Agatha, Amber, dan Aku adalah sahabat sejak SMK.
Hubungan kami terjalin harmonis tanpa perdebatan berarti, dihiasi persaingan sehat setiap hari, semua yang kami jalani telah mengisi masa-masa SMK ku penuh oleh memori.
Bukan tentang cinta, tapi ikatan persahabatan lah yang mengajarkanku arti pantang menyerah.Terlebih karena aku selalu unggul diantara mereka.
Haha!
Kesombongan yang pernah ku banggakan semasa SMK.
Nilai rapor, nilai ulangan harian, nilai keterampilan Seni Budaya, nilai praktek jurusan. Tak ku sangka tidak satupun berguna ketika uang sudah bicara.
Itu benar. Kami sudah lulus setahun lalu.
Mengingat kembali Agatha melanjutkan kuliahnya di jurusan prodi, beberapa bulan selanjutnya Amber menyusul mengikuti universitas serupa. Sedangkan aku...
Lihatlah Titania yang selalu unggul diantara mereka, kini justru di sibukkan mencari kerja karena tuntutan kebutuhan..
Apapun akan ku lakukan. Meski hanya menjadi lulusan SMK, setiap lowongan ku coba tanpa mengenal lelah. Aku terpaksa? Yeah... Tapi aku tidak berdaya karena ku tahu, inilah tanggung jawabku sebagai anak perempuan pertama.
Saat bisnis Keluarga bangkrut menjelang hari kelulusan, aku sudah khawatir takkan bisa melanjutkan pendidikan selanjutnya. Dan itu terjadi. Sekarang saja jangankan berharap bisa daftar kuliah, untuk makan sehari hari saja kami susah.
Lantas mencoba ikhlas. Berulang kali ku motivasi diriku sendiri, tapi bohong jika ku bilang aku tidak iri.
Apalagi setelah melihat postingan Agatha, dan Amber menjalani kehidupan universitas, aku jadi sering membandingkan. Bagian terburuknya lagi walau kami bersahabat, hatiku enggan berbahagia untuk mereka.
Tiap malam ku bertanya, Kenapa?
"Kenapa terjadi padaku?"
"Kenapa harus aku?"
"Kenapa aku?!"
Lalu, meskipun tahu akibat over thingking, dan kurangnya rasa bersyukur inilah yang membuatku tertekan. Aku enggan tuk mengakui.
Aku sangat Egois, berpikir ada jurang pembatas yang memisahkan persahabatan kami.
Padahal nyatanya mereka berdua selalu menjaga hati ku agar tak terluka. Mereka tahu diantara kami, akulah yang berbeda. Mereka pun berusaha. Tapi jahatnya aku berpikir mereka justru bersikap iba.
Kini.
Sembilan tahun berlalu sejak diriku memutuskan menjauhi Agatha - Amber. Aku menarik diri, menghapus hubungan kami, dan mengesampingkan langkah salah ini.
"Aku lelah jika terus bertahan..."
Itulah yang Titania muda pikirkan selama setahun kelulusan nya.
Titania yang terguncang dengan sakitnya perubahan.
Titania yang belum siap menghadapi dunia.
Titania.
**
"Umma! Teo mau ice Cream!"
"Ehh? Tapi ini masih pagi nak... Coba Teo peluk Umma dulu!"
"Hiyaa!"
Berlari membawa mainan robotnya, Putra ku yang bernama Teo Bastala, usia 5 tahun, melompat kedalam dekapan ku tanpa ragu.
"Nanti habis makan siang yah. Tapi Teo harus janji dulu akan habiskan sayur yang Umma buat" Ujarku
Teo lalu mengangguk "Makasihh Umma! Teo sayang Umma!" Serunya kembali mendekapku.
Akhirnya terkekeh membawa tubuh mungil itu ke sofa ruang tamu, kami menemui sang kakak yang sibuk bermain game di akhir pekan.
"Simon, bisa tolong jaga Teo? Umma ingin memasak makan siang untuk kalian" Pintaku mendudukkan Teo disamping remaja berambut blonde itu.
Dia adalah anak tiri ku. Simon Bastala.
"Tentu Umma. Umma memasak saja"
Lantas melepaskan earphone ditelinga nya, Simon membawa Teo ke halaman depan untuk bermain bola.
Mereka begitu akrab meski memiliki ibu berbeda, dan melihatnya aku sangat bahagia.
Aku bahkan tidak menyangka usahaku mengakrabkan diri dengan Simon beberapa tahun lalu, rupanya bertimbal balik mengubah si nakal Simon menjadi sosok kakak terbaik.
