"Gua suka sama lu Rev, tungguin gua ya" Kata-kata itu terngiang di telingaku, seorang laki-laki dengan tubuh tinggi berada di hadapanku, dan dia tengah menyatakan perasaannya pada ku, yang membuat ku kaget
"Tapi zan, lu udah punya Alfi" ucap ku seakan mengingatkannya pada pacarnya yang tak lain adalah adik kelasku sendiri.
Yah nama dia Fauzan, dan dia memiliki seorang kekasih yang bernama Alfiza, Sedangkan namaku sendiri adalah Revi. Fauzan terlihat menunduk, namun aku dapat melihat wajahnya, dia terlihat kecewa.
"Sorry, Zan, lu udah punya Alfi, meskipun gua suka sama lu, tapi gua gak setega itu untuk menyakiti adik kelas gua sendiri, mungkin harusnya gua sadar, kalau lu bukan buat gua, sekarang gua pamit ya"
Fauzan terdiam, dia menatapku dengan tatapan herannya. Pasti dia akan menanyakan kemana aku pergi. Namun, sebelum dia bertanya, sudah kuputuskan untuk menjauh dari kehidupannya. Selamat tinggal Fauzan, gua harap lu bahagia sama Alfi.
Dan begitulah, aku dengan Fauzan sudah tak lagi saling sapa, mungkin dia lelah, karena pada dasarnya ketika dia menyapaku, aku hanya membalasnya dengan senyuman, dan ketika dia chat ku, aku pun tak membacanya, aku membacanya, namun aku tak membuka ruang chatnya. Aku benar-benar memutuskan untuk menghilang darinya, ketika dia melihat status WhatsApp ku, aku hanya bisa melihat namanya saja, aku tahu, dia masih sering memperhatikan ku, dan aku juga begitu, ketika dia membuat status, aku selalu melihatnya, namun aku tak mau komentar apapun.
Seiring berjalannya waktu, aku telah lulus SMP bersamanya, di kelas yang sama, dan sekolah yang sama, dia mengatakan kalau dia akan melanjutkan ke SMA Ulul Azmi.
"Rev, gua bakalan lanjut ke SMA Ulul Azmi lagi, lu dimana?" tanya Fauzan
"Gua pamit" cuman dua kata itu, aku segera menghampiri Alfi. Dia tengah bersama teman-temannya.
Aku pun pamit kepada Alfi, dan dia tersenyum mengiyakan, dalam hatiku aku berharap semoga kepergian ku bisa membuat Alfi bahagia begitupun dengan Fauzan.
****
Tahun berganti tahun, Saat ini aku telah memasuki semester 8 di kampus ku, ya, sudah 7 tahun aku berpisah dan hilang kontak dengan Fauzan. Sampai tepat pada malam itu, seseorang tiba-tiba memberiku chat.
💌************
SV Fauzan
aku segera mensave no nya.
💌 Fauzan
lagi apa?
💌i am
lagi nyusun skripsi
💌 Fauzan
Ouh, jurusan apa? Jadi masuk sastra nya?
💌i am
Iyah, sastra Indonesia and Inggris. Tumben chat ada apa?
💌 Fauzan
Nyapa doang
Dan malam itu, terasa begitu indah buatku, malam itu juga terasa begitu panjang. Aku harap malam itu tak pernah berakhir, dari chatan kita saat itu, aku mengetahui satu hal, Fauzan dan Alfi sudah putus dari 4 tahun yang lalu. Karena Alfi yang memiliki cowok lain di sekolahnya. Entahlah, aku harus senang atau sedih.
💌 Fauzan
Masih menjomblo aja nih
💌i am
Iyah, gitulah
Tanpa aku sadari, saat itulah aku memberi dia sebuah harapan, aku sebenarnya tak berharap, karena aku sadar, aku masih terlalu rendah jika harus di sandingkan dengannya yang sempurna.
****
"De, nanti pulangnya langsung ya ke rumah, bakalan ada tamu ke sini" ucap mama ku
"Loh itukan tamu mama, kenapa aku harus ikut?" tanya ku
"Eh, gak bisa gitu, kakak mu mi'raj dan Alda pun ikut"
"Kak mi'raj sama istrinya? Kak Alda sama suaminya juga?" tanya ku
"Iyah, si kembar juga ikut" Yah si kembar, adik-adik ku.
