Awalnya aku pikir dengan melihatnya bahagia saja sudah cukup ternyata diriku menjadi egois ingin memilikinya. Dahulu saat kami bertemu tak sengaja di taman kota, gadis cantik dengan dress berwarna putih sambil memegang sebuah balon berwarna merah. Ia terlihat berjalan bersama kedua orangtuanya, begitupun dengan ku.
Kemudian ternya gadis balon itu menjadi tetangga baru ku. Ia terlihat bermain sendirian tanpa kusadari aku menghampirinya. Dengan senyum manisnya ia menyapaku dan memperkenalkan namanya, setelah itu kami sering bermain bersama. Pergi ke taman, bermain petak umpet bahkan aku pernah menemaninya bermain boneka berbie.
Seiring beranjak dewasa ia semakin menawan dan tak hanya aku temannya.
" Rey Mahardhika "
Di sana kulihat gadis balon ku berlari ke arahku.
" Main pergi aja siihhh, Lynn kan lagi ngobrol tadi, bukannya di tungguin."
Gadis itu terlihat mengatur nafasnya yang tersengal akibat berlari.
" Aku kira kamu masih sibuk."
" Aku kan udah janji mau pulang bareng kamu, ayo."
Lihatlah kini malah dia yang lebih semangat.
" Kita mampir makan siang dulu ya di Restoran biasa."
Ucap Lynn begitu masuk ke dalam mobil dan memasang satbletnya .
Tangan nya kini tengah memilih lagu yang akan di putar. Sudah tidak asing lagi, jika suatu pagi kalian menemukan Lynn tidur di kamarku. Karena entah sejak kapan dia menguasai rumahku dan kedua orang tua ku juga sudah mengganggap nya seberti anaknya sendiri.
Lagu Stephanie Poetry - I Love You 3000, mengalun dari Radio yang di putar. Lynn bersenandung riang mengikuti lirik lagu tersebut.
" Rey juga ikut nyanyi."
" Nggak kamu aja." Dia menatap sebal ke arahku yang masih fokus menyetir.
" Kenapa suara nya jelek ya ?, Padahalkan kita dulu sering nyanyi bareng tau ."
" Itu kan dulu waktu kita masih SD."
" Mau dulu atau sekarang juga kan sama aja dan menurutku suara kamu itu lumayan gk jelek-jelek amat."
" Udah kamu aja yang nyanyi sana aku lagi nyetir ."
" Ayo sedikit aja nyanyi nya ." Kini Lynn memasang wajah memelasnya yang terlihat imut.
" Please, Reyyy..."
Ck, aku tidak bisa menolak.
" Oke."
Dengan girang ia bersorak gembira, lihatlah kini dia bukan lagi anak kecil tapi sudah tingkat 3 SMA. Lynn mematikan radio dengan khitmat menunggu sahabatnya Rey bernyanyi.
Seketika Lynn tersenyum sambil menutup matanya ia menikmati alunan nada yang Rey nyanyikan, sahabtnya ternyata mempunyai suara yang bagus tapi ia tidak pernah bernyanyi untuknya. Andai Lynn tahu bahwa jika bukan permintaan darinya, Rey tidak akan mau bernyanyi. Berterimakasih lah bawa ia adalah satu-satunya gadis yang membuat Rey luluh.
" Suara kamu bagus tau!!!." Piuji Lynn setelah lagu yang dinyanyikan terhenti. Sontak Rey merasa senang mendengar pujian itu.
" Terimakasih."
" Itu judul lagu nya apa?."
" The Sun - Ardhito Pramono."
" Cerita lagu nya tentang apa?."
" Cari tahu sendiri." Lynn mendengus sebal.
" Males tau." jawabnya.
" Itukan lagunya pake bahasa Inggris, makanya Lynn kalau pelajaran Mr. Deon jangan suka tidur."
Lynn memang tidak menyukai pelajaran bahasa Inggris, menurutnya sangat membosankan ketika harus menghafalkan Verb dan yang lainnya.
" Kan ada Rey yang jadi kamus berjalan nya aku."
Setelah itu hening, Rey tidak membalas perkataan Lynn, bisa-bisa mereka berdebat panjang lebar sebelum akhirnya Rey lah yang harus mengalah.
