Suara riuh penonton menggema di seluruh stadion ini. Bukan acara bola yang sedang diselenggarakan, melainkan sebuah konser musik. Konser seorang penyanyi yang sedang naik daun dan baru saja comeback setelah satu tahun vakum. Tentu dia sangan digandrungi oleh banyak khalayak ramai.
Dari berbagai usia, dari remaja hingga dewasa. Termasuk aku, seorang editor sebuah perusahaan entertainment. Aku tidak pernah absen tiap ada konsernya. Namanya adalah Lee Dong Min, seorang penyanyi, musisi, sekaligus aktor. Dong Min seseorang yang multitalenta. Pria berusia 26 tahun itu memulai karirnya ketika berusia sepuluh tahun. Wajah tampan dan bakat yang dimilikinya membuat Dong Min bersinar terang di industri entertainment.
Aku mengenal Dong Min karena kami bekerja di dalam satu entertainment. Yakni HF Entertaiment yang menaungi banyak aktris dan penyanyi yang juga bersinar. Jujur saja, selama bekerja di HF Entertaiment aku belum pernah sekalipun bertemu dengan mereka. Maksudku para bintang HF Entertaiment.
“Hani! Kau mau kemana?” tanya Byul, salah satu rekan di tempatku bekerja.
Namaku Hani, aku berasal dari Indonesia dan kini sedang bekerja di Korea Selatan. Hidupku sangat beruntung bisa bekerja di tempat yang menyenangkan dengan orang- orang baik.
“Aku mau ke kamar mandi, kau bisa menungguku di pintu keluar,” jawabku yang bergegas keluar dari stadion.
Konser sudah selesai beberapa menit yang lalu. Namun, euforia masih belum hilang. Sepertinya para penonton di sini masih merasa belum puas dengan penampilan Dong Min di atas panggung tadi. Aku sudah berada di luar stadion. Ponsel yang sedaritadi kugenggam terus bergetar. Tanpa berniat menjawab, aku berlari menuju suatu tempat. Aku berbohong pada Byul, aku tidak ingin ke kamar mandi.
Namun, aku sudah berjanji pada seseorang untuk menemuinya setelah konser. Senyumku terbit saat melihat seseorang yang sudah sangat aku kenal berdiri membelakangiku. Sepertinya dia sedang kesal, ada ponsel menempel pada telinga kirinya. Aku berjalan mengendap berniat hendak mengejutkannya.
“Sudah lama menunggu?” tanyaku menepuk bahunya yang lebar itu, sangat nyaman jika dijadikan tempat bersandar.
“Yya! Darimana saja kau?” tanyanya, wajahnya terlihat sangat terkejut. Tentu hal itu membuatku tertawa.
“Maaf, tadi Byul tidak mau melepaskanku.”
GREP!
“Pakai ini, agar tidak ada yang mengenalimu,” ucapnya memakaikan topi hitam yang sedaritadi dipakai olehnya.
Aku tersenyum dan mengamit lengannya, sementara dia membalas memeluk pinggangku. Kami berjalan menjauh dari tempat semula, mencari tempat yang lebih sepi untuk bercakap- cakap. Bukan apa- apa, hanya saja kami tidak mau ada seseorang yang melihat.
Aku duduk di sebelahnya, ada sebuah bangku panjang di sana. Aku melepas topi setelah melihat situasi aman, gerah juga mengenakan topi seperti ini. Sebuah tangan tiba- tiba terulur untuk merapikan rambutku yang sedikit berantakan.
“Bagaimana tadi penampilanku?” tanyanya masih dengan senyum manis.
“Seperti biasa, sempurna. Kau pasti lelah, setelah ini masih harus tour lagi,” jawabku.
Wajahnya memang terlihat sangat lelah. Bahkan peluh masih menetes di dahinya. Aku mengeluarkan tisu dari dalam tas dan menyeka keringat yang menetes. Namun, tanganku ditahan olehnya.
“Semua lelahku hilang setelah bertemu denganmu.”
