Petualang.
Setiap kali kata itu disebutkan, bayang-bayang pria kuat dan pemberani akan muncul dalam pikiran.
Aku seorang petualang, tapi Aku bukan orang yang kuat ataupun pemberani, Aku hanyalah pria biasa yang pergi ke labirin untuk bertahan hidup.
Aku tinggal di sebuah penginapan kecil yang terletak pada pinggiran Kota Canelia. Aku bersyukur tinggal di Kota kecil ini.
Aku bersyukur bukan karena orang-orangnya ramah, bukan juga karena pemandangannya yang indah. Aku bersyukur karena di dekat sini terdapat sebuah labirin tingkat rendah yang berisikan tulang-tulang hidup dan makhluk hijau kecil buruk rupa.
Memburu mereka cukup mudah karena ketiadaannya kecerdasan pada gelembung-gelembung lunak di dalam kepala mereka.
Jerangkong dan goblin, kurasa itulah nama resmi kedua monster ini.
Mereka lemah, batuan sihir kecil selalu muncul setiap kali ada yang tumbang. Batuan sihir kecil ini memang murah, tetapi lebih baik daripada membahayakan diri dengan menyerang labirin tingkat atas.
Walaupun Aku hanya makan-makanan biasa dan tinggal di tempat biasa, Aku cukup senang dengan kehidupan yang saat ini kumiliki. Aku punya tempat tinggal untuk bernaung, Aku punya uang yang cukup untuk meringankan rasa lapar dan haus yang membakar kerongkongan.
Sudah hampir sepuluh tahun Aku hidup seperti ini, memang terlihat menyedihkan, tetapi ini lebih baik daripada saat-saat Aku menggelandang dulu.
Aku seorang petualang yang masih setia pada peringkat perunggu, peringkat terbawah yang akan diberikan saat baru mendaftar.
Di atas perunggu masih ada perak, emas dan platinum yang menanti.
Menjadi petualang perunggu selama bertahun-tahun bukanlah pilihanku, hanya saja takdir terkutuk ini memenjarakanku dengan rantai biaya kenaikan peringkat dan memaksaku untuk terkubur dalam posisi terbalik.
Walaupun hari demi hari kurasakan tubuhku semakin kuat dan cepat, namun jika Aku secara kebetulan di kelilingi oleh empat atau lima monster kelas rendah, maka pilihanku hanyalah lari.
Dengan pisau dapur ditangan kanan dan kiriku. Aku berjalan dengan langkah kosong tanpa suara, sambil terus mendengarkan setiap suara langkah kaki tulang-tulang yang berlumut. Tubuhku merapat, dadaku sejajar dengan dinding labirin. Zirah kulit tua yang dulu kutemukan di tempat sampah bersedia membantuku menyamarkan diri.
Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan dengan peralatan termurah yang kupunya, bahkan jika bisa Aku ingin menggunakan tangan kosong saja.
Tadinya Aku berpikir, hanya akan hidup damai seperti ini. Menyerang labirin tingkat rendah, memukul Jerangkong dengan tongkat, menusuk goblin dengan pisau dapur kembar, mengumpulkan batuan sihir, kembali ke Guild menukarkan Bebatuan dengan beberapa keping koin, membayar uang sewa, membeli air minum, dan makanan rendahan.
Aku mengira hidupku akan terus seperti itu...
Sampai suatu hari...
Si Brengs*k itu muncul.
Sama seperti hari-hari biasa dalam hidupku, pergi ke labirin dan memburu beberapa Tulang Hidup.
Sampai saat Aku bertemu dengan goblin yang menggendong sebuah peti kayu kecil di punggungnya.
Dia berlari Aku mengejarnya, entah karena tergiur dengan Isi di dalamnya atau memang diriku sudah muak dengan kehidupan yang menyakitkan ini, Makhluk hijau itu mengantarku sampai ketempat yang belum terpetakan.
Harusnya waktu itu kuabaikan saja ruangan luas itu, goblin pembawa peti juga sudah melarikan diri. Pikiranku yang sudah dipenuhi ketamakan menimbulkan rasa ketertarikan yang melahirkan penyesalan akan keputusasaan.
'mungkin ada artefak-artefak mahal atau mungkin ada harta tersembunyi di sekitar sini'
Dengan pikiran yang ceroboh itu, Aku masuk ke dalam ruangan yang akan kusesali selamanya.
Ruangan itu sangat besar berbentuk melingkar dan diterangi oleh Bebatuan sihir bercahaya di sekelilingnya, tetapi tidak ada apapun di dalamnya selain sebuah kolam air yang lebih mirip sebuah danau karena keluasannya.
Aku masuk lebih dalam karena rasa takjub akan keindahan tempat itu.
Sampai ketika Aku berdiri di tengah-tengahnya, suara keras terdengar dari arah kolam diikuti dengan berguncangnya lantai yang kupijak.
Air kolam naik membasahi sepatu kulitku yang sudah tujuh kali ditambal. Dua lengan besar dengan kuku-kuku yang tajam meruncing keluar dari dalamnya, mencengkram lantai yang seharusnya tidaklah rapuh hingga tak lagi berbentuk.
Di saat keringat dinginku mulai mengalir deras disertai dengan hangatnya celana dalamku, kolam besar itu meledak menghempaskan tubuhku dengan gelombang airnya yang dahsyat.
Tubuhku terbawa sampai di ujung tembok, rasanya tulang-tulangku retak semua, luka-luka akibat berbenturan dengan kepingan lantai labirin melukai punggung dan kaki kananku.
Tetapi dibandingkan dengan rasa perih di sekujur tubuhku, perasaan takut akan sosok Naga yang hanya ada di legenda membuatku tak bisa merasakan apapun lagi selain keputusan yang mendalam.
Walaupun makhluk besar yang tengah berdiri megah di depanku ini nyata, hati kecilku masih berharap ini hanyalah bagian dari bunga tidur yang termasuk dalam kategori mimpi buruk.
Naga, binatang suci yang menjadi asal muasal ilmu sihir dan kekuatannya sendiri menandingi ke tujuh raja iblis. Makhluk yang katanya berhubungan dekat dengan para Dewa, lalu tiba-tiba saja ada petualang perunggu tidak diundang yang masuk ke dalam sarangnya.
Kira-kira apa yang akan terjadi pada Petualang perunggu yang malang itu?
Benar..
Di bawah tanah, tempat orang kelas bawah mencari sesuap nasi dan bertahan hidup walau kehidupan tak lagi berarti. Akhirnya penderitaan panjangku berakhir dan mimpi akan kehidupan yang lebih baik juga sirna saat tubuhku mulai tercabik oleh cakar dan taring sang Naga.
Aku seorang petualang.
Kuharap hidupku akan menjadi lebih baik...