#Aku Berpacaran Dengan Idola
***
Rinai hujan kembali menyapa senja hari ini, dinginnya menentramkan jiwa yang rapuh. Aku masih berharap, mentari tak bersinar lagi selamanya. Namun, semua itu tak akan mungkin terjadi.
Aku tak menyukai rembulan. Karena kemunculannya, membuat senja memudar termakan pekatnya malam.
****
Terkadang, mimpi hanyalah bunga tidur semata. Namun, tidak semua beranggapan seperti itu. Pun dengan Devaka, meyakini bahwa kesuksesan berawal dari impian.
Devaka Seinna adalah seorang gadis dengan tinggi 158 CM. Penyuka senja dan pantai. Karena baginya, warna jingga begitu menentramkan hati dan jiwa yang kesepian.
Gadis malang itu, harus merasakan pahitnya kehidupan saat masih berusia tujuh tahun. Kematian orang tuanya, membuat ia harus menerima takdir. Keadaan itu mengharuskannya untuk tetap bertahan hidup.
Devaka terpaksa mandiri sebelum waktunya, tinggal bersama paman dan kelima anaknya yang masih terbilang kecil.
Paman Handi adalah adik dari ibu Devaka. Seorang duda, memang tak pernah membedakan kasih sayangnya. Pekerja keras, ia tak ingin kelima anaknya putus sekolah, pun dengan bertambahnya anggota baru, Devaka. Membuat Handi lebih keras lagi dalam mencari nafkah.
Hingga suatu hari, saat usia Devaka baru menginjak angka 15 tahun, dengan terpaksa ia harus berhenti sekolah. Dikarenakan pamannya telah berpulang menyusul istri dan kedua orang tua Devaka. Kelima anaknya, diasuh oleh keluarga dari mendiang istrinya.
Devaka menjadi kehilangan arah, jiwanya terguncang, seperti terlepas dari raga. Semua dunianya terasa gelap, ia tak tau ke mana dirinya harus mengambil arah. Waktu terus berjalan, tak ada pilihan selain mencari kerja. Devaka remaja pun mencoba untuk tetap bertahan hidup, hatinya begitu hancur tak berbentuk. Kehilangan panutan, membuat ia semakin menguatkan diri.
Tuhan tak pernah meninggalkannya, Devaka melangkah ke sebuah toko kosmetik, memberanikan diri untuk melamar pekerjaan. Tentu saja dengan usia yang terbilang belum cukup dewasa, sulit untuk diterima bekerja. Namun, dengan semangat yang tinggi, ia mampu membuktikan kepada pemilik toko itu. Bahwa, ia pun bisa diandalkan.
Sudah berulang kali ia ditolak oleh pemilik toko, dengan alasan masih terlalu dini untuk memperkerjakan sebagai pesuruh.
Namun, langkahnya terhenti pada satu toko kosmetik terakhir yang ada di sekitar itu. Perlahan, ia pun menceritakan semua tentang hidupnya yang begitu malang. Merasa iba, Burhan dan Via—pemilik toko kosmetik—menerimanya untuk bekerja dengannya. Mereka pun mengajak Devaka untuk dapat tinggal bersamanya. Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa mereka begitu akrab layaknya sebuah keluarga.
Devaka malang yang rindu akan kasih sayang dan sosok orang tua, terlengkapi oleh kasih dari Burhan dan juga Via. Pun sebaliknya, mereka yang tidak memiliki anak pun merasa bahagia dan bersyukur atas hadirnya Devaka Seinna.
Selama tiga tahun menjadi karyawan teladan. Rupanya membuat Burhan dan Via, ingin mengadopsi Devaka untuk menjadi anak angkatnya. Dua puluh tahun menikah, mereka tak memiliki buah hati. Betapa rencana Tuhan begitu indah untuk Devaka.
“Dev, apa kamu mau menjadi anak Om dan Tante?” tanya Via pada Devaka yang tengah mencatat stok barang.
“Maksud Tante, apa?” Devaka menghentikan kegiatannya sesaat, hatinya berdebar mendengar ucapan Via tadi.
“Kamu tau, ‘kan? Om dan Tante sudah lama menikah, tapi ... Tuhan belum mempercayai kami,” ucapnya lirih.
“Kami sudah menyayangimu, Nak. Biarkan kami menjadi orang tua sambungmu,” imbuhnya kembali.
