Ini aku, Lovanda Kalista. Jika orang lain berpacaran, lain halnya denganku. I have a best friend. Dia baik, tapi aku tidak bisa selalu mendeskripsikan seseoran selamanya baik.
Mungkin saja ceritaku akan sedikit berbeda?? percaya?? pastinya. Tapi menurutku, semua jalan hidup seseorang pasti berbeda-beda dong??
Sekarang aku adalah seorang mahasiswi arsitektur bangunan. Dulu ketemu 'dia' itu pas zaman putih abu-abunya.
Dulu kita tiga, tapi sekarang dua. Ngerti nggak maksudnya?? belum ya?? kita cerai. Upssss...
Awal mulanya itu, kita bertiga sahabatan dari kelas 10 dan itu semua berlalu hingga tiga tahun lamanya.
“Oky, mulai sekarang kita sahabatan. Jangan pernah nyerah ya, harus saling tolong-menolong juga.”
Kita sepakat dengan apa yang di ucapkan Ghena salah satu sahabatku selain Ajeng.
Miris sih, waktu itu dia yang bilang, di juga yang mulai dan dia juga yang mengakhiri ini semua.
Zaman putih abu-abu tuh berasa jadi anak muda banget. Ya nggak sih?? buat kalian yang udah ngerasain loh ya.
Kita belajar bareng, sharing pengetahuan, jalan bareng, pokonya susah senang bareng-bareng deh.
'It's really very happy'
Tapi dari situ, aku pernah bilang sama tuhan untuk kesekian kalinya, ” Tuhan..., semoga persahabatan ini untuk selamanya, aku mohon. Bila salah satu dari kami tiada, biarlah aku yang dahulu.”
Dulu, aku kenal sama satu cowok. Namanya Devano Prasandi. Dia itu most wanted Di salah satu fakultas di Bandung. Kita itu sebenernya tetanggaan semenjak aku sekeluarga pindah di Bandung waktu pertama masuk SMA.
Jadi, aku lama-lama deket sama dia. Udah kayak adik kakak aja, hi hi hi. Tapi sayangnya dia udah ada yang punya, dia cerita ke aku.
“Dek, tau nggak?? Aa tuh suka sama cewek. Geulis pisan ihh, dia sekolah di SMA Bintang ceunah.”
“Masa sih a?? suka kok sama yang SMA. Nggak ada yang lebih deket gitu umurnya?? kek anak kuliah atau gimana gitu??”
“Yeehh, kamu mah nggak tau orang lagi kasmaran. Kalau kamu sekolah di mana dek??”
“Itu, yang aa sebut tadi.”
“Really??”
”Beneran, aa Devan yang gantengggggg. Udah ahh,” aku pun beranjak pergi.
“Kamu teh, mau kamana? tadi kata dikunci sama mama??”
“Ohh, iya ya. Lupa, he he he.”
“Ya udah sini atuh.”
“Tapi jangan nanya yang macem-macem ya??”
“Siap, bu bos.”
“Mulai besok, aa yang antar kamu ya?? boleh kan??”
“Boleh nggak ya?? hmmm,” nampakku berpikir, “ boleh deh.”
“Beneran?? makasih ya,” dia megang tangan aku, sampai pada ujungnya dia meluk sangking refleksnya.
“A lepasin atuh.”
“Ehh, maaf ya.”
A Devan emang gitu, orangnya agak humoris. Apa lagi kalau ngelawak lucu. Yahh, walau garing, tapi nggak bisa banget kalau marah sama dia.
A Devan nggak pernah cerita sedikitpun tentang siapa ceweknya, dia kelas berapa dan aku pun nggak pernah tau. Karena kalau mau tanya pun itu bagian dari privasi.
Satu tahun berlangsung begitu cepat. Dia, si Ghena cerita di sekolah, kalau dia baru aja jadian sama cowok. Dia bilang...
“Ehh, tau nggak guyssss, gue baru aja jadian, hihihiiii.”
“Masa sih?? sama siapa Ghen??” tanya Ajeng.