" Itu salah satu lagu favorit aku Lynn."
Lynn mengalihkan perhatian nya pada Rey yang kini tengah mengemudi di sampingnya, mengalihkan perhatian sejenak pada handphone nya yang kini tengah membuka aplikasi Instagram.
Rey menatap Lynn yang kini tengah menatapnya beberapa detik, kedua manik mata mereka bertemu sebelum itu Rey memutuskan kembali menatap ke arah jalan.
Beberapa saat kemudian mereka sampai ke sebuah Restoran yang terkenal akan interiornya yang astetic dan menu makanan yang enak dan sesuai dengan harga pelajar, tak heran Restoran yang berdiri di pusat kota ini selalu ramai oleh pengunjung terutama anak sekolah.
Di sela acara makan siang nya Lynn bercerita mengenai teman di club paduan suara nya. Tak heran karena Lynn sangat suka bernyanyi dan juga suaranya yang merdu membuat nya bisa ikut bergabung dengan club Padua suara.
" Rey tau nggak, akhir - akhir ini aku selalu dapet surat dari penggemar rahasia." Ceritanya dengan serius sambil memakan makanannya.
" Bukan nya kamu memang punya banyak pengemar yang mengirim kan mu surat ."
Memang Lynn cukup populer di sekolahnya dengan wajah cantik dan menawan nya, apalagi ia murah senyum dan pandai bergaul dengan teman sebaya nya. Membuat terkadang aku terlupakan olehnya.
" Tapi beda, yang ini dia itu nempelin kelopak bunga di suratnya cantik banget deh pokoknya, kreatif gitu."
Rey hanya mengangguk saja mendengar cerita Lynn.
" Dia hampir tiap hari ngasih surat habis itu warna amplop surat nya beda per harinya, begitu juga bunga nya pasti di sesuai kan dengan warna amplop yang dia kasih."
" Kurang kerjaan banget tuhh orang."
" Ihh dia itu kreatif tau."
" Cepat makan nya habis itu kita pulang."
Rey sudah menghabiskan makanannya sedangkan Lynn baru setengahnya karena ia dari tadi sibuk berceloteh ria.
Mana bisa aku menggapaimu Lynn, terlalu banyak orang yang menyukaimu. Dengan banyak kekurangan yang ku miliki tak bisa sepadan bersanding dengan mu.
Rey Mahardhika sebenarnya memiliki paras yang tampan, namun ia pendiam dan tidak suka bersosialisasi, ia memang termasuk dalam murid terpintar di sekolah. Namun dengan ucapannya yang tajam dan pedas membuat ia di segani. Tatapan wajahnya yang tajam membuat ia dijauhi beberapa orang. Kesehariannya hanya di perpustakaan, Rey bahkan tidak mengikuti ekstrakurikuler. Ditambah lagi tak sedikit orang yang membencinya dan mengganggap ia sombong.
" Rey Lihat ada surat ini lagi."
Keesokan harinya saat di sekolah, Rey melihat sekilas ke arah Lynn, setelah itu kembali fokus pada bukunya.
" Kamu nggak lihat siapa yang kirim suratnya ?."
Tanya Lynn kepada sahabatnya yang selalu datang pertama di kelas.
" Tidak."
Hanya sebuah surat bisa membuatnya bahagia.
" Oh iya Rey hari ini aku nggak bisa pulang bareng kamu."
Pasti karena ekstrakurikuler nya atau tidak dia pergi bermain bersama teman - temannya.
" Kamu tau Azzam, itu cowok yang aku suka. Dia ngajak aku jalan-jalan sepulang sekolah."
Azzam
Aku ingat satu nama itu yang sering ia banggakan, sosok yang sempurna bagi Lynn. Entah kenapa ia bisa sangat menyukai pria itu tetapi bukan hanya dia tapi hampir seluruh orang menyukai peragainya yang baik dan supel.
Apalagi sudah 2 Minggu ini dia dekat dengan Lynn, itu tidak heran lagi jika kini ia lebih banyak waktu dengan Azzam atau bisa saja hubungan mereka semakin berkembang lagi.