Air mata tak mampu ia tahan, bagi Devaka itu adalah hadiah terindah dari Sang Pencipta. Mereka saling memeluk satu sama lain, meluapkan kerinduan yang sulit diartikan dengan kata.
Malamnya, Burhan dan Via merayakan pengangkatan anak dengan mengundang semua karyawan tokonya. Semua terlihat bahagia. Tak lupa, mereka mengurus berkas untuk memasukkan nama Devaka ke dalam kartu keluarga.
“Wah, selamat, ya.” Mereka yang hadir mengucapkan selamat kepada Devaka.
****
Kini, toko kosmetik itu telah diserahkan sepenuhnya kepada Devaka. Terbukti, usaha mereka berkembang pesat dan memiliki anak cabang di seluruh kota. Meski hanya orang tua angkat, Burhan dan Via begitu menyayangi Devaka layaknya orang tua kandung. Pun sebaliknya.
Kesuksesan akan datang bagi mereka yang mempunyai semangat juang yang tinggi, niat, usaha dan doa. Bukan mereka yang malas bekerja.
Hari berganti bulan, waktu berputar begitu cepat. Kini, Devaka tumbuh menjadi wanita dewasa yang sukses. Meski hanya tamatan SMP, ia mampu bersaing dengan mereka yang bersekolah tinggi. Devaka telah terbiasa mengelola bisnis kosmetik dan menghabiskan masa remajanya digunakan dengan sebaik-baiknya.
Burhan dan Via, selalu saja mendorong Devaka untuk segera berumah tangga. Mereka tak ingin, anak kesayangannya menjadi perawan tua.
“Devaka, apa kamu gak ingin menikah? Sudah waktunya kamu memikirkan pendamping hidup, Nak.” Via seperti biasa, selalu menyinggung soal itu. Bahkan, ia selalu menjodohkan dengan anak temannya.
“Bu, sudah berapa kali kita membahas soal ini, ‘kan? Aku ingin membalas kebaikan bapak dan ibu dulu, kalian begitu berjasa dalam kehidupanku, Bu.” Devaka memeluknya seperti biasa.
“Tapi, ibu dan bapak juga ingin menggendong cucu, Nak. Umur manusia tidak ada yang tau, ibu gak ingin jika sampai meninggal nanti, belum mempunyai cucu ....” Devaka mendengus kasar dan sedikit mendorong tubuh Via. Kesal. Mendengar ucapan ibunya seperti itu.
“Ibuuu !!!” pekik Devaka sambil mengatupkan mulut membentuk kerucut. Namun, ibunya malah terkekeh melihat tingkah gadis itu.
“Bu, jika saatnya Tuhan memberikan jodoh terbaiknya untuk aku, pasti ia akan datang sendiri tanpa harus dicari,” sambung Devaka kembali.
“Umurmu sudah 21 tahun, ibu takut jika nanti tidak ada yang merawatmu.”
“Ibu ini kenapa, sih? Aku ingin membalas budi yang telah kalian berikan selama ini,”
“Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk kami, terbukti usaha kita semakin berkembang, ‘kan? Itu sudah cukup untuk kami, hanya memilikimu aja membuat ibu dan bapak bahagia.”
Devaka hanya mampu memberikan senyuman pada ibunya. Meski hatinya begitu ragu untuk mengikuti saran tersebut.
Hari ini, Devaka sengaja meluangkan waktu untuk orang tuanya. Memasak dan bercanda bersama, hal yang tak pernah dilakukan dengan orang tua kandungnya. Ya, mereka terlingat sangat bahagia.
“Pak, lihat deh. Anak kita sekarang sudah dewasa, ya?” Burhan memeluk bahu Via, sedangkan Devaka hanya memandangi mereka dengan perasaan haru.
“Iya, anak kita tumbuh menjadi gadis yang cantik. Devaka, bapak ingin melihatmu lebih bahagia dari ini, Nak.” Lagi, selalu saja itu yang dibahas. Devaka merasa seperti seorang wanita yang tak laku saja. Demi membalas budi, Devaka pun menuruti saran ibunya meski dengan hati yang terpaksa.
“Dev ngalah, deh. Akan Dev coba, untuk dekat dengan Yanuar.” Devaka mendekati kedua orang tuanya dan memeluk mereka dengan manja.
Baginya, hanya itu satu-satunya cara berbakti dan membalas semua kebaikan dari mereka. Ia berharap, hatinya akan terbuka untuk Yanuar.
