"Banyak hal telah terjadi. Dari kejadian, waktu, hingga latar suasana. Akan tetapi diri ini tidak pernah merasa putus asa maupun sepi kala melewati hari-hari yang penuh dengan hal tak terduga. Sebab ada dirimu yang setia berada di sampingku."
Itulah kutipan yang ada disalah satu lembar dalam buku catatan harian seorang Leva.
Ini kisah yang tidak bisa dilupakan. Rangkum ingatan dan meluapkannya pada sebuah buku spesial. Leva ingin kenangan yang dilalui tidak hilang begitu saja. Terlebih perihal kegiatan yang selalu dijalani oleh dirinya dan seorang sahabat bernama Delia.
Leva mengingat ke belakang sembari memegang lembaran buku harian. Saat awal pertemuan antara dirinya bersama Delia. Pada tahun ajaran baru di sekolah menengah. Leva tak sengaja bertemu Delia saat hari pertama. Diam dan saling lirik. Rasanya aneh, sebab Leva dan Delia melakukan hal yang sama untuk beberapa menit cukup lama. Hingga akhirnya mereka sama-sama angkat bicara. Sapaan "Hai" itu terucap secara bersamaan. Kemudian keduanya beralih pandang. Setelah itu mereka tertawa karena merasa momen ini begitu lucu.
Di hari-hari berikutnya, Leva menjalani masa sekolah menengah bersama teman barunya itu. Ia turut senang karena sudah mendapatkan seorang teman. Demikian juga dengan Delia. Langkah mereka selalu seirama sejak pertemuan awal itu.
Ragam hal di lalui oleh mereka. Baik di sekolah, maupun di area luar. Leva dan Delia seperti sulit dipisahkan. Dari aktivitas luar ruangan seperti olahraga, di mana mereka saling dukung satu sama lain dan menerapkan kerjasama yang apik. Sampai kegiatan dalam ruangan, yang mana keduanya sama-sama belajar dan saling berbagi ilmu.
Leva dan Delia bukanlah anak yang sempurna. Dengan adanya kerjasama dan saling perhatian satu sama lain, membuat keduanya bisa mengisi kekurangan yang ada. Pertemanan itu berjalan dengan baik dan seiring waktu berubah menuju tingkat yang lebih tinggi. Sahabat adalah tingkatan yang paling tinggi dalam hubungan pertemanan. Leva dan Delia memutuskan untuk menjadi sahabat dan mengikrarkan janji untuk menjaga hubungan ini.
Di lembar ke sekian, Leva memasuki tulisan yang menceritakan kisah setelah lulus sekolah menengah.
Sejak smp sampai dengan sma, akhirnya Leva dan Delia selesai menunaikan tugas wajib belajarnya.
Seragam menjadi benda berharga bagi keduanya. Kegiatan kelulusan dirayakan dengan aksi coret seragam. Leva dan Delia saling coret agar meninggalkan bekas kenangan masa sekolah.
Cerita berlanjut pada masa setelah sekolah menengah.
Leva memutuskan untuk lanjut ke jenjang kuliah. Demi mencapai keinginannya. Sementara Delia memilih jalan lain. Sang sahabat meneruskan perjalanannya menuju dunia kerja.
Leva mendukungnya dan memberi semangat. Sama halnya dengan Delia. Dia menitip pesan agar Leva harus giat belajar demi impiannya itu.
Dan momen hari itu ditutup dengan berpelukan.
Berganti halaman berikutnya. Seketika Leva berubah eskpresi sesuai dengan perasaannya.
Dari yang awalnya merasa senang, kini menjadi sebaliknya.
Leva mengingat kembali alasan ia tidak menceritakan kisah selanjutnya.
Momen kelulusan kuliah.
Menjadi hari yang paling diingat oleh seorang Leva.
Sebab waktu itu adalah hari campur aduk perasaannya.
Angin bertiup sepoi-sepoi. Ditengah lapangan kampus, Leva bersama teman kuliahnya melemparkan toga setinggi-tingginya ke atas.
Berswafoto, lalu lanjut bercengkrama.
Ditengah cengkrama itu, Leva sesekali melihat jam tangannya. Dirinya menunggu seseorang sedari tadi. Dia adalah sang sahabat sejati yaitu Delia.
Mereka berdua sudah berkomunikasi sebelumnya melalui sosial media. Dan Delia berjanji untuk menghadiri acara kelulusan Leva tersebut.
