Andaikan saja aku mengatakan 'Iya' hari itu, pasti aku masih bisa melihat senyuman mu itu.
—————
"Dan! Peluk!"
Gadis itu berdiri menghalangi jalanku. Rambut hitam panjangnya yang di gerai, bola mata yang berwarna biru cerah serta senyum bahagia yang mengembang di wajahnya.
"Apa?" balasku tanpa ekspresi wajah apapun.
"Peluk! Dingin banget. Peluk aku biar hangat!" serunya dengan membentangkan kedua tangannya.
Jaket tebal menutupi tubuhnya dibalik jaket itu ia memakai seragam sekolah, juga syal yang melingkar di lehernya.
Memang suhu udara akhir akhir ini menjadi lebih dingin, karena ini adalah akhir musim gugur, sebentar lagi musim dingin akan datang.
"Kamu sudah memakai jaket dan syal, kau tidak kedinginan." kataku lagi.
"Au ah. Dan gak peka!" Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, pipinya menggembung dan wajahnya tak lagi menatapku. Dia marah kepadaku.
Baiklah sekarang waktunya perkenalan. Namaku Daniel Chevron, usia 17 tahun, kelas 12. Lalu gadis di hadapanku ini adalah kekasihku, Allena Kathleen, usia 17 tahun.
Kami telah berpacaran selama 2 tahun. Seperti apa awal hubungan kami, tidak akan pernah ku ceritakan. Karena itu adalah kisah yang sangat memalukan untukku.
Pipinya yang menggembung, rona merah karena kedinginan, lalu suara lembut itu. Aku mencintainya. Aku suka senyumnya, aku suka suaranya, aku suka wajah cantiknya, aku suka, aku suka semuanya tentang Allena.
Tidak ada pilihan lain. Tanpa lebih lama lagi, ku peluk tubuh mungil kekasihku. Aku hanya bisa memeluk erat dengan senyum tipis. Hal yang aku lakukan ini juga membuatnya bahagia.
—————
Aroma ini... Aroma mint dan buah-buahan. Parfum yang selalu Allena pakai setiap hari. Aku tau, dia sedang berjalan menuju kearahku.
Brak!
Tangan putih yang terbalut lengan jaket berwarna coklat menggebrak mejaku. Dari aroma parfum yang ia pakai saja aku sudah tahu siapa yang mendatangi ku.
Tentu saja dia...
"Daniel! Ayo kita pulang bareng. Ada yang mau aku berikan. Di taman dekat kantor polisi itu. Ya ya ya..." Allena menatapku dengan tatapan berbinar binar, berharap aku mengatakan 'iya'.
"Tidak! Aku harus segera pulang."
"Yah... Dan, ayo dong... Plis banget... Yahh..."
"Sekali tidak, tentu akan terus tidak!"
Aku mengambil tas ku lalu meninggalkannya di dalam kelas. Aku harus segera pulang, karena hari ini ibuku menyuruhku pulang cepat.
Namun, ada rasa bersalah di hatiku karena telah menolaknya dengan dingin seperti itu. Aku memang mencintainya, akan tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengekspresikan perasaanku. Hanya bisa memasang wajah datar.
"DANIEL!!! AKU TUNGGU KAMU DI TAMAN!" Allena berteriak kepadaku dari depan kelas. Bahkan suara lembutnya menggema di koridor. Juga dia menjadi pusat perhatian.
Ini sudah biasa. Kami dijuluki dengan 'Pasangan Heboh'. Itu karena sifat Allena yang selalu heboh dan menunjukkan perasaannya secara terang terangan. Tentunya itu sudah berjalan selama 2 tahun, dan aku senang akan hal itu.
—————
Aku masuk ke dalam rumah besar ini. Sepi sekali rasanya. Dimana ibu? Katanya ada urusan sampai menyuruhku pulang cepat. Apa mungkin ayah pulang dari luar negeri? Dan juga, dimana para pelayan yang biasanya hilir mudik kesana kemari?
"Selamat ulang tahun, Daniel anak ibu yang paling ganteng." ucapan selamat ultah dari seorang wanita paruh baya yang berjalan menuju kearahku sambil membawa kue ulang tahun di tangannya. Lalu di belakangnya juga ada seorang laki-laki paruh baya yang memegang dua buah kotak.
Ibu dan Ayahku.
"Eh?" Ulang tahun? Siapa? Aku?
"Daniel. Jangan jangan kamu lupa sama hari ulang tahun sendiri ya? Ck ck ck...!" ibuku hanya menggelengkan kepalanya.
