#sahabat
Terlalu awam hingga orang lain berpikir macam-macam.
.
.
.
Selimut dengan motif bunga itu membentang membungkus tubuh seorang gadis yang tengah meringkuk. Bukannya tertidur karena hangatnya selimut gadis itu malah sibuk menggeser layar ponsel. Layar ponsel yang menampilkan wajah tiga orang gadis remaja dengan senyum manis yang tercetak menghadap kamera.
Netranya menatap foto yang tengah bahagia itu dengan raut wajah datar.
“Oh,” gumamnya lalu menutup ponselya.
Jika dipikir-pikir ini sudah yang keberapa kali ya, Dhea mendengus. Ingatannya menyelam ke beberapa memori dua tahun lalu.
Tubuhnya sangat lelah, hingga malas melangkahkan kakinya untuk pulang. Tugas yang menimpanya hari ini sangat tak manusiawi. Dari tadi pagi para guru sudah memberinya pilihan untuk menyuruhnya mengikuti beberapa lomba. Lomba mewakili sekolahnya untuk ajang akhir pekan.
“Happy Birthday.” tubuhnya membeku ketika memasuki ruang kelas untuk mengambil tas dan pulang.
Tiga orang remaja berdiri dengan satu kue yang dipegang salah seorang yang berada di tengah. Dhea bingung langkah apa yang harus ia lakukan sekarang, berjalan mendekat? Menangis? Berteriak? Dhea bingung.
Akirnya ia berjalan menuju mereka, meniup lilin yang berdiri tegak dengan angka satu dan enam yang berdampingan. Pertama kali, dirinya merasakan apa yang dinamakan peryaan ulang tahun dengan kue yang diberi lilin. Mengetahui sahabatnya mengingat ulang tahunnya saja ia sudah senang tak karuan.
Sabahat pertama yang ia punya tanpa embel-embel saling untung.
Mereka tidak akan tahu karena Dhea tidak akan pernah cerita. Bagaimana seorang dengan mantan pengidap asma disuruh tetap berlari mengejar temannya dengan alasan dia kalah bermain kejar-kejaran. Walaupun tangan mungil itu sudah menjangkau bahu temannya ia akan tetap kalah dan disuruh mengejar yang lain. Sampai ia pingsan mungkin permainan itu tidak akan berhenti.
Sahabatnya tidak akan pernah tahu, bahwa dulu ada seorang gadis kecil menatap jauh salah seorang temannya yang diberi kejutan ulang tahun. Berharap suatu saat temannya bakalan mengingat ulang tahunnya dan memberinya kejutan juga. Pada akhirnya ia hanya memberi orang lain hadiah, tanpa imbal balik. Bukannya tidak ikhlas, gadis itu hanya seorang anak kecil yang berumur delapan tahun yang ingin ucapan selamat dari orang lain.
Sahabatnya juga tidak akan tahu, tentang cerita tas ajaib. Tas seorang gadis kecil yang penuh dengan alat tulis. Ia sangat bersemangat untuk pergi belajar di sekolah, tapi Ibunya membelikannya tas yang tidak sesuai dengan kesukaannya. Ia tetap diam dan menerimanya. Saat pulang sekolah, bagian dalam tas itu sudah penuh dengan isi pepaya yang tidak ada yang tahu siapa yang menaruhnya. Air mataya ingin menangis, tetap saja dia hanya gadis delapan tahun yang haus kasih sayang.
Sahabatnya juga tidak akan tahu, ada seorang gadis pecundang. Membiarkan orang lain menindasnya karena takut tidak mempunyai teman lagi. Pernah sekali ia berontak yang berakhir tidak mempunyai teman.
Sahabatnya juga tidak akan tahu, gadis yang sangat suka menggambar hingga rela jari-jarinya membenjol menahan tekanan dari batang pensil warna. Dirinya mempersiapkan gambarannya seharian penuh untuk besok. Mencari-cari konsep dengan imajinasi di otak kecilnya. Menggoreskan pensil warna murah di buku gambarnya yang usang. Hingga gambar bebek yang berenang di danau yang penuh dengan bunga-bunga indah di langit yang terbentang biru itupun selesai.
Yah, dia sangat akan percaya diri dengan gambaranya itu. Hingga di pagi hari orang itu datang dan melihat gambaranya. Mau tak mau ia menuruti permintaan orang itu untuk menggambarkannya persis miliknya. Saat jam istirahat tiba.
“Dhea kalau mau gambar jangan jiplak punya orang,” kata guru yang memberinya nilai.
