"Aish" Keluh seseorang lelaki dengan tubuh yang tinggi dan atletis
"Jangan berlebihan deh, gua tuh udah normal tahu untuk ukuran cewek Indonesia, gua 154 cm, cuma beda 21 cm aja, lagian gua masih bisa tumbuh tinggi lagi, dalam waktu 3 tahun" ucap seorang gadis mungil dengan tubuh pendek dan berpipi cabi
"Ah, itu sih alibi lu doang, cewek tinggi itu kaya Sisca, 165 cm" ucap lelaki itu
"Yaudah sana pulang sama dia aja, nyebelin" gadis mungil itu menjilati es krim nya
"Elah baperan amat sih neng, gak lah, lu kan temen terimut gua" ucap lelaki itu sambil mencubit pipi sang gadis.
"Gua benci lu, semua tentang lu, wlee" gadis itu lalu berlari meninggalkan lelaki itu
"Angel, jangan lari-lari, ntar jatuh, aish" kesal lelaki itu
"Gak mau, sejak kapan seorang Angel nurut sama Bagas si cowok galah" ucap Angel masih berlari, sampai pluk!!! es krim milik Angel jatuh, Angel terdiam, dia melihat es krim nya yang terjatuh begitu saja. "Es Krim gua" rengek Angel
"Kena lu" Bagas menyentuh bahu Angel, lalu dia melihat es krim milik Angel "Hahaha, emang bocil kalau makan gak pernah bener" ledek Bagas
"Ish sialan lu, gua dah 17 tahun ya, lu aja yang ketinggian" kesal Angel
***
Angel sedang duduk di sebuah taman, dia masih memakai seragam sekolah nya, tadi dia diantar Bagas sampai ke depan rumah nya, namun karena ia malas sendirian di rumah, akhirnya ia menyimpang dulu ke taman. Dan ternyata di sana ada Sisca, si cewek tinggi di kelasnya.
"Angel!!!" Panggil Sisca
Angel mempersilahkan Sisca duduk di sampingnya. Sisca mulai mengajaknya berbincang banyak hal. Entah itu tentang mata pelajaran di sekolah, atau mungkin meengenai hal-hal lainnya.
"Gua lihat-lihat lu Deket sama Bagas ya" tanya Sisca
"Gak tuh, kita berantem terus" jawab Angel
"Jadi, lu gak suka sama Bagas?" tanya Sisca
"Gak lah, dia tuh udah kayak partner gelut gua" Jawab Angel
"Jadi, boleh gak kalau gua deket sama dia, soalnya,..... Hm, ..... jangan bilang-bilang dia ya, gua suka sama dia"
Angel terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa, Bagas, Sisca, dua pasang insan yang saling melengkapi. Keduanya good looking, keduanya juga pintar, dan baik.
***
Bagas baru keluar dari sekolah, dia segera menghampiri Angel yang tengah memakan es krim lagi. Bagas sengaja mengagetkan Angel.
"Pergi sana!" Sinis Angel
"Lu kenapa dah, salah minum obat apa kurang nutrisi kegantengan gua? Makannya tumbuh tuh ke atas, jadi gampang ngeliat ketampanan gua nya" ucap Bagas
"Pergi, gua gak mau ketemu lu lagi" kali ini nada suara Angel begitu serius
"Hei, lu kenapa? Gua ada salah ya sama lu? Bercanda gua berlebihan? Ya elah, lu kan tahu gua suka banget bercanda, lagian fakta kan kalau lu itu kek bocil" ledek Bagas
"Lu pergi, gua gak mau ketemu lu lagi, semua tentang lu, gua benci" ucap Angel
Bagas terdiam "Gua salah apa? lu kenapa? Ngomong dong biar gua tahu salah gua apa, lu gak bisa jauhin gua gini aja" ucap Bagas
"Terserah" Lalu Angel pun berlari.
Dia berjalan lambat hari ini, merasa malas untuk melakukan kegiatan apapun. Sampai di pertengahan jalan, dia melihat Bagas dan Sisca yang tengah berbincang dan tertawa.
"Mereka bahagia tanpa gua" Angell lalu berlari, menjauh sampai kemudian
Brukk! Angel terjatuh, dan kakinya keseleo, tangannya pun sedikit lecet.
"Aish, lecet pula, duh gimana gua pulang ya" Angel lalu teringat pada Bagas, namun ia harus bisa tanpa Bagas.
Sampai tiba-tiba, seseorang menunduk di depannya, tepat di depan Angel. Bagas. Ya, ada rasa senang sekaligus malas ketika melihat Bagas.
"Kenapa? Jatuh? Padahal lu kan pendek, jadi tingkat terjatuhnya itu rendah, kok bisa jatuh?" tanya Bagas "Ayo naik" Angga menarik tangan Angel agar melingkar ke lehernya, dan mau tak mau Angel mengikuti kata Bagas.
"Kenapa lu bisa ada di sana?" tanya Angel
"Karena lu ada di sana" jawab Bagas singkat
"Bukannya lu lagi sama Sisca?" tanya Angel
"Lu marah?" tanya Bagas
"Gak" jawab Angel
"Gua suka sama lu" nyata Bagas
"Gua benci sama lu" balas Angel sinis
"Jahat amat" ucap Bagas
"Sisca sekarang gimana?" tanya Angel
"Dah balik ke kayangan"
"Sialan"
Angel menyandarkan kepalanya ke punggung gagah milik Bagas, dia lalu bergumam dan mampu di dengar oleh Bagas, namun justru malah membuat Bagas tersenyum.
"Gua benci lu, pake banget"