Darah itu keluar tepat satu jam setelah Emih[1] mempecundangiku dengan sebotol limun. Lajunya demikian cepat seolah kemaluanku adalah gorong-gorong penggelontor banjir.
Sakit bukan main. Otot-otot dengan kompaknya berkontraksi, terutama bagian perut ke bawah. Aku melolong, meninju pintu bertubi, memanggil jiwa welas asih yang mau membebaskanku dari bilik pengap yang akan segera digulingkan anyirnya najis perempuan.
"Kang Jarkasihhh!!!!"
Sedetik, semenit, langkah yang kutunggu tak jua datang.
Raunganku kembali menggetarkan dinding tapi tak mampu menggetarkan hati lelakiku. Oh, lengan ini memar sudah, celana ini merah sudah, mata ini basah sudah tapi tak ada tanda acara disudahi.
***
Satu jam sebelumnya.
Entah iblis mana yang merasuk ketika kuterima lamaran Emih. Ah, sungguh tolol. Kenapa masih bertanya?
Bukankah seharusnya kuanggap ini bagian dari rezeki Tuhan. Irma cantik, cerdas, anggun dan pandai membawa diri. Kurang apa ia sebagai perempuan?
Entahlah, yang jelas bersisian seperti ini dengannya membuat kelelakianku terintimidasi. Mengundang mata-mata penasaran untuk berkomplot menolak keberuntungan yang kudapat dengan mudah.
Haruskah aku kabur? Jika kulakukan kira-kira kehebohannya akan mencapai radius berapa kilo meter?
"Kang, kau bahagia?"
"Tentu saja," jawabku sekenanya.
"Kau tahu sudah lama aku memimpikan bisa berada di sini bersamamu, tapi aku terlalu takut untuk berterus terang. Kau sepertinya sangat senang bermain-main dengan Mayang."
"Mayang? Oh, di mana dia? Kenapa aku mudah sekali teralihkan," batinku lirih.
"Kang?"
"Ah, ya maaf."
Irma menyentuh punggung tanganku, membagi hangat dan lembut kulitnya.
"Apa kau melihat Mayang?"
Hening. Aku merutuk dalam hati. Menyesali pertanyaan tabu yang seharusnya tak pernah kulempar di momen seperti ini. Tapi sungguh aku khawatir, seharian ini aku belum melihat wajah Mayang.
"Mungkin di dapur bersama papais[2]. Kau tahu dia sangat menyukai itu bukan?"
Aku mengangguk. Mayang memang sangat menyukai papais. Mungkin sekarang ia sedang bersembunyi di kamar belakang dengan setangkup kudapan itu. Kubayangkan ekspresi wajahnya. Berani bertaruh, setiap orang yang mendekat akan disalaknya. Tanpa sadar aku terkekeh, menarik perhatian wanita di sampingku.
Aku berdehem, mencoba berkonsentrasi pada acara kami. Kulirik si jelita ini, kasian sekali. Wajahnya terlihat mengelam menahan diri. Kerut samar di keningnya adalah pertanda usahanya. Menyedihkan, harusnya tinggalkan saja aku, lukai dengan perasaan bersalah jangan membisu seolah tak terpengaruh sama sekali.
Degung masih memainkan perannya sebagai pelengkap pesta. Syair-syair keberkahan dirapal dinamis, kudengarkan sambil berbagi jari dengan wanitaku, berharap menemukan khidmat lewat sensasi kulit bertemu kulit. Nihil, aku gelisah. Bukan karena sarafku tak bereaksi tapi mataku terlanjur ditarik geliat Mayang. Rupanya dia mulai meradang karena tak dilibatkan.
Tenaga lebih yang diberikan Tuhan sebagai kompensasi kekurangan memudahkannya lolos dari cekalan jongos ibunya, mertuaku. Mayang berlari menuju pelaminan. Sempoyongan akibat ukuran kaki yang tak proporsional.
Kutangkap ia sebelum racauannya melukai langit. Lengannya melingkari pinggangku sementara giginya gemerutuk menuruti instingnya, menyalak pada Irma yang berdiri dengan mata membulat.
"Tidak apa-apa, biarkan ia di sini." Kutengahi dua wanita itu sebelum terjadi kekacauan yang lebih parah.
Mayang tertawa atas pembelaanku sementara Irma melengos, membanting pinggulnya ke atas kursi beludru emas.
Aku menarik napas berat. Tentu saja, ini tidak mudah. Menyandingkan dua wanita yang terkenal acap berseteru seperti sedang mengundang kiamat kecil. Gosip menjalar melebihi kecepatan cahaya, bisik-bisik nista mengudara tanpa tahu malu. Sialnya mereka menyeretku, menuding sebagai biang dari perseteruan tanpa akhir mereka. Dikatakannya aku adalah Arjuna karbitan, di mana pun aku berada pasti ada perempuan terluka. Sungguh kurang ajar!
Aku bukan lelaki genit yang hobi menebar jerat. Aku hanya lelaki biasa yang hidup dengan prinsip air mengalir. Ketika Tuhan menyodorkan sebuah takdir maka aku menerimanya dengan tangan terbuka. Irma adalah hadiah dari negosiasi orang tua sementara Mayang adalah sisi lain dari takdir itu sendiri.
