Hai, aku Raina. Aku duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan. Aku siswa yang tergolong biasa saja. Tidak terlalu pintar dan tidak terlalu bodoh. Tidak kaya dan tidak terlalu miskin. Cukup orang yang sederhana.
Hmm...
Aku mempunyai teman, dia bernama Raisa. Dia lebih pendek dari tinggi ku. Dia manis. Kulitnya berwarna kuning langsat. Dia mempunyai keahlian dalam membuat kaligrafi. Dia lebih pintar dariku. aku sering kali meminta bantuannya dalam mengerjakan pekerjaan rumah.
Siatu hari, Aku diberi tugas oleh bapak wali kelas untuk membuat daftar keuangan di toko peralatan sekolah. Aku baru pertama kali diberi tugas seperti itu. Aku takut salah jika langsung membuat nya, maka aku pun memberi tahu raisa bahwa aku diberi tugas oleh wali kelas. Aku meminta bantuan untuk mengerjakannya, Raisa dengan senang hati pun membantu ku. Awalnya aku dan raisa menemui guruku untuk bertanya, seperti apa seharusnya daftar keuangan peralatan yang ada di sekolah. Guruku pun memberi tahu bagaimana seharusnya, raisa dan akupun paham.
Sepulang dari itu, kamipun membuat daftar keuangan. Tempat mengerjakannya di rumah raisa, karena memang sudah biasa aku selalu main atau apapun di rumah nya. Ibunya pun sangat baik, menganggapku sebagaimana anaknya. skip. Tugas pun selesai dengan baik.
jam menunjukan pukul 4 sore, dan akupun pamit pulang.
sepulang dari rumah raisa, aku di tanya oleh ibuku kenapa aku pulang telat ke rumah. Akupun menjawab nya dengan sejujurnya. Bahwa aku diberi tugas oleh bapak wali kelas untuk mengerjakan daftar keuangan peralatan, dan aku kerjakan di rumah raisa. Ibuku pun paham, dan tidak marah sebab pulang. Karena, aku tidak main kemana-mana hanya di rumah raisa. Itupun mengerjakan tugas.
Di lain waktu, di rumahku sedang terdapat masalah. Aku bingung ingin bercerita dengan siapa, bahkan aku sampai melamun di kelas. Tidak fokus belajar, bahkan hampir menangis di kelas. Raisa yang menyadari aku berbeda dari biasanya pun langsung merangkulku. Menanyakan apa yang terjadi. Tapi aku hanya diam.
sepulang sekolah, Aku diajak raisa untuk kerumahnya. Akupun langsung diajak ke kamarnya. Di kamar, aku ditanyai mengapa aku sampai sering melamun dan tidak fokus belajar. Dari situ, aku langsung menangis, Raisa pun memelukku dan menenangkan ku.
Sesudah tenang, aku berbicara tentang masalah yang terjadi di rumah. Raisa dengan sabar mendengarkan ku dengan baik, memberiku saran agar tidak terlalu memikirkan hal yang terjadi di rumah. Akupun langsung memeluk raisa dan berterima kasih selalu ada dalam suka dan duka ku. Setelah itu aku pun pulang ke rumahku.
Sesampainya di rumah, rumah sudah seperti sedia kala. Tidak ada pertengkaran lagi. Benar kata raisa, di rumah pasti sudah baik-baik saja.
Beberapa bulan kemudian, ada laki-laki yang dekat denganku. Menurutku dia baik, dan juga....tampan. Aku meminta pendapat kepada Raisa bagaimana tentang laki-laki yang dekat denganku. Raisa pun memberikan jawaban hal positif. Dia juga mewanti-wanti agar aku hati-hati dengan laki-laki, entah yang sekarang sedang dekat denganku atau laki-laki yang akan datang nantinya. Akupun paham dan berterima kasih kepada raisa. Dia selalu bisa membuat aku manjadi seseorang yang lebih baik, dia selalu ada, dan pengertian. Aku rasa, dia bukan hanya teman, tetapi sahabat. Semoga Aku dan Raisa bisa menjadi SAHABAT SEJATIKU selamanya.
maaf yaa, cerita yang aku buat tidak ada percakapan. Hanya cerita biasa. Aku juga penulis baru.
vote ceritanya ya, kasih kritik juga buat bisa menjadi lebih baik, dan follow yaa😁😊 .