Audioroom membuat kita mengaguminya lewat suara. Suara yang membuat kita mengenal dan memiliki rasa. Rasa jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah kita temui sebelumnya. Sama seperti Aku dan Kamu yang jatuh cinta hanya dengan sebait percakapan dan sebuah foto.
🍁🍁🍁
Namaku Jesika Anastasya, aku duduk dikelas 12. Selain belajar aku senang membaca komik di Mangatoon. Berawal dari suatu malam Aku yang tanpa sengaja menscrol kebawah dan membuatku terlempar masuk ke sebuah audio room.
"Apaan nih?baru pernah lihat." Gumamku dalam hati melihat 9 bola dilayar dengan profil berbeda. "Bisa dengar musik juga!" Ucapku yang sedang rebahan cantik diranjang.
"Welcome Ana!" Suara seorang memanggil dari room.
"Waduh!siapa yang barusan manggil." Ucapku lagi mencari-cari asalnya suara dan memperhatikan sembilan lingkaran diatas. Ada beberapa dari mereka yang terlihat memiliki mic namun diberi tanda strip.
"Maksudnya mute kah?" Tanyaku sendiri dikamar sambil memperhatikan aktivitas yang ada diroom. Setelah itu aku keluar masuk keroom-room lain dan ada beberapa yang menyapa ada juga tidak sama sekali.
Sejak malam itu aku menyempatkan diri masuk kebeberapa audio room yang ada disana setelah usai membaca komik.
"Welcome Ana! Selamat datang diagensi PoP!" Serunya dari atas memanggilku yang masuk ke room yang full dengan warna orange.
"Welcome yang baru datang!" Serunya lagi saat aku masuk keroom yang semua lingkaran diatas menggunakan profil yang sama.
"Welcome!" Sambutan yang diketik dilayar dengan men-tag namaku dengan volume musik full.
Perlahan aku mempelajari cara mereka bermain. Lambat laun akupun mulai mengerti ternyata lingkaran paling atas adalah host sipemilik room. Sementara delapan lingkaran dibawah host adalah kursi-kursi yang bisa dinaiki oleh user-user sepertiku.
🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒
Setelah beberapa hari main room aku selalu bertemu dengan salah satu user yang selalu aku temukan diroom-room lain dan spesialnya dia selalu menyapaku dengan suara khasnya yang sangat terngiang ditelingaku.
"Welcome Ana! Naik yuk ngobrol bareng kita!" Serunya dari atas setiap kali aku datang. Berkali-kali dia menyapaku barang sekalipun aku gak pernah balas. Aku bahkan selalu menolak dia yang mengundangku naik kekursi. Suaranya mood banget buat aku ketagihan dengan dia ngobrol ataupun ngegombal ke user-user lain. Suatu malam aku masuk room-room mencari sosok pemilik nama akun Devil. Aku keliling kesetiap room menggunakan akun yang sama namun dengan nama Virtualku.
"Dia dimana ya?" Ucapku sendiri ketika tiba disebuah audio room yang tak pernah kudatangi sebelumnya.
"Welcome Virtualku!" Panggil suara yang mirip dengan Devil.
"Naik yuk temanin host ngobrol!" Serunya lagi yang ternyata berasal dari kursi teratas tempat host sipemilik room.
"Makasih." Balasku mengetik dilayar.
"Virtualku naik yuk!" Serunya dari atas membuatku teringat pada sosok Devil yang sedang aku cari. Namun pemilik nama host diatas bukan Devil melainkan Simon. Tak berapa lama aku pergi meninggalkan room.
Keesokan malamnya aku keliling lagi sambil nyari itu Devil. Dan benar aku menemukan dia salah satu Audio room yang isinya orang-orang nyanyi.
"Nah itu anak disini." Ucapku melihat Devil duduk dikursi empat.
"Welcome yang dibawah!Welcome Virtualku!" Panggil Devil yang membuatku sadar belum ganti nama akun.
Malam itu Devil mengumumkan bahwa agensi mereka mengadakan event. Ia mengundang user-user yang berminat untuk ikut bergabung dalam event. Usai menyampaikan itu Devil menyumbangkan satu dua lagu yang membuatku semakin terpesona dengannya.