CUP!
Sebuah kecupan di pipi sebelah kanan mengejutkanku. Semburat merah muda muncul di kedua pipiku. Sementara dia tertawa puas melihat wajah merahku.
“Setelah masa comeback- ku selesai. Ayo, kita makan malam bersama.”
“Baiklah. Aku pegang janjimu, ya?” ucapku tersenyum lebar.
“Aku benar- benar merindukanmu. Kita jarang bertemu karena comeback- ku.”
Aku mengangguk paham dan merentangkan kedua tangan lebar- lebar. Dia segera menyambutnya. Aku dibawa ke dalam dekapan hangatnya. Sungguh aku pun juga sangat merindukannya.
Dering ponsel harus kembali memisahkan kami. Dia mengambil ponselnya dan mendengus sebal saat melihat layar ponsel yang berkedip itu. Aku menyuruhnya untuk segera menjawab panggilan itu.
“Yya! Lee Dong Min! Dimana kau, Hah? Mengapa tiba- tiba menghilang?”
Suara dari seberang sana terdengar jelas sampai ke telingaku. Aku meringis mendengar suara melengking itu. Sementara Dong Min menjauhkan ponselnya dari telinga demi keamanan gendang telinganya.
“Aku harus kembali sekarang,” ucap Dong Min dengan wajah lesu.
“Kembalilah, satu minggu lagi kita bisa bertemu lagi,” hiburku.
“Baiklah, maaf aku tidak dapat mengantarmu.”
Aku hanya mengangguk, kulambaikan tangan padanya yang berjalan menjauh. Lalu aku juga segera pergi darisana, pasti Byul sudah lama menunggu.
🧩🧩🧩
Rahasia yang kami simpan rapat- rapat. Benar, aku dan Lee Dong Min berpacaran semenjak satu setengah tahun yang lalu. Jauh- jauh hari sebelum dia vakum selama satu tahun. Aku bertemu secara kebetulan dengan Dong Min di kantor. Kala itu Dong Min sedang membolos latihan dan tidak sengaja bertemu denganku yang hendak menyerahkan laporan pada atasan. Aku memergokinya sedang duduk lesehan di balik pot bunga besar.
Tentu kami sama- sama terkejut. Dia mengika bahwa aku adalah salah satu stafnya, sementara aku terkejut dengan wajah tampan Dong Min yang tidak layak di sebut sebagai manusia. Dong Min lebih seperti seorang malaikat tanpa sayap. Semenjak pertemuan itu kami menjadi dekat dan berakhir berpacaran.
“Ayo kita publish hubungan kita,” ucap Dong Min tiba- tiba.
Aku membulatkan mata. Tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Kami bertemu setelah Dong Min menyelesaikan masa comeback- nya.
“Kau yakin?” tanyaku ragu.
Bukannya aku tidak senang, tentu aku juga merasa senang jika dia mau serius seperti ini. Namun, aku masih harus memikirkan akibatnya. Memikirkan bagaimana respon para fans dan juga pihak agensi. Memang aku lebih muda darinya, usiaku baru 23 tahun. Aku juga tidak terlalu berharap lebih pada hubungan ini. Namun, disisi lain aku juga belum siap jika hubungan ini berakhir. Dong Min seseorang yang sangat baik, penyayang, dan pengertian.
“Kau tidak perlu cemas. Biar aku yang akan membicarakannya dengan agensi nanti.”
Aku masih ragu, apakah agensi mengizinkannya? Aku memutuskan untuk mempercayakannya pada Dong Min dan aku siap menanggung segala konsekuensinya.
Namun, ternyata masalah lain muncul. Sejak pagi tadi agensi sudah ramai dengan orang- orang juga dering telepon. Aku yang baru saja sampai kantor tidak paham apa yang sedang terjadi. Tiba di ruanganku, semua mata tertuju padaku. Byul menghampiriku dan memelukku.
“Ada apa ini?” tanyaku tidak paham.
