Masih terekam jelas di ingatanku saat kita pertama kali bertemu. Saat itu, aku yang merupakan murid baru harus berpasangan denganmu sebagai teman satu kelompok praktek biologi.
Kau terlihat sangat tampan dengan rambut hitam legam dan sorot mata tajam berwarna coklat gelap. Tidak seperti penampilanmu yang terlhat dingin, kau jauh lebih hangat seperti matahari musim panas. Kau ulurkan tanganmu padaku dan tersenyum lebar ke arahku. Menampakkan deretan gigi berwarna putih.
"James Ramsay," katamu singkat.
Tidak ada yang pernah mengajakku berkenalan lebih dulu. Dan sikapmu membuatku terkejut. Ini hal baru bagiku. Aku menyambut uluran tanganmu tanpa memandang ke arah kedua matamu karena merasa malu. "Emilia Clark," cicitku.
"Apa? Aku tidak mendengarmu," ucapmu sambil mendekatkan wajahmu ke samping wajahku.
Hal itu membuatku semakin malu dan berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah di antara helaian rambut panjangku yang berwarna keemasan. Namun, aku tidak ingin menyia-nyiakan teman pertamaku untuk pertama kalinya aku bersekolah. Jadi, aku mengangkat wajahku dan memberanikan diri untuk memandang tepat ke arah matamu.
"Emilia Clark," kataku jauh lebih nyaring.
Kau kembali tersenyum lebar. "Baiklah Emi, mari kita berteman," putusmu.
Aku hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepalaku. Aku sangat senang karena kau menjadi teman pertamaku.
Sejak saat itu kita selalu bersama. Kau yang selalu perhatian padaku membuatku nyaman berada di sampingmu.
Walau terkadang aku merasa minder berada di sekitarmu karena kau begitu populer sedangkan aku hanya seorang murid biasa yang keberadaannya tak terlihat.
Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaanku padamu mulai tumbuh. Tetapi, ketika kita berada di kelas senior dan kau gosipkan dekat dengan Eva Weillington, di situlah aku tahu bahwasannya aku cemburu. Aku merasa tidak senang kau dekat dengannya.
Tidak. Aku merasa tidak senang kau dekat dengan gadis mana pun selain aku. Karena kurasa, aku sudah menganggapmu lebih dari pada sekedar sahabat. Kurasa aku jatuh cinta padamu.
Entahlah.... Kupikir mungkin aku sudah jatuh cinta padamu sejak awal. Sejak pertama kali kau mengulurkan tanganmu padaku untuk berkenalan, dan mungkin kau memang lebih dari seorang sahabat bagiku.
Aku tidak tahu perasaanmu. Tidak saat itu.
Semenjak kau dekat dengan Eva, aku menjadi merasa tersisih. Kau sudah mulai jarang menemuiku. Setiap aku pergi ke rumah pohon yang merupakan tempat rahasia kita berdua, kau selalu tak ada di sana.
Apa kau tidak mau lagi ke rumah pohon karena aku tidak juga berani naik ke atas sana sampai sekarang?
Beberapa hari sebelum prom night, Jessi adikku menyuruhku untuk mengatakan bahwa aku akan pergi ke prom night dengan lelaki lain untuk membuatmu cemburu. Jessi bilang, jika kau marah dan mencegahku itu artinya kau juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. Tapi, jika kau acuh dan membiarkanku pergi dengan pria lain saat prom night, itu artinya kau tak memiliki perasaan yang sama denganku.
Karena kita sudah mulai jarang bertemu, jadi kuputuskan untuk memintamu bertemu denganku di pinggir lintasan lari sekolah.
Aku ingat jelas saat itu kau berjalan terburu-buru ke arahku dengan wajah yang terlihat pucat. Sesampainya di hadapanku kau malah menghawatirkanku.
"Ada apa Emi? Mengapa kau mengajakku bertemu?Kau baik-baik saja?" katamu yang terlihat sangat cemas sambil memegang kedua bahuku.
Bukankah di sini aku yang harusnya lebih khawatir? Wajahmu terlihat pucat dan itu mengangguku.
Dahiku berkerut. "Kau baik-baik saja?" aku balas bertanya tanpa menghiraukan pertanyaanmu.
Kau balas mengernyitkan dahi. "Aku?" katamu sambil menunjuk dirimu sendiri. "Tentu saja, aku baik-baik saja."
"Kau pucat," kataku lebih seperti sebuah pernyataan.
Kau mengosok tengkukmu dan membuang wajah ke samping. "Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit pusing karena kurang tidur semalam, kurasa."
Aku baru saja hendak bertanya lagi namun kau lebih dahulu menyela. "Jadi, mengapa kau mengajakku bertemu? Ada yang ingin kau katakan padaku?"
Aku menelan ludahku lalu mengigit bibir bawahku pelan. Ragu apakah ini merupakan waktu yang tepat untuk bertanya tentang prom night kepadamu?