"Makasih semua Devil pamit dulu ya! Papayoo!" Ucapnya yang segera mengklik profil dan follow tuh anak. Setelah Devil pergi aku mengklik profilnya untuk mencari keberadaannya.
"Oh dia punya room juga." Ucapku masuk keroomnya dan menemukan dia diatas.
"Hai Virtualku!" Panggilnya dari atas yang membuat tercengang ketika iya menggantikan namanya menjadi Simon.
"What?!" Ucapku kaget ngecek balik ke profilnya si Devil yang sudah berganti nama ke Simon.
"Virtualku naik aja!" Panggilnya ketika aku berada dibelakang layar room. Dan ketika aku balik kelayar room Simon telah mengirimkan undangan naik kekursi membuatku sedikit gugup mengklik oke.
"Hai Virtualku hehe." Sapa Simon dengan tawa kecil membuatku tersenyum mendengarkannya.
"Hai juga Simon." Balasku sedikit canggung.
🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒
Setelah malam itu aku sering keroom namun belum ada keberanian ngobrol dengan Simon alias Devil. Room Simon benar-benar banyak pengunjungnya. Ia berbicara dengan canda dan tawa yang membuat user-user lain terpikat padanya.
"Aih idolaku banyak pengagumnya." Gumamku setiap masuk keroom dan hanya bisa parkun dibawah mendengar obrolan mereka.
Diantaranya bahkan sudah memiliki nomor wa Simon yang membuatku gigit jari.
"Aku juga mau." Ucapku membaca typingan dilayar yang menunjukkan mereka begitu dekat satu sama lain.
User-user itu kebanyakan berasal dari anak lama. Sebagian dari mereka juga adalah host diroomnya masing-masing seperti Simon.
"Simon itu punya gue ya!" Seru yang satu ketika aku salah satu room agensi.
"Punya gue!." Balas mereka bercanda satu sama lain memperebutkan Simon.
"Eh!Gue panggil ya tuh anak!" Serunya lagi.
"Jangan Kak!" Balas yang lain.
"Gue panggil ah!" Ucap Hostnya.
Beberapa lama kemudian Simon pun masuk keroom dengan menggunakan nam Simon dengan berbagai lambang menghiasi namanya.
"Welcome Simon!" Seru Hostnya dari atas menyambut kedatangan Simon.
"Simon naik!" Panggil ciwi-ciwi yang sudah menunggu kedatangannya di kursi.
"Dibawah aja kak." Balas Simon mengetiknya dilayar.
"Naik aja dek!" Seru hostnya lagi yang kemudian membuat Simon sudah ada diatas kursi nomor satu.
"Simon open mic lah!" Seru user yang lain yang meminta Simon berbicara. Kemudian mereka saling melempar gombalan satu sama lain dan tertawa. Sementara aku hanya bisa mendengar dari bawah.
"Oh Simon kamu gitu ya!" Balas ciwi-ciwi yang lain ketika turun dari kursi.
"Semua gue pamit yaaa..!" Ketiknya dibawah. "Papayoo!" Ketiknya lagi kemudian pergi.
"Papayoo Simon!" Seru host dan ciwi-ciwi yang ada dikursi.
Melihat itu aku pun mengikuti Simon dari belakang. Aku membuka profilnya dan mencari keberadaannya.
"Hai Virtualku!" Seru suara ketika aku baru saja tiba diroom saat mengikuti Simon. Aku melihat layar dan mendapati Simon duduk dikursi teratas.
"Ah dia keroomnya." Ucapku masih belum membalas sapaan Simon.
"Virtualku naik aja." Serunya sambil mengirimkan undangan naik kekursi.
"Ok." Ucapku sambil menerima undangan naik.
"Apa kabar Virtualku?" Tanyanya. "Open mic aja! Gak usah segan." Ucapnya. "Toh cuma ada aku dan kamu." Tambahnya membuatku open mic.
"Virtual asal mana?" Tanyanya.
"Asal Samarinda." Jawabku . "Kak Host asal mana?" Tanyaku balik.
"Aku Sulawesi!" Jawabnya.
"Oh Sulawesi mana?" Tanyaku.
"Sulawesi Utara." Balasnya.
Sejak malam itu kami bercerita tentang diri kami masing-masing. Mulai dari perkenalan hingga kesibukan yang sedang dijalani.
🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒
Simon Andreas mahasiswa semester tiga diUGM itu membuatku semakin candu untuk menemuinya di room. Perkenalan dan pembicaraan kami pun berlanjut hingga diwa. Kami berbagi kegundahan hati dan apa saja yang kami lewati dalam satu hari di tempat yang berbeda.
"Ana keroom yuk!" Suara Simon yang terhubung dengan panggilan suara by wa.
"Bentar ya Kak." Jawabku. "Aku lagi ngerjain pr." Sambung ku lagi.
"Pr apa?" Tanyanya.
"Kimia." Jawabku disertai tawa kecil. "Bentar lagi kok. Cuma tinggal dua soal lagi." Tambahku.
"Mau aku temanin gak?" Tanyanya menawarkan diri.
"Temanin gimana?" Tanyaku balik.
"Vc!" Jawabnya membuatku membeku seketika. Jantungku juga rasanya pengen copot. "Naaa." Panggilnya lembut membuatku tersadar.
"Iya kak." Jawabku.
"Kalau gak mau juga gak papa." Ucapnya. "Tapi lain kali bisa ya." Pintanya menggodaku.
Setelah itu kami melanjutakan obrolan diroom milik Simon. Ia menceritakan aktivitas perkuliahannya. Terkadang ia menyelipkan kata-kata manis yang membuatku melipat bibir menahan rasa tersanjung yang meluap dari ruang hatiku yang telah terisi olehnya.
"Naa!" Panggilnya disuatu malam dalam room yang hanya ada kursi dia dan kursiku.
"Ya kak." Sahutku sambil membaca komik diMT.
"Udah pernah pacaran?" Tanya Simon yang buatku menutup komik dan kembali melihat room.
"Eng---" ucapku memperhatikan tidak ada user yang masuk seperti biasa.
"Eng apa?" Tanyanya membuatku terkejut.
"Kak kok gak ada user yang masuk?" Tanyaku balik mengingat room Simon benar-benar favorit kedatangan para ciwi-ciwi.
"Oh,roomnya aku kunci." Jawabnya.
"Emang bisa begitu ya?!" Jawabku polos.
"Iya. Kayak hatiku yang sudah dikunci oleh mu." Jawabnya disertai gombalan yang membuat pipiku merona.
"Apaan sih kak?!" Balasku malu.
"Lah emang kenyataannya begitu." Ucapnya lagi yang membuatku semakin salting.
Untung aja ini cuma audio. Gumamku memberikan emot ketawa.
"Kak kenapa roomnya dikunci segala?" Tanyaku berusaha mencari topik.
"Karna Aku cuma mau berduaan sama masa depanku." Jawabnya yang membuatku salah mencari topik yang malah digombal lagi dan lagi.
"Idih!apaan sih kak." Jawabku.
"Ana dah pernah pacaran gak?" Tanya Simon mengulangi pertanyaan yang belum ku jawab.
"Belum." Jawabku.
"Pacaran yuk!" Ajaknya yang membuatku terdiam membatu. "Naaa!" Panggilnya membuatku tersadar.
"Ya!" Jawabku spontan.
"Jadi ya."
"Eh!Bukan!" Seruku.
"Oh kamu nolak aku." Ucap Simon.
"Bukan."
"terima nih!" Godanya padaku yang sudah gelagapan masuk dalam jebakan buaya.
Ya Simon Andreas adalah salah satu buaya yang terdampar diAudioroom.
🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒🍁🍒
Sebelum akhirnya aku mengembalikan kembali nama akun kesemula Aku gak sengaja melihat Simon memiliki couplean di room. Keduanya menggunakan AVA couplean seperti user-user yang memiliki pacar virtual di AR.
Panggilan masuk by wa dari Simon berdering di meja belajarku. Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih membalut rambut panjangku yang basah.
"Halo kak!" Menjawab panggilan Simon.
"Ngapain?" Tanyanya.
"Baru selesai mandi." Jawabku duduk didepan cermin menarik handuk dari rambutku.
"Malam banget mandinya." Ucapnya membuatku melirik jam weker dimeja menujukkan pukul 20.00.
"Iya." Jawabku.
"Emang seharian ngapain aja?" Tanyanya dengan nada sedikit kesal yang membuatku tersenyum.
