"Bagaimana saksi?Sah?"
"SAAAH ... "
"Alhamdulillah ..."
Suasana haru dan bahagia menyelimuti kediaman Kiyai Ahmad. Beliau baru saja menikahkan cucu perempuan satu-satunya, Zara, dengan Arka, putra dari sahabat mendiang ayah zara. Lega dan bahagia terpancar jelas di wajah tuanya. Menyaksikan cucu kesayangannya telah menikah dengan laki-laki yang akan menggantikan beliau menjaga Zara.
Acara demi acara berjalan sesuai panduan dari pembawa acara. Sebagian ada yang menikmati jamuan, ada yang mengucapkan selamat dan berfoto bersama kedua mempelai, ada yang mengobrol dengan teman lama ataupun kenalan baru, ada yang sibuk menata jamuan, dan lain-lain.
Di sudut ruangan dekat pintu, Veer menatap intens pada kedua mempelai. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Turut merasa bahagia melihat Zara telah bahagia bersama pilihannya. Namun, matanya berembun menahan luapan air mata. Dadanya terasa sesak bak terhimpit batu yang sangat besar. Dia mencoba kuat walau beribu pisau terasa menghujam jantungnya. Sekilas memori kembali terlintas dalam pikirannya.
~flashback on~
Di parkiran SMK Taruna.
"Zara!" Veer memanggil Zara.
"Eh ... Kak Veer. Ada apa, kak?"
"Selamat ya. Hebat kamu, juara umum."
"Makasih. Kak Veer mau lanjut di mana?"
"Aku kuliah di kota sebelah. Sambil belajar nglanjutin bisnis ayah. Kamu sendiri?" tanya Veer.
"Mau kuliah di Bandung. Udah ijin ibu. Awalnya nggak boleh. Trus aku bilang selesai kuliah aku ikutin mau ibu deh. Katanya selesai kuliah, siapapun orang pertama yang datang mengkhitbah harus aku terima," jelas Zara.
"Kamu setuju?"
"Aku iyain aja," jawab Zara.
"Ok kalau gitu aku pasti dateng," ceplos Veer.
"Haah ... ?" Zara terkejut. "Gak usah bercanda deh," lanjutnya.
"Aku serius. Mudah-mudahan kita berjodoh," ucap Veer dengan wajah seriusnya.
"Kak Veer, nggak lucu ah bercandanya," ucap Zara tertunduk malu.
"Amiin dong."
"Udah ah. Zara pulang dulu. Sukses ya kak."
"Nanti siang aku berangkat. Jaga diri baik-baik ya. Jangan lugu-lugu. Ntar gampang dibodoin orang," ucap Veer menghentikan langkah Zara.
"Iya pasti. Zara udah gede," ucapnya tanpa menoleh lagi.
Veer menatap kepergian Zara.
~flashback off~
Dan di sini, dia menatap Zara. Gadis yang telah menempati hatinya selama sekitar 7 tahun. Gadis yang rencananya hari ini akan dia khitbah. Ternyata telah lebih dulu dilamar dan langsung dinikahi hari ini. Dia yang rencananya akan melamar gadis itu malah menjadi tamu tak diundang yang kebetulan diterima di situ karena hubungan baik orang tuanya dan kakek Zara.
Bunda Veer yang mengerti perasaan putranya sedang hancur itu menfhampiri putranya.
"Kita pulang langsung atau ..." ucap bundanya terputus.
"Veer mau ngasih selamat buat Zara dulu bun," sela Veer.
Veer mencoba melangkahkan kakinya. Terasa berat. Tapi ia terus melangkah. Sampai akhirnya sampai di atas pelaminan. Mencoba tersenyum lebar walau hatinya terluka.
"Selamat ya. Semoga jadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah," ucap Veer tulus dari hatinya.
"Amiin. Makasih kak ya. Kak Veer, ini Mas Arka, suami Zara. Mas Arka, Kak Veer, temen sekolah dulu," Zara memperkenalkan keduanya.
Keduanya pun berjabat tangan.
"Maaf nggak undang-undang. Acaranya cuma sederhana dan dadakan. Kakak ada urusan bisnis?" tanya Zara.
"Mau lamaran. Berharap jadi yang pertama datang. Ternyata telat," jawab Veer dengan wajah sendu.
DEG
Jantung Zara berdegub kencang. Senyumnya memudar. Mengingatkan ia pada memori saat itu.
'Ternyata kak Veer waktu itu nggak bercanda. Maaf kak. Secara nggak langsung Zara udah nyakiti kakak. Tapi Zara anggep Kak Veer saudara. Maaf'
Zara menatap sendu pada Veer. Sorot matanya menunjukkan permintaan maaf yang teramat dalam karena tidak pernah tau kalau Veer menyukainya. Veer yang mengerti sorot mata Zara itu mengangguk pelan.
'Bukan salahmu Zara. Semua karena aku tak mengutarakan niatku lebih awal. Terlepas dari itu, ini sudah menjadi takdir-Nya,' batin Veer.
"Sabar bro. Itu artinya Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukmu," hibur Arka yang tidak mengetahui siapa yang akan dilamar Veer.
Veer tersenyum dan mengangguk.
"Ok. Aku pulang dulu. Udah ditunggu ayah bunda. Tolong jaga Zara baik-baik. Dia gadis yang baik," pamit Veer.
"Pasti."
"Hati-hati ya kak. Maaf," ucap Zara.
Veer berbalik dan berjalan menuju pintu keluar ruangan.
'Mencintaimu adalah anugrah. Menikahimu adalah impianku. Namun rencana Allah ternyata berbeda, mungkin kita memang tak berjodoh. Dan pasti takdir-Nya selalu baik. Meski memerlukan air mata untuk bisa menerimanya. Cukup dengan melihatmu bahagia bersama pilihanmu, aku merasa ikut bahagia. Semoga kau selalu bahagia dan mendapat ridho-Nya.'
~tamat