Gian Antaero menikah dengan seorang gadis cantik namun memiliki gangguan mental. Ia menikahi gadis itu atas dasar kasihan. "Ayo jalan." Ajak Melati. Istrinya. Ia merengek dengan air liur yang mengalir dari mulutnya. "Mau jalan ke mana? Tadi kan udah jalan. Nanti aja deh." Gian me-lap air liur Melati. Kemudian ia kembali tertidur.
Melati terus merengek. Ia bahkan meronta-ronta layaknya anak kecil. "Yang, aku nggak bisa ajakin kamu jalan. Soalnya aku lagi nggak enak badan." Ujar Gian berbohong.
Mendengar itu, Melati menghentikan tangisnya. Ia mendekati Gian. "Kamu takit?" Tanyanya. Ia menyentuh kening Gian untuk memeriksa suhu badannya. "Aduh, panas bangett." Ujarnya. Ia mengambil kotak obat mainan dan berlagak seperti dokter pada Gian.
Gian hanya tertawa melihat tingkah Melati. Terkadang, keberadaan istrinya bisa ia manfaatkan untuk menghibur dirinya.
Penyakit kelainan Melati disebabkan stres dan trauma karena orang-orang yang disayanginya pergi meninggalkannya. Mulai dari kekasihnya yang berselingkuh dengan sahabatnya. Dan Papanya yang telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Pada saat itu terjadi, Gian belum mengenal Melati dan keluarganya. Tidak ada pria yang berani melamar Melati. Pasalnya, kejadian itu sudah berlalu lima tahun yang lalu. Selama lima tahun itulah tidak ada satupun pria yang mau menikahi Melati.
Itu sebabnya bunda Melati heran saat mengetahui bahwa Gian datang menyampaikan kesanggupannya untuk menikahi Melati. Namun, karena tidak ada pilihan lain, bunda Melati mempercayakan Melati pada Gian sepenuhnya.
Melati memiliki psikiater khusus yang membantunya menangani penyakitnya.
💐💐💐
Suatu hari, Gian ada urusan bisnis di luar negara. Tadinya ia ingin membawa Melati bersamanya. Namun, orang tua Melati mengusulkan untuk pada Gian untuk tidak membawa Melati. Takut kalau-kalau dia bisa merepotkan pekerjaan suaminya. "Sayang, aku pergi dulu ya." Pamit Gian. Ia mengelus puncak kepala Melati lembut dan menciumnya.
"Kamu au e mana?" Gumam Melati tidak jelas. Ia menggigit jari-jarinya. "Aku ada urusan penting. Kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan nakal." Nasihat Gian. Ia menjauhkan jari Melati dari mulutnya. "Kamu au egi?" Tanya Melati dengan mata berkaca-kaca. Gian kembali mengelus kepala Melati dan menenangkannya.
Mata Melati mulai berkaca-kaca. Ia memeluk Gian erat dan menangis dalam pelukannya layaknya anak kecil. "Udah sayang. Suami kamu kapan berangkatnya kalau kamu kayak gini terus?" Bunda Via, bundanya Melati menarik pundak Melati dan merangkulnya. Melati menangis meronta-ronta saat Gian menaiki taksinya menuju Bandara. Pasalnya, Melati belum pernah jauh dari Gian selama mereka menikah. Melati bahkan menangis sambil terduduk di tanah dan meronta-ronta.
~~~
Sepeninggal Gian, Melati terlihat tidak berselera makan. Ia bahkan membanting piring-piring makanannya. Melihat hal itu, tentu saja bundanya tidak bisa diam. Ia memutuskan menelepon Gian lewat panggilan video.
"Hai cantik, udah makan belum?" Tanya Gian di seberang telepon. Melati tak menjawab. Ia memasang tampang seolah merajuk. "Melati nggak mau makan semenjak kamu pergi." Bunda Via yang menjawab. Gian hanya menghela nafas panjang. "Melati, kamu harus makan pokoknya. Aku janji deh, nanti pulang aku bakal beliin kamu balon dan es krim." Janji Gian.
