Malam seperti biasanya, langit bertabur bintang bulan bulat bersinar diatas sana. Angin sepoi menerpa kulitku, kurasakan dingin menusuk kulitku.
Aku menatap lurus kedepan, banyak harapan datang mengunjungi hatiku. Guratan kesedihan kurasakan, rasanya sakit sangat sakit. Tak terasa sebulir kristal bening menetes dari pelupuk mataku.
Aku merindukannya, rasa rindu ini
tidak berbohong, hati ini tidak pernah berbohong. Jika waktu bisa diputar kembali, jika Dia datang kembali, Aku akan memintanya untuk tetap tinggal.
Tapi siapalah Aku? Aku tak memiliki hak apapun untuk membuatnya kembali kepelukanku. Aku tak memiliki kepercayaan diri untuk memintanya kembali, karena kami hidup didaratan yang berbeda.
"Mir, masuk gih. Dah malem loh, dingin," kata teman dekatku, Hanna.
"Iya," jawabku, Aku dan Hanna pun masuk kedalam kossan yang kami tempati bersama.
Aku merebahkan tubuhku diatas kasur, Aku menatap langit - langit kamarku. Tanpa kuduga bayangan Dia kembali tergambar diatas sana.
Aku memejamkan mataku, dan berusaha untuk tidur. Tapi kurasa semua itu sepertinya sia-sia, aku tak bisa tidur. Kucoba dengan sangat keras untuk tidur, dan akhirnya aku terlelap dalam tidur malamku yang panjang tapi terasa sebentar.
Pagi pun menerjang, mentari nan indah menyapa dari ufuk timur.
Hari ini kebetulan adalah hari minggu, jadi aku tidak kuliah.
"Mir, mau keluar gak?" tanya Hanna.
"Aku malas Han, kamu keluar dengan siapa?" tanyaku kepada Hanna.
"Keluar dengan pacarku Mir," jawab Hanna.
"oke lah," jawabku, betapa bagusnya jika Dia masih disini.
Kami sering pergi bersama, sudah seperti sebuah pasangan, tapi kami hanya teman. Rasanya hubungan kami hanya sebatas cerita Tinkerbell dan Penterpen. Kami melalui manis pahit bersama. Tapi takdir tidak berkata kami bisa hidup bersama, dan menua bersama. Begitupun dengan Tinkerbell dan Penterpen, mereka hidup bersama tapi tidak ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih. Kisahku ini memang benar mirip seperti cerita Tinkerbell dan Penterpen.
Kenapa?
Karena Si Penterpenku sudah menemukan Soulmatenya. Dan meninggalkan diriku, selamanya hubungan Tinkerbell dan Penterpen akan tetap menjadi sahabat bukan menjadi sepasang kekasih.
Aku duduk termenung di teras rumah, aku menatap kedepan. Tiba - tiba aku merindukan orang itu, bukan Penterpenku tapi orang itu. Dia adalah pacarku, hidupku memang pelik. Aku ada pacar aku pun ada sahabat laki - laki.
Dari kata - kataku, kalian pasti berfikir bahwa aku tidak mencintai pacarku kan? Memang, aku tidak mencintainya!
Aku tak mengerti kenapa aku masih mempertahankannya, sebenarnya aku sudah beberapa kali mengajaknya putus, tapi Dia menolak. Katakanlah bahwa aku seorang pengecut, aku seorang yang tak memiliki hati, intinya aku tak peduli!
Seorang pemuda tersenyum didepan sana, dia membawa sebuah kotak. Dia berjalan menghampiriku, lalu memberikan kotak yang ada ditangannya untukku.
"Hadiah untukmu," katanya sambil tersenyum.
"Ah, Terimakasih," jawabku acuh, lalu aku mengambil kotak itu dan membukanya.
Lagi - lagi coklat, Dia selalu memberiku coklat setiap hari minggu.
"Apa kamu suka?" tanyanya.
"Aku akan lebih suka jika ini bukan coklat," jawabku dengan suara kecil.
Aku yakin dia dengar, maka dari itu dia menundukkan kepalanya. Dan artinya aku tak peduli dengan itu.
"Apa kau mau yang lain? Aku akan berikan," kata pria itu mengulas senyuman diwajahnya.
Kenapa dia tidak pernah sedih sih? Dia tidak pernah sedih dengan ucapan pedasku. Aku telah melakukan ini selama 3 bulan, tapi dia masih tetap tersenyum dengan senyum idiotnya.
"Tidak, sudahlah pulang sana," usirku ketus.
Aku sangat sebal dengannya, aku ingin dia lenyap dari dunia ini.
"oke, sampai bertemu besok di kampus," katanya sambil tersenyum.
Aku mah bodo amat lah, dia mau apa terserah sana. Aku gak peduli sama dia.
Sebenarnya hubungan kami sudah berjalan 1 tahun lebih. Tapi selama 1 tahun ini entah kenapa aku merasa kami tidak cocok, aku meminta untuk putus tapi dia tidak mau. Dan dalam 3 bulan terakhir ini aku mencoba bersikap acuh padanya, memaki didepannya bahkan marah padanya. Tapi dia tetap mengulas senyum itu. Sungguh menyebalkan!!
