Usahakan pakai tema terang, jangan gelap. Takutnya Font nya ngilang.
Theo membuka salah satu pintu pada puluhan pintu yang berjejer di rumah sakit itu. Ia terdiam mengingat kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan sampai kapanpun, bahkan saat orang itu pergi untuk selamanya beberapa hari lalu.
Biasanya, saat Theo membuka pintu tersebut akan ada senyuman lembut bak malaikat dan lambaian tangannya yang sangat tulus menyapa dirinya.
Para suster menatap sendu teman seorang pasien yang biasanya menampilkan senyuman saat mengunjungi pasien yang pernah dirawat nya.
Kini kasur itu kosong, senyuman itu tidak ada lagi, lambaian tangan itu tidak ada lagi. Semuanya yang tertinggal hanyalah kenangan.
Biasanya saat ia pulang dari kampusnya, Theo akan mampir menuju toko roti dekat kampusnya dan membeli roti tersebut untuk ia berikan pada orang yang selalu menunggu atau melihat dirinya lewat jendela kamar rumah sakit.
Meskipun orang itu telah pergi untuk selamanya, Theo tetap membeli roti tersebut dan mampir hanya untuk mengingat kembali kenangan dirinya dan orang tersebut.
Tapi dia tersadar bahwa ia tak boleh egois. Banyak pasien yang akan menidurkan dirinya di kamar itu kembali, akan ada kenangan baru di sana. Kenangan yang berbeda.
Theo mengambil secarik kertas membiarkan tangannya menari di atas kertas dengan sebuah pena. Meninggalkan kertas itu dan menutup kembali kamar itu pelan.
[Kau ingin tau apa yang tertulis pada kertas itu bukan? Akan kutunjukan.]
𝓤𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓭𝓲𝓻𝓲𝓶𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓮𝓶𝓹𝓪𝓽𝓲 𝓴𝓪𝓶𝓪𝓻 𝓲𝓷𝓲, 𝓳𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓵𝓾𝓹𝓪𝓴𝓪𝓷 𝔀𝓪𝓴𝓽𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓴𝓪𝓾 𝓫𝓾𝓪𝓽 𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲𝓻𝓲𝓷𝔂𝓪. 𝓢𝓮𝓭𝓮𝓽𝓲𝓴 𝓹𝓾𝓷 𝓳𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓽𝓮𝓻𝓵𝓮𝔀𝓪𝓽𝓴𝓪𝓷. 𝓘𝓽𝓾 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓪𝓷𝓰𝓪𝓽 𝓫𝓮𝓻𝓱𝓪𝓻𝓰𝓪 𝓳𝓲𝓴𝓪 𝓭𝓲𝓻𝓲𝓷𝔂𝓪 𝓽𝓲𝓪𝓭𝓪 𝓷𝓪𝓷𝓽𝓲.