Melati mulai tertarik. Ia memutar tubuhnya. "Aku mau..." Girangnya seperti anak kecil. Ia menggigit jari-jarinya. "Mm, tapi kamu harus makan dulu. Kalo nggak aku nggak jadi beliin balon dan es krim nya." Ucap Gian. Melati mengangguk senang. Ia tidak lagi sedih seperti kemarin. Kini, dia mau makan bahkan terkadang dia yang meminta makan pada bunda Via. Hal itu tentu membuat Gian lega dan tenang. Ia jadi bisa mengurus bisnisnya tanpa rasa khawatir lagi.
💐💐💐
Dua tahun telah berlalu. Kini, saatnya Gian pulang ke Indonesia menemui istri dan keluarganya. Sudah sangat lama ia tidak bertukar informasi dengan keluarganya di Indonesia karena urusan bisnisnya. Hal itu membuat dia cukup rindu pada istri kecilnya itu.
Sesampainya di pekarangan rumah keluarga Melati, Gian turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tersebut. Karena memang, Melati tinggal bersama ibu dan keluarganya selama Gian di luar negeri.
"Assalamualaikum, bunda." Gian menyalami tangan bunda Via. Ia ikut di sofa ruang tengah. Ia menatap sekelilingnya. "Kenapa nak Gian?" Tanya bunda Via memerhatikan Gian yang sedari tadi terlihat mencari sesuatu. "Mm, Melati mana, bun?" Tanya Gian bingung mencari keberadaan Melati.
Bunda Via terlihat menarik napas lalu menghembuskan nya. "Oh Melati. Dia lagi di kamar." Ucapnya. "Tapi..." Bunda Via menggantung ucapannya. "Gian ke kamar dulu ya, bun." Potong Gian. Ia sudah tidak sabar menemui istri nakalnya itu.
Gian tebak, pasti sekarang Melati sedang sibuk bermain seperti biasanya. Sesampainya di pintu kamar Melati, tanpa ragu, Gian membuka pintu tersebut. Ia melihat seorang wanita berdiri membelakanginya dengan rambut yang tergerai lurus dan panjang. Wanita itu berbalik menghadapnya. "Melati." Gian tak mengedipkan matanya melihat Melati yang berdiri di hadapannya ini berubah. Ia bukan Melati yang dulu. Melati yang bertingkah seperti anak kecil dan senantiasa bergantung padanya. Kini, yang ada di hadapannya adalah wanita cantik yang menatapnya datar. Ya, itu memang istrinya. Namun, yang membuat Gian heran adalah karena penampilan nya kini berubah drastis.
Melati menatap Gian sejenak. Ia kemudian berjalan melewati Gian dan keluar dari kamarnya.
Sedangkan, Gian hanya mematung di tempatnya berdiri. Beberapa menit kemudian, Gian tersadar dan berjalan hendak menyusul Melati ke bawah untuk berkumpul bersama keluarga nya.
Tapi, langkahnya terhenti saat tidak sengaja melihat meja di kamar Melati yang terdapat secarik kertas. Gian perlahan mengambil dan membacanya.
Untuk suamiku...
Maaf ya kalau selama ini aku ngerepotin kamu.
Jadi, selama kamu pergi, ada seorang dokter ahli akupuntur yang menawari kesanggupannya menyembuhkan ku hanya dengan cara menusuk kepalaku dengan jarum akupuntur nya. Katanya penyakit ku sebenarnya mudah untuk disembuhkan jika dari dulu kita berobat pada ahlinya.
Hm, entahlah, kenapa malah jadi bahas dokter sih.
Yang penting, saat aku sadar, hal yang pertama kali ku ingat adalah kamu. Aku ingat semuanya. Aku ingat saat kamu dengan sabar mengurusku dan mengajakku bermain.
Setelahnya, aku merasa bersalah. Maafkan aku yang telah selalu merepotkan mu. Dan tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu dan tidak bisa mengurus mu dengan baik seperti kebanyakan istri di luar sana.
Tapi,
kamu tenang aja.