Keesokan paginya...
Aku berangkat kuliah dengan menenteng tas ku dan beberapa buku.
"Selamat Pagi," sapa pria itu lagi. Ya dia adalah pacarku, sebenernya aku tidak mau mengakuinya tapi ya gimana.
Aku tidak menanggapinya, Aku langsung pergi begitu saja meninggalkannya berdiri terpaku disana.
Normal's POV
Pacar dari Miranda itu menatap Miranda yang meninggalkanya. Dia tersenyum, bukan senyuman yang bahagia, tapi senyuman iba. Dia sangat iba dengan nasibnya sendiri, nasibnya yang tidak bagus atau terlalu bagus.
Maksudnya Dia adalah seorang anak dari keluarga yang kaya, sangat bahkan. Banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihnya, tapi hanya Miranda yang menolaknya. Dia ingin membuat Miranda mencintainya, tapi Dia rasa itu bukan hal yang mudah.
Selama 1 tahun mereka berpacaran, tak pernah sekalipun Miranda menceritakan latar belakangnya begitupun dengan pacar Miranda.
"Sudahlah Lu, kamu putuskan saja dia. Kamu itu orang hebat loh," kata seorang pria bernama Hendra.
"Aku sudah terlanjur mencintainya, apapun yang kulakukan memang tidak berpengaruh untuknya," Kata Lucas sambil tersenyum miris.
Miranda's POV
Hari berlalu seperti biasanya, Lucas pacarku masih mengirimkan buga kadang coklat. Makanan, baju, tas, dan sebagainya. Ku ingatkan aku tidak menginginkan ini semua, jujur aku bukan orang yang gila harta. Tapi ini sudah satu bulan Dia mengirim berbagai hadiah. Dan aku hanya menerimanya, karena yang mengirim bukan Lucas sendiri, tapi seorang kurir.
Pagi ini aku masuk kuliah, sudah 1 minggu aku tidak bertemu Lucas. Entahlah, rasanya sangat merindukannya, seperti ada yang hilang dari hidupku, Lucas adalah orang yang baik aku akui itu. Aku sebenarnya selalu kasihan dengannya karena aku selalu marah padanya, mencacinya.
Hari ini entah kenapa aku ingin bertemu dengannya, rasanya aku sangat merindukannya, aku berinisiatif menghampiri Hendra teman dekat Lucas.
"Hen," sapaku.
"Ada apa?" tanyanya bingung, mungkin dia berfikir 'kenapa aku tumben kesini?'
"Apa Lucas ada?" tanyaku.
"Oh, kau mencarinya? Untuk apa? Udah nyesel ditinggal 1 bulan gak ada kabar?" Hendra berkata begitu, aku kaget dong otomatis. Apa yang dia maksud, maksudnya Lucas pergi? Pergi kemana?
"Maksudmu Lucas pergi? Pergi kemana?" tanyaku, jujur aku panik.
"Kau tak tau? Dia pergi ke Eropa, dia memiliki perkerjaan disana. Hanya karena dirimu dia ke Indonesia, hanya karena dia ingin bersamamu. Kau pikir dia beneran kuliah disini? Tidak, dia anak orang kaya, dia sangat pandai, tapi kau belum beruntung Mir. Kau menyia - nyiakannya."
"Aku.... " suaraku tercekat, aku tak bisa bicara lagi. Entahlah, aku seperti kehilangan sesuatu, seuatu yang terasa sangat berharga.
"Menyesal? Jangan Mir, udah terlambat. Bagus kalau dia mau ke sini lagi, kalau tidak? Sudahlah Mir, keinginanmu sudah terwujud," kata Hendra.
Hendra menatapku dengan tatapan enggan dan meremehkan. Aku diam menundukkan kepala, rasanya sangat menyesal, benar - benar sakit rasanya seperti jantungku hancur berkeping-keping.
"Mir? " tanya Hendra. Aku tau dia sedang menatapku , tapi aku hanya diam menundukkan kepala. Butiran air mata terasa hangat mengalir dipipiku.
"Mir kau tak apa?" tanya Hendra.
Aku pun menghapus air mataku, aku mengangkat wajahku lalu tersenyum kearah Hendra.
"Aku tak apa," jawabku sambil tersenyum.
"Ck.. kalian berdua memang sama saja, suka menyembunyikan perasaan," kata Hendra, yang kurespon dengan senyuman.
1 minggu berlalu dengan sangat cepat. Kiriman paket itu tak lagi ada selama satu minggu ini.
Sekarang aku sendirian di kos karena Hanna dan yang lainnya sedang pergi.
'tok... tok... tok... ' ketukan pintu terdengar nyaring ditelingaku.
Aku berjalan kearah pintu, aku memutar kenkop pintu itu. Aku tercengang setelah melihat seseorang yang berdiri didepan pintu.
"Lucas... " gumamku kaget, tak terasa air mata ku menetes.
"Kamu kenapa? Hem?" tanya Lucas sambil mengusap air mataku.
Aku diam, tapi tubuhku tiba - tiba memeluk tubuh kekar Lucas.
