Viola melangkahkan kaki dengan tergesa. Ia sudah terlambat 10 menit dari jadwal busnya hari ini, sehingga ia tertinggal bus jemputan. Ia perlu keluar dari gerbang komplek dan mencari ojek.
Hari ini semakin sial, tidak ada satupun ojek di pangkalan. Hari Senin seperti ini memang biasanya menjadi sangat sibuk, begitu pun tukang ojek. Di seberang jalan, ia melihat sosok lelaki yang menertawakan raut wajahnya. Viola semakin mendengus kesal, lelaki itu semakin menertawakannya. Dialah Davin.
Davin dengan motornya mendatangi Viola di seberang Jalan dan menawarkan untuk mengantarnya. Awalnya Viola menolak, karena pasti Davin, teman masa kecilnya akan mengejeknya habis-habisan di jalan. Tapi, di saat tergesa, akhirnya Viola pun menerima ajakan Davin.
“Gimana rasanya terlambat sekolah?” Tiba-tiba Davin bertanya saat di perjalanan.
“Ya sama aja kayak kamu terlambat ke turnamen lah.” Jawab Viola asal-asalan.
“Aku sih gak pernah terlambat turnamen, Vi. Hahaaa”
“Bodo amat, cepet ngebut!” Davin pun yang terkekeh kembali mengencangkan gasnya.
Davin memang atlet bulu tangkis yang sudah tidak pernah sekolah umum sejak SMP. Ia memilih fokus untuk menjadi atlet dan memilih home schooling. Dari teman masa kecil Viola, Davin lah yang sudah memantapkan diri menjadi apa yang ia mau. Walau berbeda jalan dengan Viola, Davin selalu menemukan cara untuk menikmati masa remajanya.
Sesampainya di sekolah, Davin mengucapkan,
“Belajar yang rajin ya Bu Dokter!” Viola tersenyum, sambil terkekeh. Merasa senang dan puas, entah mengapa.