Aku masih tidak menyangka Arga akan meninggalkan kami, teman-temannya secepat ini. Baru semalam kami bertemu di sebuah cafe saling berbagi canda. Dia juga sempat mengecup keningku sebagai tanda kasih seorang teman.
Melihat ibunya terus menangis di hari pemakamannya membuat hatiku begitu sakit. Aku menggenggam erat tangan sahabatku, Siska, menahan air mataku untuk tidak terus mengalir deras.
Hari ini kami semua hanya ijin keluar pada mata pelajaran ke lima. Setelah ini aku dan empat teman lainnya harus segera kembali ke sekolah. Tak lupa berpamitan dengan ibu Arga, yang semakin menangis melihat kami. Mengingatkannya pada putra bungsunya.
Arga meninggal karena dipukul menggunakan linggis oleh seseorang yang tidak dikenal setelah pulang dari cafe semalam. Hal itu terekam oleh CCTV salah satu perempatan arah menuju rumahnya. Walau memiliki bukti tetapi polisi belum bisa menemukan siapa pelakunya.
Sesampainya di sekolah kembali, tidak ada dari kami semua yang bisa fokus ke pelajaran yang sedang berlangsung. Sakit sekali rasanya kami yang biasanya berlima sekarang hanya bisa berempat tanpa Arga.
Keesokannya ketika aku berharap cukupkanlah kesedihan kami, ternyata Tuhan berkehendak lain. Aku, Siska, dan Dimas harus menghadiri pemakaman lagi. Ryan meninggal kemarin sore setelah pulang sekolah di depan rumahnya. Kejadiannya terekam kamera CCTV perumahan, seseorang menusuk badan Ryan tujuh kali di area perut. Orang ini menggunakan kendaraan yang sama dengan seseorang yang menyerang Arga kemarin lusa.
Aku bergidik ngeri mendengar penjelasan pihak kepolisian. Aku tidak mengerti alasan apa orang ini membunuh teman-temanku. Polisi berasumsi hal ini masih akan terus berlanjut. Apakah hal ini akan berhenti setelah kami semua meninggal di tangan pemotor itu? Pikiranku kacau.
Polisi meminta kesaksian kami dari awal kasus Arga hingga kasus Ryan. Polisi menghimbau tidak sebaiknya kami pergi sendirian untuk waktu ini. Pemotor itu masih menjadi buronan. Kami tidak tau apa saja yang buronan itu bisa lakukan kepada kami.
Siska tiba-tiba menggenggam tanganku erat. “Nam, biar aku yang mengantarmu pulang. Aku akan menjagamu.”
Aku menepuk pelan tangannya. “Aku bisa pulang dengan Dani. Aku sudah memanggilnya kemari. Lebih baik kamu pulang dengan Dimas, itu akan lebih aman bukan untukmu.”
Aku melepaskan genggamannya perlahan, tapi aku merasa genggamannya malah semakin erat. Raut wajahnya menjadi aneh, aku tidak paham apa artinya itu. Aku menengok ke arah Dimas. Dia terlihat sama tidak mengertinya denganku. Siska terlihat marah.
“Benar apa kata Namira, lebih baik kau denganku.” Dimas menyentuh lengan Siska, namun Siska malah menepis kasar tangan Dimas. Dia benar-benar marah sekarang.
Aku dan Dimas mulai menjaga jarak dari Siska. Ini bukan seperti Siska yang biasa aku kenal. Siska menunduk lalu tertawa. Perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kami sambil tersenyum manis.
“Kamu takut Nam?” Dia berubah terlihat khawatir melihatku.
Dia mencoba untuk menyentuhku, tapi aku terus menjauh dan memeluk erat lengan Dimas yang juga mulai berusaha melindungiku dari Siska yang terlihat berbeda. Siska terlihat sangat tidak suka melihatnya. Aku ingin meminta bantuan siapa saja, tetapi semua orang sedang berada di luar termasuk polisi.
Tiba-tiba seseorang datang sambil memanggil namaku, dia Dani. Terlambat untuk melarangnya masuk. Siska sudah mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam sakunya dan mengarahkannya ke leher Dani.
Dani hanya bisa diam tidak berkutik. Kami semua hanya bisa meminta Siska untuk tetap tenang. Semua hal pasti bisa dibicarakan dengan baik bukan. Siska tertawa mendengarnya. “Tenang kalian bilang? Aku sudah tenang lebih dari satu tahun tetapi kalian sendiri yang menyulut amarahku.”
