Sepulang sekolah aku merasa sangat lelah, setelah berganti baju aku pergi ke dapur untuk makan siang. ayah dan ibu pergi bekerja. tinggallah aku sendiri di rumah kala itu.
aku menuju ruang tengah duduk di kursi menghadap televisi. aku makan dengan melihat film kartun kesukaan ku.
sesekali aku melihat beberapa adegan yang membuat aku tertawa. hingga tak terasa habis sudah makanan yang berada di piring.
"ah kenyang nya." ucap ku pada diri sendiri karena memang tak ada siapapun untuk aku ajak berbicara bahkan seorang asisten rumah tangga pun tak punya.
setelah mengembalikan piring bekas makan ku di dapur. aku kembali ke ruang tengah.
"bosan sekali." ucapku setelah memencet-mencet tombol remot. karena acara kartun sudah selesai aku memindah acara TV tapi tak ada satu acara yang bisa membuat aku bertahan di hadapan TV.
"lebih baik aku ke kamar untuk istirahat aku lelah sekali." ucapku
akupun melangkah menuju kamar ku setelah aku menutup pintu utama dan dapur takut ada hewan liar yang masuk ke dalam rumah.
pikirku tidak akan mengunci pintu utama karena mungkin sebentar lagi ibuku pasti segera pulang.
aku merebahkan tubuhku, rasa yang nyaman dalam diriku membuat aku terlelap tanpa sadar.
aku terbangun ketika hari hampir senja, aku mendapati seseorang yang dekat denganku berada di dalam rumah. saat aku hendak mandi yang letak kamar mandi harus melewati dapur.
"mbak isma." aku terkejut melihat kakak perempuanku yang sedang ada didapur.
sejak mbak Isma menikah, ia tinggal bersama suaminya dengan ayah mertuanya yang sudah tua.
"eh Lina, sudah bangun?" tanya mbak Isma padaku.
aku menjawabnya dengan anggukan kepala. "mbak datang sendiri?" ucapku kemudian.
Namaku Alina Agustin. aku masih duduk di bangku SMP, tepatnya kelas 9. aku memiliki seorang kakak perempuan bernama Isma Apilia.
"sama mas Lukman tapi masih ke rumah temannya tadi di anter sampai depan aja. apa kamu tadi bersama Naura?" sahut mbak Isma.
"tidak kak, kenapa? apa mbak Feri kesini?" tanya ku yang berfikir mungkin mbak Feri kesini untuk mencari Naura.
Naura adalah anak tetangga ibunya bernama Feri biasa aku menyebutnya mbak Feri. Naura anak kecil yang usianya masih sekitar 5 tahunan.
"ah, enggak ko dek. mbak Feri gak kesini." ucap mbak Isma yang menggeleng-gelengkan kepala.
"oh, yaudah. aku mandi dulu mbak" ucap ku yang seraya melangkah ke dalam kamar mandi.
hari yang memang sudah senja membuat air dalam bak mandi terasa sangat dingin dan aku mengakhiri acara mandiku secepatnya.
"dek." panggil mbak Isma.
mbak Isma sudah berada di ruang tengah bersama ayah dan ibu saat aku melewatinya hendak ke kamar. mereka tampak asik mengobrol
"emh." jawabku dengan mengangkat alis hendak melewati mereka menuju kamar untuk merapikan diri walu hanya sebatas menyisir rambut.
"tadi kamu tidur sama siapa, dek?" tanya mbak Isma pada ku.
aku pun mengerutkan dahi serta duduk di samping mbak Isma mengurungkan niat untuk menuju kamar.
"yaa, tidur sendiri lah mbak tadi kan ayah sama ibu lagi kerja." ucapku menjelaskan.
setelah solat maghrib berjamaah, kami berempat berkumpul di ruang tengah membicarakan banyak hal.
"mbak Isma nginep sini gak?" tanyaku.
"mungkin dek soalnya kan mas Lukman belum dateng kalo pulang udah males, biar aku ajak nginep aja." ucap mbak Isma.
"lalu gimana sama ayah mertuamu?" tanya ibu.
"sama bibi bu." jawab mbak Isma.
"oh iya dek, tadi mbak datang pintu gak di kunci jadi mbak buka aja. mbak liat kamar kamu tertutup aku panggilin gak ada jawaban aku coba buka tapi kamarnya kamu kunci."
akupun menganggukkan kepala. "terus mbak?"
"lalu mbak ngintip di lubang kunci, mbak liat..". mbak Isma menggantungkan ucapannya ada keraguan untuk menyampaikan.
"liat apa mbak? liat aku tidur?" tanyaku sambil tertawa.
"iya liat kamu tidur tapi ada lagi" semakin ragu mbak Isma menjelaskan.
ayah dan ibu hanya mendengarkan saja ocehan kami berdua dengan menonton TV.
akupun mengerutkan keningku seakan meminta penjelasan.
"tadi ada sepasang kaki seukuran anak kecil mbak lihat dengan posisi duduk di tepi ranjang tempat tidurmu, tapi mbak gak lihat wajahnya." ucap mbak Isma dengan sedikit ketakutan.
saat mbak Isma bercerita sekelebat kejadian tadi sore terbayang di benaknya.
mbak Isma yang tiba di rumah masa kecilnya, mengetuk pintu utama namun tidak ada yang membukakan.
"Lina mungkin sudah pulang mungkin dia sedang tidur." ucap mbak Isma yang sudah memasuki ruang tamu karena pintu memang tidak di kunci dari dalam.
mbak Isma mendekati kamar Lina yang dulu adalah kamar mereka berdua. perlahan dan pasti mbak Isma mendekat dicobanya membuka pintu itu. ternyata Lina mengunci pintu dari dalam.
mbak Isma mengintip dari celah kecil lubang kunci, pintu kamar itu hanya bisa di kunci dengan engsel kayu yang ada di balik pintu bagian dalam sehingga bisa melihat bagian apapun yang ada di balik pintu meski dengan pandangan terbatas.
mbak Isma melihat Lina yang sedang tertidur membelakangi seorang anak kecil pikirnya.
sepasang kaki di tepian ranjang yang di ayun-ayun kedepan dan kebelakang. kaki itu terlihat putih bahkan seperti pucat dan berdebu.
mbak Isma mencoba melihat ke sekitar anak kecil itu, berharap bisa melihat lebih dari sepasang kaki. Ia mencoba lihat bagian tubuhnya melekat baju berwarna putih seperti dress yang anak kecil itu kenakan mungkin sebatas lutut karena posisi anak kecil itu duduk di samping ranjang membelakangi Lina.
tangan nya berada di sampingnya berpegangan pada sisi ranjang. tangannya yang juga putih pucat dengan memainkan jemarinya di ranjang kayu milik Lina.
mbak Isma ingin melihat lebih dari itu tapi nihil. lubang kunci tidak bisa melihatkan banyak hal serta tidak terlalu banyak cahaya yang masuk karena hari memang sudah hampir sore dan lampu kamar Lina masih belum menyala.
kemudian mbak Isma pergi meninggalkan kamar Lina menuju dapur.
*mereka tidak tau siapa itu? yang pasti bukan Naura. entah itu siapa mereka pun tidak ada yang tau dan mencoba tidak membahas lagi.👣