Aku pernah berkata beberapa kali pada orang di sekitarku, bahwa mimpiku bukan sekedar bunga tidur. Tak jarang beberapa kejadian dalam mimpiku terjadi di dunia nyata. Bahkan Sarah teman dekatku di sekolah, selalu tertawa jika aku bercerita tentang mimpi-mimpiku yang pernah terjadi.
“Kamu nggak percaya, Sa?” tanyaku pada suatu hari.
Sarah tertawa sambil menggeleng, meski aku sudah beberapa kali mencoba untuk membuktikan omonganku tentang mimpi-mimpi itu.
“Lihat aja, bentar lagi, kamu bakal dipanggil Bu Rahma buat mewakili sekolah kita buat Porseni.” Aku melipat tanganku di depan dada, dengan penuh keyakinan tentang apa yang baru saja kukatakan pada Sarah.
Beberapa menit kemudian, terdengar pengumuman dari pengeras suara, panggilan untuk beberapa siswa. Seperti yang sudah kukatakan, Sarah juga ikut dipanggil.
“Tuh, kan?” celetukku.
Sarah mengangkat kedua bahunya, lalu berpamitan. Ia masih belum percaya. Di lain waktu, aku bercerita tentang skandal siswa yang akan menghebohkan sekolah. Namun Sarah buru-buru menutup mulutku dengan telapak tangannya.
“Jangan ngomong gitu, Na! Nanti orang bakal mikir kamu yang nggak-nggak,” ucap Sarah separuh berbisik. Aku mendengkus kesal, lalu melengos ketika Sarah menurunkan tangannya dari mulutku.
Begitu pula orang tuaku, bahkan Mamah malah mengajakku pergi ke psikiater beberapa waktu yang lalu.
“Tapi, Mah. Mimpi-mimpi Namara sering terjadi di kenyataan,” sanggahku sambil mengepalkan tangan kanan di pangkuan, kesal.
“Maksud kamu, mimpimu itu bisa jadi ramalan? Mustahil, makanya jangan kebanyakan baca buku fantasi!”
“Namara nggak menyebut itu sebuah ramalan, Mah.”
“Tafsir mimpi itu udah nggak jaman lagi, Namara!
“Ta—tapi, Mah ….”
“Sudah. Pokoknya, kamu harus bertemu sama temen Mamah! Ganti celana pendekmu itu!”
Aku hanya bisa pasrah saat Mamah membawaku ke tempat kerja temannya. Seorang psikiater. Meski wajah Tante Yulia cantik dan lembut, tetap saja tidak nyaman saat aku dijejali begitu banyak pertanyaan. Yang tentu saja, sama! Tidak mempercayai apa yang sudah kualami.
“Semua hal ini dimulai saat Namara terbangun dari sakitnya, Yul. Dia memang sempat panas tinggi dan mengigau. Aku sama Mas Bani sangat khawatir terjadi apa-apa. Setelah panas itu, gadisku ini nggak bangun selama seminggu.”
Aku mendengar penuturan mamah kepada tante Yulia saat mamah mendampingiku. Kemudian, tante Yulia mendekatkan wajahnya. Terlihat deretan gigi yang rapi dan putih saat tante Yulia tersenyum. Eh, bukan. Itu seperti menyeringai, bagiku. Entah apa yang dipikirkan teman mamah itu.
“Namara sayang, tante minta, kamu jangan terlalu berpikir dalam, tentang segala mimpi-mimpimu yang mungkin hanya refleksi dari apa yang kamu pikirkan. Nanti tante resepkan beberapa obat untukmu. Diminum, ya?” Entah kenapa, aku begitu jengkel dengan perkataan Tante Yulia tadi.
“Mamah pikir Namara gila, Mah? Sampe harus dibawa ke tempat Tante Yulia,” gerutuku saat kami sudah sampai di rumah.
“Bukan begitu, Sayang ….”
“Ah, sudahlah Mah! Mamah tetep nggak percaya sama aku!”
Aku berlari ke kamar dengan segala kejengkelan bertumpuk di dadaku. Baru kali ini, aku melawan perkataan, bahkan membantah Mamah. Aku sudah tidak sanggup lagi. Buliran-buliran bening di ujung mataku, sudah tidak bisa lagi kutahan. Aku mulai menangis, berbaring telungkup di atas ranjangku. Entah berapa lama aku menangis dan mulai merasakan kantuk yang amat sangat.
Dalam tidurku, aku bermimpi. Mimpi buruk. Sampai-sampai aku berteriak keras memanggil mamah. Terdengar ketukan pintu dan suara mamah.
“Na, kenapa? Buka pintunya, Sayang!”
Aku membuka pintu kamarku, wajah mama menyembul dari balik pintu.
“Kamu baru bangun?” tanya mamah.
Aku mengangguk, lalu memperhatikan mamah yang sudah berpakaian rapi.
“Mandi sana, habis ini temenin Mamah!”
“Ya, Mah.”
Aku tidak bisa menolak permintaan mamah, lalu menyambar handuk dan berniat ke kamar mandi.
“Maafkan Namara tentang tadi ya, Mah?” kataku sebelum mamah berlalu dari tempatnya berdiri tadi. Kulihat Mamah tersenyum.
Mamah mengajakku ke sebuah butik untuk mengambil pesanannya, sekaligus membeli beberapa obat di apotek yang tak jauh dari butik itu. Namun, aku meminta kepada mamah untuk mampir dulu ke penjual nasi goreng. Aku lapar, hanya itu. Mamah menuruti kemauanku, tetapi mamah malah memintaku untuk menunggu di tempat itu.
“Biar mamah aja yang ke apotek, kamu di sini aja. Tunggu mamah!”
Aku lagi-lagi hanya mengangguk.
Kupandangi jalanan yang mulai sepi di hadapanku sambil menunggu nasi goreng pesananku matang. Beberapa saat kemudian, baru kusadari, aku tidak asing dengan tempat ini. Aku memperhatikan penanda jalan dan papan nama dari toko-toko yang berderet di seberang. Aku terperanjat, ketika ingat bahwa tempat ini seperti di mimpiku tadi. Bahkan, kedatangan pelanggan lain ke warung tersebut benar-benar sama.
“Tunggu! Kalo benar ini seperti mimpiku tadi sore, artinya ….” Aku bergumam sendiri lalu bergegas berdiri. Kemudian aku melihat mamah masih asik dengan ponselnya.
“Nggak! Nggak!Mamah!” teriakku saat melihat sebuah truk yang terlihat lepas kendali meluncur dari arah kanan.
Ya!
Dalam mimpiku tadi, truk itu menyambar tubuh Mamah.
Aku berlari, memperingatkan mamah. Namun aku baru menyadari, ternyata truk itu semakin cepat melaju ke arahku. Aku tidak tahu lagi. Yang aku rasakan, punggungku sudah menempel ke aspal. Aku tergeletak. Perlahan, pandanganku mulai buram. Teriakan mamah terdengar begitu keras. Kemudian, semuanya menjadi gelap.