"Oke" lalu aku pamit untuk ke kampus, harus melakukan bimbingan skripsi
***
Pukul 4 sore aku pulang, aku segera membersihkan diri, di rumah sudah ada kedua kakakku dengan kedua kakak ipar ku, begitupun keponakan-keponakan ku, dan jangan lupakan Billi dan Daisy, si kembar yang masih SMA kelas 3.
"De, pake dress yah" ucap mama
Aku segera memakai dress dan berdandan tipis. Setidaknya menyamarkan lelah di wajahku. Sampai kemudian terdengar suara bel, tamunya sudah datang. Aku masih memakai parfum, dan bando di kepalaku. aku segera keluar sedikit lambat.
"Rev, sini duduk nak" ucap mama menyuruhku duduk di samping seseorang yang aku kenal dan aku sayang
Kalian pasti tidak menyangka, dia Fauzan, ya, dia kini sudah sangat tampan. Insecure aku melihatnya.
"Mohon maaf, nak Revi, kami mendadak ke sini, itu karena keinginan kuat Fauzan dan karena sebentar lagi om dan Tante akan pergi ke luar kota dalam waktu yang lama" ucap Mama nya Fauzan
"Tujuan kita kesini adalah untuk melamar nak Revi untuk putra kami Fauzan"
Deg! kaget, aku melihat mama ku yang tersenyum kemudian mengangguk. Dan aku melihat Fauzan yang tengah tersenyum padaku. Pipiku memanas.
"Bagaimana Bu Della, pak mi'raj" tanya papanya Fauzan
"Kalau kami, terserah pada Revi saja" jawab kak mi'raj yang memang bertugas menjadi waliku setelah papa meninggal 9 tahun lalu.
"Mohon maaf, om Tante, boleh Revi ngobrol dulu sama Fauzan, berdua?" tanya ku
Mereka mengiyakan, Fauzan dan aku pergi ke halaman belakang rumah, aku duduk di ayunan sebelah kanan dan Fauzan di sebelah kiri. Fauzan menatapku, dia menatapku penuh harap.
"Jangan bilang lu mau nolak gua lagi?" tanya Fauzan
"Suruh siapa dadakan, bikin spot jantung aja" sinisku "Kenapa ngedadak banget sih?" tanyaku
"Karena gua udah gak sabar, penantian gua selama 7 tahun ini susah, gua harus jalanin hubungan palsu sama Alfi, gua harus kehilangan lu, dan itu berat buat gua, jadi sebelum ada seseorang yang gantiin gua, gua lebih baik maju lebih dulu" jelasnya
"Kenapa? Kenapa lu begitu setia sama gua? Apa lu yakin kalau gua masih suka sama lu?" tanya ku
"Jadi?, Ah, gua tahu, ya udah, kalau itu keputusan lu, gua pamit" Fauzan berdiri
Aku memegang pergelangan tangannya, lalu menabrakkan diriku ke pelukannya. Aku begitu senang.
"Gua mau, kenapa lu pikir gua nolak lu, padahal gua belum jawab" ucapku
"Serius?" tanyanya menatapku yang masih berada di pelukan nya.
Aku mengangguk, Fauzan tersenyum lebar, dia lalu memelukku dan berputar, membawaku berputar di pelukannya. Dan itulah keputusan nya, aku tak pernah menyangka jika akhirnya Fauzan akan tetap menjadi milikku.
***
Pernikahan ku di gelar besar-besaran karena menurut Fauzan untuk merayakan keberhasilan nya mendapatkan ku yang selalu sulit untuk di gapai. Aku juga menyelesaikan skripsi ku dengan Fauzan di sampingku. Sampai aku bekerja menjadi seorang guru sastra di sebuah SMK. Dan sekaligus melanjutkan studiku ke S2. Fauzan juga melanjutkan studinya. Setelah beberapa tahun berlalu dan kita berdua memiliki pekerjaan tetap dan menjamin, juga sudah memiliki rumah, akhirnya aku hamil, mengandung buah cinta pertama kami.
Aku berterima kasih kepada Tuhan, karena nya, aku bisa bertemu dengan seseorang yang aku sayangi, dan saat ini menjadi suamiku.