Banyak hal yang mengganggu pikiran ku saat ini, salah satunya ini, sebuah amplop dengan logo salah satu Universitas ternama di Australia. Aku di terima berkuliah disana. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Lynn sendirian di sini, ia adalah ke khawatiran terbesarku. Terdengar seperti sebuah alasan saja, sebuah pembelaan terhadap diri sendiri.
" Rey!!!."
Ini masih pagi tetapi suaranya membuatku tegang seketika, Lynn pagi ini sudah berada di kamarku, dia tidak memberitahu kedatangan nya tetapi bukannya sudah biasa dia bersikap seperti itu.
Ketika baru saja kembali dari dapur, Lynn berada di sana di kamarku terduduk dengan tangan nya memegang sebuah amplop. Sial sekali harusnya semalam aku langsung menyimpannya di tempat yang aman agar Lynn tidak menemukan amplop itu.
Dari mana aku harus menjelaskan tentang isi amplop tersebut. Dasar Rey ceroboh.
Oke mau aku sembunyikan pun pasti suatu hari akan terbongkar juga.
" Biar aku jelaskan."
Lynn terlihat serius, ku rasa sudah terlalu banyak yang ku rahasiakan dari nya.
" Mengenai amplop dengan logo universitas itu, aku hanya mencoba daftar dan mengikuti tes dan prosedurnya dan ya ternyata aku di terima."
" Lalu kamu akan pergi ?."
Tanya nya terlihat sendu.
" Tidak." Karena semalam aku sudah memutuskan.
" Lalu tentang amplop yang ini."
" Akan ku jelaskan, kamu pasti sudah membaca isinya bukan, sudah tertulis jelas bahwa aku menyukai mu." Jelasku.
Sebuah amplop surat yang kini berwarna merah dengan bunga mawar yang ku tempel di sana.
" Kenapa tidak bilang ?."
" Aku sudah ungkapkan di sana."
" Maksudku kenapa kamu tidak bilang kalau kamu penggemar rahasia ku yang ku kagumi karena surat mu ini, aku seperti di bodohi, bagaimana bisa kamu bersikap santai dan cuek saat aku bercerita tentang penggemar rahasia yang ternyata kamu sendiri. "
Dia tertawa tapi tak sampai pada mata indahnya. Lynn terlihat sedih.
" Harusnya kamu tau....."
Kini ia menatapku tajam
" Itu tulisan ku Lynn. kita teman sebangku juga kita sudah berteman lama."
" Harusnya kamu bisa mengenali tulisan ku Rei."
Lynn terdiam seketika kristal bening meleleh menyusuri pipinya.
Kenapa aku harus menjadi alasan mu kali ini menangis Lynn.
Mengapa kamu tidak menyadarinya bahwa itu tulisan ku. Uncap Rey dalam hati.
Mengapa aku tidak mengenali bahwa tulisan dan kata - kata di surat itu adalah dirimu Rey. Ungkap Lynn dalam hati.
Mereka seperti menyadari bahwa ternyata selama ini, mereka terlalu sibuk dengan diri sendiri, Lynn yang mulai melupakan sahabatnya Rey, karena bertemu banyak teman baru dan mulai pandai bergaul dengan orang lain selain Rey dan sang sahabat Rey yang memilih diam tak bisa menggungkapkan apa yang ia rasakan. Membiarkannya terpendam di hati. Mereka harus kembali belajar menata hati dan memahami satu sama lain, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi dan kembali dari awal.
Namun nyatan nya setelah seminggu berlalu sejak penjelasan terakhir itu, Lynn meninggalkan Rey di kamar sendirian tanpa sepatah kata pun terlontar dan mereka berjauhan.
Rey masih mengirimkan amplop surat seperti biasa. Namun Lynn tidak membacanya kembali. Semua suratnya masih ada di dalam laci meja Lynn, tidak tersentuh.
Mereka masih menjadi teman sebangku walaupun tanpa intraksi seperti biasanya. Dalam seminggu hanya di liputi keheningan.
Beberapa hari kemudian Lynn datang ke sekolah dengan tangan kanan nya yang dibalut gips. Lynn terkejut dia khawatir namun memilih melawan egonya yang ingin menanyakan kabar Rey.
Entahlah kenapa ia merasa marah dan kecewa setelah tahu bahwa sang pengirim surat adalah Rey. Bukannya dulu ia ingin bertemu dengan sang pengirim surat, tetapi kini ia malah menjauhi Rey.