"Aku merindukanmu, kamu kemana saja," tangisku pecah, aku malu karena ingusku menempel pada bajunya. Tapi bodo ah, yang jelas aku merindukannya.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Lucas.
"Ya, sangat, " jawabku mantap, tidak ada keraguan lagi di hatiku.
Aku ternyata mencintainya, mungkin dari dulu cintaku tak pernah hilang. Tapi karena egoku yang ingin menghilangkan rasa cinta. Aku menyayangi Lucas, Aku mencintainya setulus hatiku.
"Aku juga sangat mencintaimu," kata Lucas menatapku sambil tersenyum.
"Apa kamu mau melanjutkan kejenjang selanjutnya?" tanya Lucas.
"Ya, " jawabku mantap.
Kami pun berpelukan, sungguh hal yang sangat membahagiakan. Ada yang pernah berkata 'Dicintai lebih enak daripada mencintai'
Tapi menurutku itu betul sih, tapi 'mencintai itu sangat menyenangkan'.
3 bulan berlalu, sidang skripsi sudah selesai. Dan hari ini adalah hari dimana aku wisuda. Senang rasanya, apalagi aku sudah mendapatkan perkerjaan disebuah perusahaan.
Keluargaku dan keluarga Lucas sudah mendiskusikan tentang pernikahan kami. Rasanya aku sangat bahagia, Lucas itu orang yang baik dan setia. Lucas adalah Lucas, dan Lucas yang kukenal hanya satu yaitu Lucas Monique.
Beberapa minggu berlalu..
Aku dan Lucas sedang menuju ke tempat pertunangan. Lucas menjemputku dari rumah, aku sangat senang. Tapi entah kenapa ada sedikit rasa takut mengusik hatiku.
"Miranda, aku sangat mencintaimu. Apa benar kamu juga mencintaiku dengan tulus?" tanya Lucas.
"Ya, aku sangat mencintaimu. Aku minta maaf atas perlakuanku yang dulu, aku tau kamu sangat mencintaiku. Dan jujur aku juga mencintaimu dari dulu, tapi egoku memaksaku untuk melepaskanmu. Maafkan aku Lucas," kataku menatap Lucas.
Aku tau dia tersenyum walau tipis, lalu dia berkata. "Ya, aku menyayangimu dan mencintaimu. Aku pasti memaafkanmu," kata Lucas tersenyum kearahku.
Perjalanan telah kami tempuh, tapi entah kenapa aku masih merasakan firasat buruk. Apalagi kenapa kita tidak sampai - sampai sih.
'Dorr... ' suara bidikan peluru terdengar nyaring diteligaku.
"Menunduk Miranda! " kata Lucas, aku mengikuti instruksinya.
"Ada apa Lu?" tanyaku panik.
'Dorr... Dorr... ' suara tembakan beruntun terdengar, dan mobil yang kami tumpangi pun oleng.
Lucas masih mengemudikan mobilnya, bukannya mengurangi kecepatan dia malah menambah kecepatan.
"Lucas kita akan mati jika seperti ini," kataku sambil memegang pundak Lucas.
"Miranda, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Maafkan aku yang sangat payah dalam menjangamu. Ini salahku, dan mereka musuhku. Tolong maafkan aku Miranda, aku tak bisa berbuat banyak," Kata Lucas.
"Apa yang kau katakan Lu?" protesku, tapi seakan dia tuli dengan ucapanku.
Aku merasa bahwa keempat ban mobil ini telah meletus. Karena tikungan tajam, Lucas mengerem mendadak. Tapi mobil ini tidak bisa dikendalikan lagi, dan langsung menabrak pembatas jalan. Dan mobil ini terjun bebas kedalam jurang bersama diriku dan Lucas didalamnya.
"Maafkan aku Miranda... " bisik Lucas sambil memelukku.
"Aku juga Lucas, aku mencintaimu," kataku sambil memejamkan mata.
Aku merasakan hantaman yang sangat keras, dan kepalaku seperti terbentur sesuatu. Sesuatu yang keras dan membuatku merasa sangat pusing.
Tapi tanganku masih memeluk sebuah tubuh, yaitu tubuh dari Lucas. Mungkin kisah cinta rumit kami berakhir sampai disini saja.
Selamat tinggal Mama Papa, aku akan mengingat kalian. Maafkan anakmu yang selalu kurangajar, maafkan anakmu yang slalu membantah. Terimakasih banyak atas didikan dan biayanya...
Mama Papa aku mencintaimu lebih dari apapun, aku mencintai kalian, karena aku tau bahwa kalian juga mencintaiku.
Lucas Terimakasih banyak, dan Maaf....
Gelap dan sakit yang kurasakan. Kepalaku terasa berat, dan aku merasakan sesuatu yang menetes di mukaku. Tapi entahlah, kesadaranku seakan sudah tidak bersahabat dan mereka pergi.
~TAMAT~
•
•
•
Selamat jalan sahabatku
Selamat jalan Tinkerbellku
Selamat tinggal cintaku
•
•
•
Tulisan sederhanaku, semoga suka...
Terimakasih...
Fighting untuk semuanya...