“Bagaimana bisa kau merahasiakan ini dariku?” tanya Byul melotot.
“Apa sih?”
“Kau belum melihat berita pagi ini?”
“Berita apa?” tanyaku mengernyitkan dahi.
“Lihat ini!” tunjuk Byul pada layar PC di mejaku.
Aku membulatkan mata melihat foto yang terpampang nyata di sana beserta sebuah artikel. Bagaimana bisa kami tertangkap kamera dengan begitu jelas?
“Hani, kau dipanggil Pak CEO,” ucap seorang rekan kerjaku yang lain.
Spontan aku menegakkan punggungku. Dengan langkah kaku aku menuju ruang CEO. Pikiranku sudah berkelana entah kemana, bahkan memikirkan keluarga di Indonesia juga.
Suara tawa yang pertama kali kudengar dari dalam ruang CEO. Aku masih berdiri di belakang sekretaris Pak CEO yang sedang mengetuk pintu. Setelah dipersilakan masuk, aku berjalan dengan was- was. Baru pertama kali aku berhadapan dengan pemilik agensi tempatku bekerja, tentu hal itu membuatku gugup.
“Hani- ssi?”
“Ya?” jawabku spontan dan mendongak.
Mataku sedikit membulat saat bertemu pandang dengan Dong Min yang sedang tersenyum lebar. Pria itu berjalan mendekatiku dan menuntun agar duduk di sebelahnya.
“Tenang saja, aku sudah menjelaskan yang sebenarnya.”
Aku hanya tersenyum kaku. Pak CEO mulai menjelaskan mengapa beliau memanggilku ke ruangannya. Diam- diam aku menghembuskan napas, ternyata Pak CEO tidak menakutkan seperti yang aku bayangkan. Aku menatap mata Pak CEO ketika beliau memperbolehkan aku dan Dong Min menjalin hubungan, bahkan beliau akan membantu menjelaskan ke media juga fans Dong Min.
🧩🧩🧩
Aku kembali duduk di tribun penonton untuk menonton konser Dong Min. Suasana sudah ramai, bahkan kursi sudah penuh. Aku mendapat tiket VVIP dari Dong Min semalam, sehingga aku dapat duduk paling dekat dengan panggung. Suara riuh para fans Dong Min membahana memenuhi tempat konser kala Dong Min naik ke atas panggung. Malam ini Dong Min terlihat sangat tampan dengan setelan jas warna hitamnya, terlihat sangat berkharisma.
“Terima kasih saya ucapkan untuk kalian para fans yang selalu memberi dukungan dan terima kasih juga kepada seseorang yang sangat spesial di hidup saya…”
Aku melirik ke kanan dan kiri, perasaanku mendadak tidak enak. Benar saja, semua pasang mata menatap kearahku. Sekarang aku sudah bagaikan artis mendadak tenar.
“Untuk My Lovely Hani, silahkan naik ke atas panggung,” pinta Dong Min mengulurkan tangannya di depanku.
Aku membulatkan mata dan menggeleng pelan. Apakah dia sudah tidak waras? Bagaimana bisa dia memintaku naik ke atas panggung? Sedangkan dimana- mana ada kamera yang menyorot. Namun, Dong Min masih terus memaksa hingga akhirnya mau tidak mau aku menurut. Setelah naik, tiba- tiba Dong Min berlutut di depanku membuat teriakan para fans menggelegar. Lalu dia mengeluarkan sebuah cincin.
“Menikahlah denganku!”
Sebuah permintaan terlontar dari mulut Dong Min. Aku spontan menggaruk ujung hidungku, jika seperti ini aku harus menjawab apa?
“Kamu tidak perlu menjawab karena aku tidak sedang memberikan tawaran padamu,” ucapnya tersenyum manis dan meraih tanganku, memakaikan cincin itu di jari manis.
Tuhan, apakah ini benar- benar nyata? Atau hanya sebagian mimpi indah yang engkau kirimkan di saat aku tidur?
🧩🧩🧩
End.