Element cinta? Apakah ada? Element yang muncul akibat dari hubungan cinta yang begitu dalam?
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Seorang gadis berusia empat belas tahun, berdiri di hamparan tanah yang gersang sambil menundukkan kepalanya. Memejamkan matanya, terlihat pembuluh darah di leher bagian kirinya yang menghitam.
Dia adalah Araya, seseorang yang ingin selalu kujaga, kulindungi. Tapi, memang inilah tugas kami. Cukup berat menjadi anggota Elemental Organization Of Asia. Organisasi element dari benua Asia. Tugasnya adalah menjaga perdamaian dunia menggunakan kekuatan elemen.
Aku berlari menghampirinya. Kemudian memanggil namanya.
"Araya, kau baik-baik saja?" tanyaku sambil memegang kedua pundaknya. Dia sedikit mendongak untuk melihatku.
"Kim Dae-Vin.." ucapnya lirih. Ya, namaku Kim Dae-Vin, usia enam belas tahun.
Kutatap matanya yang berwarna merah keunguan. Napasnya memburu. Tatapannya kosong. Sepertinya aku sudah tau keadaannya. Dia lelah.
"Araya, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Keadaannya sangat tidak aman." ucapku setelah melihat keadaan sekitar. Seperti yang sudah aku duga, dia menggeleng pelan.
"Tidak, tugas kita belum selesai. Mereka belum berhasil kita kalahkan." jawabnya sambil menepis pelan tanganku. Araya mulai melangkah meninggalkan aku. Tapi, sebelum itu, aku langsung menariknya ke pelukanku.
"Araya, tolong jangan paksakan dirimu. Tolong jangan semuanya kau lakukan sendiri, apalagi dalam masa sulit seperti sekarang ini." ucapku masih sambil memeluknya. Mataku berkaca-kaca. Aku benar-benar tidak ingin kehilangamu, Araya.
"Iya, aku janji. Aku tidak akan meninggalkanmu, Dae-Vin." ucap Araya sambil menatapku, perlahan dia melepaskan pelukanku. Dia benar-benar keras kepala, dia berhasil meloloskan diri. Dia menatap ke arahku, mengangguk sambil tersenyum. Aku sungguh tak bisa tersenyum untuk saat ini.
Sekilas, dia melambaikan tangannya ke arahku. Kemudian berlari menjauh dariku, dan menuju daerah yang terlihat sedang terjadi peperangan. Ada debu di mana-mana, asap di mana-mana. Tak jarang pula terdengar suara ledakan.
Sekarang berfokus pada misiku. Masih banyak hal yang harus kuselesaikan. Para Darkness Swordman level tiga yang berjumlah lebih dari sepuluh.
"Snow storm blow!" aku melakukan jurus khasku. Hempasan badai salju. Banyak salju di sekitarku setelah aku melakukan jurus tadi. Beberapa dari mereka juga terpental akibat terhempas.
"Jurus lemah seperti itu tidak akan bisa mengalahkan kami! Semuanya, serang dia!"
Aku segera memasang kuda-kuda. Bersiap untuk mengeluarkan jurus selanjutnya. Aku mengatur fokusku. Aku harus segera menyelesaikan ini supaya dapat berdiri di samping Araya lagi.
"Blue Element, Armor mode!" armor pelindung berwarna biru putih segera melekat di tubuhku. Kurasakan kekuatan yang luar biasa. Armor, elemen air, angin dan es yang menjadi satu.
Suhu di sekitarku segera menurun drastis. Udara dan tanah mendingin. Bahkan terlihat mereka sedikit menggigil akibat suhu yang turun drastis secara tiba-tiba.
Aku melangkahkan kakiku ke arah mereka semua. Tanah yang kuinjak tadi langsung membeku dengan jangkauan yang luas. Mereka mulai tak bisa bergerak akibat kaki mereka telah menempel pada tanah telah yang kubekukan.
Aku menatap tajam ke arah mereka, tubuh mereka langsung kaku akibat tatapan dingin yang kuberikan.
Aku menarik pedangku yang berwarna biru terang, berkilau dan dingin tentunya. Aku memutar-mutar pedangku sedikit atraksi. Kemudian..
