Tahun Pertama SMA
Koridor kelas X MIPA terasa ramai, mengingat setiap kelasnya akan menyelenggarakan praktik seni budaya di kelas masing-masing. Hari ini adalah jadwal pentas seni kelas X MIPA 1 dan X MIPA 4. Oleh karena itu, siswa kedua kelas tersebut sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan pentas seni. Sementara yang lain, menunggu dengan sabar acara dimulai.
Seorang gadis berambut panjang bergelombang, Lynzi, telah siap dengan kebaya modern berwarna merah. Ia akan membawakan sebuah lagu yang mengiringi drama yang akan kelas mereka tampilkan.
Saat ini, ia berdiri di depan kelas X MIPA 1. Menunggu gilirannya untuk tampil.
Seorang laki-laki yang masih memakai seragam putih abu-abu mendekati gadis itu. "Lynzi."
Terkejut karena tepukan di bahunya, Lynzi melirik laki-laki itu sinis. "Kenapa?"
Tidak mengharapkan respon sinis dari Lynzi, laki-laki itu merasa keberanian yang ia kumpulkan beberapa menit yang lalu hilang begitu saja. Ia mengeratkan genggamannya pada ponsel, tidak yakin apakah ia akan meminta foto bersama dengan gadis itu.
Dua orang gadis yang baru saja lewat mendengar percakapan mereka. Salah satu dari mereka, Fanya, merasa kasihan dengan laki-laki itu. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya.
"Eeh... Itu, sapu tangan kamu jatuh." Laki-laki itu menunjuk sapu tangan yang kebetulan tergeletak di lantai.
Lantas Lynzi menunduk, "Itu bukan..." saat mendongak, laki-laki itu sudah pergi entah kemana, "...punyaku."
Rasa bingung melanda Lynzi, tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Ia pun masuk ke dalam kelas untuk melangsungkan penampilannya.
***
Tahun Kedua SMA
Ruang kelas XI MIPA 1 terasa ramai dengan berbagai perbincangan para siswa yang baru saja memasuki tahun ajaran baru. Saling bertegur sapa, merasa senang bertemu kembali dengan teman sekelas di kelas X, ataupun membuat teman baru.
Namun tidak dengan gadis yang satu ini. Lynzi namanya. Dia duduk seorang diri di bangku paling depan dengan berbagai pernak pernik gelang di atas mejanya. Dengan ekspresi serius, Lynzi terlihat fokus dengan kerajinan gelang sekaligus terasa sangat sulit untuk di dekati orang lain.
Ia tidak berbicara dengan siapapun, kecuali teman sebangku yang sudah dikenalnya di kelas X. Tapi sekarang, dia sedang berjualan di kelas lain sehingga Lynzi menyibukkan diri.
Di lain meja, terdapat empat gadis yang duduk melingkar membicarakan sesuatu.
"Bukannya dia Lynzi, ya? Yang juara umum 2 semester berturut-turut."
"Iya," salah seorang dari mereka melirik dengan hati-hati ke arah Lynzi, "duh! Kenapa aku sekelas sama dia sih? Bisa turun rangking aku di semester nanti."
"Liat deh mukanya, kek galak gitu."
"Bener, pengen kenalan tapi kaya susah digapai." Salah satu dari mereka, Fanya, membenarkan ucapan mereka.
Ia teringat ketika pertama kalinya ia bertemu langsung dengan Lynzi, gadis itu bertindak sinis kepada orang lain. Tapi mungkin ada suatu hal yang membuatnya seperti itu. Namun Fanya masih tidak bisa menghilangkan perasaan takut terhadap gadis itu.
Tidak lama, teman sebangku Lynzi, Reva, datang seraya membawa plastik berisi dagangannya. Ia mendengar percakapan mereka berempat dan memutuskan untuk mendekat.
"Ehh, pengen makaroni pedes engga? 2rb-an aja gaiss."
Mereka tersentak mendengar suara Reva, gadis itu tersenyum cerah seperti biasanya.
"Aku beli dua deh, kayanya enak."
"Boleehh, yuk yuk." Dengan sigap, Reva melayani pelanggan, "eh btw, kalo mau temenan sama Lynzi ngomong aja langsung. Dia mah emang gitu, keliatan galak. Tapi anaknya baik kok."
Mereka berempat saling memandang, merasa canggung karena ketahuan sedang membicarakan Lynzi. Salah satu dari mereka, Fanya, melirik Lynzi yang sangat jelas tidak terganggu dengan apapun.
"Kalo kita bantuin dia bikin gelang, mau engga ya?" tanya Fanya kepada Reva.
"Pasti mau dooong, katanya ada banyak gelang yang harus dibuat. Nanti aku yang bilang dehh," ucap Reva mencoba membantu.