"Ada apa Emi? Katakan saja," katamu lembut.
Jadi dengan kedua tangan terkepal, aku memberanikan diri bertanya padamu. "Aku akan pergi ke prom night dengan Arthur, apa kau tidak masalah dengan hal itu?"
Hening yang kudapatkan darimu. Membuatku resah. Apa kau akan marah padaku? Aku berharap kau marah padaku dan memintaku untuk tidak pergi dengan Arthur. Jika kau melakukan itu, maka aku akan dengan senang hati menolak tawaran Arthur yang memang sebelum aku bertemu denganmu, sempat mengajakku pergi bersama saat prom night.
Tapi bukannya amarahmu atau penolakanmu, yang kudapatkan malah kau yang tersenyum lebar padaku.
"Tentu saja aku tidak masalah dengan itu, Emi. Kau bisa pergi ke prom night dengan pria mana pun tidak harus denganku," ujarmu dengan senyum yang belum menghilang dari wajahmu, "dan juga, aku akan pergi dengan Eva. Gadis itu mengajakku pergi ke prom night kemarin."
Pernyataanmu membuatku hatiku sakit. Sungguh. Aku marah pada diriku sendiri karena sudah berani berharap kau memiliki perasaan yang sama padaku. Padahal kau selama ini hanya menganggapku tidak lebih dari seorang teman.
Aku tersenyum getir karena ternyata kau memang benar memiliki hubungan dengan Eva. Hal yang selama ini tidak pernah kau ceritakan padaku. Apa kau bahkan masih menganggapku sebagai seorang sahabat?
"Eva mengajakmu pergi ke prom night? Mengapa kau tidak pernah mengatakannya padaku? Apa aku sudah tidak begitu penting lagi bagimu sehingga kau tak mau lagi bercerita padaku?" kataku meledak-ledak.
"Bukan begitu, Emi," katamu berusaha menenangkanku dengan menyentuh kedua bahuku.
Aku menepis kedua tanganmu karena merasa kesal. "Lalu, apa? Mengapa aku yang selama ini menjadi temanmu harus mendapatkan kabar tentang hubunganmu dengan Eva dari mulut orang lain. Bukan dari mulutmu sendiri?" kataku dengan mata yang sudah dipenuhi air mata.
Kau dengan panik segera berusaha menghapus air mata yang mengalir di pipiku. "Maafkan aku Emi. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Dan juga aku dan Eva—"
Aku menepis tanganmu dan berteriak di depan wajahmu dengan histeris. "Aku... tidak... ingin... mendengar... status... hubunganmu... dengan Eva! Aku membencimu!" kataku dengan penuh penekanan. Sebelum akhirnya pergi meninggalkanmu yang masih mematung di pinggir lintasan lari.
🍃🍃🍃
Sejak kejadian di lintasan lari, aku tak lagi bertemu denganmu. Hingga akhirnya aku benar-benar pergi dengan Arthur ke acara prom night.
Aku sungguh tidak bersemangat pergi ke pesta prom night hingga aku meninggalkan ponsel dan dompetku. Entahlah... aku benar-benar kacau hanya dengan memikirkan kau yang pergi dengan Eva malam ini.
Aku melamun sepanjang pesta berlansung di tengah orang-orang yang manari bahagia menikmati pesta. Sampai pada mataku menangkap Eva yang sedang asik bercengkrama dengan pria lain yang bukan dirimu.
Aku mengedarkan padanganku. Mencari keberadaanmu. Namun, tak kutemukan dirimu di sudut mana pun.
Aku kemudian kembali ke dalam keramaian pesta dan menghampiri Eva untuk mengetahui keberadaanmu. Aku takut kau tidak jadi datang ke acara prom night karena pertengkaran kita saat itu.
"Eva, bisakah aku berbicara dengamu?" tanyaku begitu sampai di hadapan Eva.
"Oh, Emilia. Ada yang bisa kubantu?" kata gadis tersebut dengan sangat ramah. Ia tersenyum hingga senyumnya sampai ke mata.
"Kau tidak jadi pergi hadir ke prom night dengan James?" tanyaku secara langsung. Aku tak bisa berbasa-basi. Tak ada waktu untuk itu.
Wajah Eva seketika berubah menjadi serius. "Ayo bicara di luar. Banyak hal yang harus kuberi tahu padamu."
Aku menganggukkan kepala dan mengikuti Eva melangkah keluar.
🍃🍃🍃
"James banyak bercerita tentangmu padaku. Termasuk pertengkaran kalian di lintasan lari." Eva membuang napasnya pelan kemudian melanjutkan perkataannya, "kami tidak ada hubungan apa pun. Kurasa James belum memberi tahumu. Padahal aku sudah menyuruhnya berulang kali untuk mengatakan padamu bahwa dia menderita tumor otak. Ayahku merupakan dokter yag menanganinya dan ia memintaku untuk mengawasi James di sekolah. Itulah yang menyebabkan kami menjadi dekat. Tapi, tak ada hubungan spesial apa pun di antara kita. Aku sudah punya pacar...."
