Sebuah rasa ini hadir tatkala aku berjumpa dengannya untuk yang pertama kalinya. Di hari di mana kita melihat lembayung senja bersama.
"Senja itu indah bukan?" Dirinya bertanya tanpa mengenali diriku.
"Lihat warnanya begitu indah!" Bibirnya mengulas senyum indah namun aku dapat melihat ada secarik luka di dalamnya.
"Sayangnya hanya sebentar." Kini aku melihat ada genangan air di pelupuk matanya.
Begitulah senja, menampakan keindahan yang tidak dapat dijelaskan dengan sebuah kata dan hanya datang sebentar. Entah akan terlihat lagi di esok hari atau tidak, begitu pun dengan kehidupan terutama kebahagiaan ia datang dengan sejuta keindahan nya yang entah akan bertahan lama ataukah hanya sekejap menutup mata.
"Terima kasih." Bibirnya mengulas senyum, padahal air matanya masih saja berjatuhan tanpa bisa tertahan.
Yang bisa aku lakukan hanya menjadi pendengar, ia bercerita tentang senja dan juga langit malam terkadang ia membacakan sajak yang begitu indah.
"Ternyata sudah begitu malam, terima kasih sudah mau menemaniku." ucapnya sambil beranjak dan berlari meninggalkan aku.
"Padahal aku belum tahu namamu." gumamku dengan senyum masam.
Hari pun berlalu masih sama dengan hari sebelumnya, aku mencoba mendatangi tempat yang kemarin dulu. Berharap bisa berjumpa lagi dengannya. Sejak kejadian itu bayangannya tak bisa lepas dari pikiranku wajah cantiknya senyum manisnya serta sikapnya yang selalu...
Yuk lanjutkan.