Perkenalkan gw Silfia Tamami. Biasa dipanggil Silfia atau Fia. Disini gw mau ceritain tentang perjalanan pertemanan. Cukup rumit sih, tapi kalau gak rumit namanya bukan hidup. Umur 21 tahun, mahasiswa di sebuah kampus. Orang tua masih lengkap tapi jauh, ya ceritanya merantau. Kalau kalian tanya gw udah punya pacar, belum gw belum punya pacar.
Gw kasih tau ya, pacaran itu ribet, banyak masalah juga. Masalah gw aja banyak, apa lagi kalau pacaran. Kenapa gw bilang ribet? Karena gw lihat temen gw yang pacaran, banyak diselingkuhin lah, LDR-an lah, apa lagi kalau harus ada hubungannya intim, jijik gw. Kadang-kadang gw suka iri sama temen gw yang punya pacar, kemana-mana selalu aja di temenin. Tapi Gw ngerasa lebih enak gak pacaran, lagi pula haram di agama gw.
Oke gw mulai ceritanya.
Gw punya sahabat namanya Fani, Juni, sama Idiko. Yang namanya Fani sifat dia pendiam, Juni periang, dan Idiko protektif. Kalau gw sendiri orangnya barbar. Gw ama sahabat gw biasanya nongkrong di cakruk deket sawah, disitu udaranya adem banget.
Suatu hari pernah tuh, ada orang lewat yang kayak ketakutan sama kita. Kita gak tau itu siapa lewatnya sambil nunduk gitu. Terus ke esokan harinya juga lewat, dan keesokannya juga. Anehkan, orang banyak jalan lain, kenapa lewat sini terus. Dan kayaknya kita berempat gak kenal sama dia. Padahal kita kenal semua orang di desa ini, tapi orang itu gak pernah kita liat.
Pada saat itu kita tungguin dia lewat, lama banget. Sampai kita undurin jam pulang kita, kita telat dua jam dari biasanya kita pulang karena nungguin dia lewat. Akhirnya lewat setelah dua jam. Kita ikutin dah itu si mbak-mbak. Sampai akhirnya dia berhenti di sebuah rumah gak berpenghuni, kata orang tempat itu tuh angker.
“Kita masuk gak nih?” tanya gw ke temen temen.
“Aku nggak, takut.” jawab Juni.
“Oke, kalau gitu.... Fani sama Juni di siani aja, Gw sama Idiko yang masuk.” Saran gw ke temen-temen.
“Ih, kok Gw?” Protes Idiko.
“Lu kan punya Indra keenam, dan Lu yang bisa bela diri.” Jawab gw yang ngengkel.
"Oke deh!" Jawab Idiko dengan bangga atas dirinya sendiri.
Setelah melalui perdebatan itu, akhirnya gw masuk bersama Idiko sedangkan Fani dan Juni berada di luar untuk berjaga jaga. Gw beri isyarat ke Idiko supaya tetap hati hati dan berjalan didekat gw. Karena gw khawatir, gw penggang tangan Idiko supaya mudah untuk berlari jika ketauan.
Gw sama Idiko berjalan perlahan menyusuri rumah itu ada banyak kamar. Kata Idiko di setiap kamar ada penunggunya, Sampai di sebuah kamar yang berada di ujung lorong, terdengar suara dari sana. Gw ama Idiko jalan ngedeket kamar itu. Suaranya makin terdengar keras. Suara orang memukul, dan suara jeritan walaupun di tahan.
Setelah mendengar itu, Gw pegang tangan Idiko dengan lebih keras untuk mengisyaratkan agar berhenti berjalan. Di situ gw bisikin ke Idiko supaya berkomunikasi dan minta tolong dengan teman gaibnya.
Setelah idiko meminta tolong kepada temannya yang gaib. Idiko menjelaskan bahwa aja kejadian mengerikan di dalam dan ada seorang anak kecil yang di gebukin.
“Ada berapa orang di dalam?” tanya gw ke Idiko.
“Ada 5 orang di dalam 3 anak-anak, 2 orang dewasa, satu perempuan, satu laki-laki.” jawab Idiko. Sebelumnya dia sudah diberitahu oleh temannya yang berbeda alam itu.
“Kita dobrak pintu itu dan langsung hajar mereka!” kata gw yang berbisik ke Idiko. Dijawab Idiko dengan mengacungkan jempolnya. Gw dobrak tuh pintu sampai ambuk.
“Siapa kalian?!” Kata si laki-laki dewasa.
“Kalian gak perlu tau kita, yang perlu kalian tau kita akan gebukin kalian.” kata gw dengan lantang. disitu gw sama Idiko langsung hajar tuh. Menurut gw itu kejadian paling seru, karena bisa tanding tapi gak ada larangan, bebas gitu rasanya.
Kedua penjahat itu tepar di lantai, babak belur cuy. Penjahat tersebut menyarah dan ada segerombolan warga yang datang kemari. Ternyata warga tersebut dipanggil oleh Fani dan Juni. Mereka mendengar perkelahian kami dari luar dan langsung memanggil warga.
Para penjahat itu dibawa ke kantor polisi terdekat dan kabarnya dijatuhi hukuman mati karena ada korban yang di bunuh oleh mereka. Oh iya, orang yang kami ikutin tadi adalah salah satu penjahat yang bekerja untuk mereka, katanya dia butuh uang. Gadis itu bisa dibilang masih remaja dan bercita cita menjadi dokter, tetapi karena tidak diterima dan butuh uang akhirnya dia bekerja mengambil organ dalam anak anak yang mereka culik.
Sehabis itu keadaan kembali tenang, tetapi beberapa bulan kemudian ada seorang yang pemalu. Dia seorang anak perempuan, dikenal sebagai cucu dari Bos Tanah. Anak itu bernama Faiq, dia salah satu temen ku waktu kecil. Tapi mungkin karena lama tak bertemu akhirnya menjadi canggung. Sebenarnya aku orangnya antisosial atau tak mau berteman tapi semenjak ketemu Faiq, gw jadi lebih ramah lah.
Sore itu gw kerumahnya babeh Atong untuk bekerja, biasalah pekerjaan gw'kan serabutan, apa aja gw kerjain yang penting ada upahnya.
“Assalamualaikum beh, apa nih kerjaan saya?” tanya gw ke si babeh.
“Kerjaan lu temenin Faiq jalan, jagain dia tiap waktu, jadiin dia temen, sama nanti setelah lu jalan-jalan angkatin barang yang adaa disawah sono, tenang nanti bayar aye bayar.” Perintah babeh Atong.
"Siap, lasanakan beh!" Ucap gw dengan lantang.
Sejak saat itu gw sama Faiq lebih Deket lagi. Biasanya gw ajakin dia ke tempat tongkrongan gw. Gw kenalin dah tuh si Faiq ke sahabat gw. Dia selalu bawa kamera buat ngabadiin momen-momen yang penting menurutnya. Dan sejak itulah Gw, Fani, Juni, Idiko dan Faiq sahabatan.