Yanuar Wijaya. Adalah seorang pemuda tampan yang telah lama mengagumi Devaka. Kedua orang tua Yanuar, berteman baik dengan Burhan dan Via.
Tito dan Lisa, orang tua Yanuar. Selalu meminta kepada Burhan dan Via untuk menjodohkan anaknya dengan Devaka. Tentu saja, hal itu disambut baik oleh orang tua Devaka. Mereka yakin, pilihannya tidak salah. Siapa yang tak menyukai gadis cantik, seperti Devaka?
“Bener, ya? Kali ini, kamu gak akan menghindari Yanuar lagi, kan?” Dengan hati-hati, Via melontarkan sebuah tanya pada Devaka.
“Iya, nanti kasihan si Yanuar kamu PHP-in,” sambung Burhan.
“Ihh, bapak sama ibu ini, loh.” Devaka mencubit pelan kedua orang tuanya itu. Detik kemudian, mereka tertawa bersama.
***
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Yanuar memberanikan diri untuk mendekati Devaka. Gadis incarannya selama ini.
“Hai, sudah lama, ya?” sapa Yanuar.
Sebelumnya, mereka sudah janjian untuk bertemu di sebuah cafe tak jauh dari toko Devaka.
“Gak, kok. Baru setengah jam gue nunggu loe,” jawab Devaka dengan acuh. Merasa bersalah, Yanuar menjadi gugup.
“Maaf, ya. Tadi macet di jalan,” ucap Yanuar yang masih berdiri di samping meja.
“Ya sudah, duduk sono!”
“Kok, kasar banget, sih, bicaranya?”
“Kenapa? Gak suka? Sebenarnya gue pun terpaksa menerima perjodohan ini,” timpal Devaka. Ucapannya membuat Yanuar sedikit kecewa.
Bagaimana mungkin, gadis lembut dan baik hati itu, bisa melontarkan kata-kata kasar seperti tadi padanya. Meski ragu, ia pun duduk dan saling diam hingga beberapa menit.
“Lagian, loe, kok, mau aja dijodohkan?”
“Aku menyimpan rasa untukmu, Dev. Sejak pertama kali kita bertemu wkatu itu.” Yanuar mencoba untuk menahan kekecewaannya.
“Tapi gue ga suka sama loe.”
“Cinta datang seiring waktu, Dev. Aku yakin, hatimu akan terbuka untukku.”
“Jangan merasa yakin, jujur ... gue ingin menolak perjodohan ini. Tolong, jangan buat hati loe terluka.”
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Apa kamu sudah memiliki seseorang yang spesial?”
“Gak ada. Gue gak tertarik untuk menikah, sebelum gue bisa membalas semua kebaikan orang tua gue.”
“Aku paham, Dev. Aku juga gak akan memaksa kamu untuk cinta sama aku, biarkan waktu yang membuka hatimu aja.”
“Untuk apa buang-buang waktu? Lebih baik, loe cari calon istri aja. Gue lakukan ini, hanya untuk orang tua gue seneng aja.”
“Maaf, apa kamu gak mau merubah gaya bicaramu?”
“Maksud loe apa nyuruh-nyuruh gue?”
“Gak ada, jangan salah paham dulu, Dev.”
“Terus apa? Denger, ya! Jangan berharap terlalu jauh tentang hubungan ini.”
“Dev, kenapa kamu begitu kasar, sih?”
“Inilah gue apa adanya! Kalau gak suka, silahkan putuskan hubungan ini.” Devaka meninggalkan Yanuar sendiri di cafe tersebut. Ia terpaksa melakukan hal itu, agar Yanuar dapat menolak perjodohan mereka. Namun, disisi lain, Yanuar begitu berharap pada perjodohan tersebut. Baginya, Devaka adalah jodoh terbaik dari Tuhan.
Ya, Yanuar begitu mencintai Devaka selama ini. Bahkan, sebelum Devaka diangkat menjadi anak oleh Burhan dan Via. Yanuar adalah teman sekolah Devaka, mereka berbeda kelas saat itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali, saat Yanuar sedang mengantarkan ibunya berbelanja di toko kosmetik milik Via. Saat itu, Devaka baru saja menjadi karyawan di sana. Setelah tau gadis pujaannya bekerja di toko itu, Yanuar sering kali berpura-pura berbelanja hingga beberapa kali. Semua itu ia lakukan demi dapat melihat wajah Devaka.
