Aku lagi-lagi terbangun tengah malam dengan mimpi yang sama. Mimpi yang akhir-akhir ini terus bergulir dengan setting yang sama. Di tengah malam tepat pukul dua. Ini bukan cerita horor sebab aku tak berada dalam genre seperti itu. Ini tentang kerinduan mendalam, kerinduan ku padanya. Aira
Semua kenangan bersama Aira masih tersimpan jelas pada benakku. Bagaimana senyumnya, bagaimana lugu nya, dan semua tentang dia. Aira dan aku sudah berteman dari bangku SMP. Lalu setelahnya kami kembali dipertemukan lagi di bangku SMA. Semua berjalan sesuai alur, lancar dengan sedikit kerikil kadang-kadang.
"Ai, inget ya Lo harus cepet-cepet sembuh. Gue udah beli tiket konser buat kita berdua. Gue nggak mau ya nonton konser sendirian." Aku menatap Aira yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Aku ingat betul bagaimana dia mencoba tersenyum bahkan ketika selang oksigen terpasang di wajahnya. "Lo tenang aja, Gue bentar lagi juga sembuh. Gue kepengen banget lihat bias gue." Ucapnya.
Setelah beberapa saat aku bersama Aira, aku memutuskan untuk pulang sebab sudah senja. Tak berselang lama ketika aku telah sampai di rumah, tepat di kamar ku aku memandangi tiket konser dengan wajah berbinar cerah. Betapa selama ini aku dan Aira ingin sekali pergi ke konser walaupun hanya sekali. Dan sekarang semua itu akan menjadi nyata. Tiket sudah ku genggam tinggal mempersiapkan diri saja sebab seminggu lagi konser akan diadakan.
Rasanya tidak sabar.
Hari-hari terus berlalu, aku tak pernah absen mengunjungi Aira di rumah sakit. Gadis itu menepati janjinya. Setiap hari keadaan Aira berangsur-angsur membaik. Bahkan hari ini sudah boleh pulang.
"Ai, inget konser nya lusa. Jaga diri jangan sampai sakit lagi." Ucapku sembari membantu membawa barang-barang Aira untuk dimasukkan ke dalam tas. Gadis itu hanya tersenyum seadanya mungkin masih lemah.
"Yaudah lusa Lo jemput gue ya, inget pagi-pagi jangan ngaret. Kalo udah sampe langsung masuk aja, kemungkinan gue ga bisa bukain pintu." Ucap Aira.
"Dih, biasanya juga mama Lo yang bukain. Lo mah kebo, pagi-pagi palingan masih tidur." Aira terkekeh. "Lo kan tau gimana enaknya ketemu bias walaupun di alam mimpi. Sayang kalau bangun. Jadi pengen tidur terus." Aku berdecak sebal, lantas membawa tas milik Aira menuju mobil papa nya yang sudah siap.
"Gue tinggalin ya kalo Lo pagi-pagi masih tidur."
"Gue bakalan nungguin Lo di ruang tamu." Aira mengangkat dua jarinya ke atas seakan memberikan isyarat sebuah janji. Aku hanya mengangguk. Setelahnya kami masuk mobil untuk segera pulang.
Lusa, tepat dimana hari konser akan diadakan di sebuah stadium besar di pusat kota. Aku sangat antusias mengingat ini kali pertama aku dan Aira mendatangi sebuah konser setelah beberapa kali kehabisan tiket. Pukul enam pagi aku sudah rapi dengan pakaian terbaikku, berdandan sebisa ku. Tentu saja aku tidak boleh terlihat lusuh di depan idola ku. Sekalipun kecil kemungkinan aku terlihat diantara lautan manusia. Yang penting kan sudah berusaha.
Aku melihat ke arah jam tangan baru ku. Sengaja ku beli beberapa hari lalu. Sembari bersenandung kecil aku sudah siap menjemput Aira di rumahnya. Masih sangat pagi, konser dimulai pukul sembilan. Tapi sebab sangat bersemangat aku sampai sudah siap-siap dari subuh. Ya tidak apa-apa sebelum konser dimulai bisa jalan-jalan dengan Aira nantinya.
Langkah kaki ku tepat berada di depan pagar rumah Aira. Ku langkahkan kaki dengan riang gembira sembari bersenandung sekaligus hapalan jika nanti lagunya dinyanyikan di konser kan bisa sekalian ikut bernyanyi.
Tepat beberapa langkah lagi aku sampai di depan pintu rumah Aira. Tetapi terpaku, stagnan ketika pintu itu tak tertutup. Bukan itu yang menjadi fokus ku saat ini. Aku melangkah pelan, pandangan ku fokus ke depan ketika ku jumpai Aira benar-benar menunggu ku di ruang tamu. Tetapi masih dengan mata yang tertutup dan...