Aku tidak dapat mendengar lanjutan dari perkataan Eva lagi karena sekarang aku sudah menangis. Aku kehilangan fokus terhadap kalimat-kalimat yang dilontarkan Eva setelah penyataan bahwa kau menderita tumor otak. Air mata sudah memburamkan pengelihatanku.
Bagaimana mungkin aku bisa tidak mengetahui hal tersebut? Bagaimana bisa aku menjadi sangat egois dan hanya mementingkan perasaanku saja?
Lamunanku pecah saat terdengar suara dering ponsel yang sangat nyaring. Eva segera merogoh saku tasnya dan segera mengambil ponselnya.
"Halo, Dad. Ada apa?" tanya Eva begitu ponsel mencapai ke telinganya, "oh... Mrs. Ramsay... baiklah akan kuberikan padanya. Kebetulan dia berada di depanku sekarang."
Eva menyerahkan ponselnya padaku. Dahiku berkerut. Perasaanku menjadi tak enak. Aku merasa gelisah. Mengapa ibumu ingin berbicara denganku?
"Emi..." suara ibumu terdengar serak di telingaku, "maaf kau harus mendengar ini sekarang...."
Tidak. Aku tidak ingin mendengar kalimat selanjutnya. Karena aku memiliki firasat buruk tentang ini. Jangan! Jangan teruskan! Bisakah aku tidak mendengarkan kelanjutan kalimat dari ibumu?
Namun, hati dan tindakanku bertindak dengan cara yang berlawanan. Hatiku tak ingin mendengarkan kelanjutan dari perkataan ibumu. Akan tetapi ponsel Eva masih tidak bergeming di telingaku.
"Kau tahu James sangat menyayangimu. Jadi kumohon jangan marah padanya. Karena malam ini, James harus pergi meninggalkanmu."
Tidak! Ini tidak benar. Aku tidak percaya ini. Bagaimana bisa kau meninggalkanku tanpa ucapan selamat tinggal? Aku bahkan belum mengucapkan selamat tinggal untukmu. Aku belum menyampaikan perasaanku untukmu dengan jujur.
Akhir pertemuan kita menjadi moment paling buruk untuk dikenang. Aku mengatakan bahwa aku membencimu, padahal aku sangat menyayangimu.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Di mana James dirawat? Aku harus memastikannya sendiri. Dia tidak mungkin meninggalkanku seperti ini," rancuku tak karuan.
Eva menyentuh pundakku lembut. Berusaha menenangkanku yang menjadi histeris seketika. "Tenanglah... aku akan mengantarkanmu ke sana."
🍃🍃🍃
Eva mengantarkanku ke rumah sakit tempatmu dirawat selama ini. Aku awalnya berusaha menolak apapun yang ibumu sampaikan padaku. Namun, tubuhmu yang ditutup kain putih membuatku terduduk di lantai rumah sakit yang dingin, dan tangisku pecah.
Hatiku terasa sesak. Aku tak bisa bernapas. Rasanya terlalu sakit. Aku seperti berada di ruang hampa. Air mata di pipiku mengalir semakin deras semakin aku berusaha menghapusnya.
🍃🍃🍃
Hingga saat ini aku masih belum menerima kepergianmu. Sekarang, aku sedang berada di bawah rumah pohon. Tempat kita biasa bertemu dan menghabiskan waktu.
Aku mendongakkan kepala ke arah rumah pohon di atas kepalaku. Penasaran dengan apa yang biasa kau lihat di atas sana.
Dengan kaki yang gemetar karena berusaha melawan rasa takut, aku akhirnya mencoba memberanikan diri naik ke atas sana.
Usahaku tidak sia-sia. Aku akhirnya berhasil naik ke atas rumah pohon yang terbuat dari kayu ini. Ku edarkan pandanganku, melihat ke sekitar.
Ternyata pemandangan di atas sini sangatlah indah. Kau tidak berbohong saat mengatakan bahwa kita bisa melihat dunia dari atas sini.
Aku membalikkan badan dan hendak turun dari sini. Karena mengingat tentangmu hanya akan membuat dadaku kembali sesak lagi. Namun, tidakkanku terhenti saat sorot mataku menangkap sebuah ukiran di batang kayu bertuliskan;
To My Dearest Emi.
If anything happens, I love you.
With all my love,
James.
Aku mengurungkan niatku untuk turun dan memilih untuk menangis di atas sini.
End/Tamat
Note: Arti dari ukiran di pohon:
Untuk Emiku tersayang.
Jika sesuatu terjadi, aku mencintaimu.
Dengan semua cinta dariku,
James.