Jadi bersama Sean suami ku, Simon, dan Teo. Inilah kehidupan yang ku jalani tuk mewarnai hari.
Keluarga ku.
Tringg tringg
"Uh.. Siapa ya?"
Terpaksa menghentikan gerakan pisau memotong sayur, aku berjalan ke sudut ruang keluarga untuk mengangkat telepon rumah.
"Halo, dengan siapa?" Ujarku menyapa disana
"Selamat pagi. Dengan nyonya Titania Bastala?"
"Eh?" Terkesiap mendengar suara perempuan di telepon, aku sempat menahan kata.
Entah mengapa hatiku berkata aku mengenalnya
"Nyonya?"
"Oh! I, iya... Benar. Saya Titania Bastala"
"Baik. Saya menelpon dari rumah sakit Distrik Tiga, kami ingin memberitahu bahwa suami Anda tuan Sean Bastala mengalami kecelakaan mobil di pusat kota"
"APA?!"
Jantungku berhenti berdetak.
Namun kembali diberi penjelasan perempuan itu, sejujurnya suara yang ku dengar ikut mengabur bersama tetesan air mata yang mengembun.
"Suami Anda sudah diberi penanganan nyonya. Administrasi telah dibayar oleh teman nya. Pasien berada di ruang rawat, jadi kami menelpon untuk menghubungi pihak keluarga" Jelasnya, lantas mengangguk pelan kan kepala ku
" Saya akan segera kesana"
"Baik"
Tuut...
Suara sambungan di putus tersebut begitu saja melemahkan kedua kaki ku.
Aku heran kenapa mereka tiba-tiba kehilangan kendali, bahkan tak mampu menopang berat tubuhku sendiri. Aku pun menyandarkan punggung, lalu merasakan adanya langkah kecil memasuki rumah.
"Umma?" Ternyata itu Teo disusul kakaknya.
"Umma?!" Lantas terkejut melihatku, keduanya menghampiri lalu membawaku duduk di kursi meja makan sebelum panik.
"Apa yang terjadi Umma?" Tanya Simon.
"Huuu!" Sedangkan Teo menangis khawatir.
Melihat itu, aku pun sadar meski berat, aku harus memberi tahu keduanya.
"Ayah kalian mengalami kecelakaan. Dia dirawat di Rumah Sakit Distrik Tiga"
"Apa?!
"Kita akan kesana menjemputnya"
**
Meninggalkan kediaman Bastala, Aku, Simon dan Teo sampai di Rumah sakit Distrik Tiga dengan langkah tergesa.
"Umma! Paman Vitya memberi tahuku ayah berada di ruang Hesper dewasa"
"Kalau begitu ayo. Kau tau dimana tempatnya?"
Simon mengangguk. Lalu memimpin langkah kam berjalan menuju ruangan itu. Ia juga memberi ruang padaku agar leluasa melewati sejumlah orang.
Mungkin karena aku menggendong Teo, dia jadi khawatir. Tapi Umma mu ini baik-baik saja Simon, kekeh ku tepat sebelum kaki ini terasa sakit
Bugh!
Aku pun tak sengaja menabrak bahu seorang perawat yang hendak melewati tikungan depan.
"Umma!"
Untunglah kami berdua tidak terjatuh, tapi kulihy mainan robot yang Teo bawa lepas dari tangannya.
"Umma! Umma baik-baik saja?!" Khawatir Simon menghampiri ku. Aku pun mengangguk, dan menoleh cepat menatap perawat itu.
"Maaf! Tolong maafkan saya. Kami sedang terburu-buru suster" Ujarku ketika ia mengambil mainan Teo.
"Maaf suster!" Simon lalu ikut bicara.
"Tidak masalah... Ini"
Deg!
Melihat senyumannya yang membuat ku bernostalgia, aku sadar saat perawat itu menyerahkan mainan robot Teo tanpa melihatku.....
Dia adalah..
"Amber..." Lirihku disambut toleh nya.
"Ayo katakan terimakasih, Teo" - Simon
"Makasih kak suster" -Teo
"Oh?! U, uhm.. Sama-sama"
Kemudian meninggalkan keheningan diantara kami, Simon tiba-tiba menarik tanganku, lalu berujar dengan penuh tidak sabaran.
"Abi menunggu kita , Umma! Ayo!" Pinta Simon mengundang bulatan mata Amber disana.
Aku sendiri tidak bergeming ketika langkahku semakin jauh dari hadapannya. Hati ku bercampur aduk merasakan senang, sedih, dan menyesal ketika kami bertemu.
"Jadi dia bekerja disini..." Lirihku
**
Meletakkan tas yang ku bawa dari rumah, aku membuka resletingnya untuk mengambil beberapa lembar tisu basah.
