.
Di halte, aku kehujanan dan menghentikan motorku di sana. Namun walaupun hujan sangat lebat aku hanya berdiri seorang diri. Tiada satu orang pun yang berhenti di halte ini kecuali seorang pria yang menggunakan motor matic berwarna hitam dan sama persis dengan motorku.
Aku yang sedang berdiri noleh ke kiri dan kanan berharap ada orang lain namun ternyata hanya aku dan dia. Aku benar-benar merasa canggung saat dia membuka helmnya dan duduk di sebelahku.
"Semoga dia bukan orang jahat." Batinku lalu menoleh ke arahnya.
Mataku tak berkedip saat menatap wajahnya, napas ku seolah berhenti seketika dan juga detak jantungku sungguh tak beraturan.
Aku benar-benar terpaku dan tak bergerak, aku telah terpanah secara utuh olehnya.
Wajahnya sangat tampan dengan mata yang sipit namun besar, hidup tinggi nan indah, bibir mungil merah mudah dan juga rambutnya yang hitam sangat pas dengan bentuk muka yang kecil serta kulit putihnya.
Dia seperti oppa korea, gak salah lagi.
Aku sempat berfikir kalau aku sedang menghayal atau melihat hantu yang sedang menyamar karena kata orang halte itu angker makanya sangat jarang ada yang berhenti disini walau hujan.
Lalu..
"Hei.. kenapa menatapku seperti itu?" Ucap pria tampan itu.
Aku terkejut bukan main. "Di.. dia bisa ngomong? berarti dia benar seorang manusia kan?" Batinku.
"Hehehe.. maaf." Ucapku sambil memalingkan wajah karena malu.
"Dia bukan hantu berarti." Ucapku spontan.
"Aku manusia, masa ada hantu di siang hari gini?" Timpal pria itu
Aku menoleh lagi ke arahnya.
"Maaf, aku hanya takut saja kalau kata orang-orang itu benar di halte ini angker, tapi ternyata tidak."
Bum.. Bunyi gledek menyambar.
"Hah.." Aku terkejut dan menutup mata saat mendengar suara yang gede itu.
"Kamu gapapa?" Ucap Pria itu yang sudah menggenggam tanganku.
Aku membuka perlahan mataku dan mengangguk sambil menatap wajahnya yang tampan itu.
"Nama kamu siapa?" Tanya pria itu sambil membuka jaketnya.
"Kenalin namaku Rain, nama kamu siapa?" Jawabku sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan.
Namun dia mengabaikan tanganku itu, setelah melepas jaket dia dengan pelan menggantungkan jaketnya ke punggungku. Aku yang sedang duduk berhadapan dengannya lalu di pakaikan jaket olehnya, ini benar-benar seperti mimpi.
"Jaketnya.." Ucapku yang kemudian di potong oleh pria itu.
"Panggil saja Awan. Kamu pakai saja jaketnya dari tadi ku lihat kamu menggigil kedinginan."
"Kamu liat hujan itu?" Ucap Awan.
"Ya?"
"Banyak orang yang bilang hujan pembawa sial karena menahannya dan tak bisa pergi kemana-mana. Padahal ia tak tau hujan itu sangatlah berkah. Btw kamu suka hujan kah?"
Aku hanya mengangguk lalu menatap kembali wajahnya.
Ia pun menatap balik wajahku.
Satu minggu setelah pertemuan itu, aku dan dia semakin akrab hingga tiba hari dimana ia mengajakku untuk bertemu di halte tempat pertama kali kamu bertemu itu.
Hari itu adalah hari minggu, pukul 15:00 WIB kami akan bertemu di sana.
Sebelum jam 3 aku sudah berangkat dari rumah namun pas di tengah perjalanan cuaca sangat tidak mendukung. Rintikan hujan pun datang mengguyur. Aku kembali hujan-hujanan di jalan namun untungnya halte itu tidak jauh lagi.
Aku berhenti di depan halte angker katanya itu. Di sana sudah berdiri seorang pria tampan yang membuatku jatuh cinta pada pandang pertama.
Aku pun tersenyum sumringah saking bahagianya.
"Sudah lama menunggu?" Tanyaku.
"Ceroboh, udah tau langit sudah gelap tapi gak bawa jaket." Ucapnya dan melepas jaketnya lalu memasangkannya padaku.
"Hehehe.. Maaf, maaf ya sudah membuatmu kedinginan lagi. Tapi terima kasih." Ucapku sambil tersenyum.
Ia pun ikut tersenyum dan meletakkan tangannya di kedua punggungku setelah memakaikan jaket.
"Lebih baik aku yang kedinginan dari pada aku melihatmu yang kedinginan." Ujarnya.
"Aku bakal to the poin aja samamu, bentar ya." Ucapnya lagi lalu mengambil tas ransel yang besar di punggungnya itu.
Ia membukanya dan..
Ia mengeluarkan sekuntum mawar merah yang masih segar lalu duduk berjongkok menghadap ku, dan mengarahkan bunga mawar itu padaku.
"Rain, saat pertama kali aku memandang mu. Aku merasakan adanya kenyamanan yang berbeda, aku mencoba untuk mengenalmu lagi dan mendekatimu. Dan Aku benar-benar merasa nyaman, hatiku juga bergetar hebat saat ada di dekatmu. Kini aku menyatakan kalau aku sudah jatuh hati padamu. Mau kah kau untuk menemani dan mengisi hari-hariku yang suram ini, dengan menjadi kekasihku?"
