Sinar matahari perlahan masuk melalui celah lubang kecil, tepat mengenai wajah sang bocah lelaki tersebut. Ia adalah Pandu. Bocah berusia 9 tahun, yang berusaha untuk bisa membahagiakan sang Ibu. Pandu adalah anak Yatim, Ayahnya sudah pergi meninggalkannya sejak ia masih kecil. Hidupnya penuh dengan hinaan, cacian dan makian dari orang-orang yang tak tau diri. Tapi Pandu hanya bisa diam menganggap semua itu adalah angin lalu. Ia bukanlah bocah dari kalangan atas, atau pun dari keluarga yang kaya raya. Pandu tinggal di sebuah gubuk kecil yang hanya beralaskan kardus, bersama sang Ibu.
Suara sepeda motor mulai nyaring terdengar seiring hilangnya kokok ayam jantan pagi. Pandu terbangun dari tidurnya. Berjalan ke sebuah kamar mandi umum hanya untuk sekedar mencuci muka, kemudian kembali ke gubuk kecil itu. Ia melihat jika ibunya masih nyenyak tertidur. Karena ia tak tega untuk membangunkannya, akhirnya ia pun pergi meninggalkan gubuk kecil tersebut dengan membawa sebuah ukulele di tangannya.
Ya. Pandu adalah anak pengamen. Sebelumnya Pandu hanya berjualan koran saja, tetapi uang dari hasil jualan korannya ia simpan untuk membeli ukulele. Setelah terkumpul, jadilah ia membelinya dan mulai bekerja sebagai pengamen jalanan.
Debu jalanan berterbangan menyapu wajah Pandu yang kusam. Pakaiannya pun terlihat lusuh karena sudah 5 hari tidak berganti pakaian. Terik sinar matahari kian menambah legam kulit Pandu.
Saat lampu merah menyala, Pandu berjalan di tengah-tengah jalan & mulai bernyanyi sebisanya, sang pengendara mobil yang kebetulan di sebelahnya pun memberikan uang kepada Pandu.
"Terima kasih," ucap Pandu tersenyum kemudian kembali mengamen. Namun ia menghampiri mobil angkutan umum dan segera naik ke angkutan umum tersebut, lalu mulai bernyanyi lagi.
Para penumpang angkutan umum pun memberikan uang kepada Pandu. Setelah itu Pandu pun kembali ke angkutan umum lainnya. Kembali, dan kembali mengamen.
Hari sudah sore, ia pun berhenti mengamen dan mulai menghitung jumlah uang hasil ngamennya.
"Alhamdulillah, lumayan banyak uangnya. Terima kasih, ya Allah," gumam Pandu bersyukur.
Suara keroncongan perut mengalihkan pendengarannya. Ia memegang perutnya menahan lapar.
"Lebih baik aku membeli dua bungkus makanan saja, supaya nanti makan bersama Ibu di rumah." Pandu memasukkan uang tersebut pada saku celananya, lalu berjalan menuju warung nasi yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Bu Tuti, dua bungkus ya! Satu telur satu lagi ayam goreng," ucap Pandu.
"Siap, Ndu! Tumben hari ini kamu kelihatan senang?" tanya Bu Tuti.
Bu Tuti memang sudah kenal Pandu sejak lama. Jadi tak heran jika keduanya terlihat akrab.
"Iya, Bu. Alhamdulillah uang hasil ngamennya lumayan buat aku sama Ibu makan," jawab Pandu.
"Gitu, toh. Ibumu gimana kabarnya, Ndu? Sehat?"
"Alhamdulillah sehat, Bu Tuti."
"Alhamdulillah kalau sehat ya. Ini nasi bungkusnya, Ndu." Bu Tuti menyerahkan kantong plastik yang ada nasi bungkusnya itu kepada Pandu.
"Ini uangnya, Bu Tuti. Terima kasih ya," ucap Pandu sambil memberikan uangnya pada Bu Tuti dan mengambil nasi bungkus tersebut.
"Sama-sama, Ndu." Kemudian Pandu pun pergi meninggalkan warung nasi tersebut.
Ia berjalan sambil bersenandung ria. Namun langkahnya terhenti kala melihat Nenek tua yang tampaknya sedang menahan lapar itu.
Ia jadi merasa kasihan melihatnya. Ia tahu rasanya menahan lapar itu seperti apa, tapi ia masih bisa menahan laparnya. Namun untuk nenek tua itu? Apakah ia bisa?
Ia melihat nasi bungkus yang ia pegang di tangan kanannya. Kemudian berjalan menghampiri nenek tua tersebut.
"Assalamualaikum, Nek," ucap Pandu.
Nenek tersebut menoleh,"Waalaikumsalam, Nak. Ada apa?"
"Nenek lapar ya? Ini aku ada dua nasi bungkus. Satu untuk Nenek. Tolong terima ya, Nek," ucap Pandu sambil memberikan satu nasi bungkus.
"Tidak usah, Nak. Itu pasti untuk kamu dan Ibumu kan?"
"Iya, tapi tidak apa kok, Nek. Aku bisa beli lagi nanti untukku." Bohong jika ia akan membeli lagi makanan untuknya. Nyatanya? Uang hasil mengamen pun hanya cukup untuk membeli dua nasi bungkus saja.
"Ayo, Nek. Terima ini, ya?" Pandu menyodorkan lagi nasi bungkus itu pada sang Nenek.
Sang Nenek menerima dengan ragu. "T-terima kasih, Nak. Kau sangat baik pada Nenek"
Pandu tersebut. "Sama2, Nek. Ya sudah kalau begitu, saya pamit ya, Nek? Jangan lupa dimakan nasi bungkusnya ya, Nek. Assalamualaikum," ucap Pandu.