Kini ia tidak bisa menulis surat lagi, tangan kanan nya tidak dapat di gerakan karena terbalut gips. Kemarin sepulang sekolah ia tidak sengaja terserempet motor.
Ku pikir Lynn akan khawatir. Ternyata tidak. Biasanya dulu dia akan jadi orang yang cerewet jika aku terluka. Sayangnya itu masa lalu, kini gadis balonku pasti sangat membenciku, salahku sendiri karena menjadi pengecut. Cuma menggungkapkan rasa suka saja ke orang yang di cintai susah banget sampe harus lewat surat segala.
" Rey kamu lagi berantem sama Lynn."
Tanya Bunda. Tiba - tiba ia masuk kedalam kamarku ketika aku tengah fokus membaca buku.
" Bunda perhatikan dia udah seminggu nggak kesini."
" Dia lagi sibuk sama Ekstrakurikuler nya."
"Masa siihhh padahal kalaupun sibuk dia pasti sesekali nyempetin waktu ke sini."
" Dia sekarang kan udah punya pacar jadi lebih banyak ngabisin waktu berdua."
Rumor yang beredar di sekolah saat ini adalah itu. Tidak heran beberapa kali kedapatan melihat Lynn tertawa bersama Azzam dan lebih ceria bersamanya.
Entahlah kini aku malah lebih sering memperhatikan nya dan memikirkannya bahkan dulu pun begitu.
" Kalau kamu, kapan punya pacar atau jangan-jangan kamu suka sama Lynn ya."
" Bunda aku lagi sibuk jangan ganggu."
Kenapa perkataannya tepat sekali.
" Baiklah, Bunda juga mau pergi ke rumah teman lama bunda, jadi kamu jaga rumah ya."
Lima Tahun kemudian
" Tunggu!!!!."
" Kebiasaan deh selalu pergi ninggalin."
" Kamu kan tadi lagi ngobrol sama temen kamu."
" Ya kan bisa dintungguin sebentar, aku kan cuma bertegur sapa doang sama Riska."
Waktu kini telah banyak berlalu bahkan seseorang telah banyak berubah. Seorang gadis kini tengah menggandeng tangan seorang pria dengan erat, terlihat dari pancaran mata sang pria penuh dengan kebahagiaan. Wanita pujaan nya kini tengah tersenyum manis.
Mereka berdua melangkah beriringan, hari ini cuaca tidak terlalu panas sehingga tidak menyengat kulit. Sang wanita terlihat cantik dengan balutan Dress putih nya terlihat seperti seorang bidadari. Begitu cantik dan mempesona. Bahkan dari dulu dia sudah mempesona.
Seorang pria tak hentinya mengagumi sosok itu, yaitu Lynn wanita yang kini ia cintai sedari dulu. Mereka akan menikah besok.
Sungguh hari yang sangat ia tunggu-tunggu, hari bahagia bagi Lynn dan dirinya.
" Hai... Aku kangen banget tau sama kamu." Ucap Lynn.
" Terimakasih karena sudah mencintaiku, rasanya bahagia bisa di cintai oleh mu. "
" Kamu selalu mempunyai tempat di hatiku "
"kali ini aku mau bilang, besok aku mau menikah. "
" Dia sosok pria yang amat mencintai ku, walaupun banyak masalah yang datang, dia tetap tidak goyah, dia tetap memusatkan perhatiannya padaku. Bahkan di masa tersulit ku."
" Dia tetap di samping ku, menggenggam erat tangan ku."
" Dia mencintaiku walaupun tahu bahwa di hatiku hanya dirimu."
" Tapi Kini aku sudah bahagia."
Tanpa sadar Lynn kembali meneteskan air matanya, entah sudah yang ke berapa kalinya. Ia masih lemah jika menyangkut tentang nya.
Tangannya di genggaman erat. Lynn tersenyum ke arah pria itu.
" Dia orang yang akan menikah dengan ku besok, kamu pasti mengenalinya, karena aku pernah menceritakan nya padamu."
Lynn mengusap sebuah batu nisan. Ia terlihat rapuh.
Sosok yang ia cintai kini sudah pergi, raganya telah pergi namun cintanya masih tersimpan di relung hati terdalam.
