Gadis dengan rambut dicepol itu segera memasuki panggung. Riuh penonton yang hadir membuat semangatnya semakin membahana. Kakinya mulai menjijit badannya meliuk, berputar, dan menari sesuai irama.
Di kursi penonton, ada sosok yang membelalakan matanya. Baru pertama kali inilah ia menonton pertunjukan balet remaja di gedung kesenian. Kalau bukan karena sepupunya yang bernama Anna memaksanya untuk ikut, ia tidak akan berada di tempat itu.
“Bang.. bang.. Temenku hebat kan?” Anna yang telah berusia 15 tahun itu bertanya. Padahal, jarak perbedaan usianya hanya dua tahun.
“Oh itu, iya” Jawab Abang dingin.
“Halah Bang Gifar, kamu takjub juga kan liat penampilannya” Anna menggoda Gifar dengan menyenggol sikutnya. Gifar tak bergeming.
Selesai pementasan tunggal itu, Anna mengajak ke belakang panggung. Tentu saja dengan menyeret Gifar. Pada saat itulah Gifar melihat secara langsung dengan jarak dekat mata penari balet itu, yang bernama Luna. Gadis kecil itu seumuran dengan Anna, tak ada yang aneh, hanya saja mata Luna memancarkan semangat yang penuh terhadap hal yang disuka, yaitu balet.
Saat di perjalanan pulang, Anna tak berhenti mengoceh tentang Luna. Gifar mendengarnya sayup-sayup karena beradu dengan suara motor lainnya. Anna bercerita, Luna sudah memenangkan banyak penghargaan balet. Luna memang sudah sejak dari usia 5 tahun diperkenalkan dengan balet.
Sejujurnya, dalam hati Gifar, ia sangat tersanjung dengan penampilan Luna. Ada momen menarik ketika Luna tersenyum, terlebih di atas panggung. Penampilan Luna membuatnya sadar, bahwa ia belum bisa memancarkan senyum yang tulus terhadap hal-hal yang ia suka. Ia belum mengetahui dan menekuni kegiatan yang menjadi hobinya.
“Bang, kamu suka Luna, kan?”
“Hah! Ngarang aja kamu!” Sangkal Gifar lalu mengegas laju motornya. Teriakan Anna membuatnya tertawa dan sejenak melupakan pikiran tentang hobinya dan juga gadis balet itu.