"Macan tutul! Ada macan tutul!" teriak anak-anak SD kelas tiga dan empat. Kemudian mereka berhamburan dan berlari.
Teriakan dan ejekan itu disematkan pada gadis kelas tiga juga. Rambutnya bewarna merah-merah seperti rambut jagung tua, berkulit sawo matang. Dan ia memiliki panu di sekujur wajahnya.
Namanya Ayana gadis pendiam dan pemurung. Ia jarang memiliki teman jika adapun ia dijadikan alat untuk mengerjakan tugas. Ayana dijuluki macan tutul karena panu di wajahnya.
Jika bel berbunyi dan ke luar menuju kantin sekolah Ayana bersiap-siap menebalkan telinganya karena ejekan teman-temannya.
"Macan tutul lewat!"
"Hitam macan tutul-nya!"
Hahahaha!
Ayana kuat ia tak kan menangis. Toh, tak ada yang membelanya.
Singkat cerita Ayana memasuki kelas lima gelar macan tutul tetap ada dan menempel pada dirinya.
Sedang asik duduk di bangku taman sekolah dan menyantap mie mentah. Tiba-tiba Rinto kakak kelasnya mengejutkannya dari belakang.
Ba!
Ayana tak kaget hanya sedikit tersedak. Ia berpaling melihat siapa pemilik suara itu.
"Heh, macan tutul! Duduk sendirian, ya. Ya iyalah, mana ada teman yang mau sama macan tutul kaya kamu!"
Ketiga temannya tertawa terbahak-bahak.
Ayana tetap diam dan melanjutkan makannya.
"Heh, macan tutul! Kau tuli ya?!"
Bungkus mie mentah di tangan Ayana dirampas padahal isinya masih banyak.
"Jangan ganggu aku, Kak. Pergi sana!" Ayana memberontak. Ia berdiri dan meraih kasar mie-nya di tangan Rinto. Matanya merah berkaca-kaca.
Dengan usilnya es di gelas plastik dituang ke baju Ayana dan basah.
Hahahaha!
Mereka pergi meninggalkan Ayana. Ayana berbalik.
"Heh, Rinto! Aku doakan Tuhanku membalas perbuatan mu. Bila perlu kau ketabrak sekalian!" Ayana dengan kesal mengucap sumpah itu.
*
*
*
Seminggu kemudian siswa-siswi menggalang dana untuk membantu biaya rumah sakit. Rinto tertabrak motor oleh pengemudi yang mabuk.
Ayana terdiam mendengar kabar itu. Ia tersenyum misterius.
Setelah pulih Ayana bertemu Rinto. Wajahnya, sama persis totol-totol bekas luka seperti macan tutul.
Ayana menunduk ia takut berpapasan dengan Rinto. Tanpa disangka.
"Hey. Aku minta maaf." Rinto mengulurkan tangannya kepada Ayana.
Ayana mengangkat wajahnya dan menerima uluran tangan Rinto.
Semenjak kejadian itu jika ada yang mengganggu Ayana dengan sebutan macan tutul maka Rinto yang akan membalasnya atau dengan menakuti siswa-siswi agar jera.
Tamat