Lynn menghapus air matanya berusaha mengukir senyum. Setelah kepergiannya membuat Lynn hancur.
Beberapa tahun lalu suatu kejadian merenggut nyawa orang yang ia sayangi.
Di malam yang sunyi terjadi sebuah kebakaran besar menghanguskan sebagian rumah. Untung saja tim pemadam dengan sigap dapat memadamkan api yang menjalar.
Saat itu Rey menggunci kamarnya dan kembali fokus membaca buku setelah Bundanya pamit pergi ke rumah teman.
Namun karena terlalu terburu-buru sampai lupa bahwa ia tengah memanggang kue di oven. Terjadi kebocoran pada tabung gas sehingga menyebabkan kebakaran.
Rey saat itu tertidur setelah membaca buku tak menyadari, ketika asap sudah melewati pintu barulah ia menyadarinya, karena tangan kanan nya yang di balut gips meyulitkannya membuka pintu.
Setelah keluar, api sudah membumbung tinggi melalap sebagian rumah. Setelah itu ia pingsan karena terlalu banyak menghirup asap.
Rey sempat di larikan ke rumah sakit, ia berhasil tertolong dari kobaran api oleh para anggota pemadam kebakaran.
Namun keadaan nya sangat kritis setelah beberapa jam ia menghembuskan napas terakhir nya.
Rey tak tertolong.
Sejak malam itu Lynn selalu menyalahkan dirinya sendiri. Bunda nya juga bahkan seluruh orang mulai menyalakan diri akan musibah itu.
Takdir Tuhan tidak ada yang tahu bukan. Akhirnya kita harus mengiklankan kepergian nya.
Hidup Lynn seketika berhenti , ia terlambat menyadari bahwa sebenarnya ia juga memilika rasa yang sama terhadap Rey, namun takdir memisahkan mereka di dunia ini.
Sosok yang tak pernah pergi dari Lynn, seorang pria yang menguatkan dirinya meyakinkan bahwa hidupnya harus berlanjut dengan mengiklaskan semuanya karena takdir sudah di atur kita hanya mengikuti peran sebelum berakhir, Azzam pria itu selalu ada di samping Lynn.
Setelah pemakaman, Lynn kembali membaca surat pemberian Rey, sahabatnya Riska hari itu mengantarkan surat yang menumpuk di laci Lynn setelah beberapa hari tidak sekolah.
Lynn mulai membaca surat itu satu persatu.
' Maaf Lynn'
' Kamu masih marah padaku ?'
' Harusnya aku langsung bilang sama kamu, nggak usah pake surat. Tapi Lynn aku selalu takut kamu bakal menjauh dariku jika kamu tahu tetang perasaan ku '
' Lynn hari ini aku kangen kamu '
' Maaf pasti selama ini kamu serasa di bohongi sama aku '
' Kalau kamu sudah tidak marah bagaimana jika kita pergi ke taman kota, seperti dulu, aku selalu menunggu mu di sini '
' You know to me you're like the sun
You spread your warmth to everyone
I can Not Fett You off my mind
Neither to call you mine '
Lynn kini tahu seberapa dalam rasa sukanya Rey.
Surat terakhir nya sebelum ia tidak dapat kembali menulis surat untuk Lynn, bahkan selamanya tak akan ada kiriman surat darinya.
Lynn tersenyum manis ke arah gundukan tanah, di bawah sana terkubur raga sahabatnya.
" Terimakasih Rey sudah mencintaiku sedalam itu, semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama lagi. "
" Aku akan selalu bahagia Rey."
Lynn menggandeng tangan Azzam pergi meninggalkan area pemakaman, semilir angir terasa menerpa menjatuhkan beberapa helai daun berguguran.
Sekali lagi Lynn menoleh ke belakang seolah-olah sosok Rey ada di sana menatapnya tersenyum.
Surat terakhir yang Rey tuliskan kembali terngiang.
' kamu tahu bagiku kamu seperti matahari
Kamu menyebarkan kehagatanmu kesemua orang
Aku tidak bisa menghilangkanmu dari pikiranku
juga untuk memanggil mu milikku '
" Terimakasih Rey sudah hadir di hidupku."
Tamat