"Waalaikumsalam. Sekali lagi, terima kasih, Nak. Nenek doakan supaya hidupmu selalu dalam lindungan Allah, dan selalu diberikan kemudahan oleh Allah."
"Aamiin, Nek. Terima kasih doanya. Ya sudah kalau begitu saya pamit, Nek." Nenek tersebut mengangguk. Kemudian Pandu pergi meninggalkan nenek tersebut.
Sesampainya di gubuk kecil, ia langsung menghampiri sang Ibu. Namun ia nampak terheran ketika melihat sang Ibu masih saja tidur dengan posisi yang sama, yaitu meringkuk.
"Ibu...." Pandu merubah posisi tidur sang Ibu menjadi terlentang.
"Bu? Bangun! Ini sudah sore, kenapa Ibu masih saja belum bangun?" Pandu mengguncangkan tubuh sang Ibu namun sama saja, tidak ada respon dari sang Ibu.
Pandu menyadari jika wajah sang Ibu sangatlah pucat. Pandu terkejut, kemudian menempelkan telapak tangannya pada kening sang Ibu.
"Ya Allah, Ibu! Suhu tubuh Ibu kenapa dingin sekali?" tanya Pandu panik.
"Ibu... bangun, Bu! Ibu tahu? Aku membawakan Ibu nasi sama ayam goreng yang Ibu inginkan, ayolah bangun, Bu," lirih Pandu. Namun tetap saja, tidak ada respon dari sang Ibu. Suhu tubuhnya semakin dingin seperti es batu.
"Bertahanlah Bu. Aku akan meminta pertolongan." Dengan segera ia berlari keluar gubuk kecil itu dan langsung berteriak meminta pertolongan.
"TOLONGG!!!!"
"SIAPAPUN TOLONG! TOLONG BAWA IBU SAYA KE PUSKESMAS!"
Pria bertubuh kekar yang memang kebetulan sedang nongkrong sambil menghisap rokok pun menoleh ke asal suara tersebut. Pria itu menghampiri Pandu.
"Ada apa, Ndu? Apa yang perlu dibantu? Bu Rita kenapa?" tanya pria tersebut.
"Bang Haris, bantu bawa ibuku ke puskesmas, Bang. Ibu sedang tidak enak badan. Aku bangunkan pun tidak merespon."
"Ya sudah, ayo!" Pandu dan Bang Haris pun masuk ke gubuk kecil itu.
Namun ia melihat jika Rita sudah membuka matanya. Rita tersenyum ke arah Pandu.
"Ndu, kemari, Nak!" ucap Rita lirih.
Dengan segera Pandu menghampiri sang Ibu. "Ibu? Ya Allah, Ibu. Ibu sakit? Kenapa tidak memberitahuku, Bu? Aku sangat khawatir," ucap Pandu meneteskan cairan beningnya dari kelopak mata.
"Ibu tidak apa-apa, tidak usah khawatir. Ndu, Ibu minta sama kamu jangan pernah berputus asa, ya? Hadapilah semua tantangan dan rintangan kamu. Jangan lupa juga untuk selalu berdoa sama Allah. Maafin Ibu, Nak, karena tidak bisa membahagiakanmu. Ibu hanya bisa membuatmu menjadi beban," lirih Rita.
"Tidak, Bu. Aku tidak merasa jika Ibu membebaniku. Justru adanya Ibu di sampingku, itu membuatku merasa bahagia. Sangat bahagia. Aku memang tidak punya Ayah. Tapi bagiku, Ibu adalah Ibu sekaligus Ayah untukku. Aku bekerja karena hanya untuk membahagiakan Ibu, apa yang Ibu inginkan aku bisa mengabulkannya. Itu semua hanya untuk Ibu," lirih Pandu juga.
"Mulai sekarang belajarlah untuk mengikhlaskan Ibu, Nak ...."
"Tidak! Untuk apa aku mengikhlaskanmu, Ibu? Ibu, aku sangat sayang padamu, hiks ...."
"Maafkan Ibu jika Ibu punya salah padamu, Nak. Maafkan Ibu ... I-Ibu sangat s-sayang padam-mu, N-nak ...," ucap Rita terbata-bata, kemudian menutup matanya.
"Aku juga sangat sayang Ibu. Bangunlah Bu! Apa Ibu tidak ingin memakan makanan apa yang Ibu inginkan? Aku membawa ayam goreng untukmu Ibu. Bangunlah!" Namun sama sekali tak ada respon dari Rita.
"Bang Haris, cepat bawalah Ibu ke puskesmas, Bang," suruh Pandu pada Haris.
"Ndu. Ibumu sudah meninggal."
Deg!
"Apa yang Bang Haris ucapkan? Cepat bawa Ibu!"
"Sadarlah, Ndu! Ibumu sudah tiada, dia sudah meninggal."
Pandu menangis menggelengkan kepalanya tak percaya. "Tidak mungkin!" lirih Pandu kemudian memeluk sang Ibu.
"IBU!! BANGUN IBU! Hiks, Ibu tega meninggalkanku? Jika Ibu hiks, tidak ada, lalu aku bersama siapa, Bu? Aku, hiks, tidak mempunyai siapa-siapa selain Ibu. Bangunlah, Ibu! Hiks!"
"Bahkan aku saja belum sempat mencuci dan mencium kakimu, Ibu. Apakah doa yang kupanjatkan setiap saat untuk Ibu masih kurang?"
"Dan bahkan akupun masih belum bisa membahagiakan Ibu."
"Ibu adalah surga bagiku."