TCING! TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!
Aku menghancurkan tubuh beku mereka dengan pedangku. Cairan berwarna hitam mengalir dari tubuh mereka yang sudah terpisah-pisah. Aku bergidik melihat cairan hitam itu. Mudah sekali mengalahkan mereka.
Aku menyimpan pedangku, kemudian segera pergi menuju ke tempat Araya berada.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Aku melangkahkan kakiku dengan langkah yang pelan saat memasuki sebuah bangunan yang sepertinya adalah benteng. Berjalan mengendap-endap layaknya seorang penyusup.
Aku memantau keberadaan Araya dengan alat pengendali element milikku. Araya tak jauh dari posisiku saat ini.
"Bertahanlah, Araya." ucapku dalam hati. Kemudian segera melanjutkan perjalananku.
Tak lama kemudian, aku sudah sampai di depan ruangan tempat Araya berada. Terdengar suara dua bilah pedang yang diadu. Setelah itu, terdengar suara dentuman keras. Aku segera melihat keadaannya dari balik pintu.
BRAK!
Pintu tempat aku bersembunyi langsung hancur secara tiba-tiba. Aku melangkahkan kakiku mundur.
Karena pintu telah terbuka, aku dapat melihat Araya. Aku sangat kasihan padanya, rasanya aku ingin segera membawanya pulang dan keluar dari dimensi mengerikan ini.
Tubuhnya terkapar di lantai setelah terbentur dinding dengan keras saat dentuman keras tadi terjadi. Tubuhnya bergetar, dia berusaha untuk bangkit kembali.
"Dae-Vin, apa.. yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan suara yang lemah, tapi aku dapat mendengarnya.
Aku sangat marah pada makhluk yang melakukan hal tadi pada Araya. Makhluk tanpa wajah dan kulitnya adalah bayangannya. Dia mengenakan armor berwarna hitam dengan motif merah gelap. Darkness Swordman, level satu sekaligus terkuat di antara Darkness Swordman lainnya.
Aku mengepalkan tanganku erat. Hawa dingin segera terbentuk. Aku benar-benar marah!
PROK! PROK! PROK! PROK!
Darkness Swordman bertepuk tangan sambil berjalan perlahan ke arahku. Aku segera memasang kuda-kuda, lagi.
"Apa yang kau lakukan pada temanku?!" tanyaku dengan lantang. Dia berdiri tepat di hadapanku.
"Hmm? Aku hanya memberinya sedikit pelajaran karena dia itu keras kepala." jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Apa salahnya padamu?! Kenapa kau sampai teganya kau menyakiti temanku?!"
"Tega, kenapa tidak? Itu sangat mudah bagiku."
"Kau-"
"Dae-Vin, cukup!" ucap Araya menengahi perdebatan kami. Dia sudah berhasil berdiri, tapi masih berpegangan pada dinding yang sedikit retak. Mungkin karena suhu di ruangan ini sudah semakin dingin.
"Wah, hebat sekali dirimu. Aku akui kau memang gadis yang kuat, setelah aku memberimu pelajaran tadi." ucap Darkness Swordman sambil berbalik dan menghadap ke arah Araya.
"Apa kau masih bisa bertahan setelah ini?" lanjutnya sambil melangkahkan kakinya ke arah Araya.
TIK! BRUAKKHH!
"ARAYA!" teriakku panik plus marah.
Dalam sekali jentikan, Araya langsung terhempas dengan keras. Bahkan berhasil menembus dinding ruangan itu dan sampai ke luar.
Aku segera melakukan teleportasi supaya dapat menemui Araya dengan cepat. Kulihat, Araya sudah hampir kehabisan tenaganya. Armor hitam miliknya sudah retak akibat berbenturan keras dengan dinding tadi. Dia menggunakan elemen kegelapan, jadi armornya berwarna hitam.
Tak jauh dari sana, ada dua orang mendekat ke arah kami. Mereka adalah Hanny dan Zaaryan, rekan satu tim kami yang juga ditugaskan di sini.
