"Aku tidak suka laut," gadis kecil itu bergumam sambil menendang pasir di pantai. Laut yang kebiruan dan jernih terbentang di depan matanya. Anak lelaki yang ada di sampingnya membuat istana pasir sambil sesekali melirik ke arah gadis kecil.
"Kenapa kamu gak suka? Laut kan gak ngapa-ngapain," suara anak lelaki itu terdengar lembut. Gadis kecil menghampirinya sambil membawa amarah yang terlihat menggebu-gebu.
"Kamu tidak tau?! Laut itu cantik! Aku tidak suka ada yang lebih cantik dari aku," gadis kecil menampakkan wajah cemberut sambil berjongkok di depan istana pasir. Anak lelaki itu tersenyum tipis dan mencubit pelan pipi si gadis kecil.
"Kamu itu cantik dan laut gak ada hubungannya sama cantiknya kamu. Sekarang, yuk kita pergi! Mama pasti nunggu kita," anak lelaki itu berdiri dan membersihkan pasir yang menempel. Ia lalu menggenggam tangan gadis kecil. Mereka lalu tertawa sambil berlarian kecil menuju orangtua mereka yang sudah menunggu.
***
"Zoe, aku nunggu kamu. Kalau udah sampai kabari ya! Dah, cantik," lelaki itu menutup teleponnya. Dia tersenyum dan menatap cincin yang tersemat di jari manisnya. Dalam waktu seminggu ia akan menikah.
"Ap! Turun, Nak! Bantu Mama!" Ia bergegas turun dari lantai 2, tempat kamarnya berada menuju dapur. Ibunya sibuk memasukkan bahan belanjaan. Ibunya yang mulai menua kini terlihat letih.
"Gak kerasa ya, bentar lagi, Apya dan Zoeya bakal bersatu. Mama gak nyangka kalian bakal jadi beneran. Nanti kalau udah punya anak kalian namain Yaya, ok? Haha," ibu Apya berbicara melantur sambil menaruh belanjaannya.
"Ya, gak, lah, Ma.. Lagipula aku gak tau Zoe pendapatnya kayak gimana. Nanti kami bicarain lagi kalau udah beres semua," Apya tersenyum dan melipat plastik bekas belanja ibunya karena telah kosong.
Zoeya akan pulang malam ini menggunakan bus. Ia bekerja di lain pulau dan akhirnya berhasil membereskan tugas mendadak yang diberikan atasannya. Apya hanya berharap waktu cepat berlalu. Sesekali dia melihat layar ponselnya yang masih menunjukkan jam 4 sore.
Sebuah pesan pun masuk. Apya izin pada ibunya untuk membalas pesan dari Zoeya. Senyuman tak kuasa dikendalikannya.
Zoe: "Besok jemput aku ya"
Ap: "Iya, tentu, cantik."
Zoe: "Oh, iya, aku pakai jaket biru itu loh! Yang hadiah dari kamu!"
Ap: "Begitu?! Baguslah! Aku gak sabar nemuin kamu"
Zoe: "Eh, Ap, inget gak dulu aku gak suka sama laut?"
Ap: "Inget dong! Yang kamu bilang laut itu cantik kan?!"
Zoe: "ish! Jangan inget bagian itu lah!"
Zoe: "Tapi setelah kupikir memang laut gak seburuk itu kok."
Ap: "Wah, wah, ada apa nih? Kok mendadak bahas laut?"
Ap: "Kamu mau kita foto-foto di laut?"
Zoe: "Haha, gak lah! Ngapain? Mau tenggelam?"
Ap: "Ya udah jangan lupa istirahat ok? Jangan terlalu cape!"
Dan obrolan mereka berakhir di situ.
***
Keesokan harinya, langit mendung masih tersisa. Semalam hujan deras membuat tidur orang semakin lelap. Apya yang sudah menunggu di terminal dari jam 5 subuh hanya memandang kosong langit mendung itu. Musik yang tersalur melalui earphone terdengar begitu jauh karena Apya larut dalam pikirannya sendiri.
"Zoe, mana ya?" Ia bergumam tanpa mengalihkan pandangannya. Sampai jam 8 pagi, mobil bus yang membawa Zoeya tidak muncul juga. Tak lama kemudian terminal perlahan dipenuhi dengan orang-orang. Karena berisik Apya tidak bisa lagi fokus pada lamunannya. Ia pun mulai memperhatikan sekitarnya dan melihat orang-orang itu berseragam.
"Pak, permisi, ini kok pada rame? Kenapa ya?" Apya bertanya kepada seseorang yang melintas di depannya. Bapak itu menjelaskan bahwa mereka semua adalah wartawan yang menunggu kedatangan para penumpang. Apya pikir mungkin ada artis atau semacamnya di bus itu. Tetapi siapa sangka yang ada justru berita duka.
Setelah datang mobil kecil berisikan beberapa orang. Para wartawan dan jurnalis langsung mengerumuni orang-orang yang keluar itu. "Pemirsa, di sini kami bersama para penumpang selamat dari ledakan di kapal yang telah dijarah oleh para teroris. Salah satunya adalah penumpang bus yang merupakan seorang ibu renta, kami..," penjelasan dari wartawan masih panjang tetapi Apya sudah sayup-sayup mendengarnya.
Di dalam hati ia mengelak fakta. Ia yakin akan bertemu dengan Zoeya. Ini pasti kapal yang lain. Ini tidak ada hubungannya dengan dia ataupun Zoeya. Sampai akhirnya ibu renta itu mendatanginya.
"Nak, kamu yang namanya Apya? Kalau dari penjelasan nona cantik sepertinya benar. Nona cantik bilang, tunangannya akan pakai jaket biru yang sama dengan ini," ibu itu menyerahkan sebuah jaket biru Kepada Apya. Para wartawan memotret kejadian itu. Apya yang tidak bisa berkata-kata karena terkejut dan tidak percaya hanya terdiam. Ia menangis terisak-isak tanpa suara sambil memeluk jaket itu.
***
"Ma, aku benci laut. Aku benci biru. Zoe pasti bakal kembali kan, Ma?" Apya yang terduduk diam di depan jendela bergumam terus menerus. Ibu Apya hanya menangis sambil memeluk suaminya. Apya yang tidak terima kenyataan terkena syok berat dan terkadang berhalusinasi. Cincin yang disematkan di jarinya tidak pernah dia lepaskan sejak hari itu.
Terkadang dia berlari keluar dan berteriak-teriak. Adakalanya ia menenggelamkan diri di bathtub. Orangtuanya semakin hari semakin khawatir. Apya hanya memeluk jaket biru milik Zoeya dari hari ke hari. Ia tidak mengizinkan siapapun untuk memegangnya.
Pernah sekali ia dibawa berjalan-jalan ke dekat pantai. Tetapi setelah melihat laut, ia berlari dan berkata, "Zoeya memanggilku! Dia ada di sana!" sambil menunjuk lautan yang dipenuhi ombak. Setelah itu ia menangis terisak-isak ketika diajak pulang.
Apya perlahan berangsur normal kembali. Orangtuanya menangis bahagia karena akhirnya ia menerima kenyataan. Padahal mereka tidak tau bahwa Apya sudah dipenuhi obsesi. Setiap hari jaket biru milik Zoeya ia bawa kemana-mana. Karena hanya dengan itu ia bisa merasakan hidupnya.
***