"Kumat lagi?" tanyaku saat melihat dia meringis kesakitan. Dia hanya menjawab dengan anggukan.
Ya, dia temanku. Namanya Devano, Devan panggilannya. Setiap waktu tertentu, telapak kakinya pecah-pecah bahkan berdarah. Katanya, ini dideritanya sejak lama dan tidak bisa sembuh seratus persen. Sakitnya ini yang sering aku pakai untuk mengoloknya, wajah tampan tapi kaki bulukan.
"Kalau masih sakit, ngapain kuliah, Dev? Terus, ngapain samperin aku. Bikin susah aja!" Terbayang sudah, aku harus memboncengnya dan saat jalan aku harus menuntun.
Huuft!
Kebayang seperti jalan bareng kakek renta.
"Jangan gitu lah, Silla. Terus aku bareng siapa kalau tidak sama kamu. Ini kuliahnya Pak Rahman, reproduksi ternak. Aku sudah bolos dua kali," jawabnya. Dia berusaha duduk di kursi dengan berpegangan meja. Mulutnya berdesis menandakan sakit yang tak tertahan.
"Aneh kamu ini! Sudah punya Sarah, pacar kamu yang cantik itu, ngapain masih menyusahkanku? Heran aku! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu, aku dimusuhi teman-temannya. Nih, tanganku abis dicakarin pas basket kemarin. Kakiku gosong kena tendangan. Mereka suka main kekerasan!" teriaku kesal seraya menunjukkan luka yang aku terima kemarin.
Sarah, pacar Devan yang cantik dan tajir. Dia memang mempunyai geng yang bisa dibilang brutal. Parasnya lembut, berkulit putih dan berpenampilan feminin. Namun untuk urusan laki-laki, dia mampu mengerahkan pasukannya untuk bertindak lebih.
Padahal, aku salah apa, coba? Hanya karena Devan sahabatku, dan dia memergoki kami nongkrong ngopi bersama. Siapa suruh mereka bertengkar dan berakhir Devan mengajakku keluar di malam minggu. Itu pun, untuk curhat masalah mereka.
"Kamu jangan ke sini lagi, dah!" teriakku lagi.
Mendengar omelanku bukannya takut, dia malah tertawa. Matanya yang sipit semakin hilang dan berakhir dengan ringisan kesakitan. Keadaan sakit begini saja, dia masih terlihat tampan. Pantas saja adik kost heboh kalau dia datang, selalu ada saja yang lewat di ruang tamu sambil curi-curi pandang.
Mata sipit, kulit putih, dan rambut lurus dia bilang mirip almarhum papanya yang keturunan Cina. Sedangkan wajah mirip ibunya yang orang Jawa. Sering dia mengatakan, kalau dia harus menjadi orang yang berhasil. Ingin menunjukkan ke keluarga papanya yang membuang mereka. Itulah yang mendorong untuk berbisnis sambil kuliah.
"Aduh!" teriaknya sambil mengibaskan rambut lurus yang menutupi dahi.
Memang raut wajah di atas rata-rata, tapi bagiku dia sahabat yang nyebelin, nyusahin, walaupun selalu siap sedia kalau aku membutuhkan.
Inginnya bersikap tega, tapi melihat dia yang kesakitan terpaksa aku mengambil kotak P3K. Ketrampilan merawat luka, lumayan aku kuasai semenjak aktif di Korps Suka Rela yang dibawahi PMI.
"Perih?" tanyaku sambil membersihkan telapak kaki yang pecah begitu dalam.
"Ajari Sarah untuk merawat kamu. Kalau dia sayang dan cinta, pasti dia bisa. Terus, kalau kumat gini, suruh dia antar jemput kamu. Jangan nyasar ke sini!" Aku tidak berhenti bicara sambil mengobatinya. Dia hanya menjawab, ya, disela rintihan. Setelah diberi anti septik, aku tutup luka yang dalam ini dengan plester.
"Ngerti yang aku bilang tadi, Dev! Ini yang terakhir aku mengobati kaki kamu! Suruh pacarmu saja!"
"Aku kalau sama Sarah gak enak. Malu. Enakkan sama kamu aja. Gak apa-apa, kan. Toh kamu belum laku! Jadi tidak ada yang cemburu," ucapnya sambil tertawa.
"Uwe ...! Bukan tidak laku dodol! Yang naksir banyak. Tuh, Johan TI, Arya Menwa, Kevin Impala, James Pers, dan sapa tuh yang temen kamu itu! Tapi buat apa? Buang waktu!"
"Silla, kamu tebar pesona di semua unitas?" Matanya melotot ke arahku. Aku mendesis kesal ke arahnya.
"Sudah! Berangkat sekarang saja, nanti telat. Mana kuncinya!"
Dia memberikan kunci motor BMW.
Motor?
Ya. Motor bebek merah warnanya. Motor jadul, yang sering kami pakai berboncengan ke mana saja. Motor kesayangan warisan dari bapaknya. Pernah kami kesasar ke Coban Rondo, wisata air terjun hanya dengan alasan bosan di rumah. Bahkan pernah kami menuntun motor ini karena ban bocor. Saat itu, dia aku paksa menemani nonton konser. Rencana gagal, berakhir di tukang ban dan ngopi sampai malam.