“Menyulut amarahmu? Apa yang membuatmu semarah ini? Siska kumohon jangan seperti ini, kami sungguh tidak mengerti.” Aku terus memohon kepad Siska. Dani terlihat sangat terkejut, dia tidak memiliki ide apapun yang harus ia lakukan sekarang terhadap Siska.
“Namira sayangku, kau begitu polos sayang hingga tak sanggup memahami aku sahabatmu?” Dia tertawa kembali. “Bukankah aku sudah cukup baik, karna aku tau kamu menyukai Dani, jadi aku tidak melakukan apapun pada lalat kecil ini.” Ia membelai pipi Dani menggunakan pisau.
Pikiranku melayang. Mengingat kejadian-kejadian apa saja yang terjadi sebelum kedua temanku meninggal. Aku mengumpat dalam hati.
“Apa kau sudah mengerti sayang?” Dia tiba-tiba berteriak. “LABA-LABA SIALAN ITU TELAH BERANI MENCIUM KENINGMU! JIKA AKU SAJA TIDAK BISA MELAKUKANNYA MAKA TIDAK ADA ORANG LAIN YANG BOLEH MELAKUKANNYA JUGA!!”
“Jadi pemotor itu? Kau Siska?” Dimas bertanya tak percaya.
Untuk kesekian kalinya Siska tetawa, tetapi itu malah semakin membuatku ngeri mendengarnya. “Sebenarnya aku ingin, tapi aku begitu lelah malam itu. Lelah melihat kecantikan Nam malam itu.” Dia tersenyum ke arahku seperti seorang penggoda.
“Ryan? Apa itu juga ada kaitannya denganku?” Aku sungguh takut sekarang.
“Sungguh sebenarnya aku ingin menyongkel saja langsung mata kecoa menjijikan itu. Kau tau? Matanya tidak pernah lepas dari kamu sayang. Ahh aku sungguh cemburu. Tidak tidak, cantikmu hanya untukku.” Aku bergetar hebat mendengarnya. Aku menjadi alasan konyol kedua teman baikku meregang nyawa. Dan sekarang pacarku berada di tangan otak pembunuhan itu.
“Untuk satu ini aku sungguh baik bukan? Aku mampu bersaing dengan orang yang menyukaimu, tetapi tidak dengan orang yang kau sukai. Walau sebenarnya aku ingin sekali menggambar pada wajah tampannya ini.” Tiba-tiba Siska menyayatkan pisaunya pada pipi kanan Dani.
Aku berteriak keras saat itu juga dan menangis melihatnya. Dimas semakin erat memelukku dan itu membuat Siska ikut berteriak marah. “JAUHKAN TANGAN KOTORMU DARI NAMIRAKU!!”
Dimas reflek melepaskan tangannya. Dia juga takut bernasib sama dengan teman-teman yang lain. “Cup cup... Kumohon jangan menangis sayang, aku tidak bisa melihatmu menangis seperti ini.” Siska membujukku, tapi itu terasa menjijikkan untukku.
Aku semakin keras menangis, lalu tiba-tiba Siska menusukkan pisau itu ke kedua bola matanya dan berteriak keras. Dani segera melepaskan diri ke arahku dan Dimas lalu memelukku erat yang berteriak keras melihat Siska berlumuran darahnya sendiri.
Polisi yang mendengarnya datang, tetapi terlambat. Seseorang terlebih dahulu datang dari balik jendela dan membawa Siska pergi sambil terus memanggil namaku.
Malam itu kami menginap di rumah sakit dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian. Hingga seorang polisi datang dan meminta kami bertiga untuk pergi bersamanya. Kami diantar ke sebuah rumah kecil. Ini rumah Siska.
Di dalam rumah itu polisi menemukan sebuah ruangan yang penuh dengan fotoku dan hal-hal aneh lainnya. Seperti sebuah ruang pemujaan. Terdapat banyak tulisan-tulisan aneh serta tulang belulang manusia entah milik siapa. Terdapat juga linggis serta pisau yang masih berlumuran darah Arga dan Ryan.
Di garasi ditemukan motor milik Siska yang ia gunakan untuk menghabisi kedua temanku itu.
Kesimpulan sementara dari pihak kepolisian penyebab kematian Arga dan Ryan adalah obsesi Siska kepadaku yang berlebihan hingga menganggapku sebagai miliknya pribadi. Siska menjadi buronan bersama dengan seseorang yang membawanya pergi.