Suara langkah kaki terdengar sangat nyaring. Dengan suara nya yang khas, gadis rambut sepanjang bahu berteriak di depan rumah dengan sangat ceria.
" Chikaa!! Ayo berangkat sekolah!! "
Gadis itu berteriak sangat kencang dan bersemangat. Sempoyongan aku berjalan keluar dari rumah ku, haahh dasar Rika. Aku tersenyum menyeramkan ke arah nya.
" Rika, ini masih jam 5.30 lho, masih pagi... tetangga bisa marah karena kamu "
Ucap ku yang masih mengenakan baju tidur. Dengan lugu dan wajah tanpa dosa nya, dia hanya tertawa terbahak- bahak.
Ehem, namaku Chika yang masih duduk di bangku 2 SMA. Gadis yang berteriak itu adalah teman ku, Rika. Aku masih punya satu teman lagi sih.
Chika : " Haahh, kenapa ngak bangunin Vivi saja "
Ucap ku sambil menggaruk kepala. Vivi teman dekat sekaligus tetangga ku, kenapa anak dajj... ah maksud ku Rika tidak membangunkan Vivi yang rumah nya sebelahan dengan ku. Setidak nya aku masih bisa tidur beberapa menit lagi -_-
Rika : " Tuh orang nya udah ku panggil, cepet ganti baju sana dah pagi "
Pagi apanya!? Bahkan ayam pun masih malas berkokok saat jam segini💢
Tak lama gadis berambut panjang terurai datang dengan wajah yang sangat berantakan menghampiri kami. Vivi si gadis kalem hanya bisa menuruti perkataan Rika.
Chika : " RIKA, KAMU APAKAN VIVI!? " *kaget
Vivi : " Satai saja Chi, no problem " *masih ngantuk
Inilah keseharian ku saat ada teman- teman ku. Hahahaha, teman- teman yang membuat ku kerepotan, tertawa, dan menangis bersama. Aku berharap kisah ku dengan 2 teman ku akan bertahan sampai kita dewasa, bahkan sampai menikah dan punya anak pun tidak masalah, hahaha.
Chika, Vivi, dan Rika berteman sejak mereka masih kelas 1 SD. Pertemanan yang sangat erat bukan?
Namun, masalah terjadi tanpa kita sadari. Rika anak yang periang berubah menjadi pendiam. Aku dan Vivi beberapa kali bertanya apa yang terjadi, menghibur nya, dan mencoba cara agar Rika kembali seperti dulu. Setidak nya, kita ingin tau apa yang terjadi dengan anak ini.
Hanya ada senyum pahit dari dirinya.
Chika : " Rika, ada apa? "
Ucap ku khawatir dengan Rika. Namun Rika hanya menggelengkan kepala nya. Aku dan Vivi hanya menghela nafas dan menunggu waktu agar Rika berbicara tentang masalah nya. Bel berbunyi, menandakan waktu istirahat telah usai. Kami bertiga kembali ke kelas.
Tak lama wali kelas kami datang membawa siswa di belakang nya. Laki- laki dengan topi merah yang membuat wajah nya tidak terlihat jelas, membuat kesan col pada dirinya. Sentak seluruh murid di kelas terkejut dan saling berbisik. Awal nya aku tidak peduli, namun tak lama siswa itu membuka topi dan memperkenal kan diri nya.
Harry, nama anak itu. Karena ibu nya dari Inggris, Harry mempunyai mata biru yang cantik. Tanpa sengaja mata kami bertemu, dengan malu aku memalingkan wajah ku. Dia hanya tersenyum kecil ke arah ku. Ayolah aku ini masih SMA, seharus nya aku tidak boleh memiliki perasaan ini///
Bel berbunyi, waktunya istirahat. Harry sempat melihat ku dan tersenyum manis. Astaga, tolong jangan lakukan itu kesembarangan gadis///
Dengan wajah merah, aku menemui Rika yang sedang duduk di bangku Vivi. Tunggu, kenapa Vivi juga menundukan kepalanya!? Aku tau dia pemalu namun di sekitar sini hanya ada aku dan Rika. Tidak biasanya dia seperti ini.
Chika : " Hei, ada apa ni sama anak manis ini, jangan- jangan kamu juga suka sama Harry ya kayak cewek- cewek lain nya " *goda
Tak lama wajah nya menjadi merah padam. Tunggu, jangan- jangan...