"Araya, Dae-Vin, apa yang terjadi?" tanya Hanny panik ketika baru sampai.
"Dia baru saja berhadapan dengan Darkness Swordman level satu." jawabku sambil mendudukkan Araya dan menyandarkannya pada bahuku.
"Apa?!" tanya Hanny dan Zaaryan secara bersamaan.
"Sudahlah, Hanny, tolong kau bawa Araya pergi dari sini. Biar aku dan Zaaryan yang akan menyelesaikannya." ucapku sambil membantu Araya berdiri dan merangkulnya.
=•=•=•=•=•=••=•=•=•=•
Kuserahkan Araya pada Hanny. Kuharap dia bisa menjaga Araya dengan baik. Saat ini, aku dan Zaaryan tengah berhadapan dengan Darkness Swordman yang tadi sempat berhadapan dengan Araya.
"Wah, ganti pendamping ternyata." ucapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jangan banyak omong kau!"
"Baguslah, kuharap kalian berdua bukan laki-laki yang lemah. Jadi aku bisa mengeluarkan semua teknik Darkness yang selama ini tersegel. Hahahaha! Hyaaaa!" setelah itu, Darkness Swordman mengeluarkan aura hitam yang sangat pekat dan juga kuat. Bahkan, daerah di sekeliling kami berubah menjadi gelap.
"Dae-Vin, hati-hati." ucap Zaaryan yang berdiri di belakangku untuk berjaga-jaga.
"Ya,"
JDUAKH!
"Argh!"
"Zaaryan, kau baik-baik saja?" tanyaku sambil sedikit menoleh ke belakang. Tapi, sebelum dia sempat menjawab, hal yang sama terjadi lagi, kali ini padaku.
JDUAKH!
"Ugh!" ucapku sambil memegangi lengan kiriku yang terkena benda misterius tadi.
"Hahahaha!" terdengar suara seseorang tertawa tepat dari arah belakangku. Kedua tanganku langsung mengarah ke belakang, tak bisa bergerak, seperti diborgol.
"Kau bodoh sekali, Kim Dae-Vin." ucapnya. Suara yang tidak asing bagiku. Aku tau siapa yang bicara.
"Zaaryan, kenapa kau-"
"Zaaryan? Hahaha! Dia sudah mati. Dia lemah sekali." ucapnya sambil menunjukkan rupa aslinya. Dia adalah Darkness Swordman level dua.
Samar-samar, di hadapanku terdapat hologram yang menunjukkan keberadaan Zaaryan. Dia terbaring tak sadarkan diri masih dengan menggunakan armornya. Armornya sudah rusak, bahkan separuh wajahnya sampai terlihat.
"Zaaryan.. tidak mungkin.." ucapku lirih. Aku tak percaya hal ini!
WUSHHH! Bola berwarna hitam sedang bergerak mengarah padaku.
"Argh!" Darkness Swordman level dua tadi menjadikanku sebagai tamengnya. Akhirnya, aku yang terkena serangan barusan. Tubuhku melemas seketika, kedua kakiku sampai tak kuat menahan berat tubuhku. Aku pun ambruk, dan kesadaranku perlahan mulai menghilang.
=•=•=•=•=•=
Di tempat lain..
"Hanny, berhenti.." ucap Araya sambil meminta Hanny untuk berhenti berjalan. Sedari tadi Hanny merangkul Araya dan membawanya ke tempat yang agak jauh dari tempat yang tadi.
"Kenapa, Araya?" tanya Hanny sambil menghentikan langkahnya.
"Aku sudah bisa berjalan sendiri." jawab Araya sambil menepis pelan tangan Hanny.
"Istirahatlah dulu, Araya. Kau itu sudah lelah. Jangan paksakan dirimu." ujar Hanny sambil mengajak Araya untuk duduk dulu. Araya pun menurut saja, mengingat bahwa dirinya sudah sangat lelah untuk saat ini.
"Lihatlah, dirimu terluka lagi. Padahal kan kau masih belum sembuh total setelah pemulihan." ucap Hanny sambil menempelkan plester di pipi Araya yang terdapat goresan. Araya hanya diam saja ketika itu
"Sini tanganmu."
