Aku melepas mahkota bertabur swarovski berkilau di atas kepalaku. Menggerai rambut hitam keunguan yang disanggul. Menyisir hingga setiap helainya kembali rapi seperti semula.
Ku tatap pantulan diriku di sebuah cermin rias dalam kamar. "Cantik," gumamku kagum pada wajahku sendiri. Bahkan rasanya aku lebih cantik tanpa mahkota indah itu.
Sudah beberapa menit berlalu, kamar pengantin ini masih terasa sepi. Tak ada orang lain kecuali aku yang sedari tadi sudah menunggunya untuk masuk. Atensiku lalu tertuju pada jam dinding kamar, sudah hampir tengah malam rupanya.
Tadinya aku ingin agar ia membantuku berganti pakaian. Namun aku sudah tak tahan lagi. Gaun putih yang menyulapku bak putri dongeng sangat membuatku gerah.
Lalu kuputuskan untuk segera mengganti gaun pernikahan yang kugunakan dengan baju santai berwarna ungu kesukaanku. Hah, butuh 15 menit hanya untuk membuka gaun ini. Aku benar-benar kesusahan melepasnya.
Setelah selesai berganti pakaian dan kembali ke kamar, pandanganku mengedar ke segala sudut ruang. Kosong! Dia belum juga menghampiriku.
"Huft ...." Aku menghembus nafas kasar dan segera melangkah keluar mencari keberadaannya. Kemana sebenarnya laki-laki berambut kuning itu?
Langkah kakiku membawaku mengitari lantai 2 dari bangunan ini. Sebuah rumah mewah yang dikhususkan setelah kami menikah.
Penghuninya tentu saja hanya kami berdua. Tapi entahlah, dimana suamiku berada sekarang.
Karena tak mendapatinya di lantai atas, aku memutuskan untuk turun ke lantai dasar. Langkah kakiku yang memijak anak tangga menggema dan terdengar di seluruh ruang. Namun, dia belum juga muncul.
"Sayang?" Netraku melirik kesana kemari. Aku sedikit gusar karena keadaan ruang yang gelap. Ditambah desain bangunan rumah ini yang banyak menggunakan kaca besar tanpa gorden penutup, hingga aku bisa menyaksikan kegelapan di luar sana. "Please, jangan bercanda oke! Ini tidak lucu." Langkahku melambat saat beberapa langkah lagi aku mencapai lantai dasar.
Sebenarnya kaca besar ini cukup membantu juga. Cahaya bulan purnama dapat menembus masuk dan sedikit memberi penerangan. Yah, walaupun tak seberapa setidaknya aku masih bisa melihat dengan samar bagian-bagian dari ruangan ini.
"Jordan, kau dengar aku? Aku minta keluarlah sekarang." Dengan suaraku yang menggema, aku yakin dia bisa mendengarnya jika memang dia berada di sini sekarang. Tapi, dia belum juga muncul. Apa jangan-jangan dia tidak berada di sini sekarang? Apa dia meninggalkanku?
Aku berjalan dengan tangan meraba dinding. Mencari saklar lampu ruangan ini. Dan, aku berhasil menemukannya. Kutekan saklar itu dan ....
Tak tak tak tak!
"Kenapa saklarnya tidak berfungsi? Apa ini bukan saklar untuk lampu diruang ini?" Aku sedikit melupakan pertanyaanku tentang keberadaan Jordan sekarang. Namun, masalah baru terjadi. Aku tak bisa menghidupkan lampunya.
Kuraba sisi dinding yang lain. Namun, aku tak menemukan saklar lainnya. Kuputuskan untuk kembali ke posisi semula. Aku berusaha kembali menekan saklar yang menempel kokoh di dinding.
Tak tak tak tak!
Suara saklar kembali menggema. Dan lagi-lagi lampu tetap tak menyala.
Tubuhku lemas, membentur dinding dan menyandarkannya disana. Netraku tak henti menyapu segala sudut ruang yang hanya terlihat samar dan gelap.
"Jordan, ini tidak lucu. Jika kau belum keluar juga, maka aku yang akan keluar dari rumah ini," umpatku kesal.
