Dedaunan yang gugur, dan disertai dengan hembusan angin kencang. membuat daun- daun itu terbang begitu kencang meninggalkan pohon sendiri tanpa ada pelindungnya.
seperti kisah lelaki paruh baya itu. duduk sendiri di rerumputan dengan tatapan kosongnya. membayangkan betapa sepi hidup di kesendirian yang begitu cukup lama.
lelaki itu berdiri dari duduknya, berjalan jalan di sekitar taman yang cukup indah.
"hahahah! kejar aku, kejar aku" seru seorang anak lelaki yang berlari kencang karena di kejar oleh anak perempuan yang lebih kecil darinya.
"kak! kembalikan boneka aku!" teriak anak perempuan itu sambil terus mengejar sang kakak.
"hei! Risa, Alex! jangan berlari nanti kalian akan jatuh" geram lelaki paruh baya itu.
"pah! lihat tuh kak Alex gak mau balikin boneka aku" adu Risa.
"Alex! kamu jangan ganggu adik kamu, cepat balikin bonekanya" tegur sang papah.
anak laki-laki seketika mengubah mimik wajahnya menjadi masam. berjalan mendekati Risa, dan langsung mengembalikan boneka yang dia ambil tadi.
"nah gitu kan bagus, jadi jangan berantem lagi ya" nasehat sang papa.
mereka berdua mengangguk lugu. lalu melanjutkan bermain kembali sampai menjelang petang.
Deru langkah kaki terdengar oleh panca Indra seorang lelaki. menoleh ke samping nya la duduk. terlihat seorang wanita yang begitu cantik tersenyum ke arahnya.
wanita itu duduk di sebelahnya, sambil memegang kedua tangan sang lelaki.
"mas, ini sudah sore. kami pamit ya? karena tugas kita sudah selesai. lupakan kita ya mas, jangan di ingat-ingat terus, nanti aku sama anak anak engak bisa tenang di sana. jangan terlalu berlarut-larut akan masalah ini mas" ucap wanita itu dengan suara lembutnya.
sang lelaki hanya memandang wanita itu dengan lekat lalu la tersenyum hangat kepada pujaan hatinya ini.
"iya mas akan mencobanya, maaf mas ya. gara-gara mas kalian gak bisa tenang di sana" ucap lelaki itu dengan lirih.
di usapnya pundak lelaki itu dengan lembut.
"mas terimakasih untuk semuanya ya, Gladis sayang mas Cakra" Gladis selaku istri dari sosok lelaki yang berada di sebelahnya ini langsung tersenyum hangat kepadanya. la berdiri dari duduknya.
berjalan menjauhi lelaki itu yang di ketahui bernama Cakra.
melihat pemandangan dimana Cakra bisa melihat istri, dan anak-anaknya untuk terakhir kalinya. membuat hatinya begitu kalu, dan keringat dingin dalam bersamaan. membuang rasa sesak sejenak. di gantikan dengan senyuman hangatnya yang tidak pernah la tunjukan kepada siapapun kecuali sang istri, dan anak-anaknya. melambaikan tangan untuk terpisahkan terakhir.
Cakra terbangun dari tidurnya. mencoba menyesuaikan netra matanya pada sekitar. la duduk di tepi ranjang, menoleh kesamping dimana biasanya sang istri ada di sebelah sekarang sudah tidak ada lagi. yang bisanya suara bising, dan gaduh akan anak-anaknya yang bertengkar di luar kamar mereka. sudah tidak ada lagi. rumah itu begitu sunyi. hanya tertinggal seorang diri sekarang.
"maafkan papa yang gak bisa menjaga kalian dengan baik, ku harap kalian bisa tenang di alam sana. papa sayang kalian" monolog Cakra dalam penyesalan terdalam nya.
tamat