Chika : " Vivi beneran suka sama Harry ya!? " *kaget
Vivi : " Ssttt, jangan kenceng- kenceng "
Ucap Vivi menutup mulut ku dengan wajah yang tidak henti- henti nya memerah. Tak kusangka gadis pendiam ini bisa membuka hati nya untuk orang lain. Yah sepertinya aku harus mengalah demi sahabat ku. *senyum
Namun, ternyata itu sulit bagi ku. Harry selalu saja mengikuti ku, ini membuat ku tidak nyaman.
Chika : " Harry, kamu boleh bertanya ke anak lain. Atau ke Vivi "
Ucap ku yang ingin mendekatkan Vivi dengan Harry.
Harry : " Aku hanya ingin bertanya, jika tidak boleh aku akan pergi "
Dengan wajah memelas membuat ku tidak tega meninggalkan nya. Haah, baiklah sekali ini saja.
Chika : " Nomer mana yang sulit bagimu? "
Ucap ku setengah tidak peduli. Senyum ceria ada di diri Harry, aku tidak menyangka dia sesenang itu.
Harry : " Soal nomer 9 "
Namun karena diriku pertemanan kami retak tanpa kita sadari. Lama kelamaan Vivi berusaha menolak ajakan dari ku. Seperti bermain, nonton bersama, bahkan di kantin pun meja kami berjahuan.
Rika : " Apa kalian bertengkar? "
Ucap Rika dengan wajah pucat. Keadaan nya membuat ku khawatir.
Chika : " Sepertinya ini salahku, tapi yang lebih penting kenapa dengan mu Rika? Wajah mu nampak pucat, kau tidak apa- apa? "
Rika hanya tersenyum dan menggelengkan kepala nya. Hah, dasar *senyum
Hari demi hari kami lalui dengan saling berdiam diri. Bahkan sekarang Rika selalu menghindar dari kami, cih sebenar nya ada masalah apa dengan hubungan pertemanan ini. Aku sudah tidak tahan.
Chika : " Vi, ikut aku di belakang sekolah! "
Vivi : " Tapi, aku... "
Brakk!
Chika : " Tanpa ada penolakan!! "
Ucap ku mendobrak meja sangat keras saking kesal nya.
Vivi hanya mengangguk mengiyakan. Dimana Rika? Aku juga ingin berbicara dengan nya. Sudahlah, aku akan mencari nya nanti.
Di belakang sekolah, kami hanya menatap satu sama lain.
Chika : " Kenapa kau selalu menghindari ku? "
Vivi : " Aku... hanya... "
Huftt, ayo selesaikan masalah ini Chika.
Chika : " Apa karena pria bernama Harry? "
Vivi : " Apa? Tentu tidak, aku hanya... "
Jika tidak apa alasan nya bodoh.
Vivi : " Berikan aku waktu... "
Ucap Vivi yang langsung berlari meninggalkan Chika.
Jika bukan karena Harry, terus karena apa? Hiss, jika kalian ingin menghilangkan pertemanan ini, terserah kalian saja.
Ucap Chika dengan kesal dan kembali ke kelas nya. Namun tanpa sengaja ia melihat Rika yang ada di depan pagar sekolah.
Chika : " Rika, kamu sedang ap... "
Belum juga Chika melanjutkan kalimat nya, ia melihat tangan dan mulut Rika di penuhi dengan noda darah.
Chika : " RIKA!? K..kenapa... " *bergetar
Rika : " Ssttt, tenanglah aku tidak apa- apa "
Ucap Rika yang masih tersenyum.
Chika : " Apa nya yang tidak apa- apa bodoh!? Lebih baik kita segera ke UKS "
Dengan cepat Chika membawa Rika ke UKS. Namun Rika menyuruh Chika untuk berhenti sejenak, ia mengambil tisu di saku nya untuk membersihkan noda darah tersebut.
Chika : " Sejak kapan kau... " *sedih
Rika : " Hahaha, tenanglah ... maaf aku tidak menceritakan nya ke kalian berdua. "
Ucap Rika yang masih membersihkan noda darah.
Chika : " Cih, kita akan bicarakan nanti. Kita bertiga! "
Rika : " Yah sudah ketahuan sih, oke deh nanti aku ceritakan "
Dalam kondisi seperti ini pun dia masih bisa bercanda💢
Sesudahnya, perawat hanya menyarankan Rika untuk beristirahat. Tak sesekali pula perawat menyarankan untuk memanggil orang tua/ wali Rika, namun ia menolak.
Perawat : " Apa kamu ngak mau istirahat di rumah saja "
Ucap perawat dengan khawatir. Rika hanya menggelengkan kepala nya.