Kukira setelah aku menggertak, dia aka menyudahi permainannya yang konyol. Namun, Jordan tetap tak muncul. Bahkan tak terdengar suara sedikitpun selain suara nafas dan rutukan yang keluar dari lisanku sendiri.
Aku benar-benar menyerah menunggunya. Kupikir aku harus keluar dari sini, dan mencarinya di luar.
Krek krek krek!
"Arrgh!" Aku mulai frustasi saat pintu rumah ini juga terkunci. Dan yang paling kusesalkan, Jordan tak pernah memberikanku kuncinya. "Jordan, please! Keluarlah, aku takut. Disini gelap, Jordan! Keluarlah." Aku mulai terisak.
Ku seka buliran kecil yang tiba-tiba jatuh, sembari menggeser posisiku hingga menghadap kaca besar yang tinggi menjulang seukuran bangunan ini. Aku menengadahkan wajah, mencoba mengalihkan kekhawatiran dengan melihat sinar purnama. Hatiku mendapat sedikit ketenangan, meski sebenarnya rasa kecewa terhadap Jordan masih kurasakan.
Perlahan, muncul pendar cahaya yang dapat kulihat dari kaca besar di hadapanku. Di saat genting seperti ini, otakku tak bereaksi sempurna dan menjadi sangat lambat. Aku tak menyadari sumber cahaya yang berasal dari arah belakangku. Aku hanya berdiri mematung, menatap cahaya yang tiba-tiba muncul dan terlihat dari benda transparan itu.
Grep!
Tiba-tiba sepasang tangan melingkar erat di perutku, berganti dengan hembusan nafas yang hangat menerpa telinga.
"Surprise ...." Suara lirih itu ... ya, suara Jordan.
Aku segera membalikkan tubuh ke belakang, dan memeluknya erat. "Jordan, aku takut." Kedua tanganku bersambut di belakang punggungnya. Tak peduli jika ia akan merasa sesak dengan pelukanku yang begitu erat.
"Haha ... oke, maafkan aku sayang." Jordan mengusap pucuk rambutku. Ia sedikit menjauhkan kepalaku yang menempel di dadanya dan, "Cup." Jordan mengecup keningku.
Rasa kesal ku seakan menguap ke udara, berganti rasa malu yang mungkin membuat pipiku bersemu merah saat ini. Kedua sudut bibirku yang memaksa terangkat sebisa mungkin kutahan. Aku tak ingin terlihat semudah itu. Aku masih ingin memberinya sedikit pelajaran.
"Aku pikir, setelah kita melaksanakan pernikahan kau baru menyadari perbuatanmu, kemudian menyesal dan pergi meninggalkanku." Aku menyilangkan kedua tangan di dada dan memulai drama untuk memberinya pelajaran.
"Tck! Kau selalu berlebihan." Dia menyentil keningku hingga aku memekik. "Kenapa aku harus merasa menyesal? hem."
"Ya, mungkin karena perbedaan besar di antara kita."
Sepertinya Jordan tidak senang saat aku menjelaskan betapa jauh perbandingan di antara kami. Ia mendorongku hingga terpojok pada kaca jendela yang tinggi. "Sudah kukatakan, Jangankan perbedaan, sekalipun kau anak ayahku sendiri aku akan tetap menikahimu, Elleya." Ia menatapku lekat dari jarak yang amat-sangat dekat. Degup jantungku tak beraturan, seiring dengan perkataan konyolnya yang justru menggambarkan rasa cinta yang besar dan tak terbatas.
Jordan tak berpaling sedikitpun. Membuatku takut ia akan macam-macam disini. Seketika aku mendapat ide untuk bisa keluar dari posisi yang membuatku canggung .
"Wah, lilin itu begitu indah. Aku akan melihatnya." Aku berhasil menghindar dari hadapannya. Kini aku berdiri di dekat meja dengan sebuah hidangan yang tersaji di atasnya. Cahaya lampu portabel yang menggantung indah, serta lilin membentuk love seketika menghadirkan suasana romantis di ruang gelap ini. Ternyata dari sinilah sumber cahaya yang barusaja kulihat di kaca jendela. "Sayang, kau yang menyiapkan ini semua?" tanyaku dengan pandangan yang masih menatap kagum, pada apa yang ku yakini memang dipersiapkan oleh Jordan.
