"Lo gila?" bentak seorang pria pada adiknya. "ya! gua gila!! gua gila karena peraturan di rumah sialan ini!" teriak seorang gadis kepada kakaknya.
plak!!
terdengar tamparan keras dari kulit yang beradu. "Sebenarnya kenapa sih lu ngelakuin ini? ini ga ada gunanya tolol! lu cuma nyakitin diri lu sendiri!" ujar kakaknya
"gua ga nyakitin diri gua anjing! gua lagi nyari ketenangan!! faham?" sang adik memegangi pipinya yang terasa panas, air mata terus menetes dari pelupuk matanya
"Nyari ketenangan dengan cara nyakitin diri lu sendiri? ketenangan macam apa itu ban*sat!" umpat kakaknya tepat didepan wajah adiknya
"Dila capek kak!" teriak adiknya
"lu cape ngapain sih anjing? kerjaan lu juga cuma belajar, sekolah! coba lu udah kerja kaya gua!" bentak kakaknya
"Gua cape, karena setiap gua lagi ngomongin suatu masalah, akhirnya jadi adu nasib." senyum getir terlihat tadi bibir Dila
"Gua cape! Mama papa selalu nuntut untuk jadi sempurna! gua cape, ga ada yang mau dengeri-" sebelum Dila menyelesaikan kalimatnya kakaknya memotong
"Alah! iman lu itu yang lemah! buktinya gua biasa-biasa aja tuh digituin," ucap kakaknya senyum miring tercetak di sana.
"tuh kan! Goblok! tolol lu bang! lu ga tau ya kalau setiap orang itu punya mental yang beda? lu ga tau ya kalo setiap orang itu punya garis hidup yang berbeda dari Tuhan? kalo lu ngomongin soal keimanan harusnya lu tau kalo tuhan nulis takdir yang berbeda ke setiap manusia yang dia ciptakan! " ujar Dila panjang lebar
merasa argumennya kalah, Ilham--kakak Dila-- lantas menampar adiknya "ga usah ngeluh! banyak orang diluar sana yang hidup susah," ujarnya
"lu terlalu sibuk mikirin orang yang ada diluar sana sampai lupa kalo gua, manusia yang lu liat setiap harinya juga ngalamin hidup susah," Dila berhenti sejenak
"lu liat gua setiap harinya, iya kan? tapi lu sama sekali ga tau apa yang gua alami setiap detiknya," ujar Dila penuh penekanan.
lalu gadis itu pergi meninggalkan kakaknya dikamar mandi sendiri.
Ilham menghembuskan nafas kasar lalu meraih shower untuk menyiram darah adiknya yang tercecer dilantai. hatinya ngilu memandang cutter yang digunakan adiknya untuk melakukan percobaan bunuh diri, tanpa sadar air mata menetes dari pelupuk matanya
"Tolol lu Ham," ujarnya saat melihat pantulan dirinya di cermin. "harusnya lu bisa nahan amarah dan peluk dia! tapi lu tolol! lu malah semakin nyakitin adik lu!" lanjutnya
Ilham memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, sudah lebih dari 15 kali dia menemukan adiknya melakukan hal ini. keadaan ekonomi yang tak terlalu tinggi membuat dirinya harus berhemat sebisa mungkin. terlebih setelah kematian mendiang kedua orangtuanya, dia harus bisa menjadi seorang kakak, ibu, dan ayah sekaligus bagi Nadila--adiknya--