Aku Raisa Septiani, tidak memiliki teman sama sekali. Kehidupanku selalu suram dan sendiri. Setiap aku mencoba mendekati orang lain, mereka selalu menjauh seakan aku hanyalah parasit.
Keluargaku sedikit cemas dengan keadaanku sehingga aku dan keluargaku pindah di daerah terpencil. Saat itu tepat sebelah rumahku, ada seorang perempuan dia menangis tersedu sedu. Entah mengapa perasaanku ingin sekali mendekatinya. Perlahan aku mulai mendekatinya memegang pundaknya.
"Kamu kenapa?" tanya raisa. Namun dia hanya diam.
"Aku baru di sini, kalau boleh tau kamu siapa? Kenapa menangis di sini" lanjutku memperhatikannya. Namun ibuku memanggilku.
"Raisa, sini nak ngapain di situ?" teriak ibuku memintaku pulang.
"Iya mah, sebentar." jawabku lantang.
Saat aku melihat kembali ke arah perempuan itu akan tetapi dia sudah tidak ada. Dengan bingung aku mencari dia. Sayangnya ibuku terus berteriak membuatku berhenti mencari perempuan itu.
"Kamu ngapain di sana sih nak? Ibu panggil juga dari tadi." ucap ibuku.
"Maaf bu, aku tadi bertemu seseorang." ucapku menyesal.
"Siapa nak?"
"Raisa juga tidak tau bu, tapi dia menangis waktu itu makanya raisa dekati dia siapa tau aku bisa berteman dengannya."
"Ya sudah sekarang kamu ke kamar kamu, jangan lupa di beresin." titah ibuku dengan senyuman.
"Iya ibu." ucapku berjalan ke arah kamar.
Sesampainya di kamar, aku melihat kamarku ternyata tidak buruk juga. Sewaktu aku membuka jendela kamarku di depanku ternyata tepat jendela kamarnya. Aku melihatnya lagi dia duduk di ranjang dengan kepala menatap ke bawah.
"Hei, aku belum tau namamu. Kenalin aku raisa." teriakku di jendela kamarku.
Dia melihat ke arahku, dengan cengiran khas ku, aku melambaikan tangan. Sampai akhirnya jendela kamarnya terbuka. Aku melihatnya, dia perempuan cantik namun wajahnya pucat.
"Aku raisa, nama kamu siapa?"
"Aku ratih." ucapnya.
"Hai ratih salam kenal ya, semoga kita bisa berteman." ucapku sambil tersenyum.
Dia terdiam sesaat namun kemudian wajahnya tersenyum ke arahku.
*******
Setiap hari aku selalu bersama ratih sahabatku yang tidak pernah menganggapku aneh. Aku bahagia tidak merasa sendiri lagi. Dia selalu ada untukku. Walaupun aku kadang merasa ratih agak berbeda. Dia tak pernah tersenyum kepada orang lain, tangannya pun selalu dingin juga kulitnya putih pucat memberikan kesan tersendiri. Saat itu aku teringat sesuatu di mana dulu orang lain mengejekku akan tetapi mereka malah celaka. Lamunanku menghilang setelah ratih memegang pundakku.
"Ratih aku boleh tanya sesuatu?" tanyaku melihat ratih.
"Mau tanya apa?" jawabnya.
"Keluargamu kemana ya, aku gak pernah melihat keluargamu sama sekali dari pertama aku pindah."
"Awalnya aku tinggal bersama nenekku namun kini nenekku telah pergi jadi aku sendiri di sini." Ucapnya dengan kepala terus menunduk.
"Maaf yaa ratih." sesalku.
"Sekarang kan udah ada aku sahabatmu jadi kalau kamu bosen atau jenuh ke rumahku aja." lanjutku.
Ratih hanya terdiam melihatku dan berganti dengan senyuman dinginnya.
********
Sebulan telah berlalu aku yang biasanya muram kini selalu tersenyum. Ibuku bahagia melihat perubahanku dan aku juga menikmati memiliki seorang sahabat seperti ratih.
Sudah beberapa kali ratih menginap di rumahku namun setiap pagi aku tak pernah menemukannya di kamarku. Aku berpikir mungkin pagi pagi buta dia kembali ke rumahnya membereskan segalanya, tidak mungkin dia pergi ke sekolah bersamaku meninggalkan rumahnya dengan keadaan kotor.
Rutinitasku seperti biasa aku ke rumahnya mengajak berangkat bersama. Namun aku heran tak biasanya rumahnya sepi juga berdebu, banyak sampah berserakan di depan rumahnya. Ku teriakan terus namanya.
"Ratih, ratih ,ratih." teriakku namun tak ada jawaban. Sampai aku melihat jam di tanganku tepat pukul 06.45 hingga akhirnya aku memutuskan berangkat ke sekolah sendiri.
Pulang sekolah aku ke rumahnya lagi, aku penasaran dimana ratih saat ini apakah dia sakit? Pikiranku dan perasaanku mulai tak tenang. Aku memasuki rumahnya yang tak terkunci. Menjelajahi setiap ruangan namun aku tak menemukannya sama sekali.
Waktu kian berlalu, kini hari mulai petang aku masih berada di rumah ratih. Karna takut ibuku mencari akhirnya aku pulang ke rumahku.
**********
Saat aku tertidur aku merasakan bisikan di telingaku.
"Raisa terima kasih kamu telah mau menjadi sahabatku. Maaf bila aku tak bisa lagi bersamamu. Aku takut jika kamu melihatku yang sekarang, kamu pergi menjauh. Aku bahagia menjadi sahabatmu. Jika kamu merindukanku sebut saja namaku. Aku akan datang menemuimu. Aku tak akan membiarkanmu kesepian. Kini saatnya aku pergi." bisik ratih sambil mengusap kepalaku.
Aku yang mendengar suara ratih bangun dari tidurku melihat di sekeliling kamarku namun tak ada siapa pun.
Pagi telah datang, ibuku membangunkanku dan menyuruhku untuk segera sarapan. Saat di meja makan aku mencoba bertanya kepada ibuku tentang ratih.
"Ibu, ratih semalam ke sini?" tanyaku penasaran.
"Ratih siapa?" tanya ibu kembali.
"Ratih sahabatku bu, yang sering menginap di rumah kita. Dia tetangga sebelah rumah kita."
"Sayang, mungkin kamu kecapean ya, di sebelah rumah kita dari dulu itu kosong gak ada penghuninya sama sekali. Ibu juga gak pernah lihat kamu sama temenmu di rumah ini." tutur ibu lembut.
"Ibu jangan bercanda deh."
"Ibu beneran, ngapain juga ibu bohongin kamu. Udah sekarang kamu makan dulu trus berangkat." titah ibuku.
Aku kembali memakan sarapanku hingga habis. Sebelum berangkat kesekolah aku menghampiri rumah ratih, keadaannya masih sama seperti kemarin rumahnya kotor tak terawat. Aku bingung kemana perginya ratih saat ini dan kenapa ibuku tak pernah tau ratih padahal ratih selalu menginap di rumahku. Akhirnya aku berlalu berangkat ke sekolah dengan penuh pertanyaan di pikiranku yang belum aku tau jawabannya.
Di tempat yang berbeda, ratih berdiri di jendela kamarnya melihat sahabatnya raisa yang berlalu meninggalkan rumahnya dengan wajah pucat dan darah yang mengalir di bagian lehernya.
THE END