Bulan Namira adalah anak perempuan yang cantik dari sepasang petani miskin yang tinggal
di sebuah pedesaan. Karena kehidupannya sangat miskin, sampai-sampai tidak ada warga
desa yang perduli dengan kehidupan keluarganya.
Meskipun memiliki wajah yang sangat cantik, namun Gadis itu memiliki penyakit kulit yang
sangat aneh di sekujur tubuhnya, sehingga hal tersebut menyebabkan tubuhnya mengeluarkan
bau amis yang sangat menyengat.
Masyakat yang tinggal di desa itu sangat jijik dan takut ketika melihat Bulan Namira, karena
bukan hanya tubuhnya saja yang bau, tetapi mereka juga takut tertular penyakit yang
menimpa gadis itu.
Di suatu malam, Bulan Namira bermimpi bahwa dia bertemu dengan seorang pangeran yang
sangat tampan dan juga sangat ramah. Setelah mimpi malam itu, Bulan selalu memikirkan
pangeran tersebut, sehingga Bulan sangat berharap bahwa pangeran tersebut hadir di dunia
nyata.
Disuatu hari, Bulan menceritakan mimpinya tersebut kepada sang ibu, dan ia juga
mengungkapkan bahwa ia ingin sekali untuk bertemu dengan sang pangeran tampan tersebut
didunia nyata. Sang ibu yang mendengar ucapan anaknya tersebut, lalu berdiam sejenak.
Lalu ia merasa bahwa anaknya tidak pantas untuk bertemu pangeran tersebut, dan berkata
“Sudahlah Bulan anakku, kamu tidak pantas untuk bertemu dengan pangeran itu. Lupakan
saja khayalanmu itu.”
Malam berikutnya, Bulan melamun sambil menghadap langit yang ditaburi bintang berkilau
indah yang mengelilingi bulan sebagai salah satu sumber cahaya keemasan yang sangat indah
dan mempesona itu.
Tidak lama kemudian, datang lah seorang peri bulan kehadapan Bulan Namira, sambil
berkata “Hai, Gadis cantik, aku bisa menyembuhkan penyakit kulit mu ini”. Lantas, Bulan
yang masih terkejut melihat kedatang peri tersebut langsung berkata “Bagaimana caranya
peri?”.
Peri itu mengajak Bulan untuk pergi kesuatu tempat yang sangat indah, dan ditempat itu
terdapat sebuah danau yang sangat jernih airnya. Lantas peri tersebut berkata “Berendamlah
kamu didalam danau ini, maka kulitmu akan kembali bersih seperti sediakala”.
Dengan perasaan yang ragu, akhirnya Bulan pun mengikuti perkataan peri tersebut untuk
berendam didalam danau tersebut, dan benar apa yang dikatakan oleh peri bulan itu, bahwa
kulit Bulan kembali seperti sediakala.