"Siapa lagi kalau bukan aku? Bahkan tadi aku hampir mati menahan tawa saat melihatmu begitu konyol." Jordan tertawa. Aku sontak menyipitkan mata padanya.
"Kau jahat." Tanganku reflek mencubit perutnya, namun dia berhasil menghindar. "Kalau begitu, ayo kita makan. Sayang kan, jika makanan ini dibiarkan."
Namun Jordan menahan tanganku. Tubuh kekarnya segera mengangkat tubuhku. "Sudah terlambat, makanan itu sudah dingin. Aku akan makan sesuatu yang lain." Ia melangkah meninggalkan meja dinner yang telah disiapkannya sendiri. Dengan santainya, Jordan menaiki anak tangga dengan menggendong tubuhku.
"Turunkan aku, Jordan. Aku bisa berjalan sendiri." Pintaku. Aku bergerak-gerak agar tangan kekarnya tak kuat menopangku.
"Tidak! Aku tidak mendengar ucapanmu, sayang." Dia menjawab dengan wajah bodoh. Aku hampir tertawa melihat kepribadian Jordan saat ini yang jauh berbeda ketika ia sedang serius.
Krieet!
Bam!
Jordan membuka pintu kamar dengan bantuan sebelah tangannya yang masih menopang tubuhku. Kemudian segera menutupnya kembali dengan mendorongkan punggungnya ke daun pintu.
Jordan meletakkan tubuhku perlahan di tepi ranjang. Dia mengeluarkan korek api dari dalam sakunya dan menyalakan lilin yang tersedia di setiap sudut kamar. Aneh! Padahal aku tak mematikan lampu saat akan keluar kamar mencarinya.
Ternyata, Jordan sudah memperhitungkan semua. Ia berusaha membangun suasana romantis malam ini.
Setelah semua lilin menyala, Jordan menghampiriku. Ia ikut duduk di tepi ranjang sembari menatapku.
"Jangan pernah meragukan ketulusan cintaku, Elleya. Percayalah! Jika kau tetap ragu ingatlah tentang perjuanganku. Kasta bagiku bukanlah pembeda di antara kita." Jordan menatapku lekat, seraya menyibakkan rambutku yang sedikit kedepan. "Bahkan jika kau adalah anak ayahku, aku akan tetap menikahimu."
Dapat kurasakan pandanganku mengabur. Air mata telah menggenang di pelupuk mataku. Harusnya aku memperlihatkan wajah senang seorang istri saat sang suami mengungkapkan cintanya. Namun, aku justru merasa sedih hingga tak dapat menahan air mataku untuk jatuh.
Jordan menghapus sejenak air mata di pipiku. Kedua tangannya menangkup wajahku yang berubah sendu. Kemudian secara perlahan turun melingkar di pinggangku. Ia lalu menatapku lamat-lamat. Semakin lama wajah kami semakin mendekat. Bahkan saat ini Jordan telah memejamkan matanya.
Aku yang terhanyut oleh perasaan Jordan, lantas ikut memejamkan mata. Membayangkan wajah tampannya dalam ingatanku, seraya wajah kami yang semakin mendekat, dan ....
CUT!
Aku membuka mataku yang terpejam. Ternyata dia juga telah membuka matanya dengan ekspresi lega.
"Bagus sekali, Key. Ekspresi terharu di bagian akhir ternyata lebih tepat dari ekspresi bahagia seperti yang telah disepakati ketika briefing. Good Job." Sutradara mengoreksi kesalahanku yang justru berujung pujian. Bahkan kesalahan itu terjadi karena aku larut dalam perasaan, yang membuatku lupa bahwa aku sedang bermain peran.
"Wah, untunglah kesalahanku berakibat baik. Tapi tolong maafkan aku untuk itu, Mister." Aku tertawa canggung.
"No problem Key. Dan Jeff, kau luar biasa. Ini adalah part penutup yang sempurna. Penonton akan semakin mencintai kalian berdua. Film kita akan sukses besar." Sang Sutradara tak lupa memujinya juga. Ya dia Jeff Cornor yang berperan sebagai Jordan, lawan mainku.
"Terimakasih, Mister. Semua ini berkat Key juga."