Katakanlah aku serakah tapi apa dayaku. Di dekat Mayang membuatku merasa menjadi kanak-kanak kembali. Mengejar layangan, bermain gundu, membidik kedondong dan membangun rumah-rumahan tanah bersamanya seperti candu yang mengisi kerontangnya jiwa. Karena itu Mayang kudekap, tak kubagi pada siapapun termasuk bocah-bocah SD yang kerap menjadi teman bermainnya. Usia mereka terpaut jauh dan aku tak suka itu.
Aku ingin memberi Mayangku banyak hal baru.Menanggalkan dunianya sedikit demi sedikit. Aku ingin membuatnya pandai tersenyum, pandai berhitung, pandai bersolek dan pandai mengenakan pembalut agar setiap haid darahnya tidak berceceran kemana-mana.
Semua kuajari secara diam-diam sampai pada rasa manis dari rasa bercinta. Mayang menyukainya dan aku senang dengan hal itu.
Lalu Irma. Ah, jawabanku tak perlu.panjang lebar. Dia sempurna. Lelaki mana yang akan menolak jika diminta menjadi pendampingnya. Soal cinta bisa dikesampingkan.
"Kau senang duduk di sini?" tanyaku pada Mayang yang menggelendoti lenganku.
Gadis itu mengangguk, bertepuk tangan dengan riang.
"Jauhkan tanganmu," desis Irma dengan sorot mata mematikan.
Mayang meraung, balas menatap garang. Dua wanita siap menumpahkan darah.
"Pergilah ke bilikmu, jangan mengacaukan pernikahanku," Irma kembali mendesis.
Mayang berdiri, menggeram seperti singa betina.
"Dasar cacat, kubilang pergi, jauhi suamiku, jangan coba-coba merayunya!"
Bibir Mayang terlihat menggeletar mendengar teriakan Irma. Jemarinya menyentuh dadaku dan dadanya lalu membentuk sebuah gambar hati yang dulu kuajarkan.
Irma mengerang. Lembutnya hangus dibakar amarah. Diterkamnya tubuh Mayang. Mereka bergumul, saling cakar, saling jambak. Aku terpesona, bukan oleh perkelahian itu tapi pada sesuatu yang baru kusadari.
"Jarkasih!!! Bawa Istrimu masuk!!!" Suara sengau Emih meluruhkan semua keterpesonaanku.
Pelaminan kacau balau, tamu undangan berbisik-bisik, sanak famili meringis dan dua wanitaku masih saling serang meski sudah kutengahi.
Setelah puas saling serang dua wanita itu melorot di lantai. Kubawa irma dengan perasaan kosong, kulirik Mayang yang tengah dibujuk Emih dengan sebotol limun kuning. Ah, matanya demikian terluka.
***
Kenapa Kang Jarkasih tak mendengarku kali ini? Apa ia sudah dikuasai Teh Irma?
Ya Tuhan, aku tak terima, teganya kau berhkehendak tanpa melihatku?
Kusentuh celana, tak ada tanda-tanda darah akan berhenti dan rasa sakit itu tak mau enyah malah semakin menggila, membuatku merintih karena tak kuat lagi menjerit.
Samar-samar kudengar langkah kaki lalu pintu berderit perlahan, mengirimkan cahaya baru dari luar. Mataku terpicing, menegaskan sosoknya.
Kang Jarkasih.
Kuraih lengannya yang terulur.
"Kau tidak apa-apa? Maaf aku tidak bisa menolongmu tadi, kenapa juga kau membuat keributan seperti itu, hem?"
Aku tersenyum, kusandarkan kepalaku di bidang dadanya.
"Jangan berkelahi lagi dengan kakakmu, aku tidak suka, bagaimanapun dia lebih tua darimu."
Ingin kuprotes semua pembelaannya terhadap Teh Irma tapi lidahku terlalu kelu untuk diajak merajuk.
Kang Jarkasih mengeluarkan sebuah pembalut merah jambu, beha, celana dalam dan rok warna senada.
"Pakailah dulu, nanti kupanaskan air untuk kau mandi."
Aku hanya mengangguk, terlalu letih untuk bersuara. Kang Jarkasih tersenyum. Dikecupnya keningku tepat saat gumpalan besar itu merangsek keluar. Aku mengerang, nyeri meresap sempurna membuat dada sesak dan penglihatanku mengabur
"Mayang, kenapa sayang?"
Suara Kang Jarkasih terdengar sayup-sayup.
***
Mayang Sari binti Acep Kusnandar. Kubaca ulang nama di nisan itu. Air mataku luruh namun segera kuseka sebelum menjadi petaka.
"Kang kita pulang."
Aku mengangguk, Irma memeluk lenganku sementara mertuaku melempar senyum di kejauhan. Tak kubalas. Aku terlalu sibuk meladeni angin yang menamparku sambil berbisik.
"Dasar lelaki ayam, bayimu mati karena dia dan kau masih bersikap seolah tak terjadi apapun! Dasar pecundang, lihat saja suatu hari borok busukmu akan kusebar!"
***
[1] emih = ibu
[2] papais = sejenis kue basah dibungkus daun pisang terbuat dari tepung beras, dengan rasa asin atau manis dengan aneka isian
Cover By Canva