“Sama siapa ya?? hayo tebak,” ucapnya membuat kami berdua penasaran.
“Entah, atau cowok di sekolah ini??” jawab Ajeng.
“Aku tau, pasti cowok,” tebakku.
“Ya iya lah, ya kali gue lesbi. Tapi intinya gue jadian sama cowok inisial 'P',” ucapnya malas.
Aku memang pendiam orangnya, jarang tanya-tanya yang nggak penting. Tapi dari sini, a Devan udah jarang banget antar aku, yah bisa dibilang hanya batu loncatan.
Kita cerai, dalam arti kita 'udah nggak sahabatan lagi. Berantakan sudah persahabatan kami, hanya karena masalah cowok. Terlalu miris untuk diartikan...
Kejadian itu semenjak 2 tahun setelah mereka jadian, disaat kami lulus. Disitulah dimulainya permasalahan, dia salah paham saat aku diantar a Devan untuk yang kesekian kalinya.
“Turun loh!!!” ucap Ghena menyeret ku.
'Plaaaakkkkk'
“Apa-apaan sih kamu??” marahku.
A Devan buru-buru memarkirkan motornya dan menghampiri kami, saat itu juga ada Ajeng yang tengah bersama Ghena.
“Masalahnya gue itu curiga kalau lo ada main sama pacar gue!!!”
“Haaahhhhh, gimana maksudnya??” ucapku yang tak mengerti apa-apa.
“Maksud gue, lo dah berkhianat sama persahabatan kita dan lagi lo udah ngerebut kak Devan.”
“Ehhh, Ghena tenang dulu. Kalau misalnya itu cuman salah paham doang gimana??” jelas Ajeng dengan nada damainya.
“Gue nggak akan percaya, untuk yang kesekian kalinya dia di antar kak Devan. Sayangnya pakai acara mesra-mesraan, hehhhh,” ucapnya dengan nada sinis memandangiku.
”Kamu salah paham," bantah a Devan megang pudak Ghena dan ditepis.
“Iya, kamu salah paham, kemarin itu kakiku kesandung, terus waktu itu helemku juga nggak bisa dibuka. Mangkanya a Devan bantuin aku Ghen,” jelasku
“Gue nggakkkkk percaya!!!!”
“Mulai hari ini lo bukan sahabat gue lagi, gue nggak suka orang munafik.”
'Degg...'
Jantungku serasa berhenti berdetak. Hancur?? hahhhh, ini lah akhirnya.
“Dan untuk lo, kita putus!! gelay ngerti nggak!!??” lanjutnya.
Dia lari, menangis?? tentu saja. Aku pun juga sama, tapi dalam hati. Hati ini yang menjerit..., hati ini juga yang menangis.
A Devan mengejarnya, hingga. Hahhhhh..., nasib berkata lain. Ghena kecelakaan, dan langsung dilarikan kerumah sakit terdekat.
Hingga pada saat kata-kata terakhirnya, “ma..af, aa..ku menye...sal.”
“Ghenaaaa!!!!! kamu nggak boleh mati ngerttii. Mana janji kamu?? mana!!” tangis Ajeng mulai pecah dengan nada membentak.
“Ghen, maafin aku. Maaf juga ya Jeng, aku belum bia jadi sahabat yang baik,” ucapku menangis sendu.
“Enggak, hikss..., kamu nggak salah. Ini semua takdir Tuhan, bukan kamu yang menginginkan juga” tangisnya disela pembicaraan.
Tuhan, inikah takdirmu?? sakit, tapi aku akan mencoba menerima. Walau pahitnya luka masih tersisa disela kerinduan.
Dari situ, aku tetap selamnya menjadi sahabatnya. Walau tiada, tapi Ajeng selalu bersamaku.
~You're my best friend forever.
The and
________
Share ke teman kalian ya, wkwkwkwk 🤣 kalau mau komen atau kritik nggak papa kok. Jan lupa koreksi bagi tim PUEBI, wkwkwkw.