Desa Elana, mengingatkan James dengan kenangan yang sangat kelam. Bagaimana tidak? di desa itulah semua keluarganya meregang nyawa dalam suatu waktu. Di malam yang gelap dan disertai panasnya si jago merah.
Sudah bertahun-tahun James tidak pernah ke lingkungan Desa Elana. Tetapi hari ini, seorang polisi mengarahkan mobilnya untuk melewati jalan dimana desa Elana berada.
Di tengah hujan dan gelapnya malam, James tentu meragu dan gemetaran. Kini dia membeku, dan belum juga menjalankan mobilnya.
"Hei! hei!" teguran polisi yang memekik sambil menggetok kaca mobil segera menyadarkan James.
"Sorry sir!" ujar James sembari menurunkan kaca mobilnya.
"Cepat jalan, banyak mobil yang mengantri di belakangmu!" balas polisi dengan kerutan didahinya.
"Tetapi Sir, aku tidak bisa lewat jalan itu!" terang James. Raut wajahnya masam, menunjukkan kalau dirinya tengah benar-benar ketakutan.
"Kamu memangnya mau lewat mana? jalan utamanya sedang mengalami longsor. Hanya itu jalan keluarmu satu-satunya," jelas sang polisi dengan nama Andrew yang tertulis di atas saku bajunya.
Bip! Bip! Bip!
James tidak hanya didesak oleh Andrew, tetapi juga mobil-mobil yang ada di belakangnya. Akhirnya dia tidak punya pilihan lain selain menjalankan mobilnya.
***
James terus mengendarai mobilnya. Keringatnya mengalir deras akibat perasaan cemas yang kian memuncak. Dia mengendarai mobil dengan lambat, hingga kendaraan yang ada di belakang saling bergantian melewatinya.
Semakin James menyusuri jalanan Elana, maka bertambah pula kabut malam yang mengepul. Kabut tersebut membuat James kesulitan melihat ke depan.
Saking takutnya, akhirnya James meraih ponselnya. Mencoba menghubungi temannya. Namun sayangnya dia tidak mampu menghubungi siapapun karena sinyal yang kosong melompong.
James yang sempat terfokus dengan telepon genggam, akhirnya lengah, dan hampir menabrak seekor rusa yang menyebrang. Dia langsung banting setir.
Syuuuut! Bruk!
Tanpa diduga, mobil James menghantam sebuah pohon besar. Bagian kap mobilnya langsung menampakkan kepulan asap. Sedangkan James sendiri tengah berusaha mengatur deru nafasnya.
"Aaaarkkhhh!!! James!!!" tiba-tiba suara pekikan anak kecil memekakkan telinga. Membuat mata James terbelalak. Dia reflek menoleh ke sumber suara. Tepatnya ke arah belakang.
James akhirnya keluar dari mobil dan mengedarkan pandangan. Akan tetapi dia tidak menyaksikan siapapun di sekelilingnya.
"Halo?" tanya James meragu. Hanya keheningan yang menjawabnya. Dia mencoba mengabaikan suara tersebut dan berusaha mengurus mobilnya. Namun mesin mobilnya tidak mampu menyala. Dia mendengkus kasar. Kembali memindai ke sekeliling. Hingga matanya tidak sengaja menangkap sosok anak perempuan yang berdiri tidak jauh darinya.
"James..." lirih anak itu. Dia melangkah menembus kabut. Perlahan semakin mendekat dengan posisi James. Di belakangnya terlihat seorang lelaki dan wanita, yang berderap mengiringi.
Perawakan tiga sosok misterius itu tampak samar. Namun James dapat melihat kalau ketiganya memiliki badan yang membusuk.
James reflek melangkah mundur. Matanya membuncah seolah akan keluar dari tempatnya. Tangannya gemetaran saat mencoba mencari pegangan pintu mobil. Meski hawa dingin, keringat tetap membasahi sekujur badannya.
Jantung James berpacu lebih cepat. Membuat paru-parunya tidak kuasa mengimbanginya. Hingga mengakibatkan nafasnya menjadi tersengal-sengal. Dia akhirnya bisa masuk ke dalam mobil. Tanpa pikir panjang, segera dikuncinya semua pintu. Baik bagian depan dan belakang.
"James!"
"JAMEEEES!"
"JAMES!!"
Tiga sosok itu sudah ada di depan mobil. Terus berteriak memanggil nama James. Mereka mendekatkan wajahnya ke kaca mobil. Memperlihatkan rupa yang dipenuhi luka bakar dan penuh koyakan.
Dug! Dug! Dug!
"James!"
"James!"
Mereka memekik sembari terus mengetuk kaca mobil.
Ketakutan James memuncak. Dia menutup mata dan telinganya rapat-rapat. Akan tetapi suara orang-orang tersebut terus menggema ditelinganya.
Prang!
Kaca mobil tiba-tiba pecah. "Aaaarkkhhh!!!" James sontak berteriak histeris.
Sosok yang berhasil memecahkan kaca tadi, memegangi lengan James dengan erat. Dia tak lain adalah lelaki berwajah busuk yang tadi mengiringi si anak kecil.
Merasa terdesak, sebelah tangan James reflek mengambil sebuah pistol revolver dari laci dashboard.
Dor!
James menembakkan peluru tepat dimana lelaki itu berada. Anehnya sosok misterius semakin bertambah. Layaknya zombie yang sedang mengejar santapannya. Kira-kira bertambah sebanyak lima orang. Satu per satu mereka mulai mengelilingi mobil James.
Tanpa ba bi bu lagi, James dengan berani menekan pelatuk pistolnya.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Lima peluru telah meluncur ke sasarannya. James menggertakkan gigi, sekarang semua makhluk misterius itu sudah tidak ada yang datang lagi.
James mengusap kasar wajahnya. Matanya seketika terbelalak ketika menyadari ada banyak darah di telapak tangannya. Dia akhirnya mencoba memastikan ke cermin. Benar saja, wajahnya memang dipenuhi dengan percikan darah.
James mulai merasakan firasat buruk. Perlahan dia keluar dari mobil. Penglihatannya segera disambut dengan enam mayat yang tergeletak di tanah.
Kabut yang tadi sempat menghalangi pandangannya mendadak menghilang. Hanya ada rintik hujan yang menemani.
Tidak jauh dari posisi mobilnya terdapat mobil lain yang terparkir. Di sana ada seorang anak kecil yang menangis. Menatap James dengan binar penuh ketakutan.
Beberapa saat kemudian, polisi datang. Salah satunya adalah Andrew.
"Freeze!" ucap Andrew sambil menodongkan senjata ke arah James.
"Im so sorry, a-a-aku ti-tidak tahu apapun..." James mengangkat tangannya ke atas sambil merengek.
Andrew perlahan mendekat, dan langsung memborgol tangan James. Dia lantas membawanya masuk ke mobil polisi. James akan mendapatkan sanksi atas pembunuhan yang terjadi.
Di perjalanan James membisu. Menatap keluar jendela untuk menatap Desa Elana nan sepi. Dia kembali terbawa dalam kenangan. Terutama memori ketika dirinya mampu menyelamatkan diri dari kebakaran. Tetapi, tidak untuk seluruh keluarganya. James adalah satu-satunya orang yang selamat, karena dialah yang membakar rumahnya sendiri.
James perlahan mengembangkan senyum. Setiapkali dia berhasil menyakiti orang, rasa takutnya selalu menghilang.
~TAMAT~
*Happy ending berdasarkan sudut pandang karakter utama. Tapi nggak tahu bagi pembaca. Menurut kalian endingnya happy atau sad? 🙃