Gerimis manja mendendangkan alunan irama rintik nan syahdu. Sedikit malu bulan mengintip dari balik rumpun bambu dan waru.
Nampak rumah sederhana tinggal lah sepasang suami-istri. Hidup berkecukupan dari kata mewah.
"Bang, Adek kepingin bakso ...," ucap Wiwin bergelayut manja. Ia sedang hamil muda mengalami masa-masa ngidam.
"Gerimis, Dek." Wawan--suaminya. Tengah asik melinting tembakau pada kedua telapak tangannya. "Lagipula tanggung magrib," ucapnya lagi.
"Adek pengen sekarang. Makan ini dan itu selalu dimuntahkan sama Dedek." Wiwin memohon. Ia bersandar pada tubuh Wawan.
Wawan sangat menyayangi Wiwin apapun ia lakukan. Bakso baginya hal kecil didapatkan.
"Baiklah. Adek tunggu di rumah saja sama ibuk." Wawan beranjak dan mengambil uang di dalam kamar.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam ... Hati-hati ya, Bang!"
*
*
*
Berangkat lah Wawan dengan menaiki sepeda ontel tua kesayangannya. Dengan hati-hati ia mengayuh pedal sepeda. Jika tidak hati-hati maka akan tergelincir karena jalan setapak yang ia lalui sangatlah licin.
Gerimis masih menyisakan dan membuat baju Wawan basah. Ia kedinginan dan menggigil.
Tak biasanya jalanan ini sepi? Batin Wawan.
Dari jauh pandangan mata Wawan ia melihat gerobak bakso hati senang dan gembira sebab ia mendapatkan pesanan istri tercinta.
Dikayuh lah sepedanya dengan menambahkan kecepatan sedang.
"Bang baksonya dua bungkus, ya!" Wawan turun dari sepeda.
Tukang bakso tak bereaksi hening tanpa suara hanya kedua tangannya lihai melayani pesanan Wawan.
Ketika Wawan hendak mendekati penjualnya Wawan ......
Mari disambung bagi yang tertarik. Terima kasih, banyak.