Tak lama kemudian Vivi yang sudah mendengar keadaan Rika langsung menghampiri nya di ruang UKS.
Vivi : " Hosh ... apa yang... hah " *terengah
Chika : " Tenang dan duduk dulu💧 "
Perawat membiarkan kami bertiga untuk berbicara. Karena kelelahan Vivi mengambil soda di tas nya.
Rika : " Mau dong, hehehe "
Chika dan Vivi : " NGAK BOLEH! "
Rika : " Yeee, pelit aku juga ingin mencoba nya" *memelas
Vivi : " Orang sakit tidak boleh minum sembarangan tau, minum teh mu saja sana💢"
Rika : " Iya iya "
Tak beberapa lama, kami semua hanya diam tidak berkutip. Namun tak lama Vivi membuka suaranya.
Vivi : " Sekitar 2 bulan lagi aku akan pindah ke luar kota karena kerjaan ayah ku "
Sentak aku dan Rika terkejut.
Chika : " Apa? Kukira kau marah dan diam karena Harry selalu menempel dengan ku "
Rika : " Benar aku juga berpikir begitu "
Vivi : " Tidak bodoh, aku suka dengan nya namun aku bukan cewek seperti itu💧 "
Toh aku juga tau jika Harry lebih menyukai sahabat ku Chika ketimbang aku. *pikir Vivi
Rika : " Jadi... kita akan berpisah? "
Ucap Rika sedih. Dengan berat hati Vivi hanya mengangguk mengiyakan.
Chika : " Aku tidak menyangka masalah nya serumit ini "
Kami diam beberapa menit, kemudian Rika membuka suaranya.
Rika : " Aku selalu menghindari kalian karena aku takut kalian tau tentang penyakit ku. Setiap jam istirahat aku selalu ke kamar mandi agar aku tidak ketahuan, aku juga berusaha selalu berangkat sekolah agar sebelum aku pergi kalian sudah baikan dan tertawa bersama "
Air mata keluar tanpa kami sadari. Pergi? Apa maksudnya!?
Vivi : " Penyakit apa yang kau maksud? "
Ucap Vivi dengan air mata membasahi pipi nya.
Rika : " Eee, kanker mungkin. Eeh kalian jangan khawatir, aku bisa sembuh. Beneran "
Chika : " Berapa persen? "
Rika : " Itu... hahaha kita lihat saja nanti "
Kami hanya menangis tanpa bersuara. Rika berkali- kali pula menghibur kami agar tidak menangis. Namun usaha nya sia- sia.
Rika : " Ayolah aku tidak ingin melihat kalian menangis. Tersenyum lah "
Bahkan Rika yang tidak berdaya masih saja menghibur kami. Lihat senyuman nya yang seperti tidak ada beban itu. Kenapa selama ini kami tidak pernah saling jujur? Ini kan... gunanya sahabat, tapi tetap saja jika kebenaran itu menyakitkan kami semua hanya bisa bungkam tanpa menceritakan nya.
Air mata ku tak berhenti mengalir. Kenapa... kenapa kita tidak saling jujur saja sih.
Chika : " Aku mau minta maaf, seharusnya aku peka dengan keadaan mu, tapi... aku "
Vivi : " Aku juga... maaf, aku selalu melarikan diri "
Aku dan Vivi hanya menunduk, dengan senyum ceria Rika mengatakan.
Rika : " Ayolah dimana 2 teman ku yang sangat bar- bar? Jangan pikirkan masalah itu lagi ^-^ "
Kami bertiga berpelukan dan menenangkan satu sama lain. Tak lama dengan paksaan ku dan Vivi, kami menyuruh Rika agar pulang terlebih dahulu.
Vivi : " Kau harus istirahat! "
Rika : " Tapi💧 "
Chika : " Sssttt ssttt sttt, turuti saja perintah kami "
Beberapa hari sudah kami lalui. Vivi dan aku sudah tidak sedekat lagi seperti dulu, dan Rika? Aku mendengar dia sedang ada di rumah sakit. Aku dan Vivi juga berkali- kali menjenguk teman kami ini.
Walau tidak tahan jika salah satu teman kami berbaring lemah di atas kasur rumah sakit, kami hanya bisa tersenyum agar Rika tetap semangat dalam menjalani pengobatan nya.
