Semua berawal dari perkenalan kami di sebuah mini market, sebelumnya aku sudah sering melihat dia, namun entah kenapa saat itu kami tiba-tiba menjadi kenal, yang hanya dari sebatas perkenalan nama dan berlanjut sering ngobrol bareng dan kemudian saling bertukar nomor hand phone. Dari situ kisah kami di mulai.
Namaku Olivia, dan sahabatku itu namanya Rokie dia adalah satu-satunya teman cowokku yang paling care. Suatu hari aku pergi dari rumah seperti biasa aku menghubungi Rokie untuk menjemputku ke rumah.
"Halo kie, kamu di mana bisa jemput aku nggak?" Tanyaku saat itu.
"Oke tunggu ya." Jawabnya.
tak berapa lama menunggu, aku pun mendengar suara deru mesin motor. Sudah pasti itu Rokie, tebakku saat itu. Aku bergegas mengambil tas slempangku dan menuju pintu depan dan ku lihat Dia tersenyum padaku sementara aku terus menangis sambil menghampirinya.
"Hiks..hiks.. Kie tolong bawa aku pergi sekarang."
"Kamu kenapa nangis Oliv?" Tanyanya terkejut saat melihat raut wajahku yang sudah sembab.
"Nanti saja aku jelasinnya, bawa aku pergi dulu." Pintaku saat itu.
Tak banyak berkata lagi, Rokie pun menancap gas motornya dan membawaku pergi dari halaman rumah. Sepanjang perjalanan itu aku terus menangis teringat kejadian yang tadi aku lihat. Sementara Rokie memasang wajah penasarannya, aku melihatnya dari balik kaca spion motornya. Tapi aku tak mempedulikannya aku terus menangis saat itu.
Setibanya di tempat tujuan, kami duduk di sebuah bangku kosong yang ada di sana, dengan kepalaku yang bersandar di bahu Rokie, Rokie membawaku ke sebuah danau yang dihiasi gemerlapnya cahaya lampu dari pemukiman warga yang di tepi Danau membuat pemandangan danau itu terlihat indah dengan suasana yang sepi dan damai.
"Bagaimana? sudah merasa nyaman?" Tanyanya.
"Heem." Jawabku tentram.
"Iyalah nyaman, orang senderan di bahuku di pelukin lagi, yang ada aku yang kedinginan nih"
"Ih.. Rokie." Decakku sambil mencubit kecil pinggangnya.
"Aawww sakit Oliv." Ringisnya.
"Habis kamu nyebelin." Sungutku saat itu. Namun Rokie malah terkekeh melihat wajah cemberutku itu.
Untuk beberapa saat kami pun bercanda tawa, setelah merasa suasana hatiku membaik Rokie mulai mempertanyakan apa yang sedang terjadi padaku. Entah kenapa saat Rokie menanyakan itu, mataku kembali berkaca-kaca, bibirku gemetar berusaha menceritakan semuanya yang terjadi tadi.
"Kie, Cowok gue selingkuh." Ucapku memulai obrolan
"Apa? brengsek, emang harus di kasih pelajaran itu cowok." Ucapnya geram.
"Tapi Kie masih ada lagi masalah yang terjadi hari ini."
"Apa lagi?"
"Bonyok gue mau cerai." Akhirnya unek-unekku terluapkan, aku kembali menangis di pelukan Rokie. Entah kenapa aroma tubuhnya yang maskulin selalu mampu menghilangkan rasa sedihku serta gundah gulana. Aku semakin nyaman di buatnya saat Rokie merengkuh tubuhku.
"Yang sabar iya Oliv, mungkin ini sudah jalan terbaik buat Ortu kamu, tapi kamu tidak boleh putus asa oke " Ucap Rokie yang berusaha menenangkanku.
Sementara aku semakin larut dalam kenyamanan pelukannya Rokie sambil terus menangis. Setelah emosiku terluapkan lewat air mata, Rokie mengajakku untuk pulang. Tapi aku menahannya, karena tak ingin melihat pertengkaran Bonyokku.
"Kie, aku nggak mau pulang ke rumah." Ucapku.
"Oke, kamu pulang ke tempatķu iya."Jawabnya.
Seiring berjalannya waktu, kedekatan kami pun semakin erat, tak ada lagi jarak diantara kami. Sampai suatu hari, kami hampir melakukan hal di luar batas. Waktu itu Rokie tiba-tiba menciumku saat kami berteduh dari air hujan yang mengguyur. Tangan liarnya bergerilya di balik baju kaosku, begitu juga aku seperti terhipnotis akan hangat dan lembutnya ciuman bibir Rokie. Di saat kami terbuai dalam hangatnya perciuman dan sudah setengah telanjang, seketika alam bawah sadarku mengingatkan aku dan kami pun tak sampai melakukan ke hal yang lebih jauh.
"Rokie kamu mau apa!" Pekikku saat itu.
"Maaf Olivia." Rokie terperanjat dan dia langsung tertunduk malu.
Seketika suasana menjadi canggung, kami jadi saling terdiam mematung. Sejak kejadian itu, setiap kami bertemu selalu ada kecanggungan. Di saat itu pula semua teman-temanku menyangka aku dan Rokie ini pacaran karena kedekatan kami yang sangat dekat.
"Kie, udah dong ah jangan segan terus. Yang lalu biar lah berlalu." Ucapku saat itu. jujur aku sangat membenci kedekatan kami yang kaku seperti ini, berasa seperti baru ketemu orang asing. Aku sangat kangen Rokie yang dulu, yang selalu ceria, frontal dan selalu membuatku terhibur dan nyaman berada di sisinya.
"Iya Olivia, aku hanya masih merasa malu pada diriku sendiri "Balasnya.
"Ah udah deh jangan gitu terus, Eh Kie kamu tahu nggak teman di kampus lagi ngomingin kita loh."
"Ngomongin kenapa? emang apa salah kita?" Sahut Rokie penasaran.
"Iya mereka mengira kita pacaran loh."
"Oh ya? dasar si biang gosip mereka itu."
"Hehehe... iya ya." Aku dan Rokie hanya tertawa menanggapi rumor teman kampus itu.
"Memangnya kalau aku benaran cinta kamu, apa kamu mau?" Pertanyaan Rokie sangat mengejutkanku.
"Apa? kamu cinta aku? emangnya kamu pengen kehilangan aku?" Tanyaku mengintimidasinya.
Aku mencoba memperingatkannya bahwasannya hubungan sahabat itu lebih Berharga dari pada pacar.
"Aku sih terserah kamu saja." Jawab Rokie enteng.
"Nggak, diantara kita tidak boleh ada hubungan apa-apa. Kamu tahu kab Kie kalau orang pacaran itu akan ada masanya kita putus terus bertengkar setelah itu kita akan saling menjauh dan pura-pura saling tak mengenal, aku nggak mau kehilangan kamu Kie hanya gara-gara kita pacaran" Terangku panjang lebar.
Sementara Rokie menjadi pendengar setiaku, aku dapat memahami mimik wajah Rokie yang tampaknya ada rasa kecewa yang terpendam. Meski begitu namun seiring berjalannya waktu Rokie pun akhirnya memahami apa yang ku ucapkan dan hubungan kami pun sampai sekarang tak pernah mengubahnya menjadi pacaran, We Are Best Friend Forever.
~Tamat~
hai hai... jangan lupa like and commennya ya kak terima kasih. Oh ya tolong bantu dukung karyaku di cerita novel juga ya kak thank you. happy reading.