Eh? Berarti... Allena mau memberi kado ulang tahun kepadaku. Makanya mau pulang bareng. Sialan! Bagaimana aku bisa tega meninggalkan dia di suhu dingin seperti ini?! Meskipun memakai jaket tebal dan syal, namun aku tahu dia itu memiliki tubuh yang lemah. Tidak tahan dengan cuaca dingin!
"Dan, kamu mau kemana?!" suara ayah yang memanggilku karena aku berlari keluar.
Entahlah, yang ada di pikiranku hanyalah dia saja. Hanya Allena saja, tidak ada hal lain. Perasaan di hatiku bercampur aduk. Sedih, kesal dengan diri sendiri, khawatir, bersalah, semua menjadi satu.
Dia tidak di sana bukan? Allena pasti sudah pulang sejak tadi. Mana mungkin dia masih menunggu ku di taman, apalagi di suhu udara yang dingin ini.
Dengan mengendarai mobil milik ayah, aku menguatkan hatiku jika Allena baik baik saja. Menuju taman itu.
Sesampainya di taman, aku hanya bisa berlari mengelilingi sekitar taman hanya untuk memastikan dia masih menunggu atau tidak. Apa dia masih bertahan di suhu udara dingin ini? Dia pasti kedinginan. Aku akan memeluknya dengan erat agar ia merasa hangat ketika menemuinya nanti.
Dengan masih memakai seragam sekolah, tanpa memakai jaket atau syal, aku berlari kecil kesana kemari mengedarkan pandangan berharap dia masih ada di sini.
Benar! Aku melihat Allena masih berdiri di sana. Dia berdiri di dekat kolam ikan yang ada air mancur nya. Jika dilihat secara detail... Dia gemetaran, kedinginan.
Ini salahku karena tidak mengatakan 'iya'.
"Allena!"
Dia berbalik. Kemudian tersenyum sambil melambaikan tangannya. Angin berhembus saat itu, sontak Allena memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.
Ini salahku.
Namun, ketika aku berjalan menuju kearahnya. Seorang laki-laki berpakaian serba hitam berlari kearah Allena, dia berlari untuk menghindari para petugas keamanan yang mengejarnya. Di tangannya, ada.... pisau?
Ah! Pisau?!
Aku berlari menuju kearah Allena untuk melindungi dia tentunya dari laki-laki itu yang berlari karena kejaran petugas keamanan menuju kekasih tercinta ku.
Terlambat... Aku sangat lambat!
Dia telah menusuk Allena menggunakan pisau yang ada di tangannya. Senyuman itu seketika menjadi kaku, Allena terjatuh ke tanah dengan badan yang berlumuran darah segar.
Laki-laki itu berhasil ditangkap oleh para petugas keamanan.
Namun... aku?
Aku hanya bisa membatu ditempat. Melihat kekasihku yang aku cintai tiada di depan mataku sendiri. Dunia seolah berhenti. Warna yang aku lihat telah menghilang. Semua hanya hitam, putih, dan abu.
Kotak kado berukuran sedang yang ada di tangannya juga terjatuh, terkena cipratan darah segar itu.
Aku mendapatkan dua hadiah sekaligus? Wah lucu sekali! Kekasihku tiada di depan mataku di hari ulangtahun ku? Hadiah yang ia bawa... apa isinya? Aku ingin tahu.
—————
3 tahun lamanya setelah dia tiada. Hari ini adalah hari peringatan kematian dia yang ke 3 tahun.
Selama itu, aku hanya hidup dalam kegelapan. Setahun setelah kematiannya, aku memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen. Menenangkan diriku sendiri, bahkan sampai mengkonsumsi obat obatan terlarang.
Hampa sekali hidup ini.
Aku tidak bisa melihat warna lagi setelah hari itu. Semuanya kelabu. Aku hanya sendirian sekarang. Aku sudah tidak dapat lagi melihat senyum manisnya.
Andaikan saja aku mengatakan 'Iya' hari itu, pasti aku masih bisa melihat senyuman mu itu.
Jika aku katakan 'iya' aku pasti bisa menyelamatkannya. Dan sekarang pasti aku sedang menggandeng tangannya yang lembut itu.
Yang tersisa dari Allena hanya itu. Kado ulang tahun ku 3 tahun yang lalu, kado yang akan ia berikan kepada ku hari itu.
Isinya hanya sebuah buku biasa. Seperti buku harian, tapi ini memang benar buku hariannya.
Banyak hal yang ia tulis tentangku di buku itu. Juga dia menempelkan foto foto yang ia ambil tanpa sepengetahuan ku. Rasanya menyebalkan di potret tanpa permisi, tapi untuk Allena apa saja akan aku lakukan.
Namun semua ini telah berakhir. Kisah kita berdua telah berakhir pada hari ini tiga tahun yang lalu. Sekarang aku juga akan mengakhiri semua ini. Bunuh diri.
End~