Diteras rumah, dua insan tengah memandang ke depan sambil membicarakan suatu hal.
"Apakah engkau masih ingat dengan awal pertemuan kita dahulu?"
"Iya, aku mengingatnya. Waktu itu di sekolah menengah. Dan kita satu kelas saat itu."
"Duduk kita berjauhan, tapi aku tahu bahwa kamu selalu melihatku. Selang beberapa hari, kamu mulai mendekatiku."
"Akhirnya aku menembakmu saat pulang sekolah. Aku melakukannya dengan nekat kala itu."
"Benar. Kita jarang berbicara. Tetapi kamu dengan beraninya menyatakan perasaan sukamu padaku. Hal itu membuatku terkejut karena datang secara mendadak."
"Haha mengingatnya lagi serasa ingin kembali menjadi anak sekolahan ya."
"Benar. Aku rindu masa-masa itu. Teman-teman, sekolah, dan segala aktivitas yang dilakukan disana."
Mereka berdua saling menatap setelah mengenang masa remaja dahulu. Lalu sang lelaki mendekati sang perempuan yang ada didekatnya. Dia menampilkan senyum dan lanjut bicara.
"Waktu berjalan dengan cepat. Bahkan kita berdua sudah sampai dititik ini. Percintaan kala remaja dengan masa sekarang tentu ada perbedaannya. Namun, dimasa sekarang ini cinta itu terasa lebih dari pada sebelumnya. Tidak hanya soal melempar kata-kata romantis, tetapi perbuatan dan kesetiaan juga teruji saat ini."
Memegang kepala sang perempuan dan mendekat ke wajahnya.
"Aku sangat bersyukur bisa memiliki pendamping hidup sepertimu. Dan terima kasih untuk segala hal baik yang telah kamu berikan padaku."
Kemudian sang perempuan membalas sembari memegang sebelah pipi dari lelaki yang ada didepan matanya.
"Aku juga demikian. Terima kasih telah membimbing dan perhatian padaku. Senang bisa menjadi pendampingmu."
Mendengar perkataan pasangannya itu, sang lelaki langsung mencium kening dari istrinya.
"Mari melangkah seirama dan tentu bersama dia juga nantinya."
"Ya, aku juga menantikan momen itu. Tetaplah genggam tanganku dan juga dia diragaku ini."
Mereka berdua menatap ke arah yang sama sambil memegang perut sang istri yang tengah mengandung.
-----SELESAI-----