Hanny membalutkan perban pada tangan kiri Araya yang terluka. Tak lama kemudian..
DOR!
"Hanny awas!" ucap Araya sambil mendorong tubuh Hanny. Ada sesuatu yang lewat.
"Araya, kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja kok. Jangan khawatir." balas Araya sambil tersenyum. Hanny menghela nafasnya.
"Syukurlah.. Apa itu tadi?" tanya Hanny sambil melihat ke sekelilingnya.
"Darkness Swordman."
"Apa? Di mana?"
"Di sana, sebaiknya kau tetap di sini, Hanny. Aku akan ke sana." ucap Araya, pandangannya tertuju pada seseorang yang berpakaian serba hitam.
"Jangan Araya! Lihatlah, alat transformasi milikmu sudah memberi pertanda." ucap Hanny sambil memandang alat transformasi milik Araya yang sedikit aneh. Lampunya berkedip-kedip dengan pelan, menandakan kalau alat tersebut hampir kehabisan energi.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukannya punyaku sudah mode unlimited energi?" Araya tak menyangka. Cahayanya berkedip semakin lambat dan kemudian mati. Setelah cahayanya berhenti berkedip, ketiga upgrade cardnya keluar dan tidak akan bisa dimasukkan lagi.
"Apa?! Bagaimana bisa?" lagi-lagi Araya dibuat terkejut. Alat transformasi memiliknya sudah rusak, tepatnya dia sudah tak bisa menggunakan elemen lagi, hanya bisa menggunakan teleportasi, begitupun dia kembali ke tahap awal.
"Araya, pakai inti punyaku." ucap Hanny sambil menatap Araya dengan serius, kemudian membongkar alat transformasi miliknya.
"Apa? Nanti bagaimana denganmu, Hanny?"
"Tak apa, aku masih bisa menggunakan upgrade card saja." Hanny telah berhasil mengeluarkan inti elemen miliknya dari dalam alat transformasi. Bentuk dan besarnya bulat seperti kelereng, warnanya kuning keemasan. Dia memberikannya pada Araya.
"Tapi.."
"Tidak apa, Araya. Terima saja. Bagaimana kalau kita bertukar, kau menggunakan inti elemen milikku, dan aku akan mengambil satu upgrade cardmu?" tanya Hanny memberi saran. Araya mengangguk setuju.
"Baiklah, aku akan mengambil upgrade card elemen gravitasi ya? Ini." ucap Hanny sambil memberikan inti elemennya pada Araya. Araya pun menerimanya.
Tapi, hal tak terduga terjadi. Kedua upgrade cardnya yang lain langsung menghilang juga. Digantikan Araya jadi memiliki inti blue dan red elemen. Kedua inti tersebut adalah milik Dae-Vin dan juga Zaaryan. Sepertinya, hal yang sama telah terjadi lagi. Setelah kejadian itu terjadi, alat transformasi milik Araya menjadi bercahaya. Kali ini bukan hanya satu warna, melainkan empat warna, ada putih, kuning, biru dan merah.
"Baiklah Hanny, aku akan segera pergi. Tolong kau buat dimensi ini menjadi lebih terang." ucap Araya sebelum dia pergi.
"Okey, aku akan pergi ke tempat tertinggi dan menggunakan elemen cahaya."
"Ide bagus. Baiklah, aku pergi sekarang ya."
"Hati-hati, Araya!"
"Tentu. White, Yellow, Blue and Red element! Armor mode!"
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Di suatu tempat yang terdapat pulau dan juga cekungan yang terisi oleh lava yang semakin banyak dan bisa menenggelamkan pulau tersebut. Itulah tempatku berada saat ini.
Aku memejamkan mataku, namun kesadaranku tak sepenuhnya hilang. Tubuhku diikat pada sebatang kayu yang ditancapkan tepat di tengah-tengah pulau kecil ini.
Mereka telah menyita alat transformasi milikku, jadi aku tidak bisa menggunakan kekuatan elemen. Aku hanya bisa pasrah untuk saat ini.
