Di atas dinginnya deretan bangku besi, aku termenung. Deru mesin bus melebur bersama pekikkan para kernet yang memanggil-manggil.
Sama sepertiku, belasan penumpang tengah menanti di ruang tunggu dengan nasibnya masing-masing. Tak ada sapa, tak ada kata. Sepi, sunyi.
Mataku teralih pada empat orang yang memelototi ponsel di sebelahku. Adalah sepasang suami istri dengan kedua anaknya dalam satu deret, namun mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Tanpa ada senyum, tanpa ada suara.
Aku memang tak sendirian, tapi rasanya keramaian ini teramat mati.
Pada akhirnya, nuansa jemu ini mulai terpecah, tatkala seorang ibu tua tiba-tiba pingsan di bangku deretan seberang. Sebagian dari mereka yang dekat langsung menolong, sebagian besar sisanya hanya menyaksikan.
Kemudian aku sempat mendengar suara jepretan dari wanita di sebelah. Orang ini rupanya baru saja mengabadikan momen tersebut. Rasa penasaran mulai menggelitik, akan apa yang sebenarnya dia lakukan lagi, jadi aku melirik ponselnya.
.
[ Seorang Ibu pingsan gara-gara menunggu keberangkatan bus yang lelet. Pemerintah seharusnya lebih peduli dengan pelayanan transportasi publik. Sebarkan agar sampai pada pemerintah. Satu share kalian sangat berarti. Mari doakan agar si Ibu baik-baik saja. Amin! ]
.
Begitulah yang kubaca dari isinya, dan itu membuatku hanya bisa mendesah.
Arti nurani di zaman ini mulai membuatku bingung. Orang hanya mengetik empat huruf saja sudah merasa melakukan kebaikan.
Bus yang kutunggu akhirnya tiba, jadi aku bisa pergi dari situasi konyol ini. Namun perasaan merinding terlanjur menjalar ke sekujur tubuh, dan itu mulai membuatku takut melihat kenyataan.
Kita semua sudah menjadi robot, itulah hubungan antar manusia sekarang.