Aku yang sedari tadi menunduk menatap wajahnya yang sambil berbicara itu terbatuk seketika. Uhuk.. uhuk..
"I.. ini seriusan Wan?" Tanyaku untuk memastikan.
"Untuk apa aku mengatakan hal yang tidak ingin ku katakan, karena pada dasarnya hatilah yang minta untuk mengatakan ini." Ujarnya.
"Kalau kamu mau menerimaku maka ambillah mawar ini tapi kalau tidak mau maka ambil mawar ini lalu buang ke jalan raya itu." Ucapnya lagi.
Demi apa? inilah yang ku nanti nantikan. Aku dengan cepat mengambil mawar itu namun siapa yang tau justru aku terluka karena duri di tangkai mawar itu.
Awan yang menungguku mengambil mawar itu atau tidak sambil memejamkan kedua matanya dan tak mengetahui kalau salah satu tanganku terluka oleh bunga yang ia berikan.
Awan dengan perlahan membuka matanya dan mendapati aku yang sedang menggenggam setangkai mawar yang diberikannya itu. Tercuat senyum dan tawa yang amat bahagia dari Awan lalu kemudian dia berdiri dan memelukku dengan erat.
"Makasih Rain, ternyata benar di hari hujan seperti ini akan membawa keberuntungan untuk setiap orang yang bersyukur." Ucapnya lalu melepas pelukannya.
I..iya.. ucapku tertunduk.
"Maaf.. aku spontan memelukmu, aku gak maksud kok, maaf ya aku sangat bahagia habisnya."
"Iya gapapa." Ucapku sambil mendongakkan kepalaku dan menatap wajahnya.
Dua bulan setelah aku berpacaran dengan Awan, hubungan kami terjalin dengan sangat bahagia.
Aku benar-benar beruntung mendapatkan seorang kekasih seperti dia.
Pagi ini pukul 6:30 WIB aku pergi berangkat ke kampus untuk ujian. Cuaca langit sangat mendung, matahari pun tak menampakkan diri sedikitpun. Aku berangkat menggunakan motor beat berwarna hitam yang sama seperti Awan. Namun aku melupakan sesuatu saat aku sudah di perjalanan, itu adalah jas hujan. Benar saja saat aku berada di tengah jalan rintikan hujan mengguyur ku dan aku berhenti sejenak di halte tempat pertama kali aku dan Awan bertemu itu.
"Semoga hujannya berhenti sebentar lagi, kalau gak terobos ajalah." Ucapku sambil menepi.
Aku duduk sendirian di halte itu, aku termenung menatap air yang sedang turun.
Namun tiba-tiba..
Brukkk.. terdengar suara hantaman yang sangat keras, kendaraan yang tadinya lalu lalang kini pada berhenti.
Aku menoleh ke kanan.
"Tabrakan?" Tanyaku.
Aku berjalan sedikit untuk memastikannya, orang-orang sudah ramai berkerumun.
"Kecelakaan ya Pak?" Tanyaku kepada salah satu Bapak-bapak yang sedang berkerumun itu.
"Iya dek, kamu? kamu yang berlindung di halte itu?" Tanya Bapak itu sambil menunjuk halte.
Aku mengangguk.
"Sebaiknya kamu jangan berhenti di halte itu karena gak baik, di sana tu angker." Ucapnya.
"I..iya Pak."
Aku berjalan mendekat lagi ke kerumunan itu dan masuk di antara banyak orang itu.
Terlihat motor beat hitam sama sepertiku dan seorang pria yang tergeletak berlumur dengan darah.
Aku mencoba untuk berfikir positif kalau motor yang sepertiku itu banyak.
Namun pas seseorang membuka helm pria itu, wajahnya sangatlah tidak asing bagiku.
"Itu.. itu benar Awan." Ucapku
Seketika buliran bening bercucuran lewat ujung mataku.
Aku mendekat ke arah pria berlumur darah itu.
"Dia, dia pacar saya Pak.. Apa sudah panggil ambulan?"
"Sudah dek, tapi kamu jangan berkecil hati ya! Nyawanya sudah hilang beberapa detik yang lalu." Ucap seorang Bapak-bapak itu.
"Hiks.. hiks.. hiks.. " Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak bisa lagi memikirkan ujian ku. Yang ku pikirkan hanyalah Awan.
Siang hari setelah pemakaman Awan. Aku masih duduk di kuburannya di temani dengan Ibu dan Kakaknya.
"Nak, ayo pulang! Semua sudah pada bubar dari tadi." Ajak Ibu Awan.
"Ibu duluan aja, aku bawa motor kok kesini. Bentar lagi aku juga mau pergi karena hari ini kami sedang UTS." Ucapku dengan tenang namun mata sembab.
Ibu dan Kakak Awan pun pergi meninggalkan ku sendirian di kuburan.
"Wan, makasih ya sudah mengisi hari-hariku dengan indah. Maafkan aku yang selama ini terlalu ego sama kamu namun kamu tetep sabar. Semoga kamu tenang di alam sana. Aku pergi dulu, do'akan ujianku lancar walau ada makul yang tertinggal. Makasih Wan. Hiks.. hiks.. hiks.." Ucapku sambil mengusap air mata dan pergi ke kampus.
Kini.. Saat ku menatap hujan saat itu pula aku teringat kembali akan masa lalu ku.
"Wan, dua tahun sudah berlalu. Namun rintikan hujan ini masih saja terus mengingatkanku padamu, saking indahnya hariku bersamamu dulu." Ucapku lalu menutup tirai jendela kamarku.