"Ayo dihabiskan, Abi..."
"Tidak mau... Umma"
"Hahhh, Abi kalau sakit kayak anak kecil"
"Hehe"
Syukurlah ketika aku sampai di ruang rawat Hesper dewasa, suamiku Sean ternyata sudah siuman. Ia tadi sedang menyantap makanan Rumah Sakit dengan ogah-ogahan. Sekarang pun tak jauh berbeda.
"Abi! ini Kakinya boleh Teo coret-coret nggak kalau nanti kita di rumah?"
"Eh?!"
Terkejut mendengar pertanyaan aneh Teo. Aku, Sean, dan Simon saling memandang sebelum akhirnya mengiyakan secara sepihak permintaan bocah itu.
"Simon juga mau corat-coret deh. Boleh kan umma?"
Aku mengangguk "boleh dong! Nanti juga Umma mau ikutan kok!" Jawabku mengembang senyum jahil pada Sean.
"Hahh!"
Sementara sadar dirinya tengah dibully, Sean kembali menyandarkan tubuhnya di atas bed sambil melirikku.
"Kenapa?" Tanya ku malas di buat salah tingkah.
"Hm.. Sejak tadi abi penasaran. Kok umma terlihat beda ya?"
Aku mengernyit "Apa? Umma lebih cantik?"
"Yap! Tapi selain itu, kamu juga seperti memikirkan sesuatu. Apa sesuatu terjadi selama kalian datang kesini?"
"Oh!"
Tiba-tiba menyela pembicaraan kami, Teo menarik ujung selimut Abi nya lalu berkata "Tapi Umma tabrak suster, Bi"
"Tabrak?"
"Iya bi. Tadi kita jalannya buru-buru, jadi pas lewati tikungan koridor kepapasan gitu" Jelas Simon.
Mengundang anggukan Abi mereka, Sean kembali menatapku. Tapi dengan mata sayu, senyumnya terukir tipis seakan tahu apa sebenarnya yang terjadi.
"Mereka di sini, kan?"
Aku merenung "Abi... Sudahlah"
"Nggak!"
"Eh?"
"Aku bicara pada seorang perempuan bernama Titania, bukan umma. Titania yang merindukan sahabatnya..."
"Tapi Abi.. Itu sudah lama sekali. Mustah-"
"Lebih baik terlambat Tita. Setiap orang melakukan kesalahan dalam hidupnya. Gunakan kesempatan itu"
Tutur Sean meraih tanganku.
"Pergilah"
"Ukh!"
Dasar Sean!
Dia mungkin tak menyadarinya, tapi dari kata-katanya lah aku mendapat keberanian melangkah ke luar ruangan, untuk kemudian mencari keberadaan sahabat lama.
**
Menyusuri koridor rumah sakit, aku tahu sebentar lagi jam istirahat. Karenanya memilih taman sebagai tujuan akhir, entah mengapa firasat ku mengatakan Amber berada disana.
Ku mohon...
Ku mohon maafkan aku.
Itulah yang ingin ku sampaikan padanya. Pada mereka jika bisa.
Jika aku di beri kesempatan. Ya Rabb..
Batinku berlari keluar rumah sakit menuju sebuah pancuran air di dekat parkiran sepeda. Itu adalah taman pemulihan yang biasa dipakai para perawat membawa pasien mereka keluar ruangan.
Sampai disana aku pun menepati beberapa pasien berkursi roda didampingi perawat mereka. Tapi tidak menemukan orang yang ku cari. Aku yang kelelahan memilih duduk di salah satu bangku panjang dibawah pohon.
"Ini pantas ku dapatkan. Amber takkan mau menemui sahabat egois sepertiku" sendu ku menutup wajah dengan telapak tangan.
Aku dapat merasakan setelahi buliran bening itu jatuh bersama bahan jilbab yang merosot ke depan.
"Amber... Agatha..." Lirihku terisak sejadinya.
Puk.
Huh?!
Namun merasakan sebuah jaket jatuh menutupi kepala. Aku buru-buru membuka mata untuk melihat siapa sosok yang telah berbaik hati meminjamkan benda tersebut untuk menyamarkan tangis ku.
WUSHHHH
Angin pun berhembus menerbangkan helaian daun gugur, menyambut hadirnya dua sosok yang ku rindu berdiri di hadapanku.
"Hiks...." Air mataku kembali mengalir.
Ini di luar dugaanku akan melihat Agatha dan Amber tersenyum melebarkan tangan mereka.
Kedua bertingkah seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
"Akhirnya aku menemukan mu!" Ujar Agatha beralih memelukku. Amber menyusul.