"Baru pulang les kak." Jawabku.
"Oh."
"Kak Simon gak on air?" Tanyaku.
"Enggak."
"Kenapa?" Tanyaku. "Tumben banget." Ucapku lagi sambil mengeringkan rambut dengan hairdryer.
"Gak ada kamu disana." Ucapnya membuatku mematikan hairdryer.
Sejak Simon mengajak untuk berpacaran Aku gak pernah ke roomnya lagi. Bukan hanya roomnya Aku bahkan berhenti bermain keroom. Tak ada jawaban dari aku untuk Simon. Namun Simon selalu mengirim chatt yang aku balas dengan dingin.
"Naa!" Panggilnya.
"Ya."
"Aku serius sama kamu." Ucapnya membuatku merasa bersalah karna bersikap dingin.
"Serius apaan." Ucapku. "Aku aja gak tahu muka kak Simon gimana." Ucapku.
"Yaudah Vc sekarang!" Ucapnya.
"Rambutku berantakan." Jawabku ketus.
"Gak pa-pa." Bujuknya lembut.
Beberapa menit setelah ia berhasil membujukku akhirnya kami video call. Pertama kalinya bagi kami berdua untuk saling melihat wajah satu sama lain.
"Cantik." Pujinya padaku yang dengan rambut berantakan.
"Bohong " balasku melihat Simon yang benar-benar tampan. Ia bahkan punya lesung pipi yang terlihat ketika ia tersenyum padaku yang memayunkan bibir dengan wajah cemberut.
Pantesan aja banyak user-user itu menggilai anak ini. Gumamku yang perlahan tersenyum padanya.
"Lulus SMA kuliah dijawa ya!" Ucapnya.
"Supaya apa?" Tanyaku.
"Biar bisa jalan samaku." Jawabnya membuatku menundukkan wajah menutupi pipiku yang merona. "Sayang lihat aku!" Panggilnya.
"Buaya." Sahutku melihatnya.
"Kalau kamu terima aku. Aku bakal berhenti jadi buaya." Ucapnya.
"Lanjut jadi komodo." Balasku diteruskan dengan menjulurkan lidah mengejek Simon.
"Jesika Anastasya mau gak jadi pacar Simon Andreas ini?" Tanya Simon menembakku untuk kedua kalinya.
"Gimana dengan couplean Kak Simon diroom?" Tanyaku.
"Mulai besok Aku gak couplean sama siapapun." Jawabnya.
"Kadal." Jawabku membuat Simon tertawa.
"Kamu lama-lama minta dicium ya." Ucap Simon yang ku balas dengan menjulurkan lidah mengejeknya.
"Terus cewek Kak Simon di real life gimana?" Tanyaku setelah mengejeknya.
"Aku gak punya cewek direal life." Ucapnya yang mendekatkan wajahnya dilayar hape membuatku melihat jelas lesung pipinya yang dalam.
"Playboy." Jawabku membuatnya tertawa.
"Benaran." Ucapnya meyakinkanku. "Di sekolah ada jalur undangan kan?!" Tanyanya.
"Ada."
"Pilih UGM ya sayang." Ucapnya. "Biar kita bisa ketemu." Sambungnya lagi membuat tanpa sadar menganggukkan kepala.
"Kamu terima aku kan?!" Tanyanya lagi memastikan.
"Iya." Jawabku.
"Aku gak dengar." Ucapnya menggodaku.
"Yaudah." Ucapku kesal bercampur senang.
"Kurang satu tahun lagi kita ketemuan ya sayang." Ucap Simon.
"Iya." Jawabku yang akhirnya menerima Simon host idolaku jadi pacar Virtualku.
Sejak malam itu dan seterusnya aku berpacaran dengan Simon.
Aku tahu hubungan virtual tak bisa menjamin kelanggengan suatu hubungan. Namun disini Aku tidak ingin melewatkan kesempatan yang datang. Kesempatan berpacaran dengan idolaku.
"Semangat belajarnya sayang." Ucap Simon. "Love you." Ucapnya setiap kali mengakhiri telpon dan chatt.
Love you juga pacar Virtualku. Gumamku dalam hati setiap membacanya.
🍁🍁🍁
Jangan lupa like,komen,dan Share❤️❤️❤️
#AkuBerpacarandenganIdola