2 bulan sudah lewat begitu saja. Sesuai ucapan Vivi, keluarga nya pindah ke luar kota. Sedangkan Rika, aku tidak diperbolehkan bertemu dengan nya. Beberapa bulan kemudian aku mendengar Rika juga pindah ke Singapura. Dengan keluarga nya yang berkecukupan, aku tidak kaget. Namun apakah... pertemanan kami akan berakhir?
Dua tahun kemudian, aku masih menjadi pelajar dan kuliah di dekat rumah ku. Pertemanan tidak menjadi masalah karena aku orang yang supel. Hari demi hari aku lewati. Dan siapa sangka aku berpacaran dengan Harry, teman SMA ku.
Di taman aku sedang mengerjakan tugas ku bersama dengan Harry. Tanggal 16 April ya, ini kan hari ulang tahun Rika, hahaha.
Harry : " Kenapa tertawa? Ada yang lucu... sayang? "
Chika : " Hoek, aku masih belum terbiasa dengan panggilan itu -_- "
Aku dan Harry hanya tertawa. Namun tak lama ada nomer tidak dikenal menelepon ku, siapa?
Chika : " Halo "
Vivi : " Ah halo, ini Chika kan? "
Chika : " Vivi!? Hei bodoh, baru sekarang kau menghubungi ku "
Vivi : " Hahaha maaf, btw Chi kau dapat pesan dari seseorang ngak? "
Pesan? Kemudian aku mengecek hp ku, ternyata benar ada pesan tidak di kenal. Di sana tertulis...
" Hai teman- teman ini aku, jika kalian membaca pesan ini berarti aku sudah tidak ada. Ah jika kalian ingin menemui ku, aku ada di jalan **** kok. Aku tunggu kalian disana "
Ini... ngak mungkin Rika kan?
Chika : " Vi, kita kesana bareng yuk " *khawatir
Vivi : " Aku sih oke saja, 3 hari lagi aku otw nanti jemput aku di bandara "
Chika : " Oke "
Kami khawatir karena alamat yang dikirim merupakan alamat TPU. Jika benar... his kita ingin memastikan nya.
Sesuai yang di janjikan, kami ada di tempat pemakaman. Aku dan Vivi sudah menyiapkan diri dan hati jika apa yang kami duga benar ada nya.
Kami melihat pemakaman dengan tanah yang masih basah. Kami menghampiri pemakaman tersebut. Di sana tertulis...
" Rika Ayu Putri "
... Nama teman kami tertulis di sana. Sentak aku dan Vivi hanya menangis dalam diam. Dengan senyuman, aku mengucapkan.
Chika : " Lihatlah bodoh, kami sudah ada di depan mu. Kami berdua bahagia, seperti harapan bodoh mu itu "
Ucap ku yang masih menangis.
Vivi : " Hahaha, dia meninggalkan kita secepat ini "
Ucap Vivi mengelus batu nisan milik Rika. Aku dan Vivi saling memeluk dan beberapa kali menaburkan bunga di atas pemakaman nya.
Walau sebelum kami datang sudah mempersiapkan diri, namun kami tetap saja tidak bisa menahan air mata kami.
" Selamat tinggal... teman "
Walau dia sudah pergi, namun aku yakin jika Rika akan terus melihat kami dari atas sana. Bahkan hari kematian nya bertepatan dengan hari ulang tahun nya, perasaan kami campur aduk.
Chika : " Hei Vi, kau harus bersikap baik denganku, sama seperti apa yang di perintahkan Rika " *senyum
Vivi : " Seharusnya aku yang bilang begitu " *tertawa
Rika... apakah kami sudah mengabulkan permintaan mu? Jika sudah tersenyum lah bersama, dan jangan lagi menyembunyikan apapun dari kami... jangan lagi.
Vivi : " Hei ngomong- ngomong gimana kabar Harry? Aku dengar belum lama ini kalian jadian, bagi pj dong "
Ejek Vivi ke Chika. Tak sesekali ia menyenggol Chika yang tersipu malu.
Chika : " Apakah kita harus membahas ini di sini?/// "
Vivi : " Tentu saja, aku dan Rika ingin mendengar nya "
Chika : " Astaga, sekarang kau bisa mengejek seseorang ya "
Ucap ku sambil tertawa. Yah, kau sudah pergi, namun kau terasa dekat dengan kami Rika. Semoga kau tenang di alam sana. Kami berdua akan selalu mendoakan mu, menatap bintang di langit malam sambil membayangkan kau ada di antara salah satu dari beribu bintang. Intinya... tersenyum lah sahabat.
.
.
.
( Sori kalo ceritanya gaje, jangan lupa like and komentar... bye bye🖐🏻 )