Kami bertiga sempat bercengkrama beberapa saat. Jeff begitu bahagia telah menyelesaikan film yang akan dirilis dalam 3 bulan kedepan. Ia bahkan sangat antusias menunggu jadwal untuk jumpa fans. Namun, aku justru berbeda.
Aku sangat menginginkan kegiatan ini bisa lebih lama lagi. Bersama Jeff aku merasakan kenyamanan. Aku larut dalam kepiawaiannya bermain peran. Mencintaiku dengan tulus seperti tuntutan naskah.
Jeff begitu profesional. Mengolah hati agar tak terbuai dalam permainannya sendiri. Namun aku berbeda, aku yang jelas-jelas paham akan dunia akting. Yang telah lebih dulu bermain di layar kaca sebelum Jeff, justru tak dapat menahan hati untuk tak terbawa suanana.
Jika Jeff mencintaiku dalam drama, aku justru juga mencintainya dalam nyata.
"Wah, selamat ya. Akhirnya kalian bisa menyelesaikan proyek ini dengan sempurna. Ya, walaupun aku tidak berani menonton saat kalian beradegan di dalam kamar tadi," ucap seorang gadis yang tiba-tiba datang menghampiri kami.
"Sayang ...." Jeff meliriknya dengan tatapan yang membuatku panas berdiri lama di antara mereka. Ya, gadis itu adalah tunangannya.
"Hehe ... aku bercanda sayang. Aku percaya, kau hanya profesional." Gadis itu tersenyum dengan menampakkan lesung pipit yang membuatnya terlihat manis. Jeff mengusap rambutnya sama seperti yang ia lakukan padaku dalam adegan tadi.
"Oh ya, guys, aku ingin membagikan kabar bahagia pada kalian. Bulan depan aku dan Messy akan menikah. Aku mengundang kalian semua untuk datang." Jeff dengan lantang mengumumkan hari bahagianya kepada mereka semua tepat di hadapanku. Para kru satu-persatu memberi selamat pada Jeff dan Messy. Namun aku justru tak tertarik untuk ikut menyelamatinya. Bahkan aku merasa seperti orang bodoh berdiri di sini.
"Emm, aku permisi dulu. Sepertinya aku agak lelah malam ini." Aku berpamitan pada mereka berdua dan semua Kru. Aku berjalan menuju mobil bersama asisten yang kupekerjakan.
Di dalam mobil aku hanya terdiam. Sesekali ekor mataku menatap Jeff yang masih merangkul Messy. Namun, seketika aku memberanikan diri untuk benar-benar menatapnya dari balik kaca mobil.
"Kak Key, kita pulang kerumah atau ke apartemen mu?" tanya Aron, asistenku.
"Ke apartmen saja. Aku ingin segera beristirahat."
"Baiklah,"
Aron menyalakan mesin mobil, dan membawaku keluar dari area syuting.
Drrttt ... Drrttt ....
Ponselku tiba-tiba berdering. Aku membukanya dan menghembuskan nafas kasar.
"Aron, katakan pada Ernest, dalam satu bulan kedepan tolong padatkan jadwalku. Dan ya, aku ingin film Butterfly yang dijadwalkan tiga bulan lagi untuk segera dipercepat menjadi bulan depan."
Tak ada pilihan lain, aku tidak akan dengan sukarela membawa diri ke pernikahanmu dengannya Jeff. Aku tak bisa.
Cukup sudah aku tak beruntung dengan perasaan ini. Aku tidak akan semakin menyakiti hatiku, dengan melihatmu bersanding dengannya.
Aku tak ingin publik tau, bahwa aku Kesya Ainsley aktris ternama yang tidak profesional karena seorang aktor baru sepertimu.
Epilog :
Key menerima pesan dari Jeff. Ia membuka pesan tersebut, dan membacanya.
📩 : Key, maaf aku sampai lupa mengucapkan terima kasih padamu. Sebagai senior, kau sudah mengajarkan banyak hal padaku. Dan ya, sampai jumpa di acara selanjutnya, dan juga di pernikahanku dengan Messy satu bulan lagi. Aku akan segera mengirim undangan begitu hari pernikahan kami semakin dekat. Aku harap kau bisa datang.
Key mengirim balasan untuk pesan Jeff.
📩 : Akan ku usahakan, jika jadwalku tidak padat.
-TAMAT-