Setelah itu, Reva mendekati Lynzi.
"Lyn," panggilan Reva membuat Lynzi sedikit tersentak, ia mendongak menatap lawan bicaranya.
"Kenapa?"
"Itu ada yang mau bantuin buat gelang. Boleh engga?"
Tanpa berbasa-basi, Lynzi menyerahkan pernak pernik beserta peralatan membuat gelang. "Nih."
Sejak saat itu, mereka berenam menjadi teman.
***
Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran. Beberapa anak saling bersalam-salaman, setidaknya berbasa-basi untuk saling meminta maaf.
Lynzi menjadi yang pertama datang di kelas hari itu. Dia duduk di meja guru yang dekat dengan terminal listrik untuk mengisi daya baterai ponselnya. Para siswi yang mulai datang mendekati Lynzi untuk bersalaman, sedangkan para siswa hanya lewat dan menyapa gadis itu seperti biasanya.
Suara kursi di tarik mendekati meja guru terdengar membuat Lynzi tersentak, kepalanya mendongak dan melihat orang yang duduk di hadapannya. "Oh, Fanya."
Gadis berambut pendek sebahu itu tersenyum lebar. "Lynzi! Minta episode Naruto lagi dong, lagi seru nih. Heheh."
"Sini bayar," jawab Lynzi singkat seraya bermain ponsel. Ia sudah memberi beberapa stok episode Naruto kepada Fanya sebelum liburan tiba. Bisa saja ia langsung memberikan hal itu kepada Fanya. Tapi rasa jahil di dalam dirinya membuat mulutnya mengatakan sebaliknya.
"Jahatt!!" ekspresi Fanya menjadi sedih sementara Lynzi sedang berusaha menahan senyum, "kasih aku episode Naruto yaaa, Lynzi cantik, Lynzi pinter, Lynzi baik. Ntar aku aduin ke dia nih, AR--"
Mendengar hal itu, Lynzi segera menutup mulut Fanya dengan tangannya. "Heh, jangan gitu weh." Matanya menatap ke penjuru kelas, merasa waspada akan keberadaan si dia. Jangan sampai ia sudah di kelas dan mendengar percakapan mereka.
Lynzi menghela napas, ia kalah. "Entar aku bawa laptop, besok."
"Yeayy, heheh, makasiii." Fanya memberikan senyuman paling lebar yang ia miliki. Kemudian mereka pun kembali bermain ponsel.
Beberapa saat kemudian, seorang gadis mendekati mereka berdua.
"Lynzi, Fanya, minal 'aidin wal faizin yaa."
"Ah iya, Fit. Minal 'aidin wal faizin juga," ujar Fanya langsung menanggapi. Disusul Lynzi yang ikut-ikutan.
"Iya, aku juga."
Setelah gadis itu pergi, Lynzi dan Fanya saling menatap beberapa saat. Kemudian mereka tertawa bersama.
"Orang mah dateng-dateng salam-salaman, kita malah ngomongin Naruto." Lynzi menarik kesimpulan keadaan mereka beberapa menit sebelumnya.
"Aku juga nggak ngeh. Tapi ya, minal 'aidin wal faizin Lyn. Aku minta maaf karena kesalahan aku yang sengaja maupun yang ngga disengaja. Semua kesalahan kamu aku maafkan."
"Aseekk, aku juga hahahaha."
***
"Lyn," panggilan Fanya membuat gadis yang sedang mengerjakan soal Matematika itu tersentak. Lynzi melirik Fanya yang sudah duduk di sampingnya.
"Kenapa?" ujar Lynzi seraya melepas kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Kemarin pak ketua kelas dapet surat cinta ya dari adik kelas," bisik Fanya dengan suara lembut.
Lynzi menatap sahabatnya dengan ekspresi tidak percaya, "Beneran?"
"Iih, dengerin dulu. Nanti komennya belakangan."
Lynzi hanya bisa mengangguk tuk menurut. Melihat sahabatnya setuju untuk diam, Fanya melanjutkan ucapannya.
"Nah, terus si Deon kaya iri gitu dengernya. Aku jadi pengen ngerjain dia deh."
"..."
"Nanti aku pura-pura jadi pengagum rahasia dia gitu. Kasian dia engga ada yang suka. Nanti aku bakal berangkat pagi-pagi buat naruh surat di mejanya."
Lynzi menatap tidak percaya kepada sahabatnya, merasa tidak yakin dengan rencana yang ingin dia lakukan. "Yakin, nih? Biasanya kamu berangkat siang, terus tiba-tiba berangkat pagi bakal aneh engga sih?"