"Aku tidak percaya ketika Agatha bilang, dia mendapati namamu sebagai istri dari pasien yang dirawatnya. Ku pikir kau orang yang berbeda, Tia!" Parau nya.
Mengingatkan ku pada suara perempuan di telepon tadi pagi. Benar rupanya dugaan ku kalau itu suara Agatha.
"Maaf... Maaf begitu saja meninggalkan kalian. Aku sangat Egois waktu itu. Aku kekanakan! "
Agatha mengelus punggungku "Sudahlah.. Tidak apa Tita. Yang penting sekarang aku tahu kamu baik baik saja"
"Huh?!"
Melepas dekapannya, kami bertiga menghapus cepat air mata sebelum melanjutkan bicara
"Haha, dia yang paling panik saat kau memblokir nomor kami, dan pindah rumah Tita" Jawab Amber, menunjuk jarinya pada Agatha.
"Tentu saja bukan?! Kupikir aku gagal menjadi sahabat Tita, karena itu Tita marah"
Aku terbelalak "Apa yang kalian katakan? Kalian tidak pernah gagal. Aku lah yang salah karena mementingkan perasaan dan kenyamanan ku sendiri. Aku meninggalkan kalian karena ego ku. Aku selalu iri, aku jahat pada kalian..."
Amber berdecak pelan "Kau memang jahat Tita! Kau tidak membiarkan kami mendapat kesempatan kedua!" - "Kau begitu saja pergi, tanpa menjelaskan dimana kesalahan kami" Lanjutnya
Di sambung anggukan Agatha "Tapi lambat laun kami tahu, kami mungkin tidak terlalu memahami perasaan mu waktu itu. Makanya kepergian mu membuat kami lebih membenahi diri" - "Sejujurnya aku ingin kembali bertemu denganmu sebagai sosok yang kau suka. Bukan yang benci" Ujarnya mengalungkan tangan di bahu ku.
Aku pun tak percaya.
Bahwa setelah menuruti ego, sifat dengki, dan kesalahan lainnya. Aku masih diberi dua sahabat yang mau menerima diriku apa adanya.
Bukan menyalahkan ku atas pecahnya ikatan ini, mereka justru memperbaiki diri dengan tujuan luar biasa, yang mana mereka inginkan adalah kami. kembali bersama.
Membuat ku berpikir betapa bodohnya tindakanku di masa lalu.
Aku yang tidak tahan melihat diriku.
Aku yang muak dengan sifat ku.
Bahkan pernah berakhir membenci diri ini karena menganggap dunia tak adil. Aku mengabaikan fakta bahwa di luar sana ada banyak orang yang ingin melihatku bahagia. Mendoakan ku mencapai yang ku cita. Juga berusaha menjadi sosok yang bisa ku terima.
"Jangan lagi Tita" Lirih Amber
Eh?
Tersentak ketika tangannya menyentuh pipiku, aku melihat sepasang mata sayu yang mencoba mengatakan sesuatu.
"Kau mungkin belum menyadarinya, tapi sejak dulu kau selalu keras pada dirimu. Bahkan dalam hal kecil" Kata Agatha
"Tapi jika melihat nilai plus nya, sisi mu yang selalu berjuang dengan apapun yang kau miliki itulah yang kami suka. Kau telah banyak memotivasi kami Tita. Jadi jangan lagi menyalahkan dirimu" Pinta Amber.
Lantas di sambut anggukan Agatha, mereka kembali memelukku.
"Apa yang bisa ku lakukan untuk membalas semua ini?" Parau ku kembali menangis.
Tapi anehnya dibalas tawa kecil, keduanya berbisik di depan telingaku yang terbalut jilbab syar'i.
"Semua pernah melakukan kesalahan"
"Jadi tetaplah menjadi Tita"
Ujar mereka.
Di hiasi sinar mentari yang menelusup dibalik rindangnya dedaunan pohon, siang itu, pertemuan kami di taman rumah sakit Distrik tiga, telah mengajarkanku bahwa dalam menjalin ikatan. Ketulusan adalah yang utama.
Manusia bisa melakukan kesalahan. Manusia bisa lelah. Manusia bisa menjadi sosok terburuk. Tapi tidak menutup kemungkinan berubah, manusia memiliki banyak kesempatan karena roda kehidupan tetap berjalan.
Kuncinya adalah ikhlas menjalani, dan mencinta diri sendiri sebagai pemberian Rabb maha suci.
Kita selalu bisa memperbaiki nya...
(TAMAT)
***
Terimakasih sudah membaca cerpen ini... Semoga suka!
Tinggalkan jejak yaa..🙏