajahnya yang dulu. Hanya Nana yang terlalu merendahkan kecantikannya.
Namun janganlah di sandingkan dengan orang secantik Aristia. Orang tercantik di dunianya juga akan bersujud jika melihat Aristia.
Slurrrr....
Tiba tiba, ada teh yang tumpah ke kepalanya. Nana hanya diam tidak bergerak. Dia sudah terbiasa dengan bulian seperti itu. Seorang anti sosial selalu mendapatkannya.
"Lihat? Dia tidak marah sama sekali. Sudah ku bilang dia hilang ingatan dan menjadi lemah."
Wanita yang menuang teh pada Nana adalah pemilik jamuan itu.
Lisa Keith, anak seorang Count. Satu tingkat di bawah Marquis.
'Ini mungkin nasib seorang anti sosial kali.'
Walau Nana sudah pasrah, air matanya tetap mengalir. Dia benar benar tidak paham dunia seperti dia tidak paham keluarga barunya.
"Apa yang terjadi di sini?"
Nana tersentak ketika mendengar suara Jane dan mengangkat kepalanya. Dia melihat Shon dan Jane yang berdiri dengan tatapan maut mereka.
'Aku memalukan nama keluarga! Aku akan mati!'
Nana menunduk kembali menunggu ajalnya.
Namun apa yang dia dapatkan adalah, dia di angkat dengan bride style oleh Shon.
Pang! Buk!
Lisa di tampar dan di injak dengan kuat hingga dia mengeluarkan erangan.
"Berani kamu menyakiti keluarga Arudian? Kamu punya keinginan untuk mati? Apa kamu mengejek adik ku? Jika kamu mengejek adikku, kamu mengejek aku. Kamu mengejek Shon. Kamu mengejek pasangan Duke Arudian. Kerana kami satu keluarga dan satu ikatan darah."
Itu pertama kali semua orang melihat Jane marah hingga merasakan leher mereka akan terpenggal hanya dengan menatapnya.
Jane melihat Aristia dengan dingin seperti melihat saingannya. Namun di tangannya memiliki saputangan dan dia yang paling dekat dengan Nana seolah ingin memberikan saputangan itu.
Bahkan ketika semua yang di lakukan Nana dan keluarganya, Aristia masih memilih untuk membantunya. Dia gemetaran seolah dia takut menerima perlakuan yang sama seperti sebelumnya.
Nana yang melihat itu mengambil saputangan di tangannya.
"Te, te, terima.... Kasih...."
Dengan gagap, Nana berterima kasih dan Shon mengerutkan kening langsung membawa Nana yang menolak melihatnya kerana malu dengan posisi sangat dekat itu.
"Kamu harus ingat bahwa kamu di bawah. Jika bukan kerana dia ingin berubah dan ini masalahnya, akan langsung ku bunuh."
Jane mengabaikan Aristia dan mengikuti Shon dari belakang.
Angin bertiup menerbangkan rambut Aristia yang indah. Matanya tidak beralih dari punggung Shon atau lebih tepatnya, rambut Nana yang berwarna coklat sangat kontras dengan baju Shon yang berwarna putih.
'Apa dia, benar benar berterima kasih pada ku?'
Aristia merasa senang mendapatkan terima kasih dari Nana. Orang selalu berterima kasih dan dekat dengannya kerana dia adalah anak Duke. Namun Nana berterima kasih hanya kerana saputangan yang tidak berharga.
****
"Wanita itu pantas mati. Aku ingin membunuhnya."
June masih tidak puas.
"Kapan? Aku siap kapan saja."
Shon tidak membantah. Jika dia tidak mendukung Nana, dia sudah lama melepaskan pedangnya dari sarung.
Shon dan June bertukar kata sedang Nana hanya diam mendengarkan.
'Keluarga luknut atau apapon. Jika mereka sebaik ini, siapa peduli.'
Mengapa harus baik pada orang lain? Lebih baik mengutamakan keluarga dari apa yang di pikirkan orang lain.
~~TAMAT~~
Baik, jika ada yang berminat, aku bisa buat prat 2. Aku juga hanya buat kisah ini kerana gabut dan gak ada ide mau nyambung novel ku 😅.
Apapon, like, komen jika kalian suka. Gak maksa kok.