"Abis ngasih surat aku sarapan ke kantin sambil nunggu kelas rame, gimana? Bagus kan rencananya?" Mata Fanya terlihat berkelip-kelip karena bersemangat, "sekalian ngulangin puisi-puisi aku yang engga tau mau diapain."
Lynzi berpikir sejenak sebelum menyetujui rencana Fanya. "Boleh."
Sejak saat itu, selalu ada kegaduhan yang disebabkan para lelaki di dalam kelas. Hal itu terjadi karena surat pengangkut rahasia yang selalu ada di meja Deon. Mereka bahkan seolah-olah menjadi detective untuk mencari siapa orang yang selalu mengirim surat kepada lelaki itu. Dan setiap hal itu terjadi, Lynzi dan Fanya akan saling menatap dan menahan tawa.
Semuanya berakhir ketika puisi Fanya sudah habis.
***
Tahun Ketiga SMA
"Lynzi, kita sekelas apa engga?"
Di tengah kerumunan siswa yang mencari nama dan kelas mereka di tahun ajaran baru, Lynzi masih belum menemukan namanya. "Fanya, aku masih nyari. Jangan rusak konsentrasi aku ya kamu!"
"Hahahah, emang sengaja."
Lyn melirik sahabatnya itu dengan sinis meskipun Fanya tidak terpengaruh dan malah tertawa.
"Heh! Jangan ngetawain gitu dong. Ini aku berusaha nyari nama kita, Fanyaaa."
Fanya menahan tawanya, "Iya iya, heheh. Semangat ya yang tingginya melebihi Levi."
"Hm... iya deh pacarnya Sasuke. Tapi, Fanya. Perasaan kamu engga tinggi-tinggi ya? Aku dah naik 1 cm loh bulan ini."
"Jangan pake perasaan, nanti baper."
Lynzi memutar bola matanya, kesal. "Cih, menyebalkan."
"Cih, menyebalkan." Fanya meniru ucapan sahabatnya dengan berlebihan.
"Euu!" Hal itu membuat Lynzi merasa gemas dan membuat gerakan seolah akan menerkam Fanya sekaligus mengeratkan giginya. Seperti biasa, Fanya hanya tertawa. Merasa terhibur dengan reaksi lucu yang dibuat sahabatnya.
Setelah beberapa siswa pergi dan kerumunan mulai berkurang, Lynzi akhirnya bisa menemukan namanya di daftar siswa kelas XII MIPA 1. Namun, wajahnya terlihat murung walau berhasil mempertahankan namanya di urutan kelas yang sama. X MIPA 1, XI MIPA 1 dan kini XII MIPA 1.
"Kenapa mukanya kusut gitu?" tanya Fanya heran.
"Yaaah... Fanyaaa, kita engga satu kelaaas."
Mendengar hal itu, Fanya sontak terkejut. "Hah? Beneran??"
"Iyaaa, tuh liat." Lynzi menunjuk namanya dan nama Fanya di kelas yang berbeda. Fanya berada di kelas XII MIPA 2.
"Yahhh.. Nanti aku minta anime ke kamu gimana kalo beda kelas gitu?"
Lynzi menampar bahu Fanya dengan tangannya. "Yeuu, ni anak. Malah ngomongin anime. Soal itu mah gampang, nanti aku main ke kelas kamu atau engga kamu yang ke kelas aku."
Fanya merasa bersyukur mengikuti ekstrakurikuler silat, jika tidak bahunya pasti akan terasa sakit terkena tamparan tangan Lynzi.
Gadis itu terkekeh pelan, setuju dengan ucapan Fanya. "Oke deh, jangan lupa aku minta Naruto Shippuden episode 241 sampe 250."
"Kenapa engga sekalian aja? Sebelum liburan kamu minta 50 episode."
"Laptop aku rusak, kalo di HP engga muat weh. Apalagi videonya 720p. Nanti ada yang ngomong Assalamu'alaikum di masjid."
"Wa'alaikumsalam."
***
Siang hari yang cerah, tidak secerah hari yang dijalani Lynzi. Kali ini Lynzi harus mengikhlaskan gelar juara umumnya setelah mempertahankannya selama 2 tahun.
Ketika nilai UAS keluar, rasanya dia ingin masuk ke dalam lubang yang dalam. Teman-teman yang lain, yang memiliki rangking lebih rendah darinya mendapat nilai yang memuaskan. Tapi dirinya, mencapai angka 70 pun tak sampai.
Ia tidak bisa fokus belajar, karena hatinya terasa dicabik-cabik oleh seorang lelaki yang ia sukai. Dan hasilnya, piala juara umum pergi dari tangannya.
