“Tok.. tok… tok…… ceklek”
Mataku terbelalak. Aku terkejut saat melihat jam di tangan ku Tidak biasanya aku terbangun jam 2 dini hari, namun malam ini serasa berbeda seolah aku tidak sendirian.
Aku berjalan terhuyung mencari sakelar lampu yang entah di mana letaknya, aku meraba setiap jengkal dinding yang kulewati tetapi kamar ini serasa asing bagiku lembap, sepi dan berdebu, dalam kebingungan aku masih tetap berjalan mencari sakelar sampai tiba tiba hembusan angin menerpa kulit leher ku sekitika ngeri menjalar dalam benakku aku mulai resah dengan kondisi ku sekarang.
“ kamar siapa ini seingatku aku tidur di depan tv tadi” gumamku dalam hati.
“cklek”
Suara gagang pintu yang terbuka memecah pikiranku. Aku masih belum bisa melihat apapun selain gelap namun aku merasa ada banyak mata yang melihatku tapi aku tidak bisa melihatnya.
“ tok tok tok…. Nak nak buka pintunya nak!!!! ngapain kamu di dalam?”
aku mendengar suara ibu namun tubuhku tiba tiba kaku. Dan tiba tiba aku tidak sadarkan diri.
Aku terbangun di atas ranjang kamarku yang nyaman aku melihat jam di kamarku waktu menunjukakan pukul 04.30 ibu sedang sholat disampingku, kejadian yang baru saja ku alami masih membekas dipikaran ku sebenarnya apa yang aku alami.
“ laila kamu udah bangun sayang alhamdulillah ada yang sakit?”
“ gak ada yang sakit “
“ syukurlah, tadi ibu mendengar kamu berteriak dari dalam kamar belakang dan pas ibu masuk kamu udah gak sadarkan diri, tapi kamu ngapain di sana?”
Aku terdiam sejenak mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, aku yakin kalau aku tertidur di depan tv.
“ aku gak ingat bu “
“ yaudah kamu sholat sana “
“ iya ibu”
Aku segera menepis semua pikiran buruk itu dan menunaikan ibadah sholat subuh. Aku baru saja pindah di kontrakan ini setelah kedua orang tua ku berpisah hal ini memang sangat membuatku terpuruk tapi aku harus kuat, aku memutuskan untuk tinggal bersama ibuku di rumah kontrakan dengan 3 kamar 1 ruang tamu sekaligus ruang tv satu dapur dan 1 kamar mandi. Ibuku memakai kamar paling depan sedangkan aku memilih kamar tengah dan kamar terakhir di biarkan kosong begitu saja.
Hari ini ibu ku harus pergi ke luar kota untuk bekerja selama satu bulan, aku merasa keberatan karena kejadian mistis yang baru saja kualami tetapi bagaimana pun aku harus menerima hal ini. Malam harinya aku memutuskan untuk tidur dikamar ibu disana terdapat jendela yang mengarah langsung kejalan depan kontrakan.
“ malam ini cukup sepi ya “ gumamku dalam hati.
Setelah cukup lama aku memandang jendela hawa seram mulai terasa dan aku langsung bergegas kembali kekamar ku, sebelum aku membuka pintu kamar aku mendengar sayup sayup wanita tertawa “ hihihihihi” suara itu berasal dari kamar belakang yang sudah kami kosong kan sejak awal. Aku segera bergegas masuk ke kamar dan mengenakan selimutku sepanjang malam aku terus mendengar suara tertawa itu dan saat aku berusaha menutup mata bayangan seram tentang sosok kuntilanak bergaun merah terus menghantuiku.
Malam berikutnya setelah jam 8 malam aku tidak berani keluar dari kamar, karena suara wanita yang sering muncul tiba tiba. Kali ini aku memutuskan untuk menelpon teman ku Bima. Dia adalah sahabatku.
“ Bim, lu tau gak rumah ini tuh angker banget “
“ angker gimana? ”
“ gw sering di gangguin semenjak gw pingsan di kamar belakang itu makanya gw minta elu buat nemenin gw “
“ lu doa aja deh la jangan sampai kosong tu pikiran “
“ BIMA “ suara misterius terdengar lirih mengiringi percakapan kita.
“ eh bim bim lu denger gak ? “
“ iya weh suara sipa itu ? “
Aku dan bima di buat kaget dengan suara itu. Aku bergegas masuk ke selimutku, tampak bima berusaha menenangkan kua yang ketakutan suara aneh kembali terdengar.
“ laila “ suara itu terdengar lirih namun sangat menyeramkan aku terus berusaha berdoa dan berbicara dengan bima namun tiba tiba bima berteriak.
“ aaaaaaaaa setaaannnnnnnn !!!!!! “
Aku terkejut mendengarnya, apa yang terjadi pada Bima kemudian telpon pun mati.
Hening tiba tiba hening aku terdiam dan tidak berani berteriak meminta tolong aku segera mengirim pesan ke ibu ku untuk pulang.
“ tok.. tok… tok… “
suara ketukan pintu terdengar pelan oleh ku, aku ketakutan dan tidak beranjak dari tempat tidur, suara ketukan itu makin kuat terdengar. “ tok… tok…. Tok…” aku memberanikan diri untuk berteriak.
“ siapa? “
“ Tok… tok…. Tok…..”
“ siapa di sana? “
“ tok… tok… tok…. “
Tidak ada jawaban yang ku dapat hanya ketukan pintu yang semakin keras terdengar sampai....
“ cklek “
pintu kamar ku yang terkunci tiba tiba terbuka, perlahan terlihat sosok perempuan bergaun merah dengan rambut yang acak acakan dan rahang yang terbuka. Dia menghampiriku sambil meambawa pisau berlumur darah di tangan nya, tubuhku kaku aku hanya bisa menangis tanpa suara. Sosok itu makin mendekat.” Srek srek srek “ suara gaun merahnya yang terseret menambah ketakutan dalam diriku.
“ apa kamu sudah siap mati laila “
suara itu terdengar menggema di dalam ruangan bersamaan denga itu terdengar suara cekikikan tawa perempuan sampai tanpa aku sadari perempuan bergaun merah itu sudah ada di depan wajah ku.
“ ayo ikut aku laila hihihihi “
dia tertawa dan menikam kan pisau tepat di leherku lalu seketika aku tidak sadarkan diri.
Aku terbangun di ranjang rumah sakit di sampingku ada ayah dan ibuku aku masih kebingungan namun kejadian malam itu masih jelas aku ingat. setelah aku sembuh ibuku menceritakan kalau malam sebelum aku di larikan di rumah sakit aku mengalami kesurupan dan hantu yang merasuki tubuhku berkata.
“ AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKAN ANAK INI!!!!!!!!! “