Namun jangan harap melihat dia bersama Sarah pakai motor ini. Dia bela-belain pinjam motor matic temannya. Katanya malu, kalau yang digonceng cewek cantik.
Memang aku tidak cantik, apa? Atau perlu aku bikin jajak pendapat.
Ngeselin!
Sampai di kampus, aku membantunya berjalan. Tangan bertumpu di lenganku dan mencoba berjalan walaupun masih pincang. Ruang kuliah yang berada di lantai tiga, mengharuskan kami berhenti beberapa kali karena kakinya yang sakit itu.
"Besuk subuh ada praktikum di RPH. Kita barengan?" tanya Devano setiba di ruang kuliah.
"Aku bareng sama Tina. Udah janjian kemarin. Pulangnya bareng Jordan saja, ya. Gak enak sama Sarah, tuh dari tadi melotot matanya," ucapku sembari meletakkan kunci motor di meja, dan meninggalkan dia tanpa mendengar yang dia katakan.
Aku hanya berusaha menjaga jarak. Memang susah saat mempunyai sahabat laki-laki dan dia punya pacar. Sering ada salah paham.
***
"Silla, Devano kok belum sampai?" tanya Tina. Matahari pagi sudah mulai nampak. Namun dia belum datang.
"Mungkin dia kesiangan. Kebiasaan anak itu! Huuft!" desahku kesal.
Waktu kami sudah hampir habis. Sapi-sapi yang kami gunakan harus dipotong. Para penjagal sudah mulai bersiap. Kalau Devan tidak datang, dia tidak mendapatkan nilai.
Anak itu bikin kesal saja!
"Selamat pagi. Benar ini kelompok praktikum? Apa ada yang kenal dengan saudara Devano?" Seorang berseragam polisi mendatangi kami. Aku langsung menyeruak ke depan dengan penasaran, kawatir dan kesal.
"Iya, Pak! Saya Silla temannya? Ada apa dengan Devan?"
"Dia kecelakaan, Kak. Sekarang sudah di bawa ke rumah sakit," terang Pak Polisi sambil mendekat ke arahku.
Devan ini membuatku susah saja. Kakinya belum sembuh, sekarang kecelakaan. Pasti dia luka-luka dan terpaksa aku yang harus mengobati.
"Kak Silla ikut saya untuk proses identifikasi," ucapnya seraya mempersilahkan untuk mengikutinya.
"Maksudnya, Pak? Dia parah? Tidak sadar?"
"E, saudara Devano meninggal di tempat."
.
.
.
Kami semua terdiam. Aku menatap Pak Polisi tidak percaya. Devan? Di-dia meninggal? Padahal baru tadi pagi kami bersama. Saling mengejek, tertawa dan saling mengesalkan.
Tubuhku terasa ringan dan pandanganku kabur dan menggelap.
.
.
.
*****
"Silla, ini sudah satu minggu dia pergi. Jangan menangis lagi, ya. Aku tinggal ke kampus, nanti kujemput." Tina menepuk bahuku pelan dan meninggalkanku.
Aku mengedarkan pandanganku ke kamar kecil ini. Kamar kos Devan, ibunya minta tolong kepadaku untuk mengemas. Kamar ini belum pernah dibuka semenjak kepergiannya.
Sajadah masih tergelar dengan Al-Qur'an yang masih terbuka. Ini pasti bekas Devan melakukan salat Subuh sebelum berangkat ke RPH. Aku menutup kitab suci ini, dan merapikan peralatan salat. Air mata ini mulai merabunkan pandanganku.
Ada meja belajar kecil di samping ranjang. Masih ada buku catatanku yang dipinjam saat terakhir kami bertemu.
"Balikin, ya! Sebentar lagi midel!" teriakku saat itu.
"Kamu tahu aku susah jalan. Ambil sendiri ke kos, ya. Sekalian bawa nasi pecel!" jawabnya sambil tertawa lebar. Aku masih ingat raut wajahnya, dan masih terdengar jelas suara yang selalu membuatku kesal.
Devan, sekarang aku di sini. Mengambil buku sesuai permintaanmu. Namun, bukan seperti ini yang aku ingin.
Kalau aku mampu membalikkan waktu, aku pasti tidak akan berucap tidak akan mengobatimu lagi. Aku pasti menghabiskan banyak waktu bersamamu, tertawa dan tidak peduli kecemburuannya. Seandainya aku bisa mengulang kejadian itu, pasti kita berangkat bersama seperti biasanya. Mengingatkan saat kau mengantuk dan kejadian mengerikan itu tidak terjadi.
Seandainya ....
Air mata ini semakin deras membasahi pipi. Samar, terdengar alunan lagu dari kamar sebelah. Lagu Tipe-X yang mewakili perasaanku saat ini.
Banyak sudah kisah yang tertinggal
Kau buat jadi satu kenangan
Seorang sahabat pergi
Tanpa tangis arungi mimpi
Selamat jalan kawan cepatlah berlabuh
Mimpimu kini telah kau dapati
Tak ada lagi seorang pun yang mengganggu
Kau bernyanyi
Semoga dalam damai engkau mengerti
Arti dalamnya jalan yang kau daki
Hingga indahnya bias mentari
Tak lagi kau nikmati
Selamat jalan kawan cepatlah berlabuh
Mimpimu kini telah kau dapati
Tak ada lagi seorang pun yang mengganggu
Kau bernyanyi