_____
Yanuar masih duduk di cafe, hatinya begitu tersayat atas perlakuan gadis pujaannya barusan. Namun, ia tak dapat menyalahkan sikap Devaka sepenuhnya. Yanuar tak tau, jika itu dilakukan dengan sangat terpaksa oleh Dev.
Yanuar menimbang kembali keputusan yang akan ia pilih. Tetap mempertahankan Devaka, ataukah harus melepaskan cintanya pada gadis itu.
Yanuar memutuskan untuk kembali pulang, menenangkan hatinya yang tengah gundah.
***
“Gimana, Dev?” tanya Via kepada Devaka yang baru saja sampai.
“Tadi kami bermain ice skating, bu,” ucapnya berbohong. Ia tak ingin menceritakan hal yang sebenarnya.
“Yanuar itu anak baik-baik, dia setia, loh.” Via membelai lembut kepala Dev. Seketika Devaka merasakan perih tanpa sebab.
“I-iiya, dia baik. Sopan,” jawabnya kemudian.
Ada rasa bersalah menyelimuti benaknya. Tak seharusnya ia melakukan seperti tadi, sikapnya terlalu kasar pada Yanuar. Namun, ia pun tak ingin membuat pria itu terlalu berharap padanya.
“Gimana kalau nanti malam, kita undang mereka makan malam?”
“Ah? Kan, tadi Dev sudah bertemu dengan Yanuar, bu? Kok, disuruh dateng lagi ke sini?”
“Ya, gak apa-apa. Biar makin akrab.”
“Tapi, bu?” Devaka mencoba menolak, tetapi ibunya telah lebih dulu menelepon ibunya Yanuar.
Devaka membantu ibunya menyiapkan menu untuk nanti malam, tentu saja dengan hati yang terpaksa. Ia tak ingin memberi harapan pada mereka semua, menolak pun adalah hal tersulit baginya.
“Dev, coba kamu telepon Yanuar, gih.”
“Untuk apa, bu?”
“Loh, kok, pake nanya untuk apa?”
“Hehe, Dev gak mengerti maksud ucapan ibu.”
“Tanyakan dia, sudah sampai di mana, gitu.”
“Ohh, iya, bu.” Lagi, dengan sangat terpaksa ia pun menelepon Yanuar.
****
[Dev, kita bisa bicara sebentar]” Pesan masuk yang dikirim oleh Yanuar kepada Devaka. Lama ia abaikan, hingga akhirnya ia pun membalasnya.
[Ada apa?] balasan Devaka langsung dibalas kembali oleh Yanuar. Sedangkan gadis itu butuh waktu beberapa saat.
[Aku memang sangat berharap padamu. Bahkan, aku begitu mencintaimu sejak dulu. Akan tetapi, aku juga gak ingin mengikat kebebasanmu. Ya, kamu benar Dev, gak seharusnya aku menerima perjodohan ini.]
Ada rasa sesak di hati Devaka saat membaca balasan dari Yanuar. Sikapnya, telah membuat seseorang terluka.
[Aku akan mencintaimu dari jauh, seperti yang kulakukan selama ini. Aku akan berdoa kepada Tuhan, agar suatu saat nanti, hatimu akan terbuka meski entah kapan.]
Pesan dari Yanuar kembali masuk ke dalam ponsel Devaka, tanpa disadari ... butiran bening telah merambat sempurna menyapu wajahnya.
Hati Devaka begitu tersayat perih, ia merasakan kerongkongannya pun seperti tercekat. Sakit. Devaka begitu ragu, antara ingin membalas untuk sekedar menjelaskan yang terjadi, ataukah mengabaikan pesan dari Yanuar. Agar pemuda benar-benar berhenti sampai di sini saja.
[Maaf.]
Devaka mengirimkan pesan singkat itu. Ia meluapkan segala rasa yang ada di hatinya. Entah sejak kapan, ia mempunyai rasa yang sama terhadap Yanuar.
[Tidak. Kamu tidak salah, aku yang seharusnya tau diri. Maafkan aku, ya, jika cintaku telah membuatmu terbebani.] Pesan masuk dari Yanuar pun hanya dibaca saja oleh Devaka, tanpa berniat untuk membalasnya.
***
“Yanuar, kamu kenapa?” tanya ibunya. Yanuar segara menghapus air mata yang sempat terjatuh.
“Ah, ibu. Ngagetin aja, deh.” Yanuar berusaha menutupi perubahan pada hatinya.
“Kok, keliatan sedih gitu?”
“Ma, gimana kalo perjodohan itu, kita batalkan aja?”
