Hidup, mati, jodoh, sakit dan rezeki itu ada di tangan yang Maha Kuasa. Sebanyak apapun rencana, harapan dan impian manusia kalau yang Kuasa tidak berkehendak bakal pupus di tengah jalan.
Perkenalkan namaku Kirana Indurasmi Wiratmaja usia ku saat ini menginjak 17 tahun, bersekolah di salah satu sekolah negeri favorit di kota ku. Aku anak tunggal dari Aditya Wiratmaja yang bekerja di perusaan properti sebagai manager pelaksana dan Mama seorang ibu rumah tangga.
Siang itu sepulang sekolah...
"Assalamualaikum , Kiran pulang, Mama dimana? " teriak ku.
"Waalaikumsalam, Mama di dapur Kiran" jawab Mama.
Berjalan dengan santai menuju dapur, ku lihat Mama sedang memasukan adonan ke loyang siap untuk di panggang.
"Kok tumben bikin kue Ma,"
"Iya ini tadi Mama lihat di YouTube kok pengen akhirnya coba bikin deh, sana ganti baju dulu terus makan dan jangan lupa sholat Kiran," kata Mama.
"Siap Ma," jawab ku.
Setelah bersih-bersih, langsung ke meja makan di mana Mama sedang menunggu untuk menemaniku makan.
Ku ambil piring beserta lauk-pauk yang menggugah selera. Harus Aku akui kalau masakan Mama sangat enak dan cocok di lidah.
"Pelan-pelan Kiran,"
"Kiran Lapar Ma, masakan nya enak, Mama gak ikut makan?" kata ku.
"Huss, kalau makan jangan sambil ngomong nanti tersedak, Mama sudah makan tadi.Sebentar ya Kiran Mama mau lihat kue sudah matang apa belum,"
Aku angkat jempol ku sebagai jawaban. Selesai makan, sayur dan lauk nya aku tutup pakai tudung saji dan piring yg kotor aku bawa ke dapur untuk di cuci. Ya, Mama tidak punya dan tidak minat untuk mempekerjakan seorang ART, katanya supaya bisa bekerja sama untuk mengurus rumah.
Aku lihat Mama sedang mengiris Kue dan di bawa ke ruang keluarga sebagai camilan di sore hari. Setelah selesai cuci piring aku menyusul ke ruang tengah dan duduk di sebelah Mama lalu ku peluk dari samping.
"Tumben nih, ada apa? ayo cerita sama Mama,"
"Ma..."
"Hemm"
"Aku kok belum menstruasi ya Ma, teman-teman ku sudah banyak yang dapat, tapi aku sampai sekarang belum dapat sama sekali Kiran takut Ma,"
"Masa Kiran?" kata Mama terkejut.
"Iya Ma, Kiran pikir normal karena setiap perempuan beda-beda masanya, tapi semakin bertambah usia Kiran belum dapat Ma. Apalagi setelah searching Google, Kiran jadi kepikiran, Aku takut Ma," jawab ku.
"Lah memang apa yg di katakan Mbah Goggle?"
"Katanya gejala yang Aku alami itu langkah, perempuan yang tidak mengalami menstruasi disebut syndrom apa gitu dan parahnya perempuan yang mengidap syndrom tersebut tidak mempunyai rahim Ma, Kiran takut," jawab ku sambil menahan sesak yang tiba-tiba datang.
"Sudah tenang jangan parno dulu sebelum di periksa oleh dokter yang ahli di bidang nya, bisa saja apa yg kamu dapat di Mbah Google itu salah Kiran, besok sepulang sekolah kita ke rumah sakit ya untuk periksa," kata Mama.
🦀
Ke esokan harinya selepas pulang sekolah...
Tin.. Tin.. Tin..
"Ayo Kiran, Papa mu sudah datang. Jangan lupa kunci pintu dan gerbangnya," ajak Mama.
Ku anggukan kepala sebagai jawaban. Setelah memastikan pintu dan gerbang terkunci semua, Aku menyusul Mama masuk ke mobil. Dalam perjalanan tak ada percakapan sama sekali, Mama menemaniku duduk di belakang.
Sambil melihat keluar jendela pikiran Ku melayang kemana-mana. Aku takut kalau memang benar terjadi, bagaimana masa depan ku nanti? apakah suami dan keluarganya mau menerima ku? sampai sebuah tepukan lembut membuyarkan lamunanku.
Tak sadar ternyata sudah sampai di Rumah sakit. Kami berdua turun menunggu Papa dari parkiran. Setelah itu kita masuk ke lanjut ke lantai 3 setelah melihat petunjuk di lobi tadi.
Ting...
Lift terbuka, kami melanjutkan ke ruang poli kandungan. Papa menuju loket pendaftaran sedangkan kami langsung cari tempat duduk menunggu untuk di panggil. Merasakan getaran di dalam tas, segera ku buka tas dan mengambil benda pipih yg jadi penyebab nya. Ternyata Adit yang mengirim pesan dan kami pun berbalas pesan sampai pada akhirnya...
"Saudari Kirana,"
"Saya Sus," jawab ku sambil memasukan kembali benda pipih itu ke dalam tas.
