Angin berhembus kencang. Gedung 25 lantai yang baru selesai dibangun ini akan resmi dibuka pekan depan. Meskipun tahu demikian, aku tidak peduli lagi. Memang siapa yang akan peduli?
Aku tidak peduli. Pekerjaan si*lan, bos brengs*k, orangtua kep*rat, teman palsu, dan semua yang ada di dunia ini tidak berguna. Bahkan Tuhan terasa tidak nyata. Katanya setelah badai pasti ada pelangi, tapi kenyataannya aku selama 23 tahun tidak menemukan itu. Setiap hari seperti lebih baik mati.
Ya, pada akhirnya, aku memang akan mati. Lihat saja. Aku akan menjadi arwah gentayangan yang membuat hidup mereka tidak nyaman. Toh, pada akhirnya semua hidup hanya untuk mati. Lalu kenapa harus bersusah payah menjalani kehidupan yang tidak berguna begini?
Sudah berulang kali aku mencoba mengingat hal baik apa saja yang terjadi dalam hidupku. Tetapi semakin dipikirkan, semakin aku menyadari bahwa hidupku hanya sebuah tragedi panjang tak berujung. Aku tidak tahan lagi. Harus berapa lama lagi sampai bahagia yang dicari orang-orang itu datang?
Di saat itu, aku melompat dari atas gedung tanpa ragu. Angin yang berhembus begitu sejuk dan semakin aku turun, semakin aku merasakan bahwa inilah akhirnya. Mungkin ini adalah bahagia yang kucari selama ini. Tidak, ini adalah ketenangan sejati.