Tiba-tiba, ada sesuatu sepertinya telah terjadi, sehingga para Darkness Swordman itu langsung bubar dari tempat ini. Aku tak lagi diawasi. Dari kejauhan, aku melihat seseorang berlari ke arahku. Seseorang yang menggunakan armor empat warna. Dia melompati cekungan berisi lava tersebut dengan sangat mudah. Kemudian berubah ke wujud aslinya.
"Dae-Vin, bangun!" ucapnya sambil menepuk pelan pipiku beberapa kali. Aku membuka mataku, sebab aku tau siapa yang bicara. Araya.
"Araya.." ucapku lemah. Aku memang tak bertenaga, kehabisan cairan, apalagi di tempat yang sangat panas seperti di sini.
"Dae-Vin, bertahanlah.." ucapnya sambil melepaskan tali yang mengikat tubuhku. Tubuhku benar-benar lemas untuk saat ini, sehingga aku hampir kehilangan keseimbanganku. Araya langsung menangkap tubuhku ketika itu. Dia juga memelukku dengan erat.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Araya.." ucapku sambil balas memeluk Araya.
"Aku senang kau baik-baik saja, Dae-Vin. Aku merindukanmu.."
"Mwo?"
Cup!
Araya mengecup bibirku singkat, otakku masih belum dapat mencerna kejadian ini.
"Ini, aku berhasil mengambil ini dari mereka." ujar Araya sambil memberikan alat transformasi yang tadi mereka sita.
"Araya, bagaimana kau-"
"Aku berhasil mengalihkan perhatian mereka. Bagaimana? Aku pintar kan? Hehe.." itulah sifat Araya yang paling aku sukai.
"Iya, gadis kecil yang pintar." ucapku sambil tersenyum dan mengelus rambutnya yang tergerai. Kemudian, aku segera memasang kembali alat transformasi milikku.
"Terima kasih ya." ucapku berterima kasih. Tak lama kemudian, para Darkness Swordman telah menyadari bahwa tadi mereka telah ditipu oleh Araya. Mereka semua kembali dan mengepung tempat ini.
"Dae-Vin, tetap di sampingku ya." ucap Araya, aku langsung mengangguk setuju. Aku tak punya waktu untuk baper dulu.
Kami berdiri berdampingan, di tempat yang sangat panas, dikepung oleh puluhan Darkness Swordman dari berbagai level.
=•=•=•=•=•=•=•=
Pertempuran telah pecah sejak beberapa menit yang lalu. Tapi berkat Araya, aku dapat memulihkan tenagaku kembali dengan alat transformasi milikku. Belasan Darkness Swordman level empat dan lima berhasil kami kalahkan dengan mudah. Cairan hitam seperti oli ada di mana-mana.
Aku dan Araya saling membelakangi. Dia masih kesulitan untuk menggunakan empat inti element sekaligus.
"Magma meteor!" seru seseorang dari arah lain. Suaranya, sepertinya aku kenal.
BOOOOMMM! Terdengar bunyi dentuman keras disertai dengan debu yang beterbangan dan menghalangi jarak pandang.
"Hai teman-teman." ucap seseorang dari balik debu-debu tersebut. Dia menggunakan armor berwarna merah terang. Itu kan..
"Zaaryan!" ucapku dan Araya hampir bersamaan.
"Kau baik-baik saja, Zaaryan?" Araya bertanya.
"Iya, maaf telah membuat kalian khawatir. Aku tadi juga mengira kalau jiwa dan ragaku sudah terpisah, hehe. Ternyata tidak."
"Syukurlah kau baik-baik saja. Ayo bantu kami." ucapku padanya. Dia segera mengangguk dan kemudian bersiap.
Tak lama kemudian, langit menjadi lebih terang, padahal di sini tidak ada matahari.
"Hanny, kau melakukan tugasmu dengan baik." ucap Araya sambil memandang ke arah menara tertinggi di dimensi ini.
"Apa maksudmu, Araya?" aku bertanya, tentu saja sambil meladeni mereka supaya tidak berhasil mendekat.
"Iya, Hanny tadi aku yang memintanya menerangi dimensi ini supaya lebih terang menggunakan kekuatan elemennya."