Sehelai kain kelambu yang menutupi seluruh tubuhnya. Diiringi tangisan memekik dari beberapa orang yang berada disini.
"Ai?" Langkahku pelan menuju ke tempat Aira terbaring. Wajahnya pucat pasi. "Aira?" Aku menoleh ke arah mama Aira, wanita paruh baya itu sudah terisak kencang, ditenangkan oleh saudaranya.
"Tante, Aira kenapa? Sakit lagi ya?" Aku menyibak kain kelambu itu hingga terlihat wajah Aira tanpa penghalang apapun. Sudah ku bilang anak ini susah sekali bangunnya. Jadi aku mengguncang tubuhnya pelan. "Ai, bangun. Nanti telat konser." Ucapku, sejenak ku rasakan tubuhnya sangat dingin.
"Ai, Lo tidur di ruang tamu ya semalem, tubuh Lo dingin banget."
"Ayo Ai, Gue nggak mau terlambat konser."
"Ai!"
"Aira!!!" Aku terus mengguncangkan tubuh Aira pelan. Tetapi Aira tak merespon sama sekali. "Lo masih mimpiin bias ya? Cepetan bangun."
"Ai."
"Aira."
"Aira!!!" Air mataku meluruh begitu saja, terasa sesak tiba-tiba. "Sumpah ya Ai, Nggak lucu. Ayo bangun. Atau tiket konser nya gue kasih ke orang ini?" Aku berkata dengan terisak pelan. "Aira please." Mama Aira mendekat ke arah ku, memegang pundak ku yang masih mencoba membangunkan Aira.
"Nak, ikhlasin Aira ya."
"Maksud Tante apa sih? Ikhlasin gimana? Nanti kita mau nonton konser. Aira udah janji." Ucapku menggebu, tak terima dengan perkataan mama Aira. Tetapi ia terus mengusap lengan ku meyakinkan jika yang aku lihat benar adanya. Aira benar-benar menunggu ku di ruang tamu tetapi ia tak bisa membukakan pintu sebab saat aku sampai dirinya sudah terbujur kaku.
"Nak, Tadi Aira bilang kalau kamu datang katanya disuruh duluan. Aira nggak bisa ikut." Mama Aira kembali terisak. "Tante tadinya bingung , Aira katanya pengen banget ikut konser. Tante nggak tau kalau maksud Aira itu dia nggak bisa ikut karena ini." Mama Aira menutup mulutnya dengan tangannya. Apa ini? Jadi aku harus bagaimana? Sedih?
"Katanya kamu harus tetep pergi ke konser." Sambung mama Aira lagi.
"Ini gimana sih Tante maksudnya?" Aku Kembali memandang Aira. Tapi gadis itu benar-benar tak bergerak ataupun terlihat menahan senyuman sebab berhasil mengerjai ku. Aira sudah pucat pasi dengan banyak orang berdatangan melayat. Sedangkan aku masih berharap semuanya hanya prank semata. Aku berharap Aira bangun dan menertawakan ku sebab dirinya baru saja berhasil mengerjai ku. Tapi apa ini? Bahkan untuk sekedar bernapas saja Aira sudah malas, ia totalitas sekali aktingnya. Andai aku bisa bilang seperti itu. Tapi faktanya, yang aku lihat adalah yang sebenarnya.
Aku memandangi Aira lagi, air mataku sudah berjatuhan deras. Tak lagi mampu terbendung di pelupuk. Yang awalnya merupakan isakan kecil kini berubah menjadi keras. Keras sampai rasanya aku tengah melupakan semuanya melalui tangis.
Entah sejak kapan tiket konser sudah ku remas menjadi bulatan kusut. Dua tiket yang aku jaga mati-matian sampai selalu ku lihat selama seminggu ini. Berharap hari ini kami dapat bersenang-senang menikmati Euphoria konser. Berteriak sampai lelah. Lalu pulang membawa kenangan.
Tapi pada akhirnya ternyata seperti ini takdir yang terjadi.
Aira pergi membawa semua kenangan kami yang belum usai dibuat. Meninggalkan ku bahkan tanpa berpamitan.
Tapi apa boleh buat, sekuat apapun aku meronta, berteriak dan menangis semua masih sama. Aira benar-benar pergi untuk selamanya. Hanya satu hal yang aku bisa harapkan kepada Tuhan.
Aira, Semoga kita dipertemukan di titik terbaik menurut takdir.