Fanya datang ke kelasnya seperti biasa. Baru sampai di depan pintu, Lynzi sudah bangun dari kursinya.
"Fanya, temenin aku ke toilet yuk." Tidak seperti biasanya, Lynzi pergi ke toilet mengajak seseorang. Biasanya Fanya yang mengajak gadis itu, ataupun jika Lynzi ingin pergi ke toilet maka dia akan pergi sendiri.
"Yuk." Walaupun begitu, Fanya tidak mengatakan apapun dan mengikuti kemauan Lynzi.
Sesampainya di toilet, Fanya merasa ada sesuatu yang aneh pada Lynzi. Gadis itu tidak menatap matanya sedetikpun. Padahal jika mereka berbicara pasti Lynzi akan menatap matanya.
"Fanya, kalo ada yang dateng bilang aja toilet yang ini lagi di benerin." Suara Lynzi terdengar serak, ia pun seolah memaksakan dirinya tuk berbicara.
Tapi lagi-lagi, Fanya tidak berkomentar mengenai hal itu. Hanya senyuman lebar yang dapat ia perlihatkan. "Oke deh."
Pintu tertutup, tidak lama kemudian suara air yang mengalir dari keran terdengar kencang. Menutuli rasa frustasi, jengkel, dan kecewa terhadap diri sendiri yang dirasakan seseorang di dalam sana.
Walau begitu, Fanya masih mendengar dengan jelas isak tangisan yang berusaha ditahan.
***
"Lyn, nanti kita bareng ya daftar SBMPTN nya."
"Oke, mau dimana ujiannya?"
"Di tempat yang deket aja."
"Oke."
Hari itu, kedua gadis ini sedang duduk santai di lobi sekolah yang berdekatan dengan kantor guru. Mereka tidak bisa lolos ke Universitas impian melalui SNMPTN. Oleh karena itu mereka akan mencoba mengikuti jalur pendaftaran selanjutnya yaitu SBMPTN.
"Pokoknya nanti jangan sampe putus hubungan sama aku, harus cerita apapun tentang kampus masing-masing. Oke?" ujar Fanya tegas. Ia tahu mereka memiliki kampus impian yang berbeda, tapi ia tidak ingin persahabatan mereka terpisah karena jarak.
"Iya, tenang aja."
"Nanti kalo kamu punya pacar, jangan lupa cerita. Ya ampun, seru kali ya liat kamu punya pacar. Jomblo dari lahir sih..."
Lynzi menatap Fanya dengan sinis, "Mon maaf ya, aku tuh pacarnya Levi. Ingat itu."
"Iya tau, tapi pacar yang 3D maksud aku. Kalo 2D mah udah jelas kali, aku juga punya si Sasuke."
"Parah, suami orang itu."
Dengan percaya diri Fanya mengelak, "Aku kan pacarannya sama Sasuke yang umur 17 tahun. Jadi dia belom punya istri."
"Ya ya terserah." Itulah yang diucapkan Lynzi apabila ia kalah berdebat dengan Fanya. Mengetahui hal itu, Fanya merasa senang dan kembali melanjutkan obrolan mereka tentang kampus.
Namun, takdir berkata lain.
Suatu hari setelah pendaftaran, Lynzi mendapat pesan dari Fanya.
'Lyn, maaf ya. Aku ngga boleh kuliah sama orang tua. Kayanya aku bakal cari kerja.'
Sejak awal, Lynzi tahu persahabatan mereka akan melewati persimpangan jalan. Tapi ia tidak menyangka akan sejauh ini.
TAMAT
***
Tambahan
"Kamu sekarang gimana?"
"Masih cari kerja, Lyn. Tadi diajak sama temen sih..."
*
"Lyn, udah dulu ya nelfonnya. Aku mau kerja lagi."
"Mau liat, kirim link dong."
"Cuma live di Shop** doang, itu juga aku cuma bolak balik ngambilin baju."
"Gpp, aku pengen liat Fanya."
*
"Ciee kacamataan."
"Ciee yang nambah minusnya gara-gara kuliah online terus."
*
"Fanya, tadi aku zoom bareng kating. Cogan, mantep lah. Tapi dah mau lulus, huhu."
"Daripada disini, pegawai cowoknya punya mulut engga bisa difilter."
*
"Pengen nelfon."
"Eh, maaf Lyn. Aku diajak pergi sama orang tua."
"Yah... yaudah deh, gpp. Malem sabtu depan mau engga?"
"Boleh."
*
"Yah, Fanya. Aku harus ngejar deadline, soalnya kating minta revisian buat hari ini. Maaf ya, kayanya besok baru bisa nelfon."
"Gpp, semangat 💪"
"Kamu juga semangat ya kerjanya 💪"
***