“Loh, kenapa memangnya? Kamu gak suka sama Dev? Dia gadis cantik dan anak yang berbakti, loh. Ibu sudsh terlanjur sayang sama dia, pokoknya ibu gak setuju!”
“Tapi, bu?” Ibunya menolak tegas, membuatnya begitu dilema.
Ia tak ingin melihat gadis yang ia cintai terpaksa menerima perjodohan itu, disisi lain, ia tak ingin mengecewakan orang tuanya.
***
“Dev, hari ini tolong anter ini, ya.” Via menyerahkan sebuah bungkusan kepada Devaka.
“Anter ke mana, bu?”
“Ke rumah Yanuar, tolong berikan untuk Tante Lisa, ya.”
Deg!
Seketika membuat Devaka salah tingkah, saat mendengar nama ibunya Yanuar disebut.
“Kan, ada jasa ojek online, bu?” Devaka mencoba menolak secara halus.
“Sekalian main ke sana, dong. Masa’ calon mantu gak mau kenal dekat dengan mertuanya?”
____
“Yanuar, tolong ini kamu anter ke rumah Tante Via, ya. Sekalian, ajak si Devaka ke sini, ya,” titah ibunya.
“Aduh, bu. Yanuar lagi gak enak badan, suruh ojek aja, ya?” ucapnya menolak.
“Loh, sakit apa? Tadi kamu sehat-sehat aja, deh?”
“Ya, namanya sakit, kan, dadakan?”
“Ya sudah, biar ibu aja yang anter deh. Kamu istirahat aja, awas main handphone terus.”
___
Di saat yang bersamaan, Devaka tengah bersiap ke rumah Yanuar. Sesampainya di rumah itu, Devaka bergeming untuk sesaat. Hatinya tak karuan. Gugup.
Ting Tong!
Yanuar membukakan pintu, ia tak menyadari jika yang bertamu adalah Devaka.
“Loh, Devaka?”
“Hai, i-ii-iya ....”
“Silahkan masuk, tapi ibu baru aja ke rumahmu.”
“Hah? Oh, iya. Ini, ada titipan untuk ibumu.” Mereka terlihat salah tingkah dan canggung.
“Makasi, ya.” Yanuar mencoba bersikap biasa saja, meski jauh di dalam hatinya ia menyimpan cinta yang menggebu.
“Itu—“
“Itu—“
Mereka berbicara saling bertabrakan, lalu tertawa bersama.
“Yanuar, maafin aku, ya.”
“Untuk apa? Eh, tunggu. Aku? Kamu bilang aku?” godanya. Membuat pipi Devaka merona merah.
“Apaan, sih?!”
“Sudah, lupain aja. Tentang perjodohan itu, secepatnya akan aku usahakan,”
“Jangan! Emm, maksudku, biarkan aja. Aku gak ingin melihat kekecewaan di wajah orang tuaku.”
“Benarkah? Apakah kamu mau memberiku kesempatan?” tanya Yanuar girang, tanpa sadar ia telah menggenggam jemari Devaka.
Devaka mengangguk pelan, ia pun salah tingkah.
***
Hari semakin cepat berganti, membuat Devaka dan Yanuar begitu akrab. Yanuar banyak bercerita, bagaimana ia bisa jatuh hati kepadanya. Awalnya, Devaka begitu terkejut mendengar pengakuan dari pemuda itu. Ia pun bahagia memiliki calon suami seperti Yanuar. Pun sebaliknya.
Yanuar menyimpan cinta selama bertahun-tahun lamanya, ia yakin bahwa Tuhan akan memberikan Devaka sebagai jodoh terbaik untuknya.
Hingga akhirnya, mereka pun menentukan tanggal pernikahan. Betapa bahagianya orang tua Devaka, melihat anaknya bersanding dengan pria yang tepat.
Devaka menangis haru, ia teringat akan kedua orang tua kandung dan pamannya yang telah tiada. Kadang, menangis adalah jalan terbaik di saat hati merasakan sakit dan terluka.
“Kenapa menangis?” tanya Yanuar. Ia terlihat begitu tampan menggunakan jas hitamnya.
“Aku rindu orang tua kandungku, pamanku, dan teringat betapa bodohnya aku, jika sampai menolak perjodohan ini.”
“Terima kasih, ya, Sayang. Aku janji, akan selalu membuatmu tersenyum bahagia.” Yanuar mengecup kening Devaka.