Karena dirasa lama, Leva memutuskan untuk coba mengirim pesan pada Delia. Saat mengecek ponsel, alangkah terkejutnya Leva.
Ternyata sudah terdapat beberapa kali panggilan masuk yang tidak disadari olehnya sebab asik kumpul tadi.
Leva izin pergi dari perkumpulan itu, lalu bergegas menuju gerbang masuk kampus. Setibanya di depan gerbang, Leva melihat bahwa Delia ada di seberang jalan.
"Delia!" Panggil Leva pada sang sahabat.
Delia melihat ke arah Leva, kemudian segera melangkah menuju sahabatnya itu. Saat tengah menyebrang, tiba-tiba ada kendaraan yang melaju secara ugal-ugalan dan membuat semua orang beralih pandang menuju Delia.
"Awas Delia!" Leva berteriak memperingati.
Hari kebahagian itu berubah menjadi sebaliknya, yaitu Kesedihan. Leva berteriak memanggil nama Delia seiring berlari menuju sahabatnya itu. Kejadian buruk yang terjadi didepan matanya ini membuat dirinya sangat histeris.
Leva memangku sebagian badan dari sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya. Delia sudah tidak bisa bergerak dan hanya mengeluarkan suara lirih saat memanggil nama Leva.
Sulit rasanya untuk berkata-kata saat itu. Sampai akhirnya Delia menyampaikan pesan terakhirnya dan pergi meninggalkan Leva untuk selama-lamanya.
Sekarang Leva hanya seorang diri. Sejak kejadian itu, Leva sulit untuk menjalin pertemanan baru. Selain itu dirinya juga tidak bisa kembali merasakan yang namanya bahagia. Semua seperti kehancuran semenjak sang sahabat pergi.
Waktu untuk mengingat masa lalu dirasa sudah cukup bagi Leva. Saatnya kembali beraktivitas seperti biasanya. Sesaat sebelum menutup buku, Leva merasakan ada sesuatu hal dari buku harian itu. Dibukanya lembaran buku yang menaruh rasa janggalnya. Benar saja. Ada sesuatu yang tidak dia sadari selama ini. Leva melihat sebuah tulisan kecil di bagian bawah kertas yang tidak pernah diperhatikannya sejak dulu karena lengket dengan lembar kertas lainnya.
"Jika aku pergi lebih dulu, maka ingatlah kata-kata terakhirku. Serta jangan terpuruk dengan keadaan. Aku selalu memperhatikanmu meskipun itu jaraknya sangat jauh."
Leva membaca tulisan itu dan melihat sebuah jejak berupa tulisan nama. Air mata mulai keluar membasahi pipi. Ini membuat dirinya haru sekaligus tidak kuasa menahan apa yang dirasakan oleh lubuk hatinya. Tulisan tangan dari seorang sahabat secara diam-diam. Leva tidak menduga akan hal ini. Perlahan senyumnya kembali terukir seiring mengingat sang sahabat yaitu Delia. Terutama kata-kata terakhirnya saat kejadian itu.
"Raih apa yang sudah kamu bangun sedari awal. Ingatlah bahwa mimpimu itu adalah mimpiku juga."
Itu adalah perkataan dari Delia dimasa terakhirnya.
Leva yang saat ini hanya berdiam di dalam ruang menjauhi aktivitas sosial, kini mulai tersadarkan.
Mimpinya belum tercapai sejak lulus kuliah. Merenungkan pesan Delia, membuatnya memiliki niat untuk kembali menggapai apa yang seharusnya ia dapatkan. Leva bangkit dan memandang buku itu sambil mengangkatnya ke atas.
"Aku akan meraihnya demi dirimu."
ucap Leva dengan tekat yang dimilikinya.
Sejak membaca pesan dari Delia, Leva berjuang keras untuk meraih masa depannya. Sehingga pada akhirnya Leva mampu mendapatkannya.
Ia telah memiliki bisnis besar yang merupakan implementasi dari wacana seorang Delia saat masa sekolah menengah dahulu. Memiliki ilmu yang cukup banyak serta beberapa masukan dari pengalaman mendiang sahabat, membuat Leva mampu menjalankan bisnis tersebut. Bisnis yang merangkup berbagai tipe itu semakin berkembang seiring waktu berjalan, dan Leva berharap Delia dapat melihat hasilnya dari sana.
"Terima kasih sahabatku. Ini semua berkat dirimu yang selalu mendukungku disetiap waktu. Tidak salah aku menganggapmu sebagai orang yang teristimewa selama ini."
-----SELESAI-----