"Wulan!" panggil Jihan--sahabatnya. Jihan berdiri di depan pintu dengan mengenakan seragam putih abu-abu.
"Sebentar ...," sahut Wulan. Ia sedang memasang kaos kakinya.
"Wulan berangkat dulu ya, Bu." Ia dengan takzim menyalami ibunya.
"Belajar yang pintar. Hati-hati ya," kata Nunung sang ibu.
Jihan pun ikut bersalaman. Mereka pamit pergi untuk ke sekolah. Dengan mengayuh sepeda kesayangan masing-masing.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam ...."
Nunung menatap kepergian Wulan hingga tak terlihat lagi di belokan jalan.
Jihan dan Wulan tampak gembira kadang berhenti di pematang sawah. Menghirup udara segar di pagi hari.
Jihan dan Wulan berteman sejak kecil mereka terlahir dari keluarga yang sama-sama sederhana. Bedanya Jihan sudah tak memiliki ibu. Jika rindu dengan mendiang ibunya ia akan meminta izin memeluk Nunung.
Jihan dan Wulan bagai amplop dan perangkonya. Tak bisa dipisah.
Ketika pulang dari sekolah mereka bermain di pinggir kali kecil aliran air ke sawah-sawah.
"Aku sayang kamu, Jihan. Janji ya, jangan tinggalkan aku," ucap Wulan. Sambil menuntun sepedanya.
"Aku juga sayang kamu. Kamu seperti saudaraku." Jihan tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
*****
Jihan menangis karena Wulan telah berbohong. Sifatnya berubah 180 derajat. Setiap ditanya Wulan tak menyahut. Dan tak lagi menunggu kedatangan Jihan di depan pintu untuk pergi bersama ke sekolah.
Seperti hari itu ....
"Wulan tunggu aku!" panggil Jihan. Tapi Wulan pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Wulan menunduk dan muram.
"Wulan, kamu lupa ya, sama janji kamu?" tanya Jihan di samping Wulan.
Seketika angin berhembus lembut membangun kan bulu kuduk dan meremang.
"Wulan. Apa aku ada salah padamu?"
"Wulan kenapa kamu berubah?"
Seribu pertanyaan tak juga Wulan membalasnya.
Jihan penasaran dengan siapa Wulan berteman, apakah dia memiliki teman baru?
Jihan diam-diam mengikuti Wulan dengan sepeda kayuh nya. Ia mengikuti jalan setapak yang di lalui Wulan.
Jarak 500 meter Wulan berhenti di bawah pohon waru. Ia menyadarkan sepeda miliknya di batang pohon mati. Kemudian Wulan terduduk menangis. Jihan merasa aneh, apakah Wulan gila?
Di sana tak ada siapa-siapa, Jihan membatin. Sedikit demi sedikit Jihan mendekati Wulan yang sedang bersimpuh. Punggung Wulan nampak naik-turun. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
Sejengkal kemudian Jihan terperanjat dan terduduk juga.
Jihan membaca batu nisan di sana namanya tertulis. Jihan Anggraini wafat 28-09-81.
Jihan menangis bukan kah itu namanya? Jihan mencoba menyentuh pundak Wulan. Nihil! Ia tak mampu menyentuhnya.
Jihan meraung tak terima bahwa dirinya sudah berbeda alam.
Flashback
Jihan tampak berbeda seperti biasanya.
"Wulan aku sayang kamu," ucapnya berulang-ulang.
Wulan mengangguk. Jihan menggoda Wulan agar ia dikejar.
Mereka pun kejar-kejaran dengan bersepeda.
Laju Jihan mengayuh hingga rantai sepeda miliknya putus dan ia masuk ke jurang se-dalam 5 meter. Batok kepalanya pecah dan menghembuskan napas terakhirnya di tempat.
Tamat.