Aku nggak bakal ngerepotin kamu lagi kok.
Setelah ini, nggak akan ada lagi Melati yang merepotkan mu. Melati yang nakal dan seperti anak kecil.
Sekali lagi, aku minta maaf ya.
Aku pergi, Gian...
Gian menjatuhkan kertas tersebut setelah membacanya. Ia keluar dari rumah tanpa membicarakan apa-apa lagi. Bunda Via yang paham akan apa yang sedang terjadi, hanya bisa mendoakan anak dan menantunya yang terbaik.
💐💐💐
Gian masuk ke dalam mobilnya dan mencari Melati. Ia segera menancapkan gas keluar dari pekarangan rumah tersebut. Namun, Gian teringat akan sesuatu. Ia tidak tahu ke mana Melati pergi. Gian memukul setir kemudinya frustasi.
Drtt
Drrt
Drtt
Gian meraih ponselnya yang berdering. "Halo, bun." Gian tahu yang menelepon adalah bunda Via. "Kalo kamu mau cari Melati, dia sedang berada di terminal Kalideres. Cepat susul dia sebelum terlambat." Ucap bunda Via dengan suara serak. Ia memutuskan panggilan sepihak.
Gian menancap gas menuju terminal yang dimaksud.
Sesampainya di sana, Gian mencari-cari keberadaan Melati. Namun, ia tidak kunjung mendapatkannya. "Melati, sebenarnya ke mana kamu ini?" Gusarnya. Ia masih celingak-celinguk saat melihat dari kejauhan istrinya sedang bersiap menaiki sebuah Bus.
Dengan cepat, Gian berlari menghampiri istrinya dan menarik tangannya. Melati sempat terkejut. "Istri nakal ku, kamu mau ke mana?" Tanya Gian dengan raut wajah khawatir. Melati melepas tangannya dari Gian. Ia membuang muka.
"Gian, aku mau pergi dari kamu. Aku nggak mau terus-terusan ngerepotin kamu." Ujar Melati dingin. Sejujurnya ini kali pertama Gian mendengar Melati berbicara layaknya orang normal seperti dirinya.
Gian menggenggam kedua tangan Melati. "Kamu sama sekali nggak ngerepotin aku. Justru aku senang ngurusin kamu." Ucap Gian lembut. Melati melepaskan tangannya. Ia menatap Gian lekat-lekat.
"Gian, aku bukan anak kecil lagi. Aku bukan Melati yang seperti dulu yang harus kamu urusin. Sekarang, Melati udah sadar. Melati sadar sepenuhnya, Gian. Jadi tolong biarin Melati pergi." Balasnya.
"Oh iya, aku pernah janjiin kamu beliin balon dan es krim ya. Ayo sekarang kita beli. Apapun yang kamu mau, aku bakal beliin buat kamu asal kamu jangan pergi tinggalin aku ya." Lirih Gian.
Melati menarik napas panjang. "Gian, jaga diri kamu baik-baik. Aku pergi sekarang ya." Ia membalikkan tubuhnya. "Kalau begitu, jadilah Melati yang dulu. Melati yang seperti dulu. Melati nakal ku yang selalu bersikap seperti anak kecil dan merepotkan ku. Aku lebih memilih itu daripada melihat kamu sembuh tapi harus ninggalin aku." Gian mengeraskan suaranya yang sukses membuat Melati menghentikan langkahnya akan ucapan Gian.
Gian berjalan mendekati Melati perlahan. "Maaf, tapi aku rindu kamu yang dulu. Maafkan aku karena terlanjur mencintai ketidaksempurnaan kamu." Bisik Gian lembut.
Melati membalikkan tubuhnya dan memeluk Gian. "Makasih ya udah mau sabar ngurus aku selama ini. Melati nggak berubah kok. Melati nggak akan pergi dan ninggalin Gian" Ucapnya di dalam dekapan Gian. "Sama-sama istri nakal ku." Balas Gian mempererat pelukannya. Mereka sama-sama menangis bahagia dalam pelukan tersebut.