Dia tetap berusaha tersenyum, dirinya bukan siapa-siapa. Tetap saja gadis itu hanya anak kecil yang berumur sembilan tahun yang belum mengerti perasaannya. Semua kejadian tidak mengenakan yang datang kepadanya dalam berbagai bentuk. Ia akan berakhir tersenyum, menunduk, dan mengiyakan.
Hingga saat SMA Dhea berjumpa dengan ketiga sahabatnya.
Pertama kali ia merasakan ucapan selamat ulang tahun dengan kue yang tertancap lilin di atasnya, ini lebih dari yang ia harapkan. Seharian itu hatinya terasa sangat bahagia. Seperti ini ternyata mendapat kejutan ulang tahun? Lelahnya seakan menghilang karena mendengar ucapan ulang tahun di telinganya.
Pertama kalinya ada seseorang yang jauh-jauh hanya untuk menjenguknya, penyakitnya bahkan tidak terlalu parah. Pengalaman itu juga yang membuatnya cerita seharian kepada orang tuanya bahwa ada yang menjenguknya.
Pertama kalinya ada seeorang yang mendengarkannya ketika ia bercerita. Menyimak kata-kata yang tak masuk akal dari pikiran aneh. Mendengar cerita kisah cinta monyetnya yang tak berbalas. Semua itu sangat ia sukai.
Mendengar cerita mereka masing-masing juga membuatnya senang. Apapun itu asal mereka tetap bersama. Dan mereka akan tetap menjadi orang pertama yang melakukan hal-hal kecil persahabatan untuknya.
Hingga akhirnya sesuatu yang datang itu pasti akan selalu mempunyai alasan. Bertemu dengan orang lain yang ia sayangi juga pasti mempunyai alasan. Ia tetap kuat menahan rasa sesaknya dulu juga pasti punya alasan.
Undangan kejutan ulang tahun yang dulu sangat ia antusiaskan sekarang berkebalikan. Untuk apa dirinya diundang jika hanya untuk basa-basi? Memberi kejutan sama saja waktu yang dapatkan untuk bertemu mereka.
Entah sejak kapan jarak itu muncul. Mengungah foto jalan-jalan bersama apakah masih bisa dikatakan kalau dirinya masih dianggap sahabat? Berfoto bersama hanya untuk acara formal apakah membuktikan kalau dirinya masih tergabung? Jadi apakah dirinya masih dianggap sahabat kalau mereka saling tahu masalah pribadi kecuali dirinya?
Bayangkan, bagaimana rasanya melihat mereka saling bercerita sedangkan dirinya sendiri tidak tahu tokoh siapa yang sedang mereka heboh-hebohkan. Bukankah dia hanya seorang tokoh figuran yang hanya menumpang nama? Lebih baik menyumbat telinga dengan headset daripada harus berpura-pura antusias untuk cerita yang selalu dihebohkan.
Lupakan cerita tentang persahabat yang mengatakan tentang solidaritas. Dirinya kini bisa mati tercekik dengan kata persahabatan. Sekarang yang ia butuhkan adalah seseorang yang mengerti dirinya, bukan seberapa banyak orang yang dekat dengannya. Seberapa banyak mereka peduli terhadap dirinya.
Dhea memejamkan matanya berusaha keras untuk tertidur tanpa memikirkan orang-orang yang tak memikirkannnya itu. Hingga telinga menangkap suara kecil dari ponselnya.
Besok bisa beli mie ayam di pinggiran lapangan itu?
Sahabatnya dulu belum pernah mengajakknya jajan di tempat seperti itu. Yah, mereka mungkin tidak akan menemukan spot foto bagus untuk diunggah di Instagram jika makan di pinggiran jalan. Dhea mengetikan jawaban untuk menyetujui.
“Baikhlah kali ini aku harus menjaganya baik-baik, dan semoga ada cerita atau perjalanan menarik yang belum pernah aku lakukan.” Dhea menutup ponselnya, meletakkannya di atas nakas dan kembali tidur.
______________________________________________
Hai! Wah untuk sebuah cerpen menurutku ini terlalu banyak problem 😭.
Buat endingnya kalian bisa nentuin sendiri menurut sudut pandang kalian masing-masing ya. Susah sebenernya buatku untuk deskripsikan tokoh Dhea yang satu ini. Jadi dari waktu ke waktu tokoh Dhea ini berkembang untuk menjadi pribadi yang tepat.
Bukan hanya tepat tapi pergerakan karakter Dhea menurutku juga harus cepat karena ini adalah sebuah cerpen. Ku ingatkan kembali ini hanyalah sebuah CERPEN. Maafkan saya yang terlalu ngegas wkwkwk. Yaudah kita udahan dulu untuk part ini.
Oke sekian untuk cerpen ini terimakasih, see you next time semua.