"Mari ikut saya,"
Kami mengikuti suster masuk ke ruang periksa dokter.
"Selamat siang, Kirana Indurasmi. Keluhannya apa dek?"
"Gini dok, saya belum pernah menstruasi,"
"Berapa lama?"
"Sejak SD sampai sekarang kira-kira 5 tahunan dok,"
"Belum pernah sama sekali?"
"Belum dok,"
"Begitu ya, oke langsung saja kita USG ya dek biar jelas,"
"Silahkan berbaring ya Mbak,"
Setelah berbaring, suster mulai membuka kaos lalu mengoleskan gel. Dokter Shinta mulai menggerakkan stik mengarah ke perut bagian bawah sambil melihat layar, sesekali melihat ke arah ku sambil menghela napas.
"Oke sudah selesai, Sus tolong ya!"
Setelah gel di bersihkan, kemudian turun dari ranjang dan berjalan lalu duduk di kursi samping mama sedangkan papa tetap berdiri sambil menyenderkan bahunya ke dinding.
"Emmm, begini anak ibu menderita Syndrom Mayer-Rekitansky-Kuster-Hauser atau lebih di kenal dengan Syndrom MRKH,"
"Maksudnya dok?"
"Syndrom MRKH adalah suatu kondisi dimana seorang wanita tidak memiliki rahim. Sindroma MRKH sendiri terbagi 2, yakni tipe 1 dimana abnormalitas yang terjadi terbatas pada organ reproduksi saja, dan tipe 2 dimana abnormalitas yang terjadi melibatkan juga organ lainnya, seperti ginjal, tulang, telinga, jantung, dan sebagainya," "Untuk anak Ibu termasuk tipe 1."
"Terus penyebab syndrom ini apa ya Dok?"
"Wanita dengan sindroma MRKH tidak bisa mengalami menstruasi, dan tidak bisa juga mengandung secara alamiah."
"Apa gak ada obat atau perawatan apa gitu dok?" tanya Papa yang berusaha untuk tegar.
"Mohon maaf Bapak, Ibu. Sampai saat ini tidak ada obat atau perawatan untuk kasus ini. Jadi jalan satu-satunya hanya operasi, itu pun harus ada donor rahim yang cocok untuk putri Bapak," kata dr. shinta.
"Apa gak ada opsi lain lagi dok?"
"Ada yaitu dengan bantuan bayi tabung yang dikombinasikan dengan ibu pengganti.Sayangnya, meski program bayi tabung sudah menjamur di Indonesia, ibu pengganti masih banyak menjadi kontroversi dan masih belum dilegalkan hingga kini. Karenanya, bila ingin memiliki keturunan, lebih disarankan bagi Anda untuk mengadopsi anak ketimbang melakukan program kehamilan sebagaimana disebutkan di atas. Hubungan keluarga tidak hanya dibangun melalui pertalian darah bukan?"
"Berarti anak saya mandul ya dok?"
"Tidak mandul kan masih ada sel telur nya, yang tidak ada itu rahim nya," kata dr. Shinta sambil tersenyum.
Aku yang sedari awal mendengar penjelasan dari dokter Shinta hanya bisa diam. Ku lihat Mama menutup mulut nya sambil menahan tangis. Papa juga diam seribu bahasa dan melihat ku dengan tatapan sendunya. Bisa Ku rasakan kalau Papa terluka dan tak rala kalau anak semata wayang nya mengalami hal yang tidak terduga.
"Baiklah kalau begitu dok, kami permisi dulu dan terima kasih atas penjelasan nya,"
"Sama-sama Ibu. Sebaiknya musyawarah dulu sama keluarga bagaimana baik nya,"
"Baik dok,"
Keluar dari ruangan dokter, sambil berjalan papa memeluk dari samping memberi kekuatan kepada ku. Yang sabar, yang kuat kami selalu bersamamu mungkin itu arti pelukan yg ku dapat.
Selama perjalan pulang tak ada kata yang terucap semua tenggelam pada pikiran masing-masing. Tak terasa sudah sampai rumah, tanpa bicara langsung menuju kamar.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan aku lalui dengan iklas meski rasa yang pernah ada masih terasa di dada. Di antara rasa yang ada hanya rasa kecewa yang dominan. Kekasih yang aku cintai dengan tulus, memilih pergi meninggalkan ku.
Ya, tepat ke esokan harinya Adit aku beritahu tentang masalah yang sedang mendera. Aku berharap dia mengerti dan memberikan dukungan seperti yang di berikan oleh kedua orang tuaku.
Tapi apa yg ku dapat, dia pergi tanpa sepatah kata dan apabila bertemu selalu menghindar. Betul kata orang "Jangan pernah mengharap pada sesama manusia karena bakal sakit akhirnya, tapi berharap lah langsung pada sang Pencipta karena Dia berkuasa pada dirimu".
Akhirnya hari kelulusan telah tiba dan aku siap menghadapi rintangan yang ada, entah itu manis bahkan pait sekali pun akan aku hadapi, karena masih ada orang-orang yang tulus menyayangi.