Hal yang dilakukan Hanny memang berdampak baik untuk kami dan berdampak buruk untuk para Darkness Swordman itu. Mereka menggeliat kesakitan terkena cahaya, tetapi tidak demikian dengan Darkness Swordman level satu. Dia malah melarikan diri ke suatu tempat.
"Dae-Vin, Zaaryan, tolong urus sisanya, aku akan mengalahkan Darkness Swordman level satu." ucap Araya sebelum dia pergi.
"Apa kau bercanda, Araya? Dia itu sangat kuat." cegahku supaya dia tidak pergi sendiri.
"Aku tidak bercanda, Dae-Vin. Aku akan baik-baik saja." Araya bersikeras.
"Baiklah, hati-hati." ucapku hampir bersamaan dengan Zaaryan. Dia mengangguk, kemudian berlari ke arah terowongan, tempat yang dilewati Darkness Swordman tadi.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•
"Jangan lari kau!" ucap Araya setelah berhasil mengejar Darkness Swordman.
"Hahahaha! Ada yang masuk ke perangkapku ternyata."
"Apa?!" tanya Araya sambil memasang sikap waspada. Tapi, sudah terlambat. Di bawahnya, ada cairan lengket berwarna hitam yang berfungsi layaknya jaring laba-laba.
SWOOOSSHH!!
Dari sekitar sana, muncul banyak ular berbisa berwarna hitam dan dari berbagai ukuran. Mereka bergerak mendekati Araya.
Namun lain dari dugaannya, permukaan tanah tiba-tiba membeku, termasuk ular-ular itu.
PRANK!
Es tersebut hancur berkeping-keping. Perbuatan siapa? Akulah pelakunya. Dia menggunakan elemen es untuk membekukan permukaan tanah di sini kemudian menghancurkan.
"Araya!" seruku sambil berlari ke arahnya. Aku segera membebaskan dari jaring laba-laba raksasa yang menjeratnya.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku.
"Iya.." jawabnya. Aku tau dia berbohong. Wajahnya sedikit pucat, tubuhnya lemas.
"Maaf Dae-Vin. Aku tak bisa mengalahkannya.." ucapnya dengan nada yang lemah. Dan setelah itu, dia ambruk dan aku langsung menangkapnya.
"Araya! Araya! Bangun!" ucapku berusaha menyadarkan Araya. Aku masih dapat merasakan denyut nadi di lehernya, tapi sangat lemah.
DOR!
Suara tembakan kembali terdengar. Araya refleks langsung memelukku dan peluru tersebut mengenai punggungnya.
"ARAYA!"
Araya telah benar-benar tak sadarkan diri sekarang. Mataku berkaca-kaca ketika melihat darah yang mengucur dari punggungnya.
"Kau! Apa yang kau lakukan pada temanku! Sekarang aku tak akan. Membiarkanmu lagi!" ucapku penuh amarah yang membara. Tubuhku mendingin seketika, seluruh permukaan terowongan tersebut tertutup es setebal puluhan sentimeter.
"Kau terlalu cepat mengambil keputusan, nak." ucap Darkness Swordman sambil berjalan keluar dari terowongan itu. Setiap langkahnya, menghasilkan retakan. Tempat itu bergetar layaknya sedang terjadi gempa. Seluruh es yang melapisi permukaan itu pun ikut retak.
"Uhuk! Dae-Vin, pergilah.."
"Tidak Araya! Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Aku baik-baik saja.. Dae-Vin. Aku kan bukan.. bukan gadis yang lemah.."
Setelah Araya berucap, tiba-tiba aku sudah berada di luar terowongan tersebut. Aku membelalakkan mataku melihat bangunan itu sudah rata dengan tanah.
"ARAYAAAA!" teriakku sekencang mungkin, aku tak bisa menahan air mataku lagi. Sekarang dia hanya tinggal nama. Nama yang akan selalu ada di hatiku. Araya.
-Tamat-
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Cover : Pinterest, anime Kimi no Nawa
Bagi yang mau